"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suara tepuk tangan yang lambat namun mantap bergema dari arah pintu masuk anjungan.
Seluruh perwira navigasi menoleh serentak dan langsung berdiri tegak dalam posisi hormat.
"Luar biasa. Sepertinya aku sudah bisa pensiun dini jika wakilku sehebat ini," ucap Arkan sambil melangkah mendekat dengan senyum bangga yang tidak bisa disembunyikan.
Begitu mendengar suara bariton Arkan, wibawa "Ratu Samudera" yang tadi menyelimuti Gladis menguap seketika.
Bahunya yang tegak langsung melemas, dan sorot mata tajamnya berubah menjadi binar manja yang menggemaskan.
"Arkan!" seru Gladis.
Ia hampir saja berlari kecil menghampiri suaminya, namun teringat mereka masih di depan para bawahan Arkan.
Gladis memberikan senyum tipis yang manis kepada para perwira, lalu menatap Arkan dengan wajah yang sedikit memerah.
"Aku hanya memastikan mereka tidak bergosip karena Kaptennya bangun kesiangan," godanya dengan nada manja yang hanya ditujukan untuk suaminya.
Arkan mengusap kepala Gladis di depan semua orang, sebuah tindakan yang sangat tidak biasa dilakukan oleh sang Kapten yang kaku, namun kali ini tidak ada yang berani berkomentar.
Mereka semua justru merasa lega karena aura ketegangan anjungan mencair.
"Terima kasih, Sayang. Kamu melakukan pekerjaan yang jauh lebih baik dariku," bisik Arkan lembut.
Gladis melirik jam, lalu merasakan perutnya kembali memberikan sinyal lapar yang unik mungkin efek dari energi yang ia keluarkan saat memimpin rapat tadi. Ia melepaskan tangan Arkan perlahan.
"Tugas negaraku selesai. Aku ke kabin dulu," ucap Gladis sambil melambaikan tangannya dengan ceria ke arah Arkan.
"Jangan pulang terlambat, Nakhoda Kecil sepertinya ingin camilan buah sebentar lagi!"
Arkan tertawa rendah dan membalas lambaian tangan istrinya.
"Siap, Nyonya Besar. Segera setelah koordinat ini terkunci, aku akan menyusul."
Para perwira navigasi hanya bisa tersenyum melihat perubahan drastis Gladis; dari seorang pemimpin yang ditakuti menjadi wanita manja yang manis dalam hitungan detik.
Begitu pintu anjungan tertutup di belakang Gladis, Arkan langsung berbalik ke meja peta dengan ekspresi yang kembali serius, meski matanya masih tampak berbinar.
"Baiklah, Tuan-tuan. Mari kita selesaikan ini. Istriku sudah memberikan jalur yang cerdas, jangan sampai kalian membuat kesalahan," komando Arkan, kembali memimpin rapat dengan semangat baru.
Gladis melangkah dengan santai di sepanjang dek atas, menikmati embusan angin laut yang menyapu wajahnya setelah ketegangan di anjungan tadi.
Perutnya terasa butuh sesuatu yang dingin dan asam.
Ia berhenti di salah satu bar terbuka yang ada di dek atas dan memesan segelas jus jeruk nipis dengan es batu yang melimpah.
"Terima kasih," ucap Gladis ramah saat menerima minumannya.
Ia kemudian berjalan menuju kursi santai di pinggir pagar kapal, memperhatikan buih-buih putih di samudera yang tenang. Namun, ia tidak menyadari bahwa dari balik pilar kayu, sepasang mata penuh dendam sedang memperhatikannya.
Itu adalah Vera, wanita yang selama ini menjadi kaki tangan sekaligus kekasih gelap Alex.
Ia masih berada di kapal, menyamar di antara para penumpang setelah Alex diturunkan secara paksa ke kantor polisi di pelabuhan terakhir.
Hatinya mendidih melihat Gladis bisa tertawa bahagia sementara pria yang menjamin kemewahannya kini mendekam di sel penjara.
"Semua ini gara-gara kamu, jalang kecil," desis Vera pelan.
Vera telah menyiapkan sebuah rencana singkat.
Ia telah mencampurkan obat bius dosis tinggi ke dalam sebuah cairan bening di dalam botol kecil.
Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia sengaja berjalan mendekati meja Gladis dan berpura-pura tersandung.
"Oh! Maafkan saya, Nyonya!" seru Vera sambil menabrak meja Gladis dengan cukup keras hingga jus jeruk itu sedikit tumpah.
"Ah, tidak apa-apa," jawab Gladis kaget, mencoba membersihkan percikan air di tangannya.
"Biarkan saya bantu, saya sangat menyesal," ucap Vera dengan nada yang sangat ramah. Sambil pura-pura mengelap meja dengan tisu, tangannya yang satu lagi dengan sangat cepat meneteskan cairan bius itu ke dalam sedotan jus Gladis.
"Ini, silakan nikmati kembali minumannya. Sekali lagi maafkan kecerobohan saya," Vera tersenyum manis, senyum yang menyembunyikan bisa ular.
Gladis yang tidak menaruh curiga sama sekali kembali memegang gelasnya.
"Terima kasih, tidak masalah."
Gladis menyesap jus jeruk itu kembali. Namun, baru beberapa tegukan, dahinya berkerut.
"Rasanya sedikit pahit..." gumamnya.
Hanya dalam hitungan detik, dunia di sekitar Gladis mulai berputar.
Langit yang biru mendadak berubah menjadi kabur.
Gelas di tangannya terjatuh dan pecah di atas dek, menarik perhatian beberapa orang di kejauhan, namun Vera dengan sigap langsung merangkul tubuh Gladis yang mulai lunglai.
"Nyonya? Anda baik-baik saja? Sepertinya Anda pusing karena matahari," ucap Vera dengan suara keras agar didengar orang sekitar, seolah-olah ia sedang menolong.
Kesadaran Gladis mulai hilang. Ia mencoba memanggil nama Arkan, namun lidahnya terasa kelu.
Pandangannya menggelap sepenuhnya sebelum ia jatuh pingsan di pelukan Vera.
Vera menyeringai licik. "Ayo, sayang. Kita cari tempat yang lebih sepi agar kamu bisa 'beristirahat' selamanya, sama seperti karier Alex yang kamu hancurkan."
Vera bergerak dengan sangat cepat dan tenang, memanfaatkan celah di antara pergantian shift penjaga dek atas.
Dengan tenaga yang lahir dari kebencian murni, ia menyeret tubuh Gladis yang sudah tak sadarkan diri menuju area paling ujung di buritan kapal—tempat di mana raungan mesin dan hantaman ombak paling keras terdengar, sehingga suara apa pun akan tertelan oleh samudera.
"Ini pembalasan untuk Alex," bisik Vera tepat di telinga Gladis yang tak lagi mendengar.
Tanpa ragu sedikit pun, Vera mengangkat tubuh mungil Gladis dan mendorongnya melewati pagar pembatas kapal.
BYURRR!
Tubuh Gladis hilang ditelan oleh gulungan ombak raksasa yang dihasilkan oleh baling-baling kapal Ocean Empress.
Dalam hitungan detik, sosoknya hanya menjadi titik putih kecil di tengah lautan Mediterania yang luas, sebelum akhirnya benar-benar lenyap dari pandangan.
Vera merapikan rambutnya, mengambil gelas pecah milik Gladis dan membuangnya ke tempat sampah tersembunyi.
Ia tersenyum puas, menatap jejak buih kapal yang terus melaju meninggalkan koordinat maut itu.
"Selamat tinggal, Gladis. Semoga kamu dan anakmu tenang di dasar sana," desisnya sebelum berbalik pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, di anjungan, Arkan tiba-tiba menghentikan bicaranya di tengah rapat.
Ia memegang dadanya yang mendadak terasa sesak luar biasa.
Sebuah perasaan cemas yang tidak masuk akal menghantam jantungnya.
"Kapten? Ada masalah dengan datanya?" tanya Wakil Kapten Miller heran melihat perubahan wajah Arkan yang mendadak pucat.
Arkan tidak menjawab. Ia segera meraih radio di bahunya.
"Gerald! Cek posisi Nyonya Gladis sekarang! Pastikan dia sudah sampai di kabin!"
"Baik, Kapten. Sebentar..." suara Gerald terdengar dari seberang.
Beberapa menit kemudian, suara Gerald kembali dengan nada panik.
"Kapten! Nyonya Gladis tidak ada di kabin. Pelayan bilang dia menuju dek atas, tapi di sana saya hanya menemukan sandal jepitnya di dekat pagar pembatas buritan..."
Pena di tangan Arkan patah menjadi dua. Wajahnya yang gagah seketika berubah menjadi potret ketakutan yang paling dalam.
"MAN OVERBOARD! HENTIKAN MESIN! PUTAR BALIK KAPAL SEKARANG JUGA!" teriak Arkan dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru anjungan, membuat seluruh perwira navigasi melonjak kaget.
Arkan tidak peduli lagi pada protokol. Ia berlari keluar anjungan menuju dek atas dengan kaki yang gemetar, berdoa pada Tuhan agar ia belum terlambat menyelamatkan istri dan calon buah hatinya dari maut yang dingin.
Makasih kk othor udh up 2 bab nti up lg yg banyak geh 🤣
Sabaarr ya namanya blm jodoh..
Semangat selalu..
Ditunggu up2 selanjutnya..
Kk othor aku penasaran lho brp usianya si arkan ini udh tua bgt kali ya secara pernah menikah dgn ibunya Gladys & jadi ayah sambungnya gladys