SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. DI BALIK KESUNYIAN
Air hangat masih meninggalkan jejak uap tipis di udara kamar ketika Celina menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Rambutnya yang masih sedikit lembap terurai di atas bantal, sementara tubuhnya berbaring tengkurap, seolah gravitasi dunia menariknya jatuh tanpa sisa tenaga. Sprei putih di bawahnya terasa dingin, kontras dengan panas samar yang berdenyut di bahu kanannya, denyut nyeri yang sudah menemaninya sejak sore, sejak jam-jam panjang yang ia habiskan di depan layar, berdampingan dengan Cedric, membedah dan membandingkan core code yang telah dimanipulasi oleh tangan-tangan tak terlihat.
Celina memejamkan mata.
Nyeri itu tidak tajam, tidak menusuk. Ia lebih seperti gelombang yang datang dan pergi, konstan, menggerogoti perlahan, seolah mengingatkannya bahwa tubuhnya belum benar-benar pulih. Bahu itu masih dalam keadaan cedera, dan hari ini ia memaksanya bekerja terlalu lama, terlalu fokus pada baris-baris kode yang tak masuk akal, pada anomali yang menyebar seperti virus, pada kesadaran bahwa ada seseorang yang cukup berani dan cukup cerdas untuk mengacak inti dari sistem AI Morelli Corporation ... lalu menghilang tanpa jejak.
Celina menghela napas pelan, napas yang lebih terdengar seperti desah lelah.
Ia tidak menyesal telah membantu Cedric. Tidak sedikit pun. Diam dan beristirahat justru terasa lebih menyakitkan baginya, memberi ruang bagi pikirannya untuk berputar, mengulang kecemasan yang sama, memikirkan Helix Dynamic, proyek yang bocor, dan satu pertanyaan yang belum juga terjawab: siapa yang bermain di balik layar?
Ketukan pintu memecah sunyi.
Tok.
Tok.
"Celina?"
Suara Theo terdengar dari balik pintu. Tidak keras. Tidak mendesak. Nada suaranya tenang, namun cukup untuk membuat Celina membuka mata dan menolehkan wajahnya ke arah pintu, tanpa mengubah posisi tengkurapnya, tanpa niat sedikit pun untuk bangkit.
"Masuk saja," jawab Celina, suaranya teredam oleh bantal. "Pintunya tidak dikunci."
Daun pintu terbuka perlahan.
Theo masuk dengan langkah hati-hati, seolah takut mengganggu sesuatu yang rapuh. Ia sudah berganti pakaian rumah, kaus lengan panjang berwarna gelap dan celana santai, penampilan yang jauh dari citra profesionalnya di kantor.
Di tangan Theo, sebuah nampan kecil berisi beberapa barang: kantung kompres hangat yang masih mengepulkan uap tipis, sebotol kecil painkillers, dan segelas air.
Pandangan Theo langsung tertuju pada Celina.
Gadis itu tampak diam, terlalu diam, tubuhnya tengkurap tanpa gerakan berarti, rambutnya sedikit acak-acakan, bahunya terlihat tegang meski ia berusaha menyembunyikannya.
Celina melirik sekilas ke arah Theo. "Ada apa?" tanyanya, datar namun lelah.
Theo tidak langsung menjawab. Ia meletakkan nampan itu di meja samping ranjang, lalu duduk di tepi ranjang dengan gerakan pelan. Dari jarak sedekat itu, ia bisa melihat garis kelelahan di wajah Celina, di cara alisnya sedikit mengernyit bahkan saat ia diam, di bahu kanannya yang kaku.
"Kau pikir aku tidak sadar kalau kau kesakitan?" Theo akhirnya berkata, suaranya rendah. "Aku bawakan kompres hangat dengan painkillers."
Celina mendengus kecil. "Kau pikir aku lagi sekarat?"
Theo tertawa pelan, suara kecil yang lebih terdengar seperti hembusan napas daripada tawa penuh. "Dengan cara kau diam dan meringis sepanjang jalan pulang? Iya. Sedikit dramatis, tapi cukup meyakinkan."
Theo mengambil kantung kompres hangat itu, mengujinya sebentar dengan tangannya sendiri, lalu dengan sangat perlahan menempatkannya di bahu kanan Celina. Gerakannya hati-hati, hampir seperti menyentuh sesuatu yang bisa pecah jika salah tekanan.
Celina menghela napas panjang saat kehangatan itu menyentuh kulitnya.
Rasa nyeri yang tadinya berdenyut tajam mulai mereda, berganti dengan sensasi hangat yang menjalar perlahan, menenangkan, seolah otot-otot yang tegang akhirnya diberi izin untuk bernapas.
"Terima kasih," ucap Celina lirih.
Theo menatap sang gadis sejenak. "Kau tidak perlu kerja sekeras itu," katanya kemudian. "Terutama dalam kondisi seperti ini. Tidak akan ada yang marah walau kau hanya diam, santai, atau tidur seharian di rumah ini."
Celina menggeser wajahnya sedikit, pipinya menempel lebih nyaman ke bantal. "Justru aku semakin sakit kalau hanya diam dan tidur. Kepalaku bahkan tidak pernah berhenti berpikir," katanya jujur.
Theo menghela napas kecil. Tangannya terangkat, jemarinya menyentuh rambut Celina, memainkan helai-helainya dengan gerakan pelan dan berulang, gerakan yang tanpa sadar selalu ia lakukan saat ingin menenangkan seseorang.
"Kau tetap harus banyak istirahat," kata Theo lembut. "Atau ayahmu akan mengamuk padaku karena membiarkanmu bekerja saat masih cedera dan sakit seperti ini."
Celina terdiam.
Kehangatan dari kompres itu semakin terasa, menyusup lebih dalam, membuat tubuhnya terasa lebih berat, lebih rileks. Kelopak matanya terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya.
Theo melirik jam di pergelangan tangannya, lalu ke botol kecil di nampan. "Minum obat dulu. Setelah itu baru tidur."
Celina tidak membantah. Bahunya terasa terlalu sakit untuk berdebat. Ia menumpu tubuhnya dengan kedua siku, mengangkat sedikit bagian atas tubuhnya. Theo sudah membuka botol obat itu, mengambilkan satu butir, lalu mengangkat gelas air.
Celina membuka mulut tanpa banyak bicara saat Theo menyuapi obat itu, lalu meneguk air dari gelas yang dipegangkan kepadanya.
Theo tersenyum kecil melihat betapa menurutnya Celina saat ini, sesuatu yang jarang terjadi.
Setelah selesai, Theo menggeser gelas itu ke meja, lalu dengan ibu jarinya menyeka ujung bibir Celina, menghapus sisa air yang tertinggal.
Celina tidak keberatan. Tidak menyingkir. Ia hanya kembali merebahkan diri, tengkurap lagi, membiarkan kompres hangat itu bekerja.
Hening sejenak.
Celina memecahnya dengan suara yang sedikit mengantuk. "Theo?"
"Hm?"
"Akhir-akhir ini ... apa yang sebenarnya terjadi di Morelli?" tanya Celina asal, namun nada suaranya mengandung keingintahuan yang dalam. "Semuanya kacau. Terlalu kacau."
Theo bersandar sedikit, punggungnya tegak. "Aku sedang mengurus hal itu dengan Papa," jawabnya. "Papa juga tidak tinggal diam. Dan ayahmu pun sudah menurunkan orang."
Celina membuka mata sedikit. "Ke Helix Dynamic?"
Theo mengangguk. "Iya. Untuk lihat situasi mereka dari dalam. Mengambil informasi soal gangguan-gangguan yang berhubungan dengan kekacauan di Morelli."
Celina terdiam sesaat, lalu bertanya lagi, "Dan kejadian di divisi IT hari ini? Core code yang dimanipulasi?"
Theo menarik napas. "Cedric mengirim pesan tadi. Dia sedang melacak jejak penyusupnya, dari CCTV sampai dunia digital." Ia menoleh ke Celina. "Kau tidak perlu khawatir soal Divisi IT. Cedric tahu apa yang harus dilakukan. Gelar ketua divisi itu bukan hanya formalitas."
Celina tersenyum tipis. "Aku tahu. Aku hanya khawatir."
Rasa kantuk datang perlahan, namun pasti. Mata Celina terasa berat, tubuhnya semakin rileks.
Theo melihat itu dan tersenyum kecil, mengelus kepala Celina dengan amat lembut "Tidurlah, kau butuh istirahat cukup," katanya.
Celina menggumam pelan, setengah protes. "Jangan ... jangan pegang kepalaku."
Namun Theo hanya tersenyum. Tangannya tetap mengelus rambut Celina, jemarinya bergerak pelan, ritmis, menenangkan, hingga napas Celina menjadi teratur, hingga keluhan kecil itu menghilang, digantikan oleh keheningan tidur yang dalam.
Efek obat itu bekerja seperti yang Theo harapkan. Sengaja memberikan obat itu agar Celina dapar istirahat tanpa terbangun hingga pagi, karena gadis itu sangat membutuhkan tidur yang baik saat ini.
Theo menatap Celina beberapa saat, memastikan gadis itu benar-benar terlelap. Ia mengelus pipinya dengan lembut, lalu berbisik hampir tak terdengar, "Mimpi indah, Celina."
Theo berdiri, mematikan lampu kamar, meninggalkan hanya cahaya samar dari lampu lorong. Pintu ditutup perlahan, nyaris tanpa suara.
Namun begitu pintu kamar Celina tertutup sepenuhnya, wajah Theo berubah.
Senyum lembut itu lenyap, digantikan oleh ekspresi serius yang dingin. Ia berjalan menyusuri lorong, masuk ke kamarnya sendiri, lalu menutup pintu dengan klik pelan, seolah menutup rapat sesuatu yang tak boleh bocor keluar.
Theo mengeluarkan ponselnya.
Ia menekan satu nama di daftar kontak yang belum lama tersimpan.
Panggilan tersambung.
"Zane," ucap Theo pelan namun tegas. "Dia sudah tidur. Jadi, ayo lanjutkan ceritamu di pesan yang kau kirim tadi. Apa maksudmu dengan Celina dalam bahaya?"
Theo menutup pintu kamarnya, seolah menutup pula cerita yang menjadi rahasia dari semua orang, termasuk dari Celina yang telah lelap dalam tidur.
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️
up lagi
up lagi