Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. AMSALIR
Pagi itu, istana kembali gempar. Kabar tentang pencopotan gelar Selir Agung membuat Ling Xian murka. Ia yang selama ini menjadi selir kesayangan, kini merasa dibuang begitu saja.
Firasatnya mengenai pencopotan gelar itu akhirnya menjadi kenyataan. Sejak pernikahan Selir Zhen Yi, Kaisar bahkan tidak pernah lagi menginjakkan kaki di kediamannya. Sudah lama ia menahan sesak di dada, namun kali ini ia tak akan tinggal diam.
'Sialan! Jalang itu berani mengambil tempatku. Aku pastikan dia akan menerima balasannya!' pekiknya seraya mengobrak-abrik isi kamar.
Dengan tatapan penuh amarah dan tangan yang tergenggam erat, ia berdesis, 'Akan kubalas semua penghinaan ini, Zhen Yi. Aku bersumpah.'
Matahari baru saja naik setinggi galah ketika seluruh pejabat istana dan penghuni harem berkumpul di pelataran aula agung. Udara terasa berat oleh aroma dupa dan ketegangan yang kasatmata. Di barisan paling depan, berdiri Permaisuri Zi-wei dalam balutan jubah sutra merah tua, tatapannya penuh kebencian dan amarah.
Ia membenci Ling Xian karena keangkuhannya, tetapi melihat Zhen Yi, membuat amarah di dadanya jauh lebih membara. Bagi Zi-wei, Zhen Yi adalah ancaman yang lebih berbahaya.
Kasim kepala maju ke depan, membuka gulungan kain kuning cerah dengan gerakan yang sangat khidmat. Suaranya yang melengking memecah keheningan:
"Menerima titah dari Langit, Kaisar memutuskan, Bahwa keharmonisan istana adalah cerminan kemakmuran negeri. Selir Ling Xian, karena kesehatannya yang kian memburuk, maka gelar Selir Agung resmi dicabut darinya mulai detik ini."
Bisikan halus merambat di antara para pejabat, namun segera bungkam saat Kasim melanjutkan.
"Dan atas budi pekerti serta kesetiaannya, Selir Zhen Yi dengan ini dianugerahi gelar Selir Agung Mulia (Huang Guifei). Kepadanya diberikan Segel Emas dan hak untuk memimpin urusan istana di bawah bimbingan Yang Mulia Permaisuri."
Mendengar itu, rahang Permaisuri Zi-wei mengeras. Itu adalah tamparan keras baginya. Secara simbolis, Kaisar baru saja memberikan Zhen Yi "kunci" kekuasaan yang selama ini ia jaga sendirian.
Zhen Yi maju beberapa langkah, bersujud dengan keanggunan yang sempurna, yang di mata Zi-wei tampak seperti ejekan yang halus.
"Hamba menerima anugerah Yang Mulia. Semoga panjang umur, panjang umur, Yang Mulia Kaisar."
Permaisuri Zi-Wei melirik ke arah para pejabat seolah memberikan sebuah isyarat. Tiba-tiba seorang pejabat tinggi maju dengan memberi hormat.
"Maafkan hamba Yang Mulia, tapi apa ini tidak terlalu berlebihan? Selir Zhen baru beberapa hari diangkat menjadi selir. Sangat tidak pantas jika kini dia menjadi selir Agung, Yang Mulia," protesnya.
"Mohon pertimbangan Yang Mulia!" seru para pejabat serempak.
Kaisar tampak murka karena penolakan itu. Baginya, menghina atau merendahkan Zhen Yi berarti merendahkan kekuasaannya.
Dengan tatapan dingin, Kaisar melirik ke arah Wang Zihan. Dengan satu anggukan kecil, Zihan yang berdiri tak jauh dari pejabat itu langsung menghunus kan pedang dan dengan sekali tebasan darah mengucur.
Seketika semua orang tercetak sambil memegangi leher mereka. Seolah merasa ngeri.
"Kalian masih mau menentang keputusanku?" ujar Kaisar, dengan nada rendah dan serak.
Semua hanya bisa saling menatap. Bahkan Permaisuri Zi-Wei tak berani menatap pejabat yang kini bersimbah darah.
"Aku harap kalian berfikir dulu sebelum berbicara. Jika ada yang menentang langsung habisi di tempat, Putra Mahkota. Aku mengandalkan mu," ungkap Kaisar.
Wang Zihan tak menjawab. Ia hanya menunduk, seakan mengiyakan ucapan ayahandanya itu.
Di sudut lain pelataran, Ling Xian, menatap punggung Zhen Yi dengan mata yang berkilat benci. Jika tatapan bisa membunuh, upacara penobatan itu pasti sudah berubah menjadi pemakaman.
Setelah upacara selesai dan para pejabat membubarkan diri, suasana di koridor istana tidak lantas mencair. Permaisuri Zi-wei berdiri mematung, ia menunggu.
Zhen Yi, yang kini resmi menyandang gelar Huang Guifei, melangkah mendekat dengan dikawal oleh barisan pelayan baru.
Zhen Yi berhenti tepat di samping Permaisuri, lalu membungkuk dengan sangat rendah.
"Mohon doa restu dari Yang Mulia Permaisuri," ucap Zhen Yi dengan suara selembut sutra.
"Hamba masih baru dalam memegang tanggung jawab besar untuk mengelola urusan istana. Hamba berharap bisa belajar banyak dari Anda."
Permaisuri Zi-wei perlahan menoleh. Ia menatap Zhen Yi dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan mahkota baru yang kini menghiasi rambut musuhnya itu.
"Belajar?" Zi-wei tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Istana ini bukan tempat untuk belajar, Zhen Yi. Ini adalah tempat di mana satu kesalahan kecil bisa membuatmu kehilangan segalanya, persis seperti yang baru saja dialami Ling Xian."
Ia melangkah satu tindak lebih dekat, merendahkan suaranya hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar. "Jangan mengira karena Kaisar memberimu segel emas, kau bisa duduk sejajar denganku. Pohon yang tumbuh terlalu cepat biasanya adalah yang pertama tumbang saat badai tiba."
Zhen Yi tidak gentar. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke mata Permaisuri. "Terima kasih atas nasihatnya, Yang Mulia. Namun, pohon yang akarnya kuat akan bertahan meski badainya berasal dari dalam istana sendiri."
Ketegangan di antara keduanya begitu tajam hingga para pelayan di sekitar mereka menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani bernapas.
"Kita lihat saja sekuat apa akarmu," desis Zi-wei sebelum berbalik pergi dengan angkuh, meninggalkan Zhen Yi yang masih berdiri dengan senyum tenang yang mematikan.
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏