Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Pagi di apartemen keluarga Mandala biasanya dipenuhi dengan suara tawa dan obrolan hangat tentang rencana akhir pekan. Namun, beberapa hari terakhir, kehangatan itu seolah tertutup kabut tipis yang dingin. Nabila merasakan ada sesuatu yang bergeser dalam diri suaminya, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun terasa nyata di ulu hati.
Nabila berdiri di depan kompor, membalik telur mata sapi dengan gerakan mekanis. Matanya sesekali melirik ke arah meja makan. Di sana, Arga duduk mematung. Tangannya memegang sendok, namun pandangannya kosong menatap ke arah jendela yang menampilkan kemacetan Jakarta. Kopi di hadapannya sudah tidak lagi mengepulkan asap, dingin tak tersentuh.
"Mas... telurnya nanti keburu dingin," tegur Nabila lembut.
Arga tersentak. Bahunya sedikit melonjak sebelum ia mengerjapkan mata dan mencoba tersenyum. "Ah, iya. Maaf, Sayang. Aku hanya sedang memikirkan jadwal rapat siang ini."
Nabila mendekat, meletakkan piring di depan suaminya. Ia tidak langsung kembali ke dapur, melainkan duduk di samping Arga dan menyentuh punggung tangannya. "Mas, kau sudah sering melamun sejak seminggu terakhir. Kau juga sering terbangun di tengah malam. Apa beban di kantor benar-benar seberat itu? Apa Pak Roy memberikan target yang tidak masuk akal?"
Arga menggeleng cepat, terlalu cepat. "Bukan Pak Roy. Hanya... transisi dengan kepemimpinan baru memang selalu melelahkan. Siska... maksudku, Bu Siska, memiliki standar yang sangat tinggi. Aku hanya ingin memastikan timku tidak mengecewakan."
Nabila menatap mata suaminya dalam-dalam. Ada kegelisahan yang coba disembunyikan Arga di balik kerutan keningnya. Sebagai wanita yang pernah bergelut di dunia hukum, Nabila tahu kapan seseorang sedang menahan sebuah kebenaran. Namun, sebagai seorang istri, ia memilih untuk memberikan ruang.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Mas. Jabatan itu penting, tapi kesehatanmu dan ketenangan rumah kita jauh lebih utama," ucap Nabila sambil mengusap rambut Arga.
Arga hanya mengangguk, lalu bergegas menghabiskan sarapannya seolah ingin segera mengakhiri percakapan itu. Ia mencium kening Nabila dengan terburu-buru, mengambil tas kerjanya, dan melangkah keluar.
Setelah pintu apartemen tertutup, Nabila menarik napas panjang. Kesunyian yang tertinggal terasa menekan. Ia memutuskan untuk membereskan pakaian kotor Arga untuk dimasukkan ke mesin cuci. Saat ia mengangkat jas abu-abu yang dipakai Arga kemarin, ia merasakan sesuatu yang keras di dalam saku dalamnya.
Nabila merogoh saku tersebut dan mengeluarkan selembar kartu nama.
Kartu itu terbuat dari bahan kertas premium berwarna putih gading dengan tepian emas yang elegan. Di tengahnya tertulis nama dengan huruf timbul yang tegas - SISKA ROY - Executive Director, Airborne Group.
Nabila memandangi kartu itu. Wangi parfum musk yang sangat kuat dan mahal mendadak menyeruak dari permukaan karton tipis tersebut. Wangi yang sama dengan yang ia cium di kerah baju Arga saat suaminya pulang terlambat dua malam lalu.
"Siska Roy..." gumam Nabila.
Ia teringat cerita Arga tentang istri baru Pak Roy yang menjadi atasan barunya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Mengapa kartu nama ini terasa begitu personal? Dan mengapa Arga tampak begitu tertekan setiap kali nama itu muncul? Intuisi Nabila mulai bekerja. Ia ingat Arga pernah bercerita sekilas tentang masa lalunya yang pahit dengan seorang wanita saat kuliah, namun Arga tidak pernah menyebutkan namanya.
Nabila meletakkan kartu nama itu di atas meja rias. Ia duduk diam, mencoba menyusun kepingan teka-teki. Sikap Arga yang mendadak protektif terhadap ponselnya, tatapan matanya yang menghindar, dan kini kartu nama yang sangat wangi ini. Sebagai istri, Nabila merasakan ada ancaman yang sedang mendekati benteng rumah tangganya.
~~
Malam harinya, Arga pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya tampak sangat kuyu. Ia langsung menuju kamar mandi tanpa banyak bicara. Nabila memperhatikannya dari balik pintu kamar yang terbuka. Setelah Arga keluar dengan handuk melilit lehernya, ia mendapati Nabila sedang duduk di tepi ranjang, memegang kartu nama putih gading itu.
Langkah Arga terhenti. Wajahnya memucat di bawah lampu kamar yang temaram.
"Tadi aku sedang membereskan jasmu, dan ini jatuh," ucap Nabila dengan nada datar, mencoba menahan emosinya agar tetap stabil. "Wanginya sangat kuat, Mas. Bahkan setelah seharian di dalam sakumu."
Arga menelan ludah dengan susah payah. Ia berjalan mendekat dan mencoba mengambil kartu itu, namun Nabila tidak segera melepaskannya.
"Dia atasanmu, kan? Istri Pak Roy?" tanya Nabila, matanya menatap tajam ke arah Arga.
"I-iya. Dia memberikan kartu itu saat rapat perdana. Aku lupa mengeluarkannya," jawab Arga gugap.
"Hanya saat rapat? Mas, kau bukan orang yang suka menyimpan sampah di saku jas. Kau biasanya langsung meletakkan kartu nama klien di meja kerja. Kenapa kartu nama Direkturmu ada di saku dalam jasmu, dekat dengan jantungmu?"
Arga merasa seperti sedang diinterogasi di ruang sidang. "Nabila, tolong jangan mulai. Aku sedang sangat lelah. Pekerjaan di kantor benar-benar menguras energiku."
Nabila berdiri, jarak mereka kini sangat dekat. "Aku tidak sedang mencari masalah, Mas. Aku hanya merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu. Sejak wanita ini datang, kau berubah. Kau seperti orang yang sedang dihantui. Apa dia mempersulitmu? Apa dia melakukan sesuatu padamu?"
Arga membuang muka. Ia ingin sekali berteriak dan mengatakan bahwa wanita itu adalah iblis dari masa lalunya yang sedang mencoba menghancurkan mereka. Namun, ia teringat ancaman Siska. Ia takut jika ia bicara jujur, Siska akan menggunakan kekuasaannya untuk memfitnahnya lebih awal sebelum ia sempat mencari perlindungan.
"Tidak ada apa-apa, Nabila. Tolong, percayalah padaku," ucap Arga dengan suara parau. Ia kemudian mengambil kartu nama itu dari tangan Nabila dan langsung merobeknya menjadi serpihan kecil di depan mata istrinya. "Lihat? Tidak ada yang istimewa dari kartu ini. Sekarang, bisakah kita tidur? Aku punya hari yang berat besok."
Arga langsung merebahkan diri dan membelakangi Nabila, pura-pura tertidur. Nabila tetap berdiri di tempatnya, menatap serpihan kertas di lantai. Tindakan Arga merobek kartu itu justru semakin memperkuat kecurigaannya. Itu bukan tindakan orang yang tidak peduli, itu adalah tindakan orang yang sedang ketakutan.
Keesokan harinya, Nabila tidak bisa diam saja. Rasa ingin tahunya sebagai mantan pengacara bangkit. Saat Arga sudah berangkat kerja, Nabila membuka laptopnya. Ia mulai mencari nama 'Siska Roy' di mesin pencari.
Hasilnya sangat mengejutkan. Siska Roy bukan hanya sekadar istri konglomerat. Berita-berita lama dari media luar negeri menyebutkan bahwa ia adalah sosialita ambisius yang memiliki sejarah pernikahan yang singkat namun menguntungkan secara finansial. Nabila terus menelusuri hingga ia menemukan sebuah foto lama di sebuah blog komunitas mahasiswa Indonesia di luar negeri dari sepuluh tahun yang lalu.
Dalam foto itu, Siska tampak jauh lebih muda, berdiri di sebuah acara kampus. Dan di sudut foto tersebut, tampak seorang pria muda yang sangat familiar.
Itu Arga.
Dunia Nabila seakan berhenti berdetak. Foto itu diambil di masa Arga masih kuliah. Meskipun mereka tidak berpose berdua, namun keberadaan mereka di lingkungan yang sama di masa lalu menjelaskan segalanya.
"Jadi... dia adalah alasanmu menangis dulu, Mas?" bisik Nabila pada layar laptopnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Bukan rasa cemburu yang paling besar ia rasakan, melainkan rasa sakit karena Arga memilih untuk memikul beban ini sendirian. Nabila sadar bahwa suaminya sedang dalam bahaya. Wanita seperti Siska Roy tidak akan kembali ke kehidupan Arga hanya untuk menjadi atasan yang profesional. Terutama setelah melihat bagaimana Arga menyembunyikan fakta ini darinya.
Intuisi seorang istri jarang sekali salah. Nabila tahu, noda kopi di taplak meja beberapa hari lalu memang sebuah pertanda. Badai itu sudah sampai di depan pintu rumah mereka, dan suaminya sedang berusaha menahan pintu itu sendirian dengan tenaga yang mulai habis.
Nabila menutup laptopnya dengan tegas. Ia menyeka air matanya. Jika Arga tidak bisa jujur padanya sekarang, maka dialah yang harus mencari kebenaran itu. Ia tidak akan membiarkan suaminya hancur oleh bayang-bayang masa lalu.
...----------------...
**Next Episode**....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰