Li Zeyan adalah seorang aktor dan model besar yang sangat dikenal oleh semua orang. Hidupnya sangat sempurna dan bergelimang harta.
Dianugrahi wajah tampan, karir yang cemerlang, harta melimpah, dan dikelilingi bidadari membuat hidupnya sangat sempurna.
Namun, suatu ketika bereda sebuah video masa lalunya saat dia dibully di sekolah sangat membuatnya begitu depresi hingga melakukan bunuh diri.
Namun, jiwa Kagami Jiro si pemimpin Yakuza terbesar di Jepang kini malah terjebak di dalam tubuh Li Zeyan.
Sementara jiwa Li Zeyan terjebak pada raga Kagami Jiro yang sedang terbaring karena koma akibat serangan seseorang.
Bagaimana Kagami Jiro akan mencari orang yang telah berusaha untuk membunuhnya dengan memakai raga Li Zeyan?
Berhasilkah mereka bertukar tubuh kembali?
Apakah Kagami Jiro akan hidup kembali dengan raganya?
Ikuti kisah mereka ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjenguk Kagami Yosuke
"Makanlah yang banyak. Jangan sampai tubuhmu kekurangan energi!" ucap kak Kai sambil mengambil sepotong daging sapi wagyu.
"Hhm. Aku juga sudah sangat lapar!" kini Zen mengambil sepotong toro yang sudah diolah dalam bentuk sushi pada hidangan malam ini.
"Kau menyukai masakan Jepang?"
"Tentu saja! Mengapa tidak? Mereka semua sangat enak!" kini Zen mengambil jamur matsutake yang sudah diolah sedemikian rupa oleh master cheft di restauran ini.
"Hhm ... Kau benar sekali!" sahut kak Kai dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Zen segera menghabiskan makanannya agar bisa mencari alasan untuk segera kembali ke kamarnya.
"Pelan-pelan saja makannya ..." ucap kak Kai memperingatkan.
"Aku ingin segera beristirahat malam ini! Aku lelah ..." sahut Zen sambil meletakkan sumpitnya di atas meja. Lalu Zen mengambil serbet kecil untuk mengelap sisa makanan pada bibirnya. "Aku sudah selesai. Dan aku akan segera beristirahat kembali. Kita bertemu besok pagi lagi!" imbuh Zen lalu bangkit dan meninggalkan kak Kai.
Kak Kai hanya terdiam melihat kepergian Zen, bahkan dia belum sempat menjawab ucapan Zen. Kak Kai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Zen lalu kembali menikmati makan malamnya kembali.
...⚜⚜⚜...
"Saat ini ini mungkin saja keluargaku dalam keadaan berbahaya. Hufft .... Disaat seperti ini apa yang bisa aku lakukan?! Akh ... Pusing! Andai saja aku bisa mengambil cuti untuk pekerjaan bocah ini ... Andai saja aku masih bisa lebih lama di Jepang ..." gumam Zen sedikit termenung di kamarnya. "Pikirkan sesuatu, Jiro! Pikirkan sesuatu!"
Zen duduk di pinggiran tempat tidurnya dan memegangi keningnya. Keningnya saling berkerut dan dia terlihat sedang berpikir keras.
Zen segera meraih ponselnya lalu mencoba menghubungi Yuna.
Tut ... Tut ... Tut ...
"Hallo ... Siapa ini?" sapa Yuna dari seberang.
"Yuna ... Ini aku ..." ucap Zen pelan.
"Siapa?"
"Aku pria yang datang ke rumahmu tadi."
"Darimana kau dapat nomor ponselku?!"
"Itu tidak penting! Sekarang dengarkan aku baik-baik!" ucap Zen begitu pelan tetapi penuh penekanan. "Sekarang buka brankas suamimu, lihatlah di bagian dasar di dalam brankas itu! Kau akan menemukan sesuatu disana. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk memakainya." imbuh Zen masih dengan sangat serius.
"Membuka brankas suamiku? Apa jangan-jangan saat ini kau juga memasang kamera pengintai dan sedang mengawasiku?!" timpal Yuna curiga dan menjadi lebih waspada.
"Tidak. Aku tidak sedang mengintaimu. Coba ikuti ucapanku saja!"
"Hei Bocah! Biar aku katakan dengan jelas padamu! Aku ini tidak akan pernah menyukaimu! Jadi jangan pernah kau bertingkah aneh lagi untuk menarik perhatianku! Apa kau mengerti?!"
"Apa kau mau menjanda seumur hidup? Aku bisa menikahimu dengan tubuh ini kalau kau mau."
"Dasar bocah tak tau diri! Sekarang kau mendoakan aku menjadi janda?!"
"Bukan ... Bukan ... Yuna. Tolong dengarkan aku dulu dan coba pastikan dulu ... Buka brankas itu sekarang!"
"Tidak mau!"
Tut ... Tut ... Tut ...
"Ah sial! Yuna mematikan panggilannya!" ketus Zen yang kini terlihat begitu kesal.
"Penembakan baru terjadi 2 hari yang lalu. Seharusnya Yosuke sudah kembali ke rumahnya bukan?" gumam Zen. "Atau masih di rawat dia? Hhm ..."
Setelah beberapa saat mengutak utik laptopnya, kini Zen mengambil hody sweet black, masker dan topinya. Malam ini dia berniat pergi ke suatu tempat lagi.
Zen mulai membuka jendela kamarnya lalu perlahan merayap melalui pinggiran bangunan hotel mewah itu dan menuruni atap demi atap untuk mencapai dasar bangunan.
Dia segera memanggil taxi yang berasa tak jauh dari tempat itu.
"Kita pergi ke St. Luke's International Hospital, Pak!" ucap Zen saat sudah di dalam taxi itu.
"Baik. Tuan." sahut sopir taxi itu lalu mengemudikan taxi itu.
Taxi itu mulai melaju membelah jalanan kota Tokyo yang sudah semakin sepi dan dingin. Lampu gemerlapan dengan indah menghiasi sepanjang jalan dan gedung-gedung yang saling menjulang dengan tinggi itu.
...⚜⚜⚜...
Beberapa saat Zen sudah sampai di St. Luke's International Hospital. Dia segera mencari kamar dimana adik keduanya dirawat.
Ruang Perawatan VIP 3-7
Di depan kamar itu sudah dijaga begitu ketat oleh 8 orang pengawal dari keluarga Kagami.
Mengapa banyak sekali pengawal disini? Bukankah mereka hanya sedang menjaga Yosuke saja?
Batin Zen sambil mengkerutkan keningnya menatap ke-delapan pengawal yang sudah berjaga di sepanjang lorong ini.
Zen dengan santai mendekati mereka. Kali ini dia akan berbicara baik-baik kepada pengawal itu. Dan akan mengaku dengan jujur jika dia adalah Li Zeyan. Seorang Idol dari Beijing yang mengidolakan Doragonshadou. Mungkin dengan begitu mereka akan mengijinkannya untuk masuk.
Baru berjalan beberapa langkah di koridor itu, tiba-tiba Zen sudah dihadang oleh 2 orang pengawal.
"Siapa kamu? Dan ada urusan apa kamu datang kesini?!" todong seorang pengawal yang menatap Zen dengan tajam.
Zen segera melepas masker dan topinya untuk memperlihatkan dirinya kepada pengawal itu.
"Bukankah kau Li Zeyan?" ucap salah satu dari pengawal yang sedikit membelalak menatap Zen seolah tak percaya.
"Benar. Ini adalah aku. Dan aku ingin menjenguk Tuan Kagami Yosuke. Aku sangat mengidolakannya selama ini." sahut Zen dengan ramah.
"Siapa Li Zeyan?" tanya salah satu pengawal itu kepada temannya.
"Dia adalah Idol besar. Anakku sangat mengidolakanmu!" sahut salah satu pengawal itu dengan bersemangat. "Bolehkah aku meminta tanda tanganmu?"
"Baiklah ..." sahut Zen berusaha ramah dan tersenyum.
Pengawal itu segera mengambil sebuah buku dan pena lalu menyerahkannya kepada Zen. Zen tersenyum samar lalu dijepitnya pena itu untuk menuliskan sesuatu pada lembaran putih itu.
Huft ... Untung saja aku sudah berlatih selama ini untuk meniru tanda tangan bocah ini.
Batin Zen dengan senyum puas lalu menyerahkan lembaran dan pena itu kepada pengawal tadi.
"Paman. Tenang saja. Aku ada di pihak kalian kok! Aku sangat mengidolakan Doragonshadou!" ucap Zen meyakinkan para pengawal itu. "Bolehkah aku melihat Tuan Yosuke?"
"Tentu saja boleh! Kita sangat percaya padamu! Kau adalah Idol yang baik hati. Paman sudah banyak mendengar tentang dirimu dari anak gadisku." sahut pengawal yang bernama Yamada itu.
"Baik. Terima kasih, Paman Yamada!" sahut Zen keceplosan.
"Apa? Darimana kamu tau namaku?" tanya pengawal Yamada dengan memicingkan menatap Zen.
"Ah ... Tadi aku tanya ke front office untuk mencari kamar dimana Tuan Yosuke dirawat. Dan gadis itu bilang salah satu pengawalnya tampan dan bernama Yamada." kilah Zen sedikit mencari alasan dan mengusap tengkuknya.
"Ahaha ... Begitu ya rupanya."
"Benar, Paman!"
"Tapi kenapa kamu berkunjung malam-malam? Dan dimana Managermu?" selidik pengawal Yamada.
"Kalau siang bolong aku takut akan ada yang banyak mengenaliku, Paman!" kilah Zen lagi. "Dan malam ini aku sembunyi-sembunyi untuk pergi kesini dan tidak ijin dengan managerku, karena dia sangat cerewet!"
"Pergi seorang diri sangat berbahaya untuk seorang Idol besar sepertimu. Paman akan melindungimu!"
"Terima kasih, Paman. Sekarang bolehkanh aku masuk ke dalam?"
"Masuklah ..." sahut pengawal Yamada dengan ramah. Dia juga sedikit minggir dan memberikan jalan untuk Zen.
"Baiklah, Paman ..." ucap Zen lalu mulai melenggang melewati pengawal-pengawal itu.