Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
“Kau pikir jeruji emas ini bisa melindungiku, atau kau sedang membangun peti mati yang lebih megah untuk kita semua?” ucap Alisha memecah keheningan ruang keluarga yang luas itu.
Di luar sana, langit Jakarta sedang menumpahkan amarahnya dalam bentuk badai yang mengerikan. Petir menyambar setiap beberapa detik, menerangi taman mawar yang kini tampak seperti medan perang di bawah guyuran hujan. Suasana ini secara menyakitkan mengingatkan Alisha pada malam pertama ia menginjakkan kaki di sini.
“Aku membangun benteng, Alisha. Bukan peti mati,” sahut Damian tanpa mengalihkan pandangan dari jendela besar.
“Benteng biasanya memiliki jalan keluar, Damian. Tempat ini hanya memiliki pintu yang terkunci dari luar,” balas Alisha tajam.
Damian Sagara berdiri dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Ia memegang segelas wiski yang es batunya sudah lama mencair. Wajahnya tampak lebih tirus di bawah cahaya lampu gantung kristal yang temaram. Di atas sofa beludru di antara mereka, Arka tertidur pulas dengan kepala bersandar pada bantal kecil.
“Bicara lebih pelan. Kau akan membangunkannya,” bisik Damian sambil melirik putranya.
Alisha mengatur nafasnya yang memburu. Ia duduk di ujung sofa yang berseberangan dengan kaki Arka. Ia menatap punggung Damian yang tampak begitu kaku dan terbebani.
“Kau paranoid, Damian. Keamanan ini sudah gila. Pengawal bersenjata di depan pintu kamar mandi? Itu berlebihan,” ujar Alisha dengan suara ditekan serendah mungkin.
“Berlebihan adalah saat aku harus menjemput mayatmu di pinggir jalan karena aku lalai menjaga kalian.” Damian berbalik dan menatap Alisha dengan mata yang memerah.
“Pria di museum itu hanya memberikan koin. Dia tidak menarik pelatuk senjata.” Alisha mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
“Koin itu adalah peluru yang tertunda! Kau tidak mengerti sejarah darah keluarga ini!” Damian melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Alisha.
“Lalu beri tahu aku! Jangan biarkan aku menebak-nebak di kegelapan!” seru Alisha dengan bisikan yang penuh penekanan.
Damian terdiam cukup lama. Ia menyesap wiskinya hingga tandas. Gelas kristal itu berdenting saat ia meletakkannya di atas meja marmer dengan kasar.
“Kau ingin tahu tentang nama Sagara?” Damian tertawa getir.
“Nama ini tegak di atas tumpukan janji yang dikhianati. Ayahku tidak membangun kekuasaan dengan tangan yang bersih. Dia menghancurkan keluarga Adiwangsa hingga ke akar-akarnya hanya untuk menguasai jalur distribusi mereka.”
Alisha mematung. Ia melihat kilat menyambar di luar, menciptakan siluet wajah Damian yang tampak kelam.
“Dan sekarang mereka kembali untuk menagih hutang itu pada Arka?” tanya Alisha dengan suara bergetar.
“Mereka tidak akan mendapatkan Arka. Tidak selama aku masih bernafas.” Damian mengepalkan tangannya kuat.
“Jika aku harus mengunci seluruh dunia agar kalian aman, maka aku akan melakukannya tanpa ragu sedikitpun.”
“Itu bukan cinta, Damian. Itu obsesi. Itu posesif yang merusak.” Alisha berdiri, menantang tatapan Damian.
“Sebut sesukamu. Aku tidak peduli pada istilah moralmu.” Damian menarik nafas panjang. “Aku sudah melihat bagaimana ayahku kehilangan segalanya karena satu kecerobohan. Aku tidak akan membiarkan sejarah merampas satu-satunya alasan yang membuatku ingin tetap menjadi manusia.”
Alisha merasakan ketegangan yang sangat pekat di antara mereka. Ruang keluarga yang mewah itu mendadak terasa sangat sempit. Ia merasa Damian sedang mencekiknya dengan rasa protektif yang tidak sehat. Pria ini tidak hanya takut pada musuh di luar sana. Ia takut pada kegagalan menjaga milik pribadinya.
“Kau tidak bisa mengontrol takdir dengan mengunci pintu, Damian,” ujar Alisha pelan.
“Mungkin tidak. Tapi aku bisa memastikan siapa pun yang ingin masuk harus melangkahi mayatku terlebih dahulu,” sahut Damian dengan nada yang sangat final.
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah taman belakang. Bumi seolah bergetar hebat. Detik berikutnya, seluruh cahaya di dalam mansion padam seketika. Kegelapan total menyelimuti mereka. Suara dengung AC yang biasanya menjadi latar belakang kini hilang, digantikan oleh suara hujan yang terasa semakin mengancam.
“Damian?” Suara Alisha terdengar panik dalam kegelapan.
“Jangan bergerak!” perintah Damian tegas.
Alisha merasakan sepasang tangan kuat menarik bahunya dengan sangat cepat. Dalam sekejap, ia sudah berada dalam dekapan Damian yang sangat erat. Damian menariknya menjauh dari jendela besar, membawa Alisha ke sudut ruangan yang lebih terlindung oleh pilar beton yang kokoh.
“Arka! Di mana Arka!” Alisha mencoba melepaskan diri untuk meraih putranya.
“Tetap di sini! Jimmy sudah bersiaga di dekatnya!” Damian menekan punggung Alisha ke dinding pilar.
Alisha bisa merasakan tubuh Damian yang tegap menempel pada tubuhnya. Pria itu menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk melindungi Alisha. Dalam kesunyian dan kegelapan yang mencekam itu, indra pendengaran
Alisha menjadi sangat tajam.
Ia merasakan nafas Damian yang memburu di ceruk lehernya. Tangannya tanpa sengaja menyentuh dada kiri Damian. Dan untuk pertama kalinya, Alisha merasakan sesuatu yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
Jantung Damian berdetak dengan sangat kencang dan tidak beraturan. Itu bukan detak jantung seorang penguasa yang sombong, melainkan manusia yang sedang berada di puncak ketakutan.
Damian Sagara benar-benar ketakutan. Pria yang selama ini tampak tidak memiliki emosi itu kini gemetar di bawah dekapan dingin kegelapan. Ia tidak takut pada kematiannya sendiri. Ia ketakutan setengah mati jika kegelapan ini merampas Alisha dan Arka dari sisinya sebelum ia sempat menebus segala dosanya.
“Damian,” bisik Alisha. “Kau gemetar.”
“Diamlah!” cetus Damian dengan suara yang serak dan pecah.
“Hanya... tetaplah di sini.”
Damian mengeratkan pelukannya. Ia menyembunyikan wajahnya di rambut Alisha, mencari perlindungan yang justru datang dari orang yang ia kurung. Alisha bisa merasakan kelembaban di pundaknya, sebuah tanda kerapuhan yang sangat nyata. Kebencian yang Alisha pelihara setiap hari seolah-olah luntur oleh getaran ketakutan dari pria di hadapannya.
“Kau benar-benar mengira mereka ada di sini sekarang?” tanya Alisha dengan nada yang lebih lembut.
“Aku tidak tahu,” jawab Damian jujur.
“Tapi aku lebih baik dianggap gila daripada kehilangan kalian karena meremehkan ancaman itu.”
Lampu darurat berwarna merah tiba-tiba menyala redup di sepanjang lorong. Cahaya remang-remang itu memperlihatkan wajah Damian yang basah oleh keringat dingin. Matanya menatap Alisha dengan intensitas yang menyakitkan. Ada keputusasaan yang sangat dalam di sana.
“Jangan pergi, Alisha,” pinta Damian.
“Bukan karena kontrak itu. Tapi karena aku tidak tahu bagaimana caranya tetap waras jika rumah ini kembali kosong seperti dulu.”
Alisha menatap mata pria itu. Ia melihat sisi rapuh dari seorang monster. Ia ingin membalas dengan kata-kata tajam tentang kebebasan, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Untuk pertama kalinya, Alisha menyadari bahwa penjara ini memiliki dua penghuni yang sama-sama tersiksa oleh bayang-bayang masa lalu.
“Arka sudah bangun,” ujar Alisha saat melihat bocah itu duduk tegak di sofa dengan mata waspada.
Damian segera melepaskan pelukannya dan merapikan kemejanya dengan kikuk. Ia kembali menjadi sosok yang dingin dalam sekejap, seolah-olah kerapuhan tadi hanyalah ilusi dari kegelapan sesaat.
“Jimmy! Laporkan status keamanan!” teriak Damian ke arah koridor.
Arka menatap orang tuanya bergantian. Ia melihat ibunya yang tampak linglung dan ayahnya yang tampak begitu tegang. Arka tidak mengatakan apa-apa tentang apa yang ia lihat dalam kegelapan tadi. Ia hanya meraba saku celananya, memastikan chip dari pria bertudung itu masih ada di sana.
“Ibu, aku ingin kembali ke kamar,” ujar Arka tenang.
“Ayo, Sayang. Ibu antar.” Alisha menggandeng tangan putranya.
Sebelum keluar dari ruang keluarga, Alisha menoleh sejenak ke arah Damian. Pria itu kembali berdiri di depan jendela, menatap badai yang mulai mereda namun tetap mencekam.
“Masa lalu tidak akan berhenti mengejarmu hanya karena kau menutup pintu, Damian,” ujar Alisha sebelum menghilang di balik pintu.
Damian tidak menjawab. Ia hanya memegang dadanya sendiri, mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia tahu Alisha benar. Tapi baginya, membangun dinding adalah satu-satunya bahasa kasih sayang yang ia pahami sejak kecil di bawah tekanan Raina. Malam itu, di bawah atap yang sama, jarak di antara mereka terasa sedikit lebih dekat, namun juga jauh lebih berbahaya.