Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Malam itu, Rangga akhirnya sampai di depan teras rumahnya. Langkahnya gontai, wajahnya kusam, dan semangatnya seolah tertinggal di Jakarta. Namun, ia terkejut melihat Dimas sudah duduk santai di teras.
"Ngapain lo ke sini? Nggak dicariin bini lo jam segini belum pulang?" tanya Rangga ketus sambil membuka pagar.
Dimas menoleh dan nyengir. "Aman, Bos. Bini gue lagi di rumah mamanya di Jakarta, ada acara keluarga. Jadi gue lagi jadi bujangan sementara."
Dimas tidak ikut karena besok dia ada pertemuan penting dengan klien.
"Lo sendiri dari mana? Pergi nggak bilang-bilang"
Rangga tidak menjawab. Ia masuk ke dalam rumah, langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu tanpa melepas sepatu. Ia menutup matanya dengan lengan, tampak sangat layu.
"Kenapa lo? Kayak habis digulung ombak gitu mukanya," tanya Dimas yang ikut masuk dan duduk di kursi sebelah sofa.
Rangga menghela napas panjang, lalu mulai bercerita. Ia menceritakan semuanya, mulai dari nekat menyusul Ayu ke stasiun, menginap di hotel, hingga kejadian impulsifnya mencium dan memeluk Ayu yang berujung pada kemarahan besar wanita itu.
Bukannya prihatin, Dimas malah meledak tertawa. "Hahaha! Sumpah, Ngga? Jadi lo nekat nyosor gitu aja?"
"Diem lo, Dim. Gue lagi pusing!" umpat Rangga dari balik lengannya.
"Lagian lo itu kayak musang birahi tahu nggak! Main seruduk aja," ledek Dimas sambil terus tertawa.
"Ngga, dengerin gue. Gue sama bini gue dulu pacaran lama, bertahun-tahun, tapi gue nggak pernah gituan. Gue jaga dia bener-bener sampai sah."
Rangga terdiam, mendengarkan ucapan sahabatnya itu.
"Ayu itu pakai hijab, Ngga. Dia perempuan baik-baik, bukan cewek yang bisa lo perlakukan sembarangan cuma karena lo takut kehilangan dia," lanjut Dimas dengan nada yang mulai serius.
"Tindakan lo itu bukan nunjukin lo sayang, tapi nunjukin lo nggak hormat sama dia. Wajar kalau dia bilang dirinya murahan, itu cara dia nampar lo pakai kata-kata supaya lo sadar kalau lo sudah ngerusak harga dirinya."
Dimas menepuk bahu Rangga. "Saran gue, mending lo jaga jarak dulu beberapa hari ini. Kasih dia napas. Kalau lo deketin terus sekarang, yang ada dia makin muak. Lo harus buktiin kalau lo bisa jadi laki-laki yang punya adab, bukan cuma modal nekat."
Rangga hanya bisa terdiam lesu, menyadari bahwa nasehat Dimas ada benarnya.
"Gue tidur di sini malam ini ya, Ngga. Males gue balik ke rumah, sepi nggak ada bini," ujar Dimas sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
"Lagian muka lo tuh horor banget, takutnya lo malah ngelakuin yang aneh-aneh kalau sendirian."
Rangga hanya bergumam tidak jelas, masih membenamkan wajahnya di bantal sofa. Pikirannya benar-benar buntu.
Setelah mendengar pintu kamar tamu tertutup dan suasana rumah menjadi sunyi, Rangga perlahan merogoh saku celananya.
Ia mengeluarkan ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan wallpaper foto ayu saat mereka jalan-jalan ke gado waktu itu.
Ia membuka kolom percakapan dengan Ayu. Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. Rasa sesak di dadanya membuat setiap kata terasa tidak cukup untuk menebus kesalahannya.
"Yu, saya tahu maaf saja nggak akan cukup buat hapus luka dan rasa kecewa kamu. Saya benar-benar menyesal sudah jadi laki-laki yang nggak punya adab semalam. Tolong jangan hukum diri kamu dengan kata-kata kasar itu lagi. Kamu perempuan terhormat, dan saya yang bodoh karena nggak bisa jaga amanah itu. Tidur yang nyenyak, maafkan saya yang sudah merusak ketenanganmu."
"Gue emang musang birahi, Dim," gumamnya lirih pada kegelapan malam, mengulangi ejekan Dimas tadi.
"Gue malah bikin dia makin benci, padahal gue cuma mau dia balik lagi."
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Rangga memang sedang berada di bengkelnya, namun ia hanya duduk termenung menatap kunci pas di tangannya, sama sekali tidak ada gairah untuk bekerja.