Kisah ini dibumbui dengan air mata, emosi, kesabaran, perjuangan, kecerdasan, dan permainan otak.
Berawal dari dilecehkan calon suaminya, hamil, lalu keguguran, dijebak sampai terkena sindrom trauma pelecehan seksual dan dikhianati orang-orang kepercayaan sampai gagal menikah di hari-H. Tidak hanya disitu, setelah dia menikah dengan pemuda kaya nan rupawan dari Negeri Ginseng yang telah menyelamatkan hidupnya, wanita ini harus menghadapi beberapa wanita pengganggu yang sering kali ingin merebut suami berharganya. Namun, saat ini tidak mudah untuk berhadapan dengannya, karena dia wanita tangguh, cerdik dan pandai bersilat lidah.
Aku sarankan jangan mengusik ketenangannya, apalagi sampai berniat merebut suaminya! Kalau tidak, hidup kalian akan dibuat merana seperti para pelakor yang ada di dalam cerita ini. Yuk, simak, cerita yang bikin greget gemes degdeg serrr ini...
...
Mampir juga ke karyaku yang lainnya, 'Istri Kecil Yang Nakal' sangat direkomendasikan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Alyazahras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Egois
.
Rencana mulai di susun.
Esme akan berpura-pura layaknya tidak terjadi apa-apa ketika di hadapan para pengkhianat itu. Saat Alucard mengatakan pernikahannya harus di batalkan, Esme langsung menolak mentah-mentah. Sekian lama ia menanti untuk menjadi istri Leo, tapi kenapa saat pernikahan itu sudah di depan mata, Leo malah mengkhianatinya.
Esme bersikeras ingin tetap melanjutkan pernikahannya, ia ingin merasakan bagaimana menjadi istri Leo. Esme tidak rela yang akan menjadi istri Leo nantinya adalah Lolyta, begitulah prasangkanya.
Alucard tak habis pikir dengan wanita di hadapannya. Ada apa dengannya? Sudah disakiti bukannya pergi, malah semakin menempel?
Jika Esme sudah sah menjadi istri Leo, ia akan semakin sulit lepas darinya.
Meskipun raganya sudah tak mau, tapi hatinya masih menerima Leo. Entahlah, mungkin cinta itu memang kekeliruan yang membodohi.
Rencana yang sudah di atur Alucard dari A-Z menjadi berantakan, karena keras kepalanya Esme yang ingin tetap menikah dengan Leo.
Alucard menyapu kasar wajahnya. Dengan berat hati, ia pun menyetujui kemauan Esme.
Alucard harus membuat strategi baru lagi.
Setelah berdiskusi lama, malam hari sebelum pernikahaan itu tiba, Alucard mengantarkan Esme ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Esme, ia langsung menutup pintu mobil Alucard. Alucard beserta sekretaris Kim pun segera pergi dari situ sebelum orang tuanya tahu.
Saat berjalan masuk, ternyata di dalam sedang ramai orang. Sepertinya mereka masih mengkhawatirkan keadaan Esme, dan masih mencari-carinya.
"Assalamualaikum,"
Ucapan salam dari Esme memecahkan kegelisahan mereka semua. Ayah dan Ibunya langsung mendekat dan memeluknya erat.
"Esme! Kau dari mana saja, nak?" tanya Tn.Harits.
Esme ingin sekali menangis di pelukan ayahnya, karena ia ingat, hanya ayahnya seorang yang begitu tulus menyayanginya.
"Maaf ayah, ibu. Beberapa hari ini aku mengunjungi temanku di Desa, aku mengundangnya ke acara pernikahanku besok. Tapi, disana sangat susah sekali sinyal. Kendaraan pun sangat jarang. Maka dari itu aku menginap beberapa hari disana," jelasnya penuh dusta.
Tn.Harit mengerutkan keningnya, ia benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Esme. "Sudahlah, jelaskan nanti saja. Sebaiknya kau istirahat dulu," kata Tn.Harits. "Inah, cepat antar Esme ke kamarnya. Bawakan makanan juga."
Betapa tulusnya kekhawatiran seorang ayah pada anaknya.
Bi Inah pun yang hanya sekedar pembantu dirumah itu, merasa sangat mencemaskan Esme. Ia mengantar Esme ke kamarnya.
Ny.Hilda segera mengambil ponselnya, ia mengabari Leo bahwa Esme sudah pulang saat ini, dan pernikahannya bisa di lanjutkan besok.
Dengan tidak tahu malunya, ia berbicara seperti itu.
"Kak, aku merasa ada yang tidak beres dengan Kak Esme," bisik Lolyta pada Balmond.
"Tidak tahu, ah. Aku lapar, masakan selametan kemarin apa masih ada?" Dipikiran Balmond hanya makanan saja.
Lolyta merasa jengkel menghadapi sikap kakaknya yang doyan makan itu. "Ada, tuh cari saja di tempat sampah!" Setelah berbicara seperti itu, Lolyta berlari masuk ke kamarnya.
Apa! Awas kau Lolyta...
...
Pukul 20:24 WIB
Tn.Harits merasa tak tega melihat nasib Esme. Atas kecerobohannya, bisnis perusahaannya menjadi bangkrut. Kini, ia harus merelakan Esme menikah dengan Leo, pria yang telah berselingkuh dari anaknnya, untuk memuaskan segala kebutuhan istri dan ke dua anak lainnya. Tn.Harits benar-benar merasa bersalah padanya, ia pun harus ikut serta menyembunyikan perselingkuhan Leo darinya.
Di ruang tamu, ibu-ibu suruhan Ny.Hilda sedang sibuk mempersiapkan pernikahan Esme besok.
Saat Ny.Hilda terlihat lengah, Tn.Harits berjalan mengendap-endap menuju kamar Esme, lalu ia membuka kamar Esme yang tidak di kunci.
"Esmeralda!" panggilnya sangat hati-hati.
Esme yang saat itu sedang merenung menatap diri di hadapan cermin terhentak kaget. Ia menoleh ke sumber suara.
"Ah, ayah?" Ia segera menghampiri ayahnya.
"Ada apa, ayah?" tanya Esme sambil tersenyum lembut.
Saat melihat senyum indah yang terlukis dari wajah anaknya, kedua mata Tn.Harits bergetar. Ingin sekali ia menangis.
Betapa seorang ayah yang tidak berguna, bisa-bisanya dia menjerumuskan hidup anaknya sendiri ke jurang yang berduri, begitulah pemikirannya.
Tn.Harits menyapu kasar wajahnya. "Tidak apa-apa, sayang. Ayah hanya ingin menemanimu sebelum kau menikah. Besok ayah sudah menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada Leo. Ayah masih tidak rela saja untuk melepasmu," jelas Tn Harits sambil memaksakan senyumnya.
Esme meremas pakaian yang ia kenakan, ingin sekali ia mengadu keluh kesah pada ayahnya tentang beban hidup yang sangat tidak adil untuknya ini.
Esme menatap lemah wajah ayahnya yang sedikit memiring. Ia sudah tahu penyakit sroke ringan yang saat ini tengah di derita ayahnya, karena saat mengetahui Esme menghilang, penyakit itu langsung menyerangnya.
"Ayah, baru tidak bertemu beberapa hari saja tubuh ayah terlihat lemah. Apa ayah sakit?" tanya Esme basa-basi.
Tn.Harits langsung memalingkan dan menutup wajahnya dengan satu tangan. Ia tak ingin Esme mengetahui penyakitnya.
"Ayah baik-baik saja. Tidurlah, nak!" seru Tn.Harits sambil mengelus-elus kepala Esme. "Hari besok akan lebih sulit untukmu," ucapan itu seperti mengandung arti besar di dalamnya.
Tn.Harits menggiring Esme menuju ranjangnya. Mereka sama-sama saling menahan air mata.
"Selonjorkan kakimu. Ayah ingin bernostalgia ketika kamu masih kecil. Sebelum tidur, ayah 'kan selalu memijit kakimu dan menceritakan 1001 dongeng," jelas Tn.Harits. Air matanya menetes, ia langsung menghapusnya sebelum Esme tahu.
Esme tersenyum lebar. "Baiklah. Aku ingin mendengar cerita si kancil yang cerdik." Esme memunggungi ayahnya. Air matanya mengalir disana tanpa suara.
Tn.Harits bercerita dengan suara yang bergetar, Esme tahu, ayahnya sedang menahan tangis di belakangnya karena mengasihani nasibnya.
Esme, maafkan ayah. Ayah tidak bisa menghentikan ibu dan adik, kakakmu yang serakah. (Batin Tn.Harits)
********
Di waktu yang bersamaan.
Kadita mendatangi apartemen Leo. Ia penuh dendam saat menggedor-gedor pintu apartemen itu.
Tak lama, Leo pun membukanya. Kadita masuk begitu saja tanpa perintah.
Leo sudah bisa menebaknya, pasti Kadita akan marah-marah lagi padanya seperti waktu di pantai.
"Leo! Kenapa kau tidak membatalkan juga pernikahanmu dengan Esme?" bentaknya. "Bukankah sudah aku katakan, untuk berbicara jujur padanya?"
Leo mengerutkan keningnya. "Tadinya, hari ini aku berniat membatalkan pernikahanku karena Esme tiba-tiba menghilang. Tapi, aku mendapat kabar bahwa Esme sudah pulang. Aku tidak bisa membatalkan pernikahan begitu saja. Apalagi untuk melepaskannya, aku sangat tidak bisa," ucap pilu Leo yang dirundung dilema.
"Lalu bagaimana dengan Alice? Dia keponakanku satu-satunya, dan saat ini tengah hamil anakmu. Kau tidak bisa membiarkan anaknya lahir tanpa status. Dia itu anak Gubernur. Mau taruh dimana muka paman dan bibiku, kalau media mengetahuinya!" kecam Kadita semakin memanas.
"Aku tahu. Tapi, untuk saat ini aku akan menyelesaikan pernikahanku dulu dengan Esme,"
Kadita menoleh tajam ke arahnya.
"Maksudmu, setelah kau menikahi Esme kau akan menikahi Alice, begitu? Apa kau waras? Kau ini benar-benar egois! Apa kau memikirkan perasaan mereka?" geram Kadita. "Leo, aku tidak habis pikir denganmu. Esme adalah sahabatku, kalian sudah kenal lama dari kecil. Tapi, kenapa kau malah mengkhianatinya, berselingkuh darinya. Dan lebih parahnya kau menumbalkan tubuh keponakanku untuk memuaskan nafsu gilamu itu?"
"Cukup Kadita. Jangan membuatku marah!" sergahnya. "Aku khilaf. Aku tidak sengaja bertemu dengan Alice saat Esme berada di Amerika. Apa kau tahu, tubuh Alice yang seperti itu malah mengundang nafsu. Aku tidak pernah menyentuh Esme, karena Esme adalah wanita baik-baik,"
Kadita terbelalak. "Jadi, maksudmu keponakanku bukan wanita baik-baik? Dan, kau men-cap wanita dengan tubuh yang menggoda itu adalah wanita buruk?" Kadita menunggingkan senyumnya. "Heh, memang semua lelaki sama saja. Saat ada yang lebih mulus, mata dan otak kalian selalu kotor."
"Bukan begitu maksudku. Arrgghh..." Leo menarik rambutnya ke belakang, perasaannya menjadi kacau saat ini.
"Sudahlah, tidak perlu menyangkalnya. Aku ingin, secepatnya kau memberi tahu Esme tentang perselingkuhan ini. Aku tidak ingin melihat keponakanku menangis tiap malam." Kadita berjalan keluar. Tapi, Leo langsung mengejarnya.
"Kadita! Hey, dengarkan aku dulu. Sampai kapanpun aku tidak akan memberitahu Esme. Jika Esme tahu, bagaimana jika dia berhenti bekerja? Bisnisku akan kembali hancur." Leo sangat panik.
Kadita menoleh sinis ke arahnya. "Aku tidak perduli. Jika kau masih terus membohongi sahabatku dan menyiksa keponakanku, maka aku sendiri yang akan memberitahu padanya!" ancam Kadita dengan mata yang membulat.
Tubuh Leo menegang. Ia segera menarik tangan Kadita, menahannya agar tidak pergi.
"Kadita! Kau jangan gegabah seperti itu," geramnya. Leo merasa bisnisnya mulai terancam. "Baiklah, aku pasti akan mengatakan yang sebenarnya pada Esme. Tapi, aku butuh waktu lebih lama. Aku tidak bisa melihatnya menangis,"
Kadita menepis tangan Leo. "Dasar pengecut! Butuh waktu sampai berapa lama? Besok kau sudah akan menikah denganya. Jika tidak rela melihat Esme menangis, kenapa kau mengkhianatinya? Apa sebelum kau melakukan dengan Alice kau tidak memikirkan perasaan Esme? Dan yang lebih sadisnya kau malah menyuap keluarganya untuk menutupi semua kebejad-anmu. Itu benar-benar gila!" Kerutan di dahi Kadita sudah bukan main.
"Iya, iya. Aku mengaku aku salah. Tapi, Esme selalu memaafkan setiap tahu aku mengecewakannya -"
"Hey! Ini bukan permasalahan yang sepele, ini masalah yang sangat besar. Kau pikir jika Esme mengetahui semua kepahitan ini dia akan diam saja dan kembali memaafkanmu? Mungkin saat Esme tahu itu semua, dia akan diam-diam menghancurkan perusahaanmu. Saat ini, dialah yang paling berkuasa mengendalikan bisnis pemasaran. Habis lah kau!" Kadita semakin memanas-manasi Leo.
Leo termenung. Raut wajahnya sangat panik, keringatpun mulai bermunculan.
"Kalau begitu, aku tidak akan mengatakannya pada Esme. Suruh keponakanmu menggugurkan kandungannya. Aku akan membiayai semua keperluannya-"
PLAK...
Tak segan-segan, Kadita menampar pipi kiri Leo. Ia sangat marah saat Leo berkata seperti itu dengan entengnya. Bola mata Kadita membulat sempurna, hingga suara geram dari dalam tubuhnya terdengar. Membuat Leo bergidik takut.
"Aku mewakilkan tangan Esme dan Alice untuk menampar prilaku kotormu itu! Leo, aku benar-benar jijik padamu. Ternyata kau lebih buruk dari Garry!" ucapnya penuh emosi. "Aku akan diam dan menunggu kau berbicara jujur pada Esme, dan aku juga akan menunggu kau datang ke rumah orang tua Alice untuk mempertanggung jawabkan hal yang sudah kalian lakukan!... Besok, aku akan menghadiri pernikahanmu dengan Alice," ucap Kadita, sambil terengah-engah karena amarahnya sudah mengembara. Kemudian, Kadita berlalu meninggalkan Leo dengan kepalan ditangannya.
Leo menggertakkan giginya, rahangnya pun mengeras. Ia benar-benar sangat kesal dan penuh emosi.
Tanpa sadar, tangannya memukul dinding sangat keras, hingga jari jemarinya terluka dan mengeluarkan darah.
...
BERSAMBUNG !!!!
Jangan lupa dong Like, Komen & Tips nya ❤