Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Di Bawah Kaki yang Sama
Imperion Academy bukan tempat bagi mereka yang lemah.
Di sekolah ini, kekuasaan tidak diumumkan—ia dirasakan. Dalam cara orang menyingkir ketika seseorang lewat. Dalam bisik-bisik yang berhenti mendadak. Dan hari itu, kekuasaan berdiri dalam dua tubuh yang saling menolak untuk tunduk.
Aula utama penuh. Terlalu penuh untuk sekadar rapat siswa.
Di sisi kiri, fraksi wanita berdiri seperti barisan yang siap diserang. Mata mereka tajam, bahu mereka tegang, dan di depan mereka berdiri Selvina Kirana—tenang, dingin, dan terlalu sadar bahwa satu kesalahan kecil bisa menghancurkan segalanya.
Di sisi kanan, fraksi pria tampak santai, nyaris meremehkan. Mereka tahu posisi mereka aman. Mereka selalu aman. Dan di tengah mereka berdiri Varrendra Alvaro Dirgantara, simbol tak tertulis dari hierarki Imperion.
Ia tidak perlu menaikkan suara untuk menguasai ruangan.
“Rapat ini tidak perlu ada,” ucapnya akhirnya. “Perempuan seharusnya tahu tempatnya.”
Kata tempat jatuh seperti palu.
Selvina tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan bekerja—membiarkan kalimat itu mencerna dirinya sendiri, membusuk di telinga siapa pun yang mendengarnya.
“Menarik,” katanya pelan. “Kau bicara soal tempat, seolah dunia diciptakan untuk menampung egomu.”
Beberapa siswa laki-laki tertawa pendek. Yang lain memandang Selvina seolah ia baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri.
Varrendra menoleh perlahan. Tatapannya turun-naik menilai Selvina tanpa malu.
“Ego?” ulangnya. “Aku menyebutnya kenyataan.”
Ia melangkah maju satu langkah. Lantai aula bergema. Fraksi pria otomatis memberi ruang, seolah gerakan itu telah dilatih berkali-kali.
“Perempuan tidak dibentuk untuk memimpin,” lanjutnya dingin. “Kau bisa cerdas, kau bisa keras kepala, tapi pada akhirnya… kau tetap akan berada di bawah.”
Beberapa fraksi wanita menahan napas.
Selvina tersenyum.
Bukan karena lucu.
Tapi karena marahnya sudah melewati batas.
“Di bawah siapa?” tanyanya. “Kau?”
Varrendra berhenti tepat di hadapannya. Terlalu dekat. Aroma maskulin bercampur arogansi memenuhi jarak sempit di antara mereka.
“Di bawah laki-laki,” jawabnya. “Dan hari ini, itu aku.”
Selvina mendongak, menantang. Jantungnya berdegup keras, bukan karena takut—melainkan karena dorongan gelap yang menggelegak di dadanya.
“Kau suka mendengar suaramu sendiri, ya?” katanya. “Mungkin karena kau takut suatu hari nanti tak ada lagi yang mau menunduk.”
Sorot mata Varrendra berubah.
Bukan marah.
Tapi tertarik dengan cara yang salah.
“Kau terlalu berani untuk perempuan sepertimu,” gumamnya.
“Dan kau terlalu nyaman menindas untuk seseorang yang mengaku pemimpin,” balas Selvina tanpa ragu.
Satu detik.
Dua detik.
Mereka saling menatap seperti dua predator yang mengukur siapa lebih pantas mencabik lebih dulu.
“Jika kau terus melawan,” ucap Varrendra rendah, nyaris berbisik, “aku akan memastikan Imperion menjadi neraka untuk fraksimu.”
Selvina tidak mundur. Justru ia melangkah lebih dekat hingga bahunya hampir menyentuh dada Varrendra.
“Lakukan,” katanya. “Aku tumbuh dari neraka.”
Dan di saat itu—di balik ancaman, hinaan, dan kebencian yang telanjang—Varrendra menyadari sesuatu yang membuat rahangnya mengeras.
Ia ingin menjatuhkan Selvina.
Mematahkan prinsipnya.
Membuatnya menyerah.
Bukan demi Imperion.
Bukan demi tatanan.
Tapi karena gadis itu berani berdiri setara.
Dan Selvina, meski membencinya dengan seluruh akalnya, merasakan getaran yang sama berbahayanya.
Bukan cinta.
Belum.
Ini obsesi.
Ini perang.
Dan Imperion Academy baru saja menjadi medan tempur bagi dua jiwa yang sama-sama haus akan kendali—tanpa sadar bahwa kejatuhan mereka akan dimulai dari satu sama lain.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍