Demi menyelamatkan perusahaan sang papa yang hendak dikuasai oleh pamannya yang tamak, Menta terpaksa menyetujui perjodohannya dengan Raf seorang tuan muda pewaris tahta kerajaan bisnis yang sudah menjadi rekanan sang papa. Pernikahan yang dipaksakan tersebut sesungguhnya membuat Menta sangat tertekan, sikap dingin Raf ditambah kisah cinta pria itu dengan seorang model cantik pun membuat hubungan keduanya semakin seperti orang asing. Mungkinkah Menta dan Raf bisa bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosi Lombe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bertiga
"Kak, aku kangen, kapan kakak pulang ke rumah lagi?" Bas berkata melalui sambungan video call saat Menta sudah berada di kamarnya dan sedang berdiri di balkon setelah ia selesai makan malam bersama Raf, Ananda dan Mike.
"Ya sudah besok siang sepulang sekolah kakak pulang ya" sejak tragedi diturunkan dari mobil oleh Raf hampir dua minggu yang lalu, Menta memang belum pernah pulang ke rumah orang tuanya lagi karena ia cukup disibukkan dengan persiapan ujian akhir sekolah dan juga pendaftaran kuliah.
"Benar ya?" kata bocah laki-laki itu dengan semangat.
"Iya kakak janji" Menta tersenyum.
"Oke, kalau begitu besok kita bertemu di rumah ya" Bas melonjak kegirangan.
"He em, kau mau kakak bawakan apa?" Menta bertanya.
"Tidak usah, aku hanya ingin kakak pulang saja sudah cukup" rasa kehilangan orang tua dan rindu yang mendalam kepada sang kakak membuat Bas cukup bersedih selama ini.
"Baiklah, kalau begitu sampai bertemu besok ya" Menta melambaikan tangannya tanda berpisah.
"Daaaaa" balas Bas sebelum memutuskan video callnya.
"Hiks hiks hiks" tangis Menta langsung pecah setelah sang adik menutup ponselnya.
"Menta,," Raf yang sejak awal melihat interaksi sang istri dengan adik iparnya melalui video call dapat merasakan bahwa gadis itu merasa sangat terpuruk.
"Hiks hiks hiks" hanya suara isak tangis yang terdengar dari mulut Menta.
"Menta,," kini pria itu memeluk tubuh Menta yang mulai bergetar hebat dan hampir merosot ke lantai karena menahan tangisannya agar tidak semakin kencang.
"Menangislah agar kau lega" sambil mengelus punggung sang istri dengan lembut.
"Hiks hiks hiks" Cukup lama Menta menangis di pelukan Raf sampai akhirnya gadis itu benar-benar tenang.
"Terima kasih kak" Menta mencoba merenggangkan pelukan sang suami.
"Apa kau sudah lebih baik?" pria itu menatapnya dengan lekat.
"Iya, terima kasih" katanya lagi.
"Kalau begitu sekarang kau istirahatlah, biar besok aku antar kau ke rumah orang tuamu sepulang sekolah" Raf kemudian memapah Menta menuju ke tempat tidur.
"Tidak usah kak, nanti merepotkan, aku bisa sendiri kok besok" ia yang sudah berjanji tidak ingin melibatkan Raf dengan segala urusan pribadinya menolak dengan halus.
"Tidak, aku tidak repot kok" senyum manis mengembang di wajah pria tampan itu.
"Tapi aku baik-baik saja, jadi biar aku sendiri saja" masih menolak.
"Aku tidak menerima penolakan, pokoknya besok aku temani, titik!" Raf tidak mau berdebat lebih panjang lagi.
"Terserah kakak saja kalau begitu" Karena sudah malas berdebat juga, Menta pun akhirnya lebih memilih untuk langsung tidur.
..........
"Kakkkkkk" Bas menyambut Menta.
"Bassss" Menta memeluk erat sang adik yang sangat ia rindukan.
"Kakak menginap kan?" tanya bocah itu.
"Tentu saja dong" jawab Menta dengan anggukan yakin.
"Kak Raf juga?" kemudian Bas menoleh ke arah Raf.
"Pasti, kan sekarang kak Raf sudah jadi suaminya kak Menta, jadi kemana pun kak Menta pergi pasti kak Raf akan ikut" pria itu meraih pinggang Menta serta mencium pipinya dengan mesra di depan sang adik ipar.
"Nanti malam Bas tidur sama kakak saja ya, kakak kangen sekali" Menta yang dipeluk oleh Raf langsung menghindar dan mencari alasan agar Raf tidak perlu ikut menginap di rumah orang tuanya.
"Lalu kak Raf bagaimana?" Bas tidak enak hati jika harus memisahkan pasangan suami istri yang baru menikah itu.
"Biar kak Raf pulang saja" Menta menatap Raf dengan kode.
"Loh katanya kak Raf tadi mau menginap bareng kak Menta juga?" Bas jadi bingung dengan ketidak kompakan mereka berdua.
"Bagaimana kalau kita tidur bertiga saja? pasti akan lebih seru kan?" Raf tetap tidak mau pulang ke rumah orang tuanya meskipun Menta sudah memberi kode dengan membulatkan matanya.
"Ide yang bagus" Bas sangat senang.
"Sip" Raf mengacungkan ibu jarinya, membuat Menta kesal.
..........
"Bagaimana sekolah Bas?" Menta bertanya saat mereka hendak tidur.
"Baik kak, hanya saja Bas masih belum terlalu bersemangat karena sangat rindu mama dan papa" kata bocah itu.
"Bas harus tetap semangat ya, jangan menyerah, kalau Bas putus asa, nanti mama dan papa jadi sedih loh" Menta mengelus rambut sang adik dengan lembut.
"Kenapa papa dan mama perginya cepat sekali ya kak? Bas masih butuh mereka, walau pun om Adhi, tante Sekar dan Adit sangat baik dan perhatian, tapi Bas tetap kesepian kak tanpa mama dan papa" Bas mencurahkan isi hatinya.
"Kalau kakak tinggal di sini lagi dan kita setiap malam tidur bersama seperti ini apakah Bas senang?" Menta mencoba menghibur sang adik.
"Tapi kakak kan sudah menikah, kalau Bas tidur sama kakak, lalu kak Raf bagaimana?" Bas sudah cukup besar untuk paham bahwa setiap pasangan suami istri itu sewajarnya harus tidur dalam satu kamar.
"Tidak masalah, kak Raf bisa kok menjenguk kak Menta sesekali ke sini, iya kan kak?" bagi Menta ini adalah keuntungan karena dirinya jadi tidak perlu banyak bersinggungan dengan Raf setiap harinya.
"Emmmmm bagaimana ya?" sejujurnya Raf sangat keberatan. Meskipun dirinya dan Menta tidak memiliki hubungan spesial, namun selama ini ia sudah sangat terbiasa dengan kehadiran Menta di setiap malam-malamnya. Kegaduhan yang selalu dibuat oleh Menta saat menonton drama atau melakukan kegiatan lain di dalam kamar mereka, membuat ruangan itu menjadi lebih hidup. Akan sangat sepi rasanya jika ia harus kembali tidur sendiri lagi di kamar yang sangat besar miliknya itu.
"Tuh kan kak Raf keberatan, kak Menta sih! hahahahah" Bas melihat raut wajah sang kakak ipar sangat tidak setuju dengan ide sang istri.
"Bas baik-baik saja kok kak, hanya memang masih butuh waktu untuk merelakan mama dan papa" senyum sang adik untuk meyakinkan Menta.
"Kak Menta dan ka Raf tidak usah repot-repot berpisah tidurnya setiap malam hanya karena Bas, cukup rutin ke sini saja Bas sudah bahagia kok" kini pola pikir Bas jauh lebih dewasa.
"Bassss kau sudah besar ya, sangat bijaksana" Menta memeluk sang adik.
"Aku kan dari dulu memang bijaksana" yang dipuji jadi sombong.
"Ishhhh sombongnya!" Menta mengerucutkan bibir.
"Hahahahahah" Bas malah tergelak.
"Sudah malam, ayo tidur!" kemudian Menta memeluk sang adik untuk merasakan kehangatan keluarga mereka yang sempat hilang sejak ia menikah dengan Raf.
"Oke, selamat malam" kata Bas.
"Selamat malam" jawab Menta.
"Selamat malam" Raf pun ikut menjawab.
Malam itu mereka bertiga tidur dalam damai dengan buaian mimpi indah masing-masing.
biar ray kelimpahan sendiri...
Aku suka sama mehta yg tegas dan engga menye menye /Kiss/