Arka kembali ke masa lalu di saat kota kelahiran nya masih aman dan sebelum gerombolan monster menyerang, Arka dengan kisah cinta mengejar perempuan cantik dari anak tuan penguasa kota dan kisah arka mengubah masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuniPus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Bab 2: Kebodohan
Di samping Lestari duduk seorang anak dengan perawakan tinggi dan tampan, terkadang, melihat ke arah Lestari. Ia menyadari bahwa Lestari sedang melihat ke arah Arya. Ia melemparkan tatapan geram terhadap Arya. Postur tubuh yang sedikit lebih tinggi dari Arya, mulai memancarkan aura yin.
Sejujurnya, Arya mengenal sosok lelaki tersebut. Dia adalah Surya. Ia termasuk anggota Keluarga Keraton, yang merupakan salah satu dari keluarga terpandang dan di anugerahi bakat yang luar biasa. Kirana, yang saat ini memberikan materi di depan, adalah bibinya.
Di kehidupan Arya sebelumnya, Surya selalu saja mengejar Lestari. Mereka hampir saja menikah jika saja Kota Kemuliaan tidak mengalami kehancuran. Di mata keluarga, mereka adalah pasangan yang sempurna. Namun, Kota Kemuliaan diserang oleh para makhluk iblis Angin Salju sebelum pernikahan itu berlangsung dan Keluarga Keraton menghianati Kota Kemuliaan dengan mengabaikan tugas mereka dan melarikan diri, sebelum para makhluk iblis merusak kota tersebut.
Inilah takdir. Lestari bukanlah istri Surya di kehidupan sebelumnya. Sebaliknya, ia melakukan hubungan yang intim bersama Arya.
Memikirkan hal itu, Arya tidak dapat menahan tawa dalam hatinya. Namun, setelah melihat Lestari dan tatapan Surya, Arya merasakan sakit di kepalanya. Lestari memiliki pandangan yang lebih baik kepada Surya dibandingkan kepadanya. Pandangan hina, seorang yang malas dan hanya suka bermain-main, itulah sosok Arya di mata Lestari.
Ketika ia melihat Lestari menatap ke arahnya, Arya merasakan suatu kelegaan di dalam hatinya. Melihat keseluruhan orang-orang yang ia kenal, membuatnya kembali mengingat hal yang terjadi di kehidupan sebelumnya. Arya tidak dapat menahan rasa asam di hidungnya. Ia melemparkan sebuah senyuman dengan diiringi tatapan mendalam ke arah Lestari.
Arya merasa sangat beruntung dan berterima kasih pada Kitab Roh Iblis Temporal karena membuatnya kembali bertemu dengan orang-orang ini.
"Dasar aneh" pikir Lestari. Ia merasakan tatapan aneh Arya. Mata yang bersinar seperti bintang, penuh kesedihan. Apakah aku mengenalnya? Mengapa ia melihatku dengan tatapan seperti itu? Tanya Lestari dalam hati.
Kecantikan Lestari bagai bunga teratai yang baru saja mekar. Gigi yang putih dan bibir merah delima, dan tingkahnya yang lucu. Tak heran jika banyak anak lelaki yang terpesona olehnya.
Saat ini, Kirana menatap keseluruhan anak di ruangan termasuk Arya. Ia bisa mengetahui apa yang sedang kami lakukan. Ia adalah ahli spiritual iblis dengan tingkatan perak. Ia telah mencapai tingkatan di mana kekuatan pikiran dan tubuh dapat disatukan menjadi indra keenam yang sangat kuat. Penglihatannya yang tajam. Bahkan ia dapat melihat seekor tikus yang lari hingga ratusan meter jauhnya.
Lestari termasuk keluarga terpandang. Ia merupakan putri dari pemimpin Kota Kemuliaan, serta cucu dari ahli spiritual iblis dengan tingkatan legenda, Handoko. Tidak hanya itu, Lestari memiliki jiwa cyan yang terbentuk di pusat kekuatannya atau Dantian. Sebuah bakat yang langka!
Hanya beberapa orang saja di Akademi Anggrek Suci mengetahui identitas Lestari. Jika Surya menginginkan Lestari menjadi istrinya, tentunya kedudukan Keluarga Keraton di Kota Kemuliaan akan menjadi lebih kuat. Hal inilah yang menjadi alasan Surya berada di kelas calon pendekar dan Kirana memberikan materi di kelas ini.
"Selama dua tahun ke depan, kalian semua akan menjadi murid saya. Meskipun ketua Akademi Anggrek Suci mengatakan semua murid miliki kesetaraan yang sama, tapi saya harus memberitahukan kalian kebenarannya, kesetaraan tidak pernah ada!" kata Kirana dengan posisi berpangku tangan sambil menatap seluruh siswa. Suaranya yang sedikit melengking. Kata-katanya seperti belati yang menusuk perasaan siswanya.
Para murid hanya mendengarkan dan tak satupun yang berbicara.
"Setelah kalian dewasa dan meninggalkan sekolah ini. Kalian akan setuju dengan kata-kataku. Kesetaraan hanyalah sebuah kebohongan yang orang dewasa selalu katakan kepada kalian. Kalian tidak bisa hidup di dunia dongeng selamanya," kata Kirana, sambil merendahkan kepalanya dan melihat ke arah kami. "Kota Kemuliaan merupakan satu-satunya kota yang telah ada sejak jaman kegelapan. Hanya Kita manusia yang dapat bertahan hidup. Hanya ada dua jenis kekuatan di kota ini. Para pendekar dan ahli spiritual iblis. Keberadaan ahli spiritual iblis adalah sebuah anugerah. Hanya satu pendekar di antara ribuan atau puluhan ribu yang memiliki sebuah kesempatan menjadi ahli spiritual iblis yang kuat. Hingga saat ini, di seluruh Kota Kemuliaan, hanya beberapa ribu ahli spiritual iblis yang masih bertahan. Kami adalah penjaga Kota Kemuliaan!"
"Para pendekar dan ahli spiritual iblis dibagi menjadi perunggu, perak, emas, emas hitam, dan tingkat legenda. Semakin tinggi levelnya, maka kekuatannya pun semakin kuat. Jika sebuah keluarga mempunyai seorang ahli spiritual iblis tingkat emas, mereka menjadi keluarga aristokrat. Jika mempunyai seorang ahli spiritual iblis tingkat emas hitam, maka mereka termasuk golongan keluarga ningrat. Jika mempunyai tingkatan paling tinggi yaitu tingkat legenda, keluarga tersebut termasuk keluarga terpandang. Ada 36 orang di sini, beberapa di antaranya berasal dari keluarga biasa dan yang lainnya dari tingkatan ningrat. Meskipun kalian berada di kelas yang sama, tapi identitas kalian tetap berbeda. Semoga kalian punya kesadaran diri dan sopan santun satu sama lainnya. Keluarga biasa akan tetap seperti itu. Hal yang tidak mungkin jika kalian menjadi keluarga aristokrat, jadi jangan bermimpi untuk menjadi seekor Phoenix. Bahkan dalam kalangan kebangsawanan tersebut, mereka memiliki tingkat perbedaan yang tidak akan pernah terlampaui."
Ketidaknyamanan para murid yang saat itu hanya berpakaian sederhana dapat terlihat dari wajah mereka. Mereka malu dan menundukkan kepala mereka. Kirana, dan beberapa anggota ningrat lainnya, dengan bangganya membusungkan dada dan meperlihatkan sifat arogan. Hanya Arya, Lestari, Bagas dan ningrat lainnya yang berusaha tetap tenang.
Arya melihat kesampingnya, Darma mengenakan pakaian yang terlihat usang. Ia mengepalkan tinjunya, dan menggigit bibirnya. Darma berasal dari keluarga biasa. Keadaan keluarganya yang sangat sulit. Tapi Arya tahu bahwa harga diri Darma sangat tinggi.
Di kehidupan Arya sebelumnya, Darma merupakan sosok pekerja keras. Walaupun keadaan keluarganya yang tidak terlalu stabil. Bakat yang dia miliki pun cukup baik. Dengan usaha yang keras, ia dapat mencapai ahli spiritual iblis tingkat emas. Ia meraihnya tanpa latar belakang keluarga, dan tanpa pengecualian. Semua berasal dari kerja keras untuk sampai ke level tersebut. Satu hal yang terpikirkan adalah besarnya usaha yang ia lakukan.
Sebelum kehancuran Kota Kemuliaan, banyak keluarga ningrat berpikir untuk melarikan diri. Hanya para keluarga yang tidak memiliki tingkatan apapun yang berjuang demi Kota Kemuliaan hingga titik darah terakhir.
Darma merupakan salah satu teman terhormat Arya.
Melihat wajah Kirana yang penuh dengan penghinaan, Arya tidak dapat menahan amarah di dalam hatinya. Di kehidupan sebelumnya, sebelum kehancuran Kota Kemuliaan, Keluarga Keraton merupakan keluarga pertama yang melarikan diri. Oleh karena itu, Arya tidak memiliki rasa hormat kepada mereka. Entah itu Surya atau Kirana, mereka tidak mempunyai sosok penjaga. Kirana merupakan sosok yang kasar, hal inilah yang membuat Arya tidak menyukainya.
"Guru Kirana, aku ingin bertanya," kata Arya tiba-tiba.
Saat para murid sedang mendengarkan dengan seksama dan Arya tiba-tiba memotong pembicaraannya. Kirana terlihat tidak begitu bahagia. Kirana segera mengenali Arya sejak ia terlihat mendambakan Lestari. Kata yang sebelumnya ia ucapkan merupakan kata yang sebenarnya ditujukan untuk Arya. Tak ada yang menyangka bahwa Arya akan bertanya?
"Hal apa itu?" jawabnya dingin.
"Sebelumnya guru Kirana menjelaskan bahwa Kota Kemuliaan merupakan satu-satunya kota yang bertahan sejak jaman kegelapan, bahwa hanya kami manusia yang dapat bertahan. Bukti apa yang Anda miliki? Apakah Anda pernah keluar dari Pegunungan Bukit Barisan dan mengunjungi gurun tak berujung, hutan beracun, Rawa Bulan Darah, Teluk Roh, Pegunungan Surgawi Cahaya, dan Salju Utara sebelumnya?" tanya Arya.
Sebagai orang yang terlahir kembali, dan menguasai segala hal yang terjadi di masa lalu, Arya dapat dengan mudahnya menjatuhkan Kirana.
"Apa itu Pegunungan Surgawi Cahaya? Lalu Salju Utara?" Kirana mengerutkan dahinya. Ia pernah mendengar gurun yang tak berujung, hutan beracun dan Rawa Bulan Darah sebelumnya, tapi semuanya berada sangat jauh dari Pegunungan Bukit Barisan. Ia hanya pernah mendengar di dalam cerita.
"Sejak lahir aku telah berada di sini, dan tidak pernah ke semua tempat yang kau sebutkan," jawab Kirana sambil mendengus.
Sambil tersenyum Arya berkata, "Bagaimana Anda bisa yakin jika hanya kami manusia yang bisa bertahan hidup, sedangkan Anda tidak pernah ke tempat tersebut?"
Kirana kehilangan kata-kata.
Para murid berbicara dengan pelannya. Mereka tidak tahu tempat apa yang dibicarakan oleh Arya. Lestari, yang berada jauh dari Arya, mulai memperlihatkan ketertarikannya melalui tatapan mata. Ia menatap dengan rasa ingin tahu. Bagaimana Arya tahu mengenai tempat-tempat itu?
Surya yang duduk di samping Lestari perlahan-lahan mengerutkan alisnya. Menatap ke arah Arya, dan menyadari bahwa Arya lumayan tampan. Dalam hal penampilan, Arya tidak bisa dipandang sebelah mata. Tanpa disadari, ia merasakan kemelut di dalam hatinya.
Melihat para murid yang mulai berdiskusi, wajah Kirana merasa sangat senang dan menyindir, "Lalu kenapa? Bagaimana kamu dapat membuktikan jika kami bukanlah satu-satunya manusia yang bertahan hidup?"
"Bukti?"
Arya pun tersenyum. Pengalaman dari masa lalu adalah buktinya. Kebijaksanaan manusia yang menakjubkan. Setelah mengalami jaman kegelapan, banyak manusia yang dapat bertahan. Mereka membangun monumen-monumen kota. Sayangnya ia tidak dapat menjelaskannya. Sebagai gantinya ia berkata dengan tenangnya, "Aku akan menceritakan sebuah cerita kepada guru Kirana. Ada seekor katak di sumur yang dalam. Sejak lahir, katak tersebut selalu berada dalam sumur. Sejak awal ia hanya dapat melihat sebagian langit, oleh karenya ia mengatakan bahwa langit hanya seluas ukuran sumur tersebut. Tapi benarkah langit hanya seluas itu? Kita bisa menarik kesimpulan bahwa katak tersebut bodoh."
Mendengar penjelasan Arya, para murid tidak bisa menahan tawa. Mereka merasa bahwa penjelasan Arya masuk akal. Dan perumpamaan, "seekor katak yang melihat langit dari dalam sumur", secara tidak langsung menyebutkan bahwa guru Kirana adalah seekor katak.
"Menatap langit dari dalam sumur, merupakan perumpamaan yang tepat," kata beberapa anak gadis sambil menyeringai. Mereka tidak menyukai Kirana, dan menatap Arya dengan penuh kekaguman, Arya merupakan satu-satunya murid yang berani menghina seorang guru dalam kelas.
"Kamu..." Kirana menatap ke arah Arya. Ia sangat marah hingga hampir muntah darah. Arya membandingkannya dengan seekor katak yang bodoh. Ia tidak pernah menghadapi seorang murid yang tidak bisa diatur.
Lestari yang duduk di kejauhan juga tak dapat menahan tawa. Ia menyadari bahwa Arya merupakan sosok yang menarik dan pandai berbicara. Ia dapat membuat guru Kirana kehabisan kata-kata.
Lestari memiliki kecantikan yang alami, senyumnya yang menarik. Arya mengedipkan mata ke arah Lestari dan tersenyum.
Melihat ekspresi Arya, Lestari segera memalingkan kembali kepalanya, dan berkata dalam hati, "Dasar lancang!"
Kesan Lestari kepada Arya hanyalah seorang murid yang nakal.
Melihat Arya bukan hanya mempermalukan Guru Kirana, tapi menggoda Lestari, Bagas mengangkat jempol untuk Arya, berpikir bahwa Pria ini sangat hebat.
Arya menatap Kirana, dan berkata "Guru Kirana, Aku masih mempunyai pertanyaan."
"Apa lagi pertanyaanmu?!" balasnya dengan suasana hati yang buruk, Kirana hanya bisa menahan amarahnya dan berusaha tetap tenang.
"Guru Kirana berkata, "Orang biasa akan tetap menjadi orang biasa, mereka tidak akan bisa menjadi keluarga ningrat." Aku punya sebuah pertanyaan. Bukankah Handoko, ahli spiritual iblis dengan tingkatan Legenda, adalah orang biasa ketika ia masih remaja?" tanya Arya, sambil mengedip-ngedipkan mata, dan melihat ke arah Kirana. "Apakah guru Kirana tidak tahu akan hal itu?"