NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Restu yang Sulit

#

Tiga hari.

Tiga hari sejak malam itu. Tiga hari Bapak nggak ngajak aku ngobrol. Cuma ngomong seperlunya—"makan", "obat", "tidur". Nada suaranya datar. Dingin. Kayak ngomong sama orang asing.

Dan aku... aku nggak berani ngomong duluan.

Aku tau Bapak marah. Marah besar. Tapi... tapi aku juga nggak bisa bohong lagi. Nggak bisa pura-pura nggak ada apa-apa antara aku sama Arkan.

HP ku bunyi terus. Arkan ngirim pesan tiap hari—pagi, siang, malem. Nanya kabar. Nanya Bapak gimana. Bilang dia kangen. Bilang dia... dia masih belajar Islam.

Tapi aku nggak bisa bales dengan tenang. Karena... karena tiap kali aku buka HP, Bapak natap aku dengan tatapan... kecewa.

Tatapan yang lebih sakit dari kata-kata.

---

Pagi itu, Bapak lagi duduk di kasur. Baca Qur'an kayak biasa. Aku nyiapin sarapan—nasi putih anget, telor dadar, sama sayur bayam. Sederhana. Tapi itu semua yang aku bisa.

"Bapak... sarapan..."

Bapak nutup Qur'an. Pelan. Tapi nggak langsung ngambil piring.

"Zahra, duduk dulu."

Jantung ku dag-dig-dug. "Iya, Pak..."

Aku duduk di pinggir kasur. Jarak... mungkin setengah meter dari Bapak.

"Zahra... Bapak mau nanya. Dan Bapak mau kamu jujur."

"...iya, Pak."

"Kamu... kamu sama dia... udah sampe mana?"

Aku diem. Nggak berani natap mata Bapak.

"Zahra. Jawab Bapak."

"...kita... kita cuma temenan, Pak. Bener. Kita... kita nggak ngapa-ngapain—"

"Jangan bohong!" Bapak naikkan suara. Dikit. Tapi cukup buat bikin aku kaget. "Bapak liat kalian kemarin! Kalian pegangan tangan! Kalian... kalian keluar malem-malem! Itu... itu namanya pacaran, Zahra! Bukan temenan!"

Aku gigit bibir. Keras-keras. Sampe kerasa perih.

"...Pak, maaf... Zahra... Zahra bohong... kita... kita memang... memang pacaran..."

BRAK!

Bapak pukul kasur. Keras. Piring di atas kasur goyang—hampir jatuh tapi aku tangkep.

"ZAHRA!" Suaranya gemetar. "Kamu... kamu janji sama Bapak! Kamu bilang kalian cuma temen! Kamu... kamu bohongin Bapak?!"

"Maaf, Pak... maaf... Zahra... Zahra nggak berani ngomong yang bener karena... karena Zahra takut Bapak marah..."

"Ya jelas Bapak marah! Kamu... kamu pacaran sama orang yang BEDA AGAMA! Kamu... kamu tau itu dosa?!"

"Zahra tau, Pak... tapi... tapi Mas Arkan... dia... dia lagi belajar Islam... dia serius—"

"Serius apanya?!" Bapak berdiri. Badannya gemetaran. "Dia udah masuk Islam? Dia udah syahadat? BELUM KAN?! Terus kenapa kamu udah deketin dia?! Kenapa kamu... kenapa kamu ngerusak nama baik keluarga kita?!"

"Bapak... Zahra nggak ngerusak nama baik—"

"Orang-orang di kampung ini udah tau, Zahra! Bu Ria cerita! Mbok Tini cerita! Mereka bilang kamu... kamu pacaran sama cowok Kristen yang kaya! Mereka... mereka ngomongin kita! Ngomongin Bapak yang nggak bisa didik anak!"

Air mata keluar. "Bapak... Zahra nggak peduli orang ngomong apa... yang Zahra peduliin cuma—"

"Cuma dia?!" Bapak natap aku tajam. "Kamu lebih peduli sama dia daripada nama baik Bapak? Daripada... daripada agama kamu sendiri?!"

"BUKAN GITU!" Aku teriak. Nggak sengaja. Emosi keluar. "Zahra tetep peduli sama agama! Zahra tetep sholat lima waktu! Zahra tetep baca Qur'an! Zahra... Zahra nggak ninggalin Islam cuma gara-gara dia!"

"Tapi kamu dekatin dia! Kamu pacaran sama dia! Itu... itu udah salah, Zahra! Dalam Islam, perempuan muslimah NGGAK BOLEH pacaran sama laki-laki non-muslim! Apalagi... apalagi menikah! Kecuali dia masuk Islam!"

"Dia lagi proses, Pak! Dia lagi belajar! Dia... dia udah baca buku tentang Islam! Dia udah nyoba sholat! Dia... dia serius!"

"Serius?!" Bapak ketawa pahit. "Zahra, kamu tau nggak... orang-orang yang bilang 'lagi proses' itu... sebagian besar nggak jadi masuk Islam. Mereka cuma... cuma nipu. Cuma bilang gitu biar bisa deket sama cewek muslim. Terus pas udah dapet... pas udah nikah... mereka balik ke agama mereka. Dan cewek muslimnya? Jadi korban. Jadi... jadi istri yang disuruh ikut ke gereja. Atau anak-anaknya dibaptis jadi Kristen."

"Mas Arkan nggak kayak gitu! Dia... dia beda!"

"Semua cowok bilang gitu! SEMUA!" Bapak napas ngos-ngosan. Tangannya gemetar. "Zahra... Bapak udah pernah liat kasus kayak gini. Temen Bapak dulu... anaknya cewek. Cantik. Pinter. Jatuh cinta sama cowok Kristen. Cowok itu bilang mau masuk Islam. Keluarganya percaya. Mereka nikah. Dan tau apa yang terjadi?"

Aku diem. Dengerin.

"Cowok itu nggak pernah masuk Islam. Dia cuma... cuma pura-pura. Pas udah nikah, dia nunjukin warna aslinya. Dia maksa istrinya ikut ke gereja. Dia baptis anak mereka tanpa izin istrinya. Dan sekarang? Anaknya temen Bapak itu... dia depresi. Dia cerai. Dia... dia nyesel seumur hidup."

"Tapi itu... itu bukan Mas Arkan, Pak! Dia... dia nggak kayak gitu!"

"Kamu nggak tau dia kayak apa, Zahra! Kamu baru kenal dia berapa bulan?! DUA BULAN?! TIGA BULAN?! Dan kamu bilang kamu kenal dia?!"

"Zahra kenal hatinya, Pak! Zahra tau... Zahra tau dia orang baik—"

"ORANG BAIK NGGAK CUKUP!" Bapak berteriak. Keras. Sampe Bu Ria di sebelah pasti denger. "Zahra, dengerin Bapak! Bapak nggak mau kamu sengsara! Bapak nggak mau kamu... kamu jadi istri yang nggak bahagia! Bapak... Bapak sayang sama kamu..."

"Zahra tau Bapak sayang... tapi... tapi Zahra juga cinta sama dia..."

"CINTA NGGAK CUKUP!"

"TERUS APA YANG CUKUP?!" Aku balas teriak. "Apa yang Bapak mau?! Zahra nikah sama cowok muslim yang Bapak pilih?! Cowok yang Zahra nggak cinta?! Itu... itu yang Bapak mau?!"

Bapak diam. Napasnya berat. Mata nya berkaca-kaca.

"...Bapak mau kamu bahagia, Zahra. Bahagia yang... yang nggak sementara. Bahagia yang... yang berkah."

"Zahra bisa bahagia sama dia, Pak. Kalau... kalau dia masuk Islam... kalau dia syahadat... Bapak bakal restuin?"

Bapak diam lama. Lama banget.

"...Bapak nggak tau, Zahra. Bapak... Bapak harus liat dulu. Liat dia... dia beneran masuk Islam karena yakin. Bukan karena kamu."

"Dia yakin, Pak. Zahra percaya—"

"Percaya nggak cukup!" Bapak duduk lagi. Badannya lemes. "Zahra... Bapak minta... minta kamu putus sama dia. Sekarang. Sebelum... sebelum terlambat."

"Bapak..."

"Kamu putus. Atau... atau Bapak yang pergi dari rumah ini."

Jantung ku berhenti.

"...apa?"

"Bapak nggak bisa liat kamu... liat kamu ngerusak hidup kamu sendiri. Jadi... jadi Bapak yang pergi. Bapak... Bapak bakal tinggal di rumah Pak Bambang. Atau di masjid. Atau... atau dimanapun. Yang penting... yang penting Bapak nggak liat kamu sama dia lagi."

"BAPAK JANGAN!" Aku langsung peluk Bapak. Erat. "Jangan pergi... please... Zahra cuma punya Bapak... jangan tinggalin Zahra..."

"Terus kamu... kamu putus sama dia?"

Aku nggak bisa jawab. Karena... karena aku nggak bisa janji.

"Zahra. Jawab Bapak."

"...Zahra... Zahra nggak bisa, Pak..."

Bapak lepas pelukan ku. Pelan. Tapi... tapi rasanya kayak ditolak keras-keras.

"...baiklah. Kalau itu pilihan kamu." Dia berdiri. "Bapak... Bapak pergi—"

"BAPAK TUNGGU!" Aku narik tangan Bapak. "Bapak... Bapak dengerin Zahra dulu... please..."

"Bapak udah dengerin cukup, Zahra. Sekarang—"

Dan tiba-tiba...

Bapak megang dada. Kuat-kuat. Mukanya pucat. Napasnya ngos-ngosan.

"Bapak?! BAPAK?!"

"Zah... Zahra... dada Bapak... sakit..."

"YA ALLAH! BAPAK!"

Bapak jatuh. Terduduk di lantai. Tangannya masih megang dada. Napas makin pendek-pendek.

"BAPAK! BAPAK BERTAHAN! BU RIA! PAK BAMBANG! TOLONG!"

Aku teriak sekuat tenaga. Pintu kontrakan langsung dibuka Bu Ria.

"Zahra?! Kenapa—YA ALLAH! PAK AHMAD!"

"Bu tolong panggil ambulans! Cepet! Bapak... Bapak sakit!"

Bu Ria langsung ambil HP. Nelpon ambulans. Pak Bambang dateng. Bantuin Bapak tidur di kasur. Bapak masih megang dada. Napas masih ngos-ngosan. Keringat dingin di jidat.

"Bapak... Bapak nggak apa-apa... ambulans dateng sebentar lagi... Bapak tahan ya... tahan..."

Tapi Bapak... Bapak natap aku dengan tatapan yang... yang bikin aku pengen mati.

Tatapan kecewa.

Tatapan... tatapan yang bilang: "Ini semua gara-gara kamu."

"...maaf... maafin Zahra, Pak... ini... ini salah Zahra... maaf..."

Aku nangis sambil pegang tangan Bapak yang dingin. Dingin banget. Kayak... kayak mau ninggalin aku.

"Jangan... jangan tinggalin Zahra, Pak... Zahra janji... Zahra janji bakal dengerin Bapak... asal... asal Bapak jangan pergi..."

WIIUUU WIIUUU!

Suara sirine ambulans.

Paramedis dateng. Angkat Bapak ke tandu. Bawa keluar.

Dan aku... aku ikut naik ambulans.

Sambil nangis.

Sambil nyesel.

Nyesel kenapa... kenapa aku ngeyel?

Kenapa aku nggak dengerin Bapak dari awal?

Kenapa aku... kenapa aku pilih cinta daripada... daripada orang yang udah besarin aku sendirian?

"Ya Allah... maafin hamba... maafin hamba... tolong... tolong jangan ambil Bapak hamba... please..."

---

**RUMAH SAKIT UMUM DAERAH - IGD**

Bapak langsung dibawa ke ruang emergency. Aku nggak boleh masuk. Cuma bisa duduk di bangku tunggu—bangku plastik keras yang bikin punggung pegal.

Tangan ku gemetar. HP ku jatuh dua kali gara-gara tanganku nggak bisa diem.

"Ya Allah... Bapak... please... please bertahan..."

Dokter keluar. Dokter yang sama—dr. Rani. Mukanya serius.

"Keluarga pasien Ahmad Fauzi?"

Aku langsung berdiri. "Iya Dok! Saya! Gimana Bapak saya?!"

"Pasien mengalami serangan jantung ringan. Kemungkinan dipicu oleh stress berat. Kami sudah stabilkan kondisi, tapi... tapi beliau butuh istirahat total. Dan... dan harus menghindari stress. Apapun yang bisa bikin beliau emosi... harus dihindari."

Stress.

Gara-gara aku.

Gara-gara aku ngeyel. Gara-gara aku... gara-gara aku pilih Arkan.

"Dok... Bapak... Bapak bakal sembuh kan?"

"Kondisi sekarang stabil. Tapi kalau ada stress lagi... bisa fatal. Jantung beliau sudah lemah. Nggak bisa dikasih beban berat lagi."

Fatal.

Bisa mati.

Gara-gara aku.

"Dok... apa... apa Bapak bisa ketemu saya?"

"Nanti. Setelah beliau istirahat. Sekarang beliau masih di observasi."

Dr. Rani pergi. Ninggalin aku sendirian di lorong rumah sakit yang dingin.

Aku jatuh ke bangku. Nangis.

"Ini... ini semua salah aku... salah aku..."

HP ku bunyi. Pesan masuk.

**Arkan Alexander:**

*"Zahra, aku denger dari Bu Ria. Bapak kamu gimana? Aku... aku mau kesana. Boleh?"*

Aku baca pesan itu berkali-kali.

Dan untuk pertama kalinya...

Aku benci diriku sendiri.

Benci kenapa... kenapa aku cinta sama dia.

Benci kenapa... kenapa aku nggak bisa lepas.

Benci kenapa... kenapa cinta ini... cinta ini harus bayar dengan nyawa Bapak.

Aku ketik bales:

*"Jangan dateng. Please. Aku... aku nggak mau liat Mas dulu. Maaf."*

Send.

Dan aku matiin HP.

Karena aku tau...

Kalau Arkan dateng...

Aku... aku nggak akan kuat.

Aku bakal lari ke pelukan dia.

Dan itu... itu bakal bikin Bapak makin sakit.

"Maaf, Mas Arkan... maaf..."

---

**BERSAMBUNG KE BAB 14...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!