NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Om Darren? Ngapain

"Tolong a-ku" ucapan tersebut kembali terdengar. Hani pun melangkah maju ke arah suara dan melihat seseorang yang sedang tergeletak tak berdaya dengan banyak luka dan sebuah tancapan pisau kecil di perutnya.

...****************...

Hani membulatkan matanya sedikit syok. " E-eh om Darren? ngapain? " tanya nya yang sedang bingung.

"Tolong shh" satu kata dari Darren disertai ringisan, Hani melihat kondisi Darren yang sangat berantakan dengan banyak noda darah.

"Oke oke sekarang om ikut aku dulu masuk ke apartemen" Jawab Hani ia pun berusaha membangunkan tubuh Darren hingga berdiri dengan menopang nya agar tidak terjatuh, Hani sedikit kesulitan akan membawa nya tapi ia merasa kasihan hingga akhirnya tetap membawa Darren masuk kedalam apartemen studio nya.

Ting

Pintu lift terbuka, Hani segera memapah tubuh besar Darren untuk berjalan ke arah pintu apartemen nya, walaupun sedikit lambat tapi Hani sudah terengah-engah akan nafasnya.

Ceklek

Pintu apartemen nya terbuka kemudian Hani membawa Darren untuk ia rebahkan di kasur. "Huh huh huh om berat banget sih" ucap Hani sembari mengatur nafas setelah berhasil membawa Darren masuk ke dalam.

"Yaudah bentar aku ambilin dulu kotak P3K buat obatin lukanya" ucap Hani, lalu ia membuka nakas disamping kasur lalu mengeluarkan sebuah kotak P3K didalamnya.

"Om buka bajunya, biar ku obatin itu lukanya." ucap Hani yang sudah duduk disamping Darren. Karena Darren tak kunjung merespon dan menutup matanya membuat Hani menjadi panik.

"E-eh om buka matanya, jangan ketiduran nanti kebablasan lagi" ucap Hani sembari menepuk-nepuk pelan pipi Darren dengan kedua tangan nya. Tak lama kemudian Darren membuka matanya lalu menatap ke arah Hani.

"Nah gitu dong om jangan tidur dulu, sekarang aku buka ya bajunya, buat bersihin luka nya" ucap Hani, Darren pun hanya mengangguk kecil dengan wajah datar nya.

Hani pun mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang di gunakan oleh Darren, dan ketika telah terbuka semua Hani dibuat melongo dengan badan Darren yang sanggat gagah, 'wow roti sobek nya 8 bukan 6, ah tipe idaman banget ini mah, udah tampan, badannya bagus, dan yang paling penting dompet nya tebel' ucap Hani dalam hati dengan mata yang berbinar binar menatap tubuh Darren.

"Kau suka?" Tanya Darren yang sedari tadi menatap ekspresi Hani yang melongo dan mata berbinar binar.

Pertanyaan Darren membuat Hani sadar akan fikiran nya lalu menatap Darren dengan canggung. "E-eh engga, aku cuma syok aja liat luka luka nya yang banyak." ucap Hani mengelak.

"Hmm" Darren yang tahu bahwa Hani sedang berbohong pun hanya berdehem sebagai jawaban.

Hani mulai membersihkan dan mengobati luka luka nya, bahkan ia mencabut pisau kecil di perut Darren dengan santai seperti seorang ahli, dulu Hani memang pernah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter bahkan ia telah mempelajari beberapa ilmu kedokteran tetapi ia lebih memilih untuk melanjutkan kuliah ke cabang teknologi dari pada cabang kedokteran.

Darren sedari tadi hanya memperhatikan wajah serius Hani ketika mengobati luka di tubuhnya, gerakan nya bahkan sangat lembut agar tidak menyakiti dirinya.

"Nah sudah selesai om, sekarang om harus makan buat isi tenaga dan harus banyak minum biar ga dehidrasi. Kebetulan tadi aku masak buat ku makan sebelum tidur, jadi kita makan aja berdua." ucap Hani panjang lebar.

"Hmm aku tidak lapar" lirih Darren.

"Ah tidak boleh menolak om, nanti kalo om menolak tidak cepat sembuh luka nya, aku juga yang repot huh" gerutu Hani sambil mencebikkan bibirnya.

'Sial, kenapa dia sangat menggemaskan' Batin Darren.

Hani hendak melangkah untuk mengambil nasi goreng yang ia masak tadi, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar bunyi bel apartemen nya berbunyi.

ting tong

Hani berbalik menatap ke arah pintu. "Eh om, itu yang datang musuh om ya? apa jangan jangan musuh om tau kalo aku bawa om kesini, aduh aku gamau mati muda tolongg" ucap Hani dramatis.

Darren menatap dengan ekspresi datar "Musuh? aku tidak tau, cepat buka saja pintu nya" ucap Darren, 'Kenapa dia membahas musuhku? apa dia tau tentang diriku yang sebenarnya' batin Darren.

"Baiklah baiklah, tapi jika sampai aku mati muda karena membuka pintu itu aku tidak akan memaafkan om." ucap Hani kemudian ia melangkah kan kaki nya kearah pintu.

Ceklek

Hani membuka sedikit pintu apartemen nya untuk mengintip siapa yang datang, semua perlakuan Hani pun tak luput dari penglihatan Darren. Hani sedikit terkejut, ternyata yang datang adalah karyawan perusahaan nya di Jerman, yang diperintahkan oleh Sophia untuk mengirim laptop pesanan Hani.

'Aduh kenapa pesanan ku datang diwaktu yang tidak tepat sih, bisa bisa om Darren curiga nih' batin Hani, ia pun membuka lebar pintu apartemen nya.

Guten Abend, meine Dame, ich wurde von Frau Sophia beauftragt, Ihre Bestellung auszuliefern.

(Selamat malam Miss, saya di perintahkan oleh bu sophia untuk mengirimkan pesanan anda.) ucap karyawan Hani.

Guten Abend auch, vielen Dank, dass Sie meine Bestellung so schnell geliefert haben.

(Selamat malam juga, terimakasih sudah mengantarkan pesanan saya dalam waktu yang cukup cepat.) jawab Hani.

Dies ist der Artikel, Fräulein. Frau Sophia sagte, sie werde sich bei Ihnen melden, sobald der Artikel eingetroffen ist.

(Ini barangnya Miss, bu Sophia berpesan akan menghubungi anda setelah barang nya tiba.) ujar sang karyawan.

Hmm, okay, du kannst gehen.

(Hmm baiklah, kamu boleh pergi) ucap Hani.

Karyawan tersebut langsung meyerahkan laptop tersebut kepada Hani dan membungkuk hormat sebelum pergi, setelah sang karyawan pergi Hani menutup kembali apartemen tersebut.

'Jadi sebenarnya siapa wanita ini? dan dia bisa berbahasa jerman, apa yang ia sembunyikan?' batin Darren yang mendengar percakapan tersebut, ia memang tidak terlalu bisa berbahasa Jerman tetapi ia hanya mengerti beberapa kata saja.

Hani meletakkan barang tersebut di meja lalu pergi untuk mengambil sebuah gunting untuk membuka paket laptop yang ia terima, ia terlalu antusias hingga melupakan Darren yang sedari tadi memperhatikan semua gerak gerik nya.

Setelah ia membuka paket tersebut, tampak sebuah laptop desain terbaru dari perusahaan nya. "perfect is very satisfying" ujarnya dengan mata berbinar binar.

'Dia membeli laptop keluaran terbaru perusahaan NeuroLink Devices, tapi untuk apa? bukankah fitur fitur dalam laptop tersebut biasa digunakan untuk hacker? ' tanya Darren dalam hati.

Hani mengecek seluruh fitur-fitur dalam laptop tersebut berfungsi sesuai dengan jenis fitur nya, tak lama kemudian ponsel Hani yang ia letakkan diatas nakas berdering.

Dreett.... Dreett

Dreett..

Ia bangkit dari duduknya lalu mengambil ponsel nya yang berdering dari atas nakas, tertera nama Sophia dilayar ponsel tersebut. 'Aduh Sophia nelpon lagi, nanti om Darren tambah curiga ga ya, ah bodoamat mungkin juga on Darren ga peduli sama urusan ku' batin Hani dengan ragu sebelum mengangkat panggilan dari ponsel nya. Ia segera mengangkat telepon tersebut dan sedikit menjauh dari Darren agar tidak mendengar suara Sophia diseberang sana.

Guten Abend, ich habe vorhin die Meldung erhalten, dass der von Ihnen bestellte Laptop bei Ihnen eingetroffen ist. Gibt es irgendwelche Schäden an dem Laptop?

(Selamat malam Miss, tadi saya telah mendapatkan laporan bahwa laptop yang anda pesan sudah sampai ke lokasi anda, apakah ada kerusakan pada laptop tersebut Miss?) tanya Sophia pada sambungan telepon.

Guten Abend auch Ihnen, Sophia. Ich habe die Funktionen des Laptops überprüft und er ist einwandfrei. Ich bin sehr zufrieden. Auch der Versand war sehr schnell. Vielen Dank, Sophia. Sie sind wirklich zuverlässig. Ich schicke Ihnen später noch eine kleine Aufmerksamkeit.

(Selamat malam juga Sophia, saya telah mengecek fungsi dari fitur fitur laptop tersebut, dan tidak ada kerusakan sama sekali, sangat memuaskan. dan pengiriman nya juga sangat cepat, terimakasih Sophia kamu memang bisa diandalkan, nanti saya akan kirimkan bonus untukmu.) jawab Hani, Darren yang mendengarkan Hani berbicara bahasa Jerman dengan fasih pun menjadi sedikit kagum padanya.

Gott sei Dank, Miss, es ist meine Pflicht, gute Arbeit zu leisten, und Sie brauchen sich keine Sorgen um Boni zu machen, Miss, mein Gehalt ist mehr als ausreichend.

(Syukurlah Miss, itu sudah tugas saya untuk bekerja dengan baik, dan tidak perlu repot-repot untuk bonus Miss, gaji saya itu sudah lebih dari cukup.) ucap Sophia.

Lehne Sophia nicht ab, du bekommst trotzdem einen Bonus. Okay, beenden wir das Gespräch jetzt, ich habe noch einiges zu erledigen.

(Jangan coba coba menolak Sophia, saya akan tetap memberimu bonus. baiklah kita akhiri duku pembicaraan ini, aku masih memiliki beberapa urusan.) ujar Hani.

Tutt

Hani mematikan telepon tersebut tanpa menunggu jawaban dari Sophia, kemudian ia menyimpan laptop yang baru saja ia cek kedalam lemari khusus berkas berkas. Semua hal yang dilakukan oleh Hani pun diperhatikan oleh Darren, walaupun kondisi nya saat ini masih lemah.

"Sudah selesai? " tanya Darren pada Hani.

"Oh iya astaga, aku lupa sama om Darren. Maaf ya om tadi aku sedikit sibuk jadi lupa deh ada om disini, oh ya jadi makan ga om?" tanya Hani.

"Terserah mu saja" jawab Darren.

Hani pun segera mengambil sepiring nasi goreng kampung yang ia buat lalu duduk disebelah Darren diatas ranjang apartemen nya.

"Aku suapin aja ya om? itu tangan nya luka luka, pasti sakit" tanya Hani.

"Aku bisa makan sendiri" tegas Darren.

"Oh tidak tidak, nanti kalau om makan sendiri luka ditangan om ga sembuh sembuh, sekarang aaaa buka mulut nya" titah Hani.

"Hmm baiklah, tapi berhenti memanggil ku dengan sebutan om." ucap Darren, ia pun pasrah untuk membuka mulut nya agar Hani bisa menyuapi makan.

Hani hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tiba tiba sebuah ide jahil melintas di otak nya. 'kalo aku kerjain si om kutub ini gimana ya reaksi nya? mungkin dia akan marah atau bahkan ngamuk, ah seru nih kayanya' ucap Hani dalam hati.

Hani dan Darren pun telah menghabiskan makam nya dengan sepiring berdua, kemudian Hani pergi untuk mencuci piring bekas makan nya lalu ia pergi naik ke atas ranjang tempat tidur nya untuk menjahili Darren.

"Om" ucap Hani lebih lembut dari biasanya.

"Hmm" jawab darren dengan deheman.

Hani menundukkan kepalanya dan mendekat ke telinga Darren, hingga nafas Hani bisa Darren rasakan dan membangkitkan sesuatu dibawah sana.

"Gimana kalo aku panggil om dengan sebutan sayang, biar lebih romantis." ujar Hani sedikit berbisik lalu meniup pelan telinga Darren. 'Hahaha rasain tuh dasar om kutub, pasti habis ini dia marah-marah.' batin Hani dengan senyum tipis penuh rencana.

"Hmm baiklah sayang" jawab Darren tetap tenang.

Hani panik dan juga syok, ia tak menyangka bahwa Darren terlihat biasa saja dan menanggapi ucapannya"E-eh kok ga marah om? kenapa jadi ikut ikutan panggil aku sayang?"

Darren tersenyum tipis, bahkan nyaris tak terlihat. "Jadi kamu bisa bahasa Jerman? " ucap Darren mengalihkan topik pembicaraan.

'Aduh ni om kutub kenapa pake nanya sih, aku harus jawab apa tuhann' ucap Hani menjerit dalam hati. "Bisa dikit-dikit om, dulu waktu kuliah kan banyak temen dari berbagai negara, jadi ya... sambil belajar bahasa mereka" ucap Hani santai mencoba menghilangkan rasa gugupnya.

'Hmm tidak terdengar meyakinkan' batin Darren.

Drett... Dreett

Drett..

Ponsel Hani kembali berdering, Hani pun mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di meja dan tertera nama Miyuki, salah satu orang yang memegang perusahaan Hani di Jepang.

'Ini pada kompakan ngerjain gue apa gimana sih? kok tumben banget pada nelpon, ah bisa tambah curiga nih om kutub' batin Hani menggerutu. Dengan terpaksa ia pun mengangkat telepon tersebut.

Konbanwa, misu-san. Zairyō no nyūshu ga kon'nan'na tame chippu no seisan ga jakkan okurete ori, chippu no haifu purosesu ni ikutsu ka no shōgai ga hassei shite iru to iu saishin no hōkoku o otsutae shitai to omoimasu.

(Selamat malam Miss, saya ingin memberikan laporan terbaru bahwa dalam proses distribusi chip ada beberapa kendala dikarenakan produksi chip yang sedikit lebih lambat karena ketersediaan bahan bahan yang sulit ditemukan. )

ucap Miyuki.

Konbanwa, miyukisan. Bunpu gurafu ni kansuru repōto o watashi ni okutte itadaki, sassoku, genzai shiyō shite iru shu zairyō to onaji kinō o motsu daitai zairyō o sagashite itadakimashita.

(Selamat malam Miyuki, kamu kirim laporan mengenai grafik distribusi kepada saya, dan segera cari bahan alternatif yang memiliki fungsi sama dengan bahan utama yang kita gunakan.) Jawab Hani dengan santai.

Wakarimashita, misu-san. Sugu ni chāto o anata no mēru ni okurimasu. Soshite dekirudakehayaku, mein no sozai to onaji kinō o motsu daitai sozai o sentaku shimasu.

(Baiklah Miss, akan segera saya kirimkan grafik nya ke email anda, dan saya akan memilih bahan alternatif yang memiliki fungsi sama dengan bahan utama secepatnya. )

Yoku yatta, watashi no iu tōri ni shiro. Kono kaiwa wa mō owari ni shiyou. Mada yaru koto ga nokotte iru.

(Kerja bagus, segera lakukan perintah saya. kita akhiri dulu pembicaraan ini, saya masih ada urusan. ) ucap Hani, lalu ia pun mematikan sambungan telepon nya.

Tutt..

"Jadi selain bisa bahasa Jerman kamu juga bisa bahasa Jepang? Hmm menarik." ucap Darren, ia memang mengerti dan fasih dalam menggunakan bahasa jepang. Jadi ia dapat mengetahui pembicaraan Hani.

"Ah kan aku udah bilang tadi om, sewaktu kuliah punya temen dari berbagai negara, makanya itu aku bisa bahasa jepang" ucap Hani menyangkal, ia tak ingin Darren mengetahui bahwa ia memiliki beberapa perusahaan diluar negeri.

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!