Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sewelas
Pagi itu, burung-burung di sekitar ladang hitam Han Jia berkicau lebih nyaring, seolah-olah mereka juga kaget melihat pemandangan di depan gubuk. Feng Shura berdiri di sana tanpa baju zirah hitamnya yang berat. Ia hanya mengenakan kemeja kain kasar milik mendiang ayah Han Jia yang kekecilan, memperlihatkan otot-otot lengan dan dadanya yang kini tampak kokoh dan sehat.
Wajahnya tidak lagi pucat. Garis rahangnya tegas, matanya tajam, dan auranya begitu mempesona hingga jika ada gadis desa yang lewat, mereka pasti akan pingsan di tempat.
Namun, jenderal yang bisa menggetarkan nyali musuh di medan perang itu kini sedang menatap sebuah benda di tangannya dengan ekspresi horor.
"Han Jia... kau bercanda, kan?" suara Shura bergetar.
Han Jia keluar dari gubuk sambil membawa sebuah baki berisi bongkahan berwarna putih kekuningan yang aromanya sangat wangi seperti bunga melati yang dicampur dengan sesuatu yang tajam.
"Aku tidak pernah bercanda soal kebersihan, Shura," ucap Han Jia datar. Ia berusaha keras menahan diri untuk tidak menyebut kata Saponifikasi atau Asam Lemak. "Kau bau. Zirahmu bau. Dan gubukku mulai beraroma seperti kandang kuda yang tidak dibersihkan selama tiga dinasti. Sekarang, ambil bongkahan ini kita sebut saja 'batang pembersih' dan pergi ke sungai. Cuci semua pakaianmu!"
Shura melotot. "Kau menyuruh seorang Jenderal Besar Kekaisaran untuk... mencuci baju di sungai? Seperti ibu-ibu?!"
Han Jia berkacak pinggang. "Oh, jadi Jenderal Besar Kekaisaran lebih suka memakai baju yang mengandung jutaan... emm... mengandung banyak kuman dan kotoran tak kasat mata? Pilih mana: kau mencuci baju sekarang, atau aku akan menyemprotmu dengan cairan pengusir serangga buatanku yang baunya seperti bangkai tikus?"
"Profesor, tekanannya sangat efektif. Lihat, otot bisepnya gemetar karena tersinggung," lapor Hera yang muncul dalam wujud hologramnya, duduk santai di bahu Han Jia sambil memegang kikir kuku digital.
"Hera, diamlah. Aku sedang mencoba bicara 'normal'," gerutu Han Jia tanpa sadar.
Shura tersentak, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik. "Kau bicara lagi pada jinmu! Han Jia, demi dewa-dewi, aku jamin jinmu itu pasti tertawa melihatku dihina seperti ini!"
"Dia memang sedang tertawa! Makanya cepat pergi!" Han Jia mendorong punggung Shura dengan kasar ke arah sungai.
Sesampainya di pinggir sungai, Shura menjadi pusat perhatian diam-diam dari balik semak-semak. Beberapa warga desa yang sedang mencari kayu bakar berhenti sejenak, terpana melihat "Pria Iblis" yang malam itu sekarat kini tampak seperti dewa perang yang turun dari langit sedang mengucek baju dengan penuh emosi.
"Sialan... gadis gila itu..." gumam Shura sambil menghantamkan kemejanya ke batu sungai. "Dia bilang ini 'batang pembersih', tapi kenapa busanya banyak sekali? Apakah ini busa kemarahan para dewa?"
Ia menggosokkan sabun buatan Han Jia ke kulit lengannya yang terkena lumpur. Seketika, kotoran itu luruh tanpa sisa, dan kulitnya terasa sangat segar. Shura tertegun. Ia mencium lengannya sendiri.
"Wangi... bunga?" Shura mematung. Wajahnya memerah. "Jika prajuritku tahu jenderal mereka berbau bunga melati, aku akan kehilangan wibawaku dalam sekejap!"
Sementara itu, di ladang, Han Jia sedang mengamati Shura dari jauh menggunakan teropong darurat yang ia buat dari potongan kristal Sawi Roh.
"Lihat dia, Hera. Padahal aku hanya mencampurkan lemak hewan, abu kayu, dan sedikit minyak esensial melati. Dia bertingkah seolah aku menyuruhnya memegang granat aktif," Han Jia mendengus geli.
"Tapi dia mencuci dengan sangat bersih, Profesor. Kecepatan gerakannya menunjukkan bahwa insting bertarungnya bisa diaplikasikan dengan baik pada noda membandel," sahut Hera sambil memutar data statistik kebersihan.
Sesaat kemudian, Shura kembali dengan wajah cemberut dan tumpukan baju basah di tangannya. Ia berjalan melewati Han Jia dengan langkah besar yang membuat tanah bergetar.
"Sudah! Aku sudah wangi! Kau puas sekarang?!" teriak Shura.
Han Jia menatapnya dari bawah ke atas, lalu menutup hidungnya dengan tangan. "Hampir puas. Sekarang, pakai ini."
Han Jia memberikan sebuah botol kecil berisi cairan bening. "Ini adalah... minyak rambut. Biar rambutmu yang berantakan itu tidak terlihat seperti sarang burung gagak."
Shura menatap botol itu dengan curiga. "Ini bukan ramuan untuk mengubahku menjadi kambing, kan?"
"Ide bagus, tapi aku tidak punya cukup energi untuk mengubah struktur... emm... mengubah bentuk tubuhmu menjadi hewan. Cepat pakai!"
Shura memakainya dengan ragu. Tiba-tiba rambut hitamnya yang panjang menjadi lembut dan jatuh dengan sempurna di bahunya. Ia melihat pantulan dirinya di air dalam tempayan. Ia tidak bisa berbohong ia terlihat jauh lebih tampan daripada saat ia masih di ibu kota.
"Han Jia..." suara Shura melembut. Ia menatap Han Jia dengan tatapan yang sedikit berbeda. "Kenapa kau melakukan semua ini? Sabun ini, minyak rambut ini... apakah kau sedang mencoba... merayuku?"
Han Jia yang sedang minum air langsung tersedak.
Pffft!
Ia terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah. Hera di sampingnya tertawa terpingkal-pingkal sampai hologramnya berkedip-kedip.
"Merayumu?!" Han Jia berteriak, matanya melotot. "Kau pikir aku membuang waktu melakukan reaksi... maksudku, melakukan percobaan memasak ini hanya untuk merayu laki-laki yang otaknya cuma di otot?! Aku melakukan ini karena aku benci melihat subjek penelitianku terlihat kumal! Kau itu aset kerjaku, Shura! Kalau asetku terlihat buruk, reputasi ilmuku jatuh!"
Shura mengerjapkan mata, sedikit kecewa namun lebih banyak bingung. "Subjek penelitian? Aset kerja? Bahasa apa lagi itu?"
"Sudah! Jangan banyak tanya! Sekarang ambil cangkulmu! Karena kau sudah wangi dan tampan, kau punya tugas baru: buatkan aku pagar pelindung di sekeliling ladang ini sebelum matahari terbenam!"
Shura hanya bisa menghela napas panjang sambil memegang botol minyak rambutnya. "Baik, Nona Han yang gila. Tapi ingat, jika aku mati karena kelelahan, aku akan menghantuimu sebagai jin yang lebih cerewet daripada Hera!"
Han Jia hanya membalas dengan lemparan kulit jeruk ke arah Shura, sementara di dalam hatinya ia menggerutu, 'Othor benar, orang-orang di sini memang butuh urut lidah, tapi sepertinya Shura juga butuh urut otak!'