Az Kim Alexandria nama gadis itu, wajahnya yang tenang, tatapannya yang tajam sikapnya yang dingin, membuat salah satu CEO miliarder terkenal di kota Seattle merasa terhantui oleh paras gadis itu.
Siapakah sebenarnya gadis itu?
Tanpa gadis itu ketahui ada seseorang yang ingin mengetahui rahasia apa yang dia sembunyikan.
Jangan lupa teman-teman readers beri Coment, like and Votenya yaaaa🙋😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melarikan diri darinya 2
"Kau betul-betul membuatku marah Andria".
Andria melotot memandangnya, dia berdiri dengan kaku tidak percaya, wajah yang duduk dihadapannya adalah pria brengsek itu. "Kau !" desis Andria.
Alec bangkit dari kursinya, wajahnya terlihat gusar, langkahnya berhenti tepat didepan Andria yang memegang bungkusan pesanannya. "Setidaknya kita bisa makan bersama apapun yang kau bawa itu." Andria menggeleng, dia kemudian berbalik tidak memperdulikan alec. Lagi tangannya ditarik oleh Alec.
"Apa yang kau lakukan?!!" bentaknya. "Lepaskan tanganku, kau sinting ya." Teriak Andria.
Alec menyentak tubuh Andria hingga menabrak tubuhnya keras. Tangannya menahan Andria di pinggangnya. "Kau ingin melihat bagaimana sintingnya aku Andria??" bisiknya.
"Kali ini jangan membuatku marah, aku hanya ingin kita makan bersama." Dia mengambil bungkusan dari tangan Andria, lalu berjalan ke pantry tetapi tangannya masih memegang andria, dia takut jika gadis ini lari lagi darinya.
Kali ini Andria tidak bisa lolos darinya, dia berada di penthousenya, dan tangannya dipegang erat oleh pria ini. Andria menatap alec yang sedang menyiapkan piring.
"Apa yang kau inginkan dariku? kenapa kau berbuat seperti ini !" kata Andria mencoba tetap tenang.
Alec tiba-tiba berhenti lalu berbalik menatap Andria yang mengawasinya. "Kau tidak perlu tahu." Ia mengatupkan rahangnya. Andria menghempaskan tangannya hingga terlepas.
"Kau membuang waktuku, aku harus mengantar pesanan."
Andria berbalik begitu saja, tanpa memperdulikan alec yang sedang menahan kemarahannya, tangan besarnya tiba-tiba menarik tubuh Andria hingga menyentak dan menabrak tubuh alec.
Andria terperangkap di tubuhnya, Alec memeluknya erat dan kasar.
"Lepaskan aku brengsek !!" Andria memberontak di tubuhnya, gerakannya membuat Alec lebih mengeratkan pelukannya.
"Kau sama sekali tidak mendengarkanku Andria, aku sudah mencoba bersikap lembut padamu, jadi jangan salahkan aku !"
Dia mengangkat Andria menuju meja makan, Andria memukul-mukul bagian mana saja tubuh Alec, lalu mendudukkannya di hadapannya. Dia melepaskan helm yang dikenakan oleh Andria dan menarik keras kursinya menghadapnya hingga mereka duduk saling berhadapan dengan sangat dekat.
"Kenapa kau begitu keras kepala Andria, aku hanya ingin kita makan bersama, kau sudah menyita waktuku beberapa jam hanya karena makan siang." Bentak Alec.
Andria ingin membalasnya, tetapi satu kecupan cepat mendarat dibibirnya. Andria lalu terdiam, dia betul-betul diam membatu, dia tidak menyangka pria brengsek ini mengecupnya.
"Kau !" desis Andria.
"Cobalah untuk melawan andria dan aku akan menciummu, dan bukan hanya sekedar kecupan singkat." Kata alec tenang. Andria tidak bisa berkata-kata. Wajahnya memerah, dia sangat marah bibir bawahnya bergetar, Alec menyadarinya tetapi tidak memperdulikan. Dengan tenang dia membuka bungkusan yang ada dihadapannya. Lalu mulai mencicipinya.
"Aku akan memotongnya untukmu." Kata alec tenang.
"Kau sinting, psikopat, mesum." Suara Andria bergetar. Alec masih memotong ayam yang ada dihadapannya, tanpa memperdulikan makian dari Andria.
"Kaulah yang membuatku seperti itu, jadi makanlah !" matanya memandang tajam Andria yang membuang mukanya ke arah lain.
"Aku sudah makan !" jawab Andria.
"Ok, kau bisa menemaniku makan, aku belum makan siang berkat seseorang." Kata alec yang mulai menyuap makanan di mulutnya. Andria mengerling pria dihadapannya, dia betul-betul melahap makanannya.
Andria diam tidak lagi memberontak, menunggu Alec selesai dari makannya.
"Ayam bukan kesukaanku, tapi karena kau sudah membawanya untukku, aku akan memakannya."
"Itu karena kau memesannya." bentak Andria, "bukan karena aku ingin !" Alec tersenyum, dia tahu kata-katanya akan membuat Andria marah.
"Kau sudah makan, jadi aku akan pergi." Andria berdiri dari tempat duduknya tetapi Alec menarik tangannya.
"kau ingin makan malam denganku ?" Dia lalu tertawa menatap wajah Andria yang merah padam menahan kemarahannya.
Andria menendang kakinya, lalu berbalik menatapnya, "Dalam mimpimu !" Giginya menggertak, sial ! pria ini bermain-main denganku??
Alec menatap Andria yang berlari keluar dari penthousenya. "Dalam mimpi? tidak andria, hal itu akan menjadi kenyataan." Dia kemudian tertawa, lalu duduk di sofanya, baru kali ini dia bersikap seperti ini, dia menertawai tingkahnya sendiri. Keinginannya bertambah dan semakin kuat untuk selalu melihat gadis itu.