NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati lega setelah keputusan

Pagi itu tidak datang dengan keajaiban.

Tidak ada langit yang tiba-tiba biru sempurna, tidak ada burung yang bernyanyi lebih merdu dari biasanya. Jalanan tetap ramai, suara motor tetap bising, dan bau gorengan dari warung depan ruko masih sama seperti kemarin.

Tapi bagi Kirana, pagi itu berbeda.

Ia bangun dengan rasa lelah yang jujur—bukan lelah karena ketakutan, melainkan lelah setelah bertahan. Tubuhnya pegal, kepalanya sedikit berat, namun hatinya… lebih tenang.

Gio sudah bangun lebih dulu. Anak itu duduk di lantai ruang tengah, sibuk menyusun balok warna-warni.

"sayang ,kamu lagi bikin apa ?" tanya Kirana lembut ,dan mencium pipi gio .

"Mau bikin rumah ma,nanti kalau gio sudah besar ,mama akan aku buatkan rumah besar ,kayak kerajaan ." celoteh gio dengan nada khas anak kecil .mendengar ucapan putranya ,Kirana merasa terharu .

"Terimakasih sayang ,mama yakin kalau Gio sudah besar ,Gio pasti jadi orang sukses ." kembali Kirana mengelus rambut gio yang hitam ,Gio hanya nyengir memperlihatkan giginya yang rapi

"Ma ,om Arka kok belum kesini ?"

"Mungkin om Arka lagi sibuk ,sayang ,jadi belum ke sini ."

"Padahal Gio ingin main sama om Arka ma ,Gio bosen main sendiri ."

"Gio ,jangan terlalu merepotkan om Arka ,sayang ,om Arka kan kerja,kasihan kalau dia sering kesini ." Kirana mencoba memberi pengertian pada Gio dengan suara lembut ,dan tanggannya mengelus rambut Gio.

"Tapi ,Gio bosen ma kalau nggak ada om Arka,Gio nggak ada teman main ."

"kan Ada mama ,nanti mama yang akan menemani Gio main ."

“Beneran ma ,mama mau menemani Gio main .' ucap Gio antusias , “memang hari ini Mama Nggak kerja?”

Kirana tersenyum. “Beneran sayang ,Mama Kerja dari rumah. Jadi bisa Temani Gio juga.”

“Yeay,” Gio bersorak kecil. “Berarti Mama nggak Pergi antar pesanan .”

Kalimat sederhana itu membuat dada Kirana menghangat.

Ia ke dapur, menyiapkan sarapan sambil memutar radio kecil. Lagu lama mengalun pelan—lagu yang dulu sering ia dengar saat masih tinggal bersama Aris. Dulu lagu itu terasa berat. Hari ini… netral. Tidak menyenangkan, tapi tidak lagi menyakitkan.

Itu kemajuan.

Menjelang siang, ruko kembali hidup. Kirana membuka pintu depan, membiarkan cahaya masuk. Ia menata etalase kecil, menyapu lantai, melakukan rutinitas yang selama ini terasa otomatis.

Tapi kali ini, ia sadar penuh saat melakukannya.

Setiap gerakan seperti pernyataan kecil: aku ada. aku di sini. aku berjalan.

Bu Rini mampir lagi, membawa kabar.

“RT kita sudah pasang nomor darurat di grup,” katanya. “Kalau mantan suamimu muncul, tinggal lapor.”

Kirana mengangguk. “Terima kasih, Bu.”

“Dan satu lagi,” lanjut Bu Rini, agak ragu. “Ada ibu-ibu di belakang yang nanya… kamu masih terima jahitan kecil-kecilan nggak?”

Kirana terkejut. “Jahitan?”

“Iya. Katanya dulu disamping jago masak kamu juga jago jahit.”

Kirana tertawa kecil. “Masih, Bu. Mesin jahitnya ada.”

Bu Rini tersenyum lebar. “Bagus. Lumayan buat nambah pemasukan.”

Setelah Bu Rini pergi, Kirana duduk sejenak, merenung.

Ia lupa… bahwa ia punya keterampilan.

Bahwa sebelum hidupnya mengecil karena takut, ia pernah merasa mampu.

Ia bangkit, membuka gudang kecil di belakang, menarik keluar mesin jahit lama,mesin jahit itu punya Bu Anita ,masih bagus tapi sudah lama tidak terpakai . Mesin jahit tersebut Sedikit berdebu, tapi masih kokoh.

Tangannya menyentuh permukaannya dengan hati-hati.

“Halo,” gumamnya. “kamu mau kerja bareng aku?”

Mesin itu diam, tentu saja. Tapi Kirana tersenyum.

Sore hari, Arka datang. Kali ini tidak membawa apa-apa—hanya dirinya.

“Kamu kelihatan capek,” katanya setelah duduk.

“Capek yang baik,” jawab Kirana.

Arka mengangguk. “Aku suka jenis capek itu.”

Mereka duduk berdampingan, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Gio bermain di dalam, terdengar sesekali tertawa.

“Aku kepikiran sesuatu,” kata Arka hati-hati. “Kalau kamu butuh bantu urus laporan ke polisi… atau nanti sidang lanjutan… aku tetap siap.”

Kirana menoleh. “Mas Arka, aku nggak tahu gimana balasnya.”

Arka tersenyum tipis. “Nggak usah dibalas. Cukup dijalanin.”

Kirana menatap ke depan. Jalan kecil di depan ruko terlihat biasa saja—retak di aspal, daun kering, motor lewat sesekali. Tapi jalan itu kini terasa seperti bagian dari hidupnya, bukan sekadar tempat lewat.

“Mas,” kata Kirana pelan, “kalau suatu hari aku goyah lagi…”

“Kamu akan,” potong Arka lembut. “Dan itu nggak apa-apa.”

Kirana tersenyum. “Kalau aku goyah, aku mau tetap berdiri. Walau gemetar.”

Arka menatapnya, lalu mengangguk mantap. “Itu sudah cukup.”

***

Malam datang tanpa drama.

Gio mengerjakan PR di meja kecil. Kirana duduk di sampingnya, sesekali membantu, sesekali hanya menemani.

“Ma,” kata Gio tiba-tiba, “kalau Ayah datang lagi, Mama takut nggak?”

Pertanyaan itu membuat Kirana berhenti menulis.

Ia menatap anaknya. Tidak berbohong. Tidak berlebihan.

“Mama takut,” katanya jujur. “Tapi Mama tahu harus ngapain,jadi Gio nggak usah khawatir.”

Gio mengangguk, wajahnya serius. “Kalau Gio takut, Mama pegang tangan dan lindungi Gio, ya?”

Kirana tersenyum, matanya sedikit basah. “Selalu.”

***

Beberapa hari berikutnya berjalan pelan, tapi nyata.

Pesanan jahitan kecil mulai datang—permisi celana, tambal seragam sekolah, jahit gorden. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat Kirana merasa berguna lagi.

Ia mencatat penghasilan kecil itu di buku tulis. Setiap angka, sekecil apa pun, terasa seperti bukti bahwa hidupnya bergerak.

Bu Lusi mengirim pesan: proses lanjutan akan memakan waktu, tapi posisi Kirana aman.

Kirana membalas dengan ucapan terima kasih yang panjang—dan satu kalimat jujur: #"Saya sudah mulai merasa hidup lagi, Bu."

****

Suatu sore, saat matahari hampir tenggelam, Kirana berdiri di depan cermin.

Ia melihat wajahnya sendiri.

Masih ada lingkar gelap di bawah mata. Masih ada bekas lelah. Tapi ada juga sesuatu yang baru—tatapan yang tidak lagi terus-menerus meminta maaf.

Ia teringat dirinya setahun lalu. Perempuan yang mengecil, berjalan hati-hati, hidup dalam kewaspadaan,penuh hinaan ,dan direndahkan ,

Dan kini ia sadar: ia tidak kembali menjadi diri yang lama.

Ia sedang menjadi versi baru.

Bukan lebih keras.

Tapi lebih sadar.

***

Malam itu, hujan turun deras.

Kirana mematikan lampu depan ruko, memastikan pintu terkunci. Ia tidak lagi menutupnya dengan panik, hanya dengan teliti.

Gio tidur lebih cepat, kelelahan setelah bermain seharian.

Kirana duduk di tepi ranjang, memandang anaknya lama.

“Terima kasih,nak ,” bisiknya. “Karena bikin Mama kuat dan berani.”

Hujan di luar terdengar seperti irama yang menenangkan.

Untuk pertama kalinya, Kirana tidak menunggu hari esok dengan rasa was-was.

Ia menunggunya dengan kesiapan.

Bukan karena ia tahu semuanya akan baik-baik saja.

Tapi karena ia tahu—apa pun yang datang,

ia tidak akan lari.

Ia akan berdiri

Dan berjalan lagi.

Pelan.

Tapi miliknya.

1
N Wage
lah tadi di kantong punya uang 800.000rb hasil nguli di pasar.sebelumnya punya uang 3 JT hasil nabung dr uang ngasih les.
Luwi Utami
nha... gitu dong.. kluar dr rumah yg terasa kaya nerak itu
MayAyunda: iya kak ,terimkasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!