NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 32: Ikatan takdir [2]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Keputusan itu muncul tanpa banyak pertimbangan panjang. Bukan karena impulsif, melainkan karena Rakes tahu betul satu hal tentang dirinya sendiri: jika amarah Kartaswiraga itu dibiarkan terlalu lama tanpa arah, ia akan mencari jalan keluarnya sendiri.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

Maka sore itu, setelah memastikan yang lain kembali tenggelam dalam rutinitas masing-masing, Rakes memilih menjauh sebentar. Ia mengenakan jaket tipis, mengambil ponsel, lalu berjalan keluar asrama tanpa menjelaskan terlalu banyak. Udara di luar mulai mendingin, langit berwarna abu-abu kusam, dan lampu-lampu jalan baru saja menyala satu per satu.

Kafe itu tidak asing baginya. Bukan tempat favorit, tapi cukup netral, tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi. Musik diputar pelan, aroma kopi bercampur dengan bau kayu basah setelah hujan sore. Tempat yang biasanya aman untuk berpikir.

Ia memilih meja di sudut, memesan minuman tanpa benar-benar memerhatikan apa namanya, lalu menunggu.

Tidak lama kemudian, seseorang datang.

Langkahnya santai, terlalu santai untuk situasi yang seharusnya serius. Pakaian rapi, senyum tipis yang tidak pernah benar-benar sampai ke mata. Orang itu menarik kursi tanpa permisi dan duduk tepat di hadapan Rakes, seolah posisi itu sudah disepakati sejak lama.

Rakes tidak menyapa lebih dulu. Ia hanya mengangkat pandangan, tatapannya datar.

“Lama juga lo,” orang itu membuka percakapan, nadanya ringan tapi mengandung sesuatu yang menusuk. “Gue kira lo udah sibuk jadi babysitter anak-anak bermasalah.”

Rakes menghela napas pelan. Ia menahan diri untuk tidak langsung bereaksi. “Lo yang minta ketemu.”

“Dan lo datang,” balasnya cepat, lalu tersenyum miring. “Masih gampang dipancing, ternyata.”

Nada itu, merendahkan, menilai dari atas, langsung menekan titik yang sudah lama sensitif. Rakes menyadari bahunya sedikit menegang. Amarah Kartaswiraga itu berdenyut lebih kuat, seperti ada tangan tak terlihat yang mendorongnya untuk berdiri, untuk menekan balik, untuk menghancurkan harga diri lawan bicara di depannya.

Namun ia tetap duduk.

“Apa yang lo mau?” tanyanya singkat.

Orang itu tertawa kecil, seolah pertanyaan itu lucu. “Santai aja. Gue cuma penasaran. Katanya lo sekarang sibuk jaga keturunan ini-itu. Demar, Kartaswiraga, segala macam. Berat ya?”

Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap Rakes dari ujung kepala sampai kaki. “Dulu gue kira lo bakal jadi orang penting. Eh, ternyata malah jadi penjaga rahasia yang nggak ada yang minta.”

Kalimat itu sengaja dipilih. Rakes tahu. Setiap kata diarahkan untuk menekan, untuk memancing reaksi, untuk membuktikan bahwa Rakes sedang goyah.

Tangannya mengepal di bawah meja.

“Ada yang mau lo sampaikan, atau lo cuma datang buat ngerasa lebih tinggi?” Rakes berkata pelan, suaranya terkendali tapi dingin.

“Wah, sensitif,” balasnya cepat. “Atau jangan-jangan gue bener?”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Lo kelihatan capek, Rak. Kayak orang yang lagi bawa beban yang sebenernya bukan tanggung jawabnya. Dan lucunya, lo tetap sok kuat.”

Rakes menatapnya lurus. Untuk sesaat, dunia di sekeliling kafe itu seakan meredup. Yang ada hanya dua pasang mata dan sejarah pribadi yang tidak pernah selesai.

“Lo nggak tau apa-apa,” jawab Rakes akhirnya.

“Oh, gue tau cukup,” sahutnya ringan. “Cukup buat tau kalau lo sekarang gampang diserang. Emosi lo nggak stabil. Dan orang kayak lo—” ia berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil, “—biasanya bikin kesalahan.”

Kalimat itu mengenai sasaran.

Bukan karena kebenarannya, tapi karena ketepatannya.

Rakes menyadari detak jantungnya meningkat. Bukan karena takut, melainkan karena dorongan lama itu ingin keluar. Ingin membuktikan. Ingin membungkam. Ingin menunjukkan bahwa meremehkannya adalah kesalahan besar.

Namun justru di titik itulah ia berhenti.

Ia teringat wajah Zack yang berusaha terlihat biasa saja. Saka dengan sketsa-sketsanya yang tidak ia pahami. Kale dan Hamu yang mencoba tetap rasional di tengah kekacauan. Ia teringat keputusan yang sudah ia buat: ia tidak akan membiarkan sejarah berulang karena ia kehilangan kendali.

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Kalau itu aja yang lo mau,” katanya sambil berdiri, “pertemuan ini selesai.”

Orang itu mengangkat alis. “Pergi gitu aja?”

“Gue nggak butuh pembenaran dari orang yang cuma hidup dari ngerendahin orang lain.”

Ada jeda singkat. Untuk pertama kalinya, senyum orang itu sedikit memudar.

"Memang keturunan Polarios harus dibanggakan. "

Rakes tidak jadi berdiri.

Gerakannya terhenti di tengah niat, bahunya masih tegang, punggungnya belum sepenuhnya terangkat dari sandaran kursi. Amarah itu naik, bukan meledak, melainkan mengeras, seperti logam yang dipanaskan lalu dicelupkan ke air dingin. Tajam. Padat. Siap melukai jika dilepas.

Laki-laki di depannya menyadari perubahan itu dan justru tersenyum lebih lebar, seolah akhirnya menemukan celah yang ia cari sejak awal.

“Ah,” katanya pelan, puas. “Nah. Itu dia. Reaksi itu.”

Rakes kembali duduk sepenuhnya. Tangannya kini terbuka di atas meja, telapak menghadap ke bawah, menahan getaran halus di jari-jarinya. Ia menatap lawan bicaranya dengan fokus yang berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi sekadar jengkel. Kini, ia mengenali.

“Damian James Remington,” ucap Rakes tenang, tapi setiap suku katanya berat. “Pantes.”

Senyum Damian tidak hilang, malah semakin tipis dan terkontrol. “Masih inget nama gue. Gue tersanjung.”

“Gue inget garisnya,” balas Rakes datar. “Lebih tepatnya, darahnya.”

Damian menyandarkan tubuh, menyilangkan kaki dengan santai. “Langsung ke situ? Kirain lo bakal muter dulu. Tapi ya wajar sih. Lo lagi sensitif.”

Kalimat itu merendahkan, sengaja. Rakes tidak memotong. Ia membiarkan Damian bicara, karena kini ia paham satu hal: orang ini tidak datang untuk diskusi. Ia datang untuk mengorek luka.

“Kakek gue,” Damian melanjutkan, nadanya seperti sedang bercerita ringan, “Hans Remington. Nama itu masih bikin garis tertentu gelisah, ya?”

Udara di sekitar meja mereka terasa lebih berat. Rakes tidak bergerak, tapi di dalam dadanya, sesuatu berdenyut keras. Nama itu bukan sekadar nama. Ia adalah simpul sejarah. Salah satu tangan yang ikut mendorong Raden Mahaniyan Kartaswiraga ke arah kematian yang seharusnya tidak terjadi.

“Kalian selalu suka nyebutnya tragedi,” lanjut Damian. “Padahal dari sisi kami, itu efisiensi.”

Rakes menyipitkan mata. “Lo ngomong gampang karena lo nggak hidup dengan akibatnya.”

Damian tertawa pendek. “Justru gue hidup karena itu.”

Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap Rakes tanpa senyum kali ini. “Lo tau kenapa gue mau ketemu? Bukan buat ngejek doang. Tapi karena lo sekarang berdiri di titik yang sama kayak leluhur lo. Bawa beban yang terlalu gede, jaga orang-orang yang sebenernya nggak minta dijagain.”

Rakes menahan napas. Amarah Kartaswiraga itu mendorong keras dari dalam, menuntut satu hal sederhana: hentikan dia. Sekarang.

Namun Rakes memilih jalan lain.

“Kalau lo mau ngomong soal Mahaniyan,” katanya rendah, terkontrol, “jangan pake nada sok menang.”

Damian mengangkat bahu. “Menang atau nggak, hasilnya jelas. Kuncinya mati. Jalur utama putus.”

Ia menatap Rakes tajam. “Dan sekarang lo kelihatan sibuk nyelamatin sisa-sisa yang bahkan belum tentu bisa diselamatin.”

Kalimat itu menusuk tepat ke pusat konflik Rakes. Bukan karena kejam, tapi karena ia sendiri belum punya jawaban pasti. Kutukan Demar yang mulai bergerak di tubuh Zack. Garis Kartaswiraga yang masih menggeram di dalam dirinya. Dan kebenaran bahwa Mahaniyan, kunci terakhir, telah dibunuh oleh keputusan bersama orang-orang seperti Hans Remington.

“Lo salah satu dari mereka,” kata Rakes akhirnya, suaranya dingin. “Keluarga lo ikut motong jalan keluar.”

Damian tersenyum lagi, kali ini tanpa humor. “Dan keluarga lo gagal ngejaga.”

Hening jatuh di antara mereka. Musik kafe tetap mengalun, barista tetap mondar-mandir, dunia luar tetap berjalan. Tapi di meja itu, dua garis keturunan yang saling berseberangan saling menekan tanpa menyentuh.

Rakes merasakan amarah itu mencapai puncaknya, bukan lagi liar, tapi terkunci rapat, seperti binatang buas yang dipaksa duduk. Ia tahu, jika ia kehilangan kendali sekarang, Damian akan menang. Bukan secara fisik, tapi secara psikologis.

Ia tidak akan memberi itu.

“Kalau tujuan lo cuma buat ngingetin gue soal kegagalan leluhur,” ujar Rakes pelan, “lo buang-buang waktu.”

Damian menyipitkan mata. “Oh, bukan itu.”

Ia mengetuk meja sekali, ringan. “Gue mau lo tau satu hal. Jalur kedua yang lo pikir masih aman? Banyak mata ngeliat ke sana.”

Rakes menegang sepersekian detik. Cukup bagi Damian untuk melihatnya.

“Ah,” Damian tersenyum puas. “Berarti gue bener.”

Rakes menatapnya lurus, tanpa emosi di wajahnya. “Lo udah selesai ngomong?”

“Belum,” balas Damian santai. “Tapi gue rasa segitu dulu cukup. Anggap aja peringatan ramah.”

Ia berdiri, merapikan jaketnya. “Hati-hati, Rak. Sejarah itu nggak kejam. Dia cuma konsisten. Dan orang kayak lo—” ia berhenti sejenak, mencondongkan kepala, “—biasanya jadi korban terakhir sebelum semuanya runtuh.”

Damian melangkah pergi, meninggalkan meja itu tanpa menoleh lagi.

Rakes tetap duduk.

Butuh beberapa detik sebelum napasnya kembali stabil. Amarah Kartaswiraga itu masih mengaum di dadanya, marah, terluka, menuntut balasan. Tapi kini, ia punya kepastian baru.

Ini bukan lagi soal masa lalu.

Ini soal siapa yang lebih dulu bergerak.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Rakes sadar:

perang ini sudah dimulai, bahkan sebelum mereka menyadarinya.

................

Rakes keluar dari kafe tanpa menoleh ke belakang. Pintu kaca menutup pelan, memutus aroma kopi dan percakapan rendah yang tertinggal di dalam. Udara malam menyambutnya dengan dingin yang bersih, cukup untuk meredakan panas yang sejak tadi menekan dadanya. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti di bawah lampu jalan yang cahayanya kekuningan dan tidak terlalu terang.

Ia tidak langsung kembali ke asrama.

Tangannya masuk ke saku jaket, mengambil ponsel. Kali ini, pilihan yang ia buat tidak diarahkan pada strategi atau pengawasan, melainkan pada satu kebutuhan mendasar: kepastian. Nama itu, Remington, terlalu berat untuk dibiarkan menggantung tanpa konteks yang jelas.

Ia menekan satu kontak yang sangat jarang ia hubungi dalam kondisi biasa. Panggilan menuju Berlin itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya tersambung.

“Rakes?” suara ibunya terdengar tenang, sedikit heran, namun sama sekali tidak panik. “Ada apa menelepon malam-malam begini?”

Rakes menarik napas terlebih dahulu. Nada bicaranya berubah, lebih tertata, lebih halus, seperti lapisan lain dari dirinya yang hanya muncul ketika berhadapan dengan keluarga.

“Maaf mengganggu,” katanya. “Aku hanya ingin bertanya sesuatu.”

“Tentu,” jawab ibunya tanpa ragu. “Kamu terdengar serius.”

Rakes menatap lurus ke jalan di depannya. Tidak ada orang lain di sekitar, hanya suara jauh kendaraan dan angin yang menggeser daun-daun kering. “Ibu… apakah Ibu pernah mendengar nama Remington?”

Di seberang, tidak ada jawaban langsung. Hanya keheningan singkat, cukup lama untuk membuat Rakes mengerti bahwa ia menyentuh sesuatu yang lama tidak disebut.

“Apa yang membuatmu menanyakan itu?” tanya ibunya akhirnya, suaranya tetap lembut, tetapi kini lebih berhati-hati.

“Aku bertemu seseorang,” jawab Rakes jujur, tanpa detail berlebihan. “Ia menyebut nama itu seolah aku seharusnya tahu. Aku ingin memastikannya, dari keluarga sendiri.”

Keheningan kembali turun, kali ini lebih berat. Rakes bisa membayangkan ibunya mengalihkan pandangan, mungkin menatap jendela, atau sekadar mengatur napas sebelum menjawab.

“Remington bukan nama yang sering kami bicarakan,” kata ibunya pelan. “Itu bukan karena tidak penting, melainkan karena dampaknya terlalu besar pada masa lalu.”

Rakes merasakan dadanya mengeras. “Jadi memang ada keterkaitan.”

“Ada,” jawab ibunya tanpa mengelak. “Keluarga Remington termasuk pihak yang berada di lingkar keputusan besar pada masa itu. Mereka tidak berdiri di garis depan, tetapi pengaruhnya nyata.”

“Dalam kematian Mahaniyan Kartaswiraga?” Rakes bertanya langsung, suaranya terkendali.

Ibunya menghela napas panjang. “Ya.”

Satu kata itu jatuh seperti batu.

Rakes menutup matanya sejenak. Amarah Kartaswiraga di dalam dirinya bergerak, menekan dari dalam, tetapi kali ini ia tidak membiarkannya mengambil alih. Ia hanya mendengarkan.

“Yang perlu kamu pahami,” lanjut ibunya, “bukan hanya siapa yang bertindak, tetapi siapa yang memilih untuk membiarkan hal itu terjadi. Remington termasuk di antara mereka.”

“Apakah mereka masih… aktif?” tanya Rakes.

“Ada garis yang masih berjalan,” jawab ibunya jujur. “Dan jika namanya kembali muncul di hadapanmu, itu berarti masa lalu sedang mencoba menagih sesuatu.”

Rakes membuka mata, menatap cahaya lampu jalan yang bergetar samar. “Terima kasih, Bu. Itu saja yang ingin aku pastikan.”

“Rakes,” suara ibunya sedikit melunak, “apa pun yang sedang kamu hadapi, jangan menanggungnya sendirian.”

Ia terdiam sesaat sebelum menjawab. “Aku akan berhati-hati.”

“Aku tahu,” kata ibunya lembut. “Dan Rakes… jangan biarkan orang-orang seperti itu menggoyahkan kendalimu.”

Panggilan berakhir dengan tenang. Tidak ada pesan panjang, tidak ada larangan keras. Tetapi justru ketenangan itulah yang membuat informasi tadi terasa semakin berat.

Rakes menurunkan ponsel dan memasukkannya kembali ke saku. Ia berdiri lebih lama dari yang ia rencanakan, membiarkan malam menyerap sisa emosi yang belum sepenuhnya reda.

Sekarang ia tahu.

Nama Remington bukan sekadar provokasi dari seorang pria di kafe. Itu adalah bagian dari sejarah yang sengaja dikubur, dan kini mulai menggeliat ke permukaan.

Dan Rakes sadar, langkah selanjutnya tidak lagi bisa dianggap sebagai reaksi spontan.

Ini sudah menjadi pilihan.

Rakes akhirnya melangkah meninggalkan tempat itu. Kali ini benar-benar pergi, menyatu dengan arus malam yang tenang dan nyaris acuh. Langkahnya mantap, tetapi pikirannya bekerja tanpa henti, menyusun ulang semua yang baru saja ia dengar, semua yang sengaja tidak dikatakan.

Ibunya sudah tahu.

Kesadaran itu lebih berat daripada pengakuan apa pun. Bukan karena mengejutkan, melainkan karena maknanya jelas: keluarga mereka tidak pernah benar-benar berada di luar pusaran sejarah itu. Mereka hanya memilih diam, menunggu sampai satu generasi berikutnya cukup kuat untuk berdiri di tengahnya tanpa runtuh.

Dan generasi itu… adalah dirinya.

Di sepanjang perjalanan kembali ke asrama, Rakes merasakan amarah Kartaswiraga di dalam dirinya tidak lagi mengaum liar. Ia berubah bentuk. Tidak lagi seperti api yang ingin membakar, melainkan seperti bara yang terus menyala, stabil, siap dipakai kapan saja. Amarah yang tidak mendorongnya untuk menyerang, tetapi untuk bertahan dan menghitung langkah.

Damian Remington bukan ancaman langsung. Belum. Ia adalah penanda. Bukti bahwa pihak lain sudah mulai menggeser bidaknya ke papan yang sama.

Dan yang lebih mengganggu, mereka tahu Rakes ada di sana.

Saat ia sampai di depan asrama, lampu-lampu jendela masih menyala. Ada suara tawa samar dari lantai atas, mungkin Kale yang sedang bercanda tanpa konteks, atau Saka yang mengomentari sesuatu dengan gaya setengah serius. Dunia kecil mereka masih utuh, masih terasa normal.

Rakes berhenti sejenak sebelum masuk.

Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak boleh membawa sisa pertemuan tadi masuk ke dalam. Tidak malam ini. Tidak saat yang lain masih mencoba menjalani hidup tanpa terus-menerus menoleh ke belakang.

Namun satu hal sudah ia tetapkan dalam diam.

Jika keluarga Remington kembali bergerak, jika jalur lama kembali diperebutkan, maka ia tidak akan menunggu sampai sejarah menelan orang-orang di sekitarnya satu per satu.

Ia akan berdiri di depan.

Bukan sebagai pewaris yang terikat masa lalu, bukan sebagai penjaga yang reaktif, tetapi sebagai seseorang yang sadar sepenuhnya akan apa yang sedang ia hadapi.

Rakes membuka pintu asrama dan melangkah masuk, wajahnya kembali netral, sikapnya kembali seperti biasa. Tidak ada yang perlu tahu tentang percakapan di bawah lampu jalan tadi. Tidak ada yang perlu memikul beban itu bersamanya, setidaknya untuk sekarang.

Di dalam dirinya, satu kepastian mengendap dengan tenang namun tegas.

Pertemuan di kafe itu bukan akhir dari sesuatu.

Itu adalah tanda bahwa permainan lama sedang dimainkan kembali, dengan aturan yang sama kejamnya, dan kali ini, Rakes berniat untuk tidak sekadar bertahan.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
Astari ques
🤣🤣🤣
Astari ques
iyalah rakes sangatlah mental baja💪
Astari ques
si rakes di luar angkasa emang🤭🤣🤣
Astari ques
alur ceritanya bagus dan penokohannya keren keren🤗🤗
Astari ques: Siap kak😄😄
total 2 replies
Astari ques
seru banget ceritanya😍
Astari ques
Wow cerita bagus banget mana ganteng2 lagi karakternya😍
Karamellatee Clandestories
lanjutt baca ajaa
Rectoverso
menarique.... /Applaud/
Junet-ssi
Zack punya penyakit mental kah?
Aarmaaa28
hi
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
bagus sih buat cerita nya NIAT banget malah, tapi kurang promosi aja
Karamellatee Clandestories: terimakasihhhn
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!