NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: SEBELUM TERLAMBAT

Tiga hari setelah surat itu ditandatangani, suasana kantor berubah.

Tidak ada yang terang-terangan membicarakannya.

Namun berita tentang pengunduran diri Aira menyebar cepat di antara staf manajemen.

Beberapa menatapnya dengan simpati. Beberapa dengan rasa ingin tahu. Beberapa lainnya… lega.

Aira menyelesaikan pekerjaannya seperti biasa.

Rapi. Presisi. Tanpa cela.

Ia menolak semua tawaran makan siang bersama. Menolak percakapan pribadi. Menolak pertanyaan yang terlalu dalam.

Ia sudah berada dalam mode keluar.

Dan semakin ia menjaga jarak, semakin jelas satu hal—

Arlan juga melakukan hal yang sama.

Mereka berbicara seperlunya. Tidak lebih.

Tidak ada lagi tatapan terlalu lama. Tidak ada lagi kalimat yang berbelok ke arah pribadi.

Seolah keduanya sepakat bahwa tiga puluh hari ini harus steril.

Namun steril tidak berarti aman.

Sore itu, Arlan menerima laporan tambahan dari tim keamanannya.

Ada pergerakan dana mendadak. Transfer melalui tiga perusahaan bayangan. Nama vendor yang sama seperti insiden motor.

Mahendra tidak berhenti.

Ia hanya mengganti metode.

Arlan menatap layar monitor dengan mata yang lebih dingin dari biasanya.

Mereka mengira dengan keluarnya Aira, ia akan kehilangan keseimbangan.

Padahal yang terjadi justru sebaliknya.

Sekarang ia tidak lagi menahan diri.

Ia menekan tombol interkom.

“Naikkan pengawasan ke level dua. Khusus untuk basement dan akses keluar masuk gedung.”

“Baik, Pak.”

Ia tidak ingin kejadian sebelumnya terulang.

Tidak saat Aira masih berada di bawah atapnya.

Malam datang lebih cepat.

Hujan turun lagi, lebih deras dari biasanya.

Sebagian besar karyawan sudah pulang.

Aira memeriksa jam.

19.12.

Ia terlambat karena menyelesaikan revisi kontrak terakhir.

Ia berdiri dari kursinya.

Tas sudah di tangan.

Ia tidak ingin meminta pengawalan.

Ia tidak ingin terlihat seperti seseorang yang membutuhkan perlindungan khusus.

Lift turun perlahan.

Basement terlihat lebih gelap dari biasanya.

Beberapa lampu mati.

Ia berhenti sejenak.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Tenang, pikirnya.

Ini hanya efek trauma.

Ia melangkah keluar lift.

Langkahnya bergema pelan.

Mobilnya terparkir tidak jauh.

Ia hampir sampai ketika—

Lampu di ujung basement tiba-tiba padam seluruhnya.

Gelap.

Total.

Hanya suara hujan dari luar yang terdengar.

Dan satu suara lain.

Mesin dinyalakan.

Lebih dekat dari sebelumnya.

Lampu depan menyala tiba-tiba, menyilaukan matanya.

Motor hitam itu muncul lagi.

Tidak lagi dari jauh.

Kali ini hanya beberapa meter darinya.

Dan tidak bergerak pelan.

Mesinnya meraung keras.

Seolah menunggu momen yang tepat.

Aira mundur satu langkah.

Tangannya gemetar, tapi ia tidak berteriak.

Motor itu melaju.

Cepat.

Langsung ke arahnya.

Namun sebelum jaraknya habis—

suara lain memecah ruang.

Deru mesin mobil yang lebih besar.

Sebuah sedan hitam meluncur dari sisi kiri, menabrak motor itu tepat di bagian samping.

Benturan keras menggema.

Motor terpental, pengendaranya jatuh dan terguling beberapa meter.

Aira terdorong ke belakang, lututnya hampir menyentuh lantai.

Pintu mobil terbuka.

Arlan keluar.

Jasnya basah oleh hujan yang terbawa angin.

Wajahnya bukan lagi wajah CEO yang terkendali.

Itu wajah pria yang hampir kehilangan sesuatu.

“Aira!”

Ia mendekat cepat.

Memegang bahunya.

“Luka?”

Aira menggeleng, napasnya tidak stabil.

“Tidak…”

Petugas keamanan berlari masuk beberapa detik kemudian.

Pengendara motor mencoba bangkit, namun langsung ditahan.

Helmnya terlepas.

Bukan orang yang mereka kenal.

Hanya eksekutor.

Arlan menatap pria itu dengan tatapan yang sangat dingin.

“Siapa yang kirim?” tanyanya rendah.

Pria itu tidak menjawab.

Namun satu pesan masuk di ponsel Arlan hampir bersamaan.

Tidak semua bidak bisa kau selamatkan.

Rahang Arlan mengeras.

Ia menghapus pesan itu tanpa membalas.

Kemudian ia menoleh kembali pada Aira.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak peduli siapa yang melihat.

Ia menarik Aira ke dalam pelukannya.

Bukan romantis. Bukan lembut.

Tapi refleks.

Seolah memastikan ia benar-benar masih di sana.

Aira membeku beberapa detik.

Lalu perlahan merasakan sesuatu yang selama ini ia hindari.

Rasa aman.

Namun rasa aman itu justru membuat air matanya jatuh.

“Ini sebabnya aku pergi,” bisiknya pelan.

Arlan melepasnya perlahan, namun tetap memegang kedua bahunya.

“Tidak.”

Suaranya tegas.

“Ini sebabnya kau tidak boleh pergi.”

“Kalau aku tetap di sini—”

“Mereka akan terus mencoba,” potong Arlan.

“Kalau kau pergi, mereka akan merasa berhasil.”

Hujan mengguyur lebih keras.

Sirene polisi terdengar dari kejauhan.

Arlan menatapnya dalam.

“Dengar aku baik-baik.”

Nadanya berubah.

Tidak lagi dingin.

Tidak lagi penuh ego.

“Aku memulai semua ini karena dendam. Karena harga diri. Karena ingin menang.”

Ia berhenti.

“Sekarang ini bukan soal itu lagi.”

Aira menatapnya.

“Lalu soal apa?”

Arlan tidak menjawab langsung.

Namun tatapannya mengatakan cukup banyak.

Soal pilihan.

Soal keberpihakan.

Soal seseorang yang lebih penting daripada kemenangan.

Lampu basement menyala kembali.

Petugas mengamankan pelaku.

Namun malam itu, sesuatu sudah berubah.

Garis yang tadinya samar—

sekarang jelas.

Ini bukan lagi perang diam-diam.

Ini perang terbuka.

Dan untuk pertama kalinya sejak kontrak itu ditandatangani—

Arlan tidak lagi melihat Aira sebagai bagian dari permainan.

Melainkan alasan untuk mengakhirinya.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!