NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 Kertas Terbalik dan Sinyal Hati Yang Error

Pagi itu, kamar Tari tampak lebih berantakan dari biasanya. Di atas tempat tidur, sudah ada tiga atau empat lembar kerudung instan dan pashmina yang tergeletak begitu saja. Tari berdiri di depan cermin besar, tangannya gemetar kecil saat mencoba merapikan jarum pentul di dagunya.

Sret!

Ia melepasnya lagi. Rasanya nggak pas. Bukan kerudungnya yang salah, tapi suasana hatinya yang sedang "error".

"Ya Allah , Kenapa susah banget sih hari ini? padahal biasanya juga aku pake kerudung yang ini" gumam Tari pada bayangannya sendiri di cermin.

Hati Tari benar-benar sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, jantungnya berdegup kencang karena bahagia hari ini sekolah kedatangan idola yang selama ini ia kagumi. Tapi di sisi lain, ada rongga hampa yang mendadak muncul saat ia teringat jadwal sore nanti.

Ramdan laki-laki "kulkas dua pintu" itu akan pergi ke Kalimantan. Sosok yang selama ini selalu ada di garda terdepan saat Tari merasa terancam, sosok yang suaranya selalu bisa meredam kegaduhan di kepala Tari, sore ini akan menembus awan dan meninggalkannya dalam jarak ribuan kilometer.Sosok yang selalu membuat Tari aman meskipun tidak ada pelukan secara fisik.

"Biasanya kalau ada apa-apa, ada Ramdan... Sekarang kalau dia nggak ada, siapa yang bakal bilang 'Tari, fokus!?" Tari tersenyum pahit, matanya mulai berkaca-kaca menatap sebuah pulpen pemberian Ramdan di meja belajar.

Ia akhirnya memilih kerudung putih bersih, warna yang paling tenang, seolah mencoba menutupi badai yang sedang berkecamuk di dadanya. Tari menarik napas panjang, mencoba tersenyum seolah-olah semuanya akan baik-baik saja. Padahal, dia tahu pasti, SMA Kusuma Bangsa tanpa Ramdan akan terasa seperti puisi tanpa rima kosong dan tak bernada.

Tari baru saja menutup pagar rumahnya dengan langkah gontai, ketika tiba-tiba suara klakson motor yang sangat ia kenal memecah keheningan pagi.

"Ri, ayo kita barengan aja daripada nanti kesiangan kan malu masa ceweknya Waketos telat hadir" kata Alvin sambil cengengesan

"Alvin! Ngagetin aja sih, apaan sih Vin, dasar ya mulutmu ember banget sih " sahut Tari sambil menatap wajah temannya itu

"Udah, ayo naik Ri, tenang gratis kok aku gak akan minta ongkosnya tapi aku hanya minta kalian cepat go publik aja "goda Alvin sambil memberikan helm cadangan kepada Tari.

Akhirnya, Tari pun naik ke motor Alvin. Namun, siapa sangka takdir punya rencana lebih seru. Begitu motor Alvin memasuki area parkir sekolah, dan barengan ternyata Ramdan, Raihan dan Arga juga baru nyampe sekolah. Pagi ini ada pemandangan yang berbeda dari biasanya, Ramdan membawa mobil pribadinya yang selama ini tak pernah ia pakai

Pintu mobil terbuka. Muncul sosok Ramdan dengan jaket almamater kebanggaan, disusul Arga dan Raihan dari sisi lain. Suasana parkiran yang tadinya biasa saja mendadak berubah jadi "Zona Radiasi Baper".

"Bener ya kalau jodoh sudah jalur langit pasti selalu bertemu" goda Arga

Assalamualaikum semuanya" ucap Tari dengan hati yang sedikit sedih namun harus ia tahan

"Waalaikumsalam Ri," kata Ramdan

"kalian barengan nih? Vin kamu sudah siapkan mental belum nih?"goda Raihan

"Bener Han ,gue harus pastiin kalau motor gue aman , aduh mana gue belum ketemu jodoh lagi, semoga masih aman" kata Alvin dan langsung dapat tatapan dari Ramdan

"Sengaja ya Vin,kamu jemput dia?" Tanya Arga

"Enggak kok kak, tadi ketemu di depan pagar rumah aku " kata Tari

"Sengaja juga gak apa - apa kali" kata Ramdan sambil pergi meninggalkan parkiran

Melihat Ramdan langsung pergi, Tari pun berjalan di belakangnya sambil bilang

"Ndan jangan marah gitu dong,kan tadi aku udah jelasin aku gak janjian kok" kata Tari

"Udah Ri, santai aja aku gak marah kok" kata Ramdan sambil menoleh ke belakang kearah Tari yang memang sedang sedikit mengejarnya. Namun di saat sudah tahu jawabannya, Tari memperlambat jalannya namun siapa sangka Ramdan juga memperlambat jalannya seolah - olah nungguin di Tari agar barengan. Di saat sudah sejajar namun tetap ada jarak.

" Ri, hari ini kamu terlihat lebih cantik meskipun setiap hari juga kamu selalu cantik,tapi hari ini tuh beda banget membuat aku tidak bisa untuk pergi ke Kalimantan nih" kata Ramdan membuat Tari menunduk karena menyembunyikan mukanya yang sudah merah merona. Andai lagi dirumah pasti sudah guling - guling.

Tari, Ramdan ,Raihan dan Arga menuju ruang OSIS, sedangkan Alvin langsung menuju Aula.

Di ruang OSIS para panitia do'a bersama sudah kumpul.Arga dan Ramdan duduk di kursi kerajaan mereka masing-masing,di depan mereka berdua telah duduk pengurus OSIS lainnya

"Ri, kamu udah siap kan sama Anisa? Tenang Anisa anak kelas XII itu memang jago kok jadi kamu ga usah takut" kata Arga

"Jago dalam interaksi, apalagi mengisi relung hati mu ya, Ga" goda Ramdan

"Ramdannnn ish dasar ya kamu, Tari tuh liat pawang mu"kata Anisa sambil menatap Tari dengan muka yang merah karena menahan malu

"Wah ada gosip baru ternyata ya di OSIS, kok gue yang satu kelas dengan Arga dan Anisa ga tahu ya " kata Arka dan Zahra

"Wah couple yang ini juga kompak bener. Tim ZahKa yaitu Zahra Arka " ledek Raihan

" Udah yuk fokus lagi, gimana Ri, kamu aman?bisa profesional kan ? " tanya Arga

" Aku siap kok Kak, tenang aku bakalan profesional dan akan membuat acara ini berkesan dan penuh warna " kata Tari

" Nah gitu dong ,sip lah calon masa depannya Waketos " goda Anisa

"Udah kalian Arga, Raihan , Ramdan dan juga Arka, kalian masuk ke aula ,kita mau siap-siap dulu " kata Zahra

" Oke cantiknya aku " kata Arka

Semuanya hening

Akhirnya tawa pecah dan deheman pun terjadi. Ruang OSIS terasa seperti pabrik gula saat itu semuanya terasa manis tanpa sisa, sampai-sampai rasa grogi Tari pun tertutup oleh atmosfer baper yang memenuhi setiap sudut ruangan. Ramdan dan yang lainnya pun pergi menuju ke aula...

Ruang OSIS terasa pabrik gula saat itu. Ramdan dan yang lainnya pada pergi menuju ke aula.

Tari menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Ia merapikan kerudung putihnya sekali lagi di depan cermin kecil ruang OSIS, lalu memasang senyum terbaiknya.

Anisa: (Sambil merapikan teks MC) "Nah, gitu dong Ri! Mukanya jangan ditekuk mulu. Semoga pembawaan kita jadi MC nanti kompak ya, kayak Zahra sama Arka selalu jadi andalan untuk menjadi MC "

Tari terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Iya Kak, bismillah aja kita pasti bisa. Tapi kalau dibandingin sama Kak Zahra dan Kak Arka mah jauh, Kak! Mereka itu mah udah MC andalan, chemistry-nya dapet banget, udah kayak satu frekuensi kalau ngomong."

Zahra yang tadinya lagi sibuk ngecek HT (Handy Talky), langsung menoleh dengan senyum penuh arti.

Zahra: "Halah, bisa aja kamu rendah hati, Ri. Padahal ya... kalau soal chemistry, kamu sama Ramdan itu juga dapet banget. Nggak usah ngomong aja, orang satu aula udah tahu kalian lagi debat lewat mata! Hahaha!"

Seketika ruang OSIS pecah oleh tawa terbahak-bahak dari Anisa dan Zahra. Tari yang tadinya mau sok tegar, mendadak gagal total. Wajahnya kembali memerah, menahan tawa sekaligus malu yang luar biasa.

Tari: "Ih, Kak Zahra! Kok malah ke situ sih bahasnya! Udah ah, yuk ke aula!"

Zahra :"eh Ri, udah ada yang konfirmasi pembayaran ke dalam aula belum "

Anisa :"belum ada,ya udah deh sama kamu aja ya Ri"

Akhirnya Tari pun langsung mengirimkan chat pada Ramdan

"Ndan gimana udah ready belum? jangan lupa tim audionya ya "

Ramdan pun langsung membalasnya

"Oke Ri, udah aman , kamu siap - siap di belakang panggung cepetan masuk lewat pintu belakang aula"

Tari pun langsung membalasnya

"Oke siap Ndan"

Tari langsung mengajak kak Anisa dan kak Zahra masuk ke aula lewat pintu belakang biar siap- siap di belakang panggung.

Sementara itu di dalam aula, Ramdan sesudah chatan sama Tari langsung saja mengambil mikropon yang ada di meja tim audio

" Oke teman - teman sebelum acara dimulai, silahkan kalian duduk yang rapi karena sekarang kita akan melihat penampilan dari wanita-wanita cantik dan hebat jantungnya OSIS " kata Ramdan terhenti

" Eaaaaaaaa" teriak audience

" wadidaw jantungnya OSIS katanya, siapa tuh?"teriak Alvin dari barisan depan

" Kita sambut ini dan kita lihat penampilan dari Kak Anisa, Kak Zahra dan Tari " lanjut Ramdan

"Eaaaaa , wadidaw " teriak para penonton

Kak Anisa, Kak Zahra dan Tari pun naik panggung dengan sangat memukau, bersamaan dengan mengalunnya instrumen musik Kun Anta,membuat Ramdan yang duduk di kursi depan sampai nggak berkedip liat Tari.

Ramdan berdiri mematung di bawah pinggir podium, tepat di area bayangan yang tidak terjangkau lampu aula. Tangannya masuk ke saku baju muslimnya, menggenggam kunci mobilnya dengan erat seolah sedang menahan gejolak yang tidak bisa ia suarakan.

Tatapannya yang biasanya sedingin es, kini berubah menjadi tajam dan gelap saat melihat Tari di atas sana,begitu bersinar, begitu cantik, namun juga begitu 'berbahaya' karena memikat mata setiap lelaki di aula itu. Setiap kali Tari tersenyum mengikuti irama lagu, rahang Ramdan mengeras. Ada tarikan tipis di sudut bibirnya antara bangga melihat gadisnya tampil memukau, tapi juga ada binar kecemburuan yang tertahan karena melihat banyak cowok yang liatin Tari dengan terpesonanya.Dia tidak bertepuk tangan seperti yang lain. Dia hanya terus menatap Tari tanpa berkedip, dengan tatapan possessive yang seolah ingin bilang: 'Turun sekarang, atau gue tarik lo dari sana sebelum semua orang makin jatuh cinta sama lo.' Di mata Ramdan saat itu, hanya ada satu frekuensi: Tari adalah pusat dunianya, dan dia benci fakta bahwa dia harus berbagi pemandangan indah itu dengan seisi sekolah."

Begitu instrumen Ya Habibal Qolbi mulai mengalun, suasana aula yang tadinya riuh mendadak berubah syahdu. Ramdan yang berdiri di pinggir podium langsung menegakkan tubuhnya. Fokusnya terkunci total pada sosok Tari yang berdiri di tengah, memegang mikrofon dengan jemari yang sedikit gemetar.

Saat suara Tari masuk pada bait pertama begitu lembut dan penuh perasaan Ramdan merasa pertahanannya sebagai 'Kulkas Dua Pintu' runtuh seketika. Dadanya bergemuruh. Apalagi saat lirik 'Ya khoiro mursaaliin...' meluncur, Tari sempat tidak sengaja melirik ke bawah podium, tepat ke arah mata Ramdan.

'Cieee... Waketos kita wajahnya kok jadi pink gitu ya?' bisik Raihan di sebelah Ramdan sambil menyenggol lengannya.

'Duh, liriknya dalem banget ya, Ndan? Kayak kode keras buat yang mau terbang ke Kalimantan,' timpal Arka nggak mau kalah, suaranya cukup keras sampai terdengar oleh pengurus OSIS di sekitar mereka.

Ramdan berusaha keras tetap terlihat datar, tapi dia gagal total. Telinganya memerah sampai ke leher. Dia membuang muka ke arah lain, pura-pura mengecek urutan acara di tangannya, padahal kertas itu terbalik. Senyum tipis yang coba ia sembunyikan justru terlihat jelas oleh teman-temannya.

Di dalam hatinya, Ramdan menggerutu, 'Bisa-bisanya dia nyanyi lagu itu pas gue mau pergi... Lo sengaja mau bikin gue nggak bisa berangkat, Ri?"

Terakhir Kak Anisa,Kak Zahra dan Tari menyanyi lagu muhasabah cinta. Aula yang tadinya hening sekarang tiba-tiba menjadi lebih syahdu. Begitu musik berhenti tepuk tangan dari penonton sangat meriah bahkan para guru memberikan aplause buat penampilan mereka bertiga dan mereka bertiga membungkukkan badannya pertanda hormat. Mereka bertiga turun dari panggung, kak Zahra langsung bergabung dengan teman - teman sesama panitia. Sedangkan Tari dan Kak Anisa kembali ke tengah panggung mereka berdua akan memandu acara do'a bersama. Ini sungguh kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri karena biasanya MC itu Kak Zahra dan Kak Arka.

Tari berdiri di tengah panggung bersama Anisa, mencoba mengatur napasnya yang masih sedikit memburu setelah penampilan tadi. Riuh tepuk tangan perlahan mereda, digantikan oleh suasana khidmat yang mulai menyelimuti aula. Dari balik lampu panggung, Tari bisa melihat Ramdan yang akhirnya kembali duduk di barisan depan. Cowok itu sudah tidak lagi memegang kertas urutan acara yang terbalik, tapi tatapannya masih tetap sama: dalam dan tak terbaca.

        ************************

"Mungkin sinyal bisa error dan kertas bisa terbalik, tapi di antara ribuan kilometer yang akan membentang, hatiku tetap punya satu frekuensi yang tak akan pernah salah arah: kamu." ❄️☀️📱

"FINALLY BAB 20! 🎉 Makasih buat 406 Popularitas yang udah nemenin aku sejauh ini. Judul bab malam ini emang agak 'error' kayak hati author-nya yang lagi deg-degan nunggu kontrak. Yuk, bantu raih bintang (kontrak) malam ini dengan kasih LIKE dan KOMENTAR kalian! Satu jempol kalian \= Satu sinyal cinta buat Ramdan & Tari! ❄️☀️"

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!