(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28
Alam Rahasia – Lorong Menuju Inti.
Udara di lorong batu itu dingin menusuk tulang, bercampur dengan bau anyir darah yang samar. Dinding-dinding di sekitar mereka dipenuhi lumut hitam yang berdenyut tanda korupsi energi Void (Kehampaan).
Ye Xing berjalan di depan, Pedang Tulang Naga-nya menyala redup, menerangi jalan. Mei Wuchen berjalan di belakangnya, pedang kayunya sudah disarungkan, tapi jari-jarinya tetap siaga di gagang.
"Jejak ini masih baru," bisik Ye Xing, menunjuk lendir hitam yang menempel di lantai. "Fang Que bergerak cepat. Dia menggunakan teknik terlarang untuk membakar darahnya sendiri demi kecepatan."
"Orang gila," komentar Mei Wuchen jijik. "Dia rela menjadi monster demi kekuatan semu?"
"Bagi sebagian orang, kekuatan adalah segalanya, Mei'er. Tidak semua orang lahir dengan sendok perak dan teknik dewa sepertimu," balas Ye Xing tanpa menoleh.
"Hei! Aku berlatih keras, tahu! Tangan ayahku sangat berat kalau memukul!" protes Mei.
Tiba-tiba, Ye Xing berhenti. Dia merentangkan tangan kirinya, menahan langkah Mei Wuchen.
"Ada apa?"
"Formasi Penjaga," mata kanan Ye Xing berputar, pupil emasnya memindai kekosongan di depan. "Tapi formasinya sudah dirusak. Energi Yin di sini kacau."
Dari kegelapan di depan mereka, muncul gumpalan kabut hitam yang perlahan memadat. Kabut itu membentuk sosok-sosok prajurit tanpa wajah yang melayang. Mereka tidak memiliki kaki, dan tangan mereka berbentuk cakar asap.
Roh Penjaga Terkorupsi.
Dulu mereka adalah sisa jiwa para pahlawan yang menjaga tempat ini, tapi energi Void Fang Que telah mengubah mereka menjadi arwah penasaran yang haus darah.
Wuuuu...
Suara ratapan memilukan menggema. Lima roh itu melesat ke arah mereka.
"Biar aku yang urus!" Mei Wuchen melompat maju.
[Teknik Pedang: Kilatan Bunga Persik!]
Pedang kayunya bergerak secepat kilat, menciptakan lusinan tebasan perak.
Sreeet!
Tebasan itu menembus tubuh roh-roh itu. Namun, tidak ada efeknya. Tubuh asap mereka hanya terbelah sebentar, lalu menyatu kembali.
"Hah? Serangan fisik tidak mempan?!" Mei Wuchen terkejut. Dia mundur dengan salto.
"Mereka tidak punya tubuh fisik, Mei'er!" teriak Ye Xing. "Gunakan Qi murni untuk membakar mereka! Jangan ditebas!"
Ye Xing menghentakkan kakinya. [Domain Berat: Tekanan Jiwa!]
Dia mencoba menekan roh-roh itu dengan gravitasi, tapi efeknya minim karena roh nyaris tidak memiliki massa.
"Sial. Lawan yang merepotkan," gerutu Ye Xing. "Kita butuh serangan area berelemen Yang murni, tapi Qi-ku terbatas."
Lima roh itu mengepung mereka, aura dinginnya membuat gerakan Mei Wuchen melambat.
Tepat saat situasi mulai kritis, dan Ye Xing bersiap membakar darah jantungnya lagi...
KREK... KREK...
Suara retakan keras terdengar dari langit-langit gua tepat di atas kepala para roh itu.
Ye Xing mendongak. "Apa itu?"
Langit-langit batu setebal dua meter itu tiba-tiba retak membentuk jaring laba-laba. Seolah ada sesuatu yang sangat berat sedang berjalan di lantai atasnya.
BRAAAKKK!!!
Batuan langit-langit itu runtuh total.
Bersamaan dengan reruntuhan batu, sesosok benda bulat berwarna perunggu gelap jatuh meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.
"AAAAAARGGHHH! AKU JATUH LAGIIIII!"
Itu suara teriakan yang sangat familiar.
BOOM!!!
Sosok itu mendarat tepat di tengah kerumunan lima roh jahat tersebut.
Hantamannya begitu keras hingga menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan debu dan kerikil. Lantai lorong tempat mereka berpijak hancur sedalam satu meter.
Gelombang energi murni dari "benda jatuh" itu meledak keluar, menyapu bersih kabut hitam yang membentuk tubuh para roh jahat.
Roh-roh itu menjerit lenyap, hancur berkeping-keping karena tertimpa aura "Yang" yang sangat padat dan berat.
Hening.
Ye Xing dan Mei Wuchen terbatuk-batuk, mengibaskan debu.
"Apa itu tadi? Meteorit?" tanya Mei Wuchen waspada.
Ye Xing menyipitkan mata melihat kawah di depan mereka. Di sana, seorang pemuda berkulit perunggu gelap sedang berusaha bangkit dengan susah payah.
"Aduh... pinggangku..." keluh pemuda itu. Setiap kali dia bergerak, terdengar suara logam bergesekan.
"Lin Xiao?" panggil Ye Xing tak percaya.
Pemuda itu menoleh. Wajahnya adalah wajah Lin Xiao, tapi kulitnya kini keras dan berkilau seperti patung perunggu kuno. Otot-ototnya membesar dua kali lipat.
"Bos! Kakak Ipar!" seru Lin Xiao girang. Dia mencoba berlari memeluk mereka.
DUM! DUM! DUM!
Setiap langkah kaki Lin Xiao membuat tanah bergetar hebat.
Ye Xing buru-buru mengangkat tangan. "Berhenti! Jangan peluk! Kau akan meremukkan tulangku!"
Lin Xiao berhenti mendadak, hampir jatuh karena momentum berat badannya sendiri. "Eh? Maaf Bos. Aku... aku tadi makan buah aneh di hutan atas, lalu tiba-tiba badanku jadi berat sekali. Aku terpeleset jatuh ke lubang, lalu lantai batunya jebol terus sampai ke sini."
Mei Wuchen berjalan mendekat, mengetuk dada Lin Xiao dengan gagang pedangnya.
Ting! Ting!
Suaranya nyaring seperti mengetuk lonceng kuil.
"Wah," mata Mei Wuchen berbinar. "Ini Tubuh Perunggu Purba! Dia memakan Buah Roh Kura-kura! Di Alam Dewa, ini fisik yang langka untuk pertahanan. Dia sekarang adalah benteng berjalan!"
Ye Xing menghela napas lega, sekaligus takjub. Keberuntungan si bodoh ini memang luar biasa.
"Bagus," kata Ye Xing menyeringai. "Aku tadinya pusing memikirkan siapa yang akan menahan serangan Fang Que nanti. Sekarang kita punya tameng daging kualitas dewa."
"Tameng daging lagi?" Lin Xiao cemberut. "Bos, aku mau jadi penyerang sesekali."
"Dengan berat badanmu sekarang, kau jatuh menimpa musuh saja sudah termasuk serangan mematikan," hibur Ye Xing. "Ayo. Fang Que ada di ujung lorong ini."
Mereka bertiga kembali berjalan. Formasi mereka kini sempurna: Lin Xiao di depan sebagai pembuka jalan (dan penghancur jebakan dengan badannya). Ye Xing di tengah sebagai pengendali situasi. Mei Wuchen di belakang sebagai eksekutor cepat.
Akhirnya, mereka sampai di ujung lorong. Sebuah pintu raksasa dari logam hitam berdiri kokoh, namun segelnya telah dirusak paksa.
Dari balik pintu, terdengar suara tawa gila Fang Que dan getaran energi yang membuat mual.
"Dia sudah di dalam," Ye Xing mencabut pedang beratnya. Tatapannya menjadi dingin dan tajam.
"Lin Xiao, tabrak pintunya."
"Siap, Bos!"
Lin Xiao mengambil ancang-ancang, memosisikan bahu perunggu-nya ke depan. Dia berlari (lebih tepatnya menyeruduk seperti badak).
BLAARRR!
Pintu logam hitam itu terhempas lepas, terbang ke dalam ruangan.
Di dalam Ruang Inti Segel, di atas altar yang dikelilingi kolam darah, Fang Que menoleh. Wajahnya yang setengah monster terlihat terkejut, namun kemudian menyeringai lebar.
Di tangannya, dia memegang sebuah Jantung Hitam yang berdetak.