Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Kini, Radhi tengah duduk berdua dengan sang istri di balkon kamar mereka. Seusai makan malam, Azkara dan Aridha telah di ambil alih oleh Santika.
Menikmati secangkir teh jahe masing-masing, di sertai camilan kukis coklat dan kukis pandan buatan Santika, membuat suasana kembali syahdu.
"Sudah siap kembali ke ibukota?", Tanya Radhi malam itu.
"Aku siap, mas.". Jelita mengangguk penuh keyakinan.
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Mereka larut pada pikiran masing-masing.
Rindu......
Ibu dan ayah mana yang tak rindu bila setahun lamanya tak menjumpai sang putri?
Ada sudut hati mereka yang terasa hampa.
Kosong. Tak berpenghuni.
Selama setahun itu pula sang ibu memupuk dendam sebesar kerinduan yang juga ia pendam.
Usai.
Usai sudah kenangan indah dulu saat-saat Jelita jatuh cinta pertama, dan sayangnya itu pada Chandra,
Jelita yang malang. Jelita yang kehilangan dunia nya saat itu.
Jelita menatap Radhi lama.
Pria berparas tampan dengan gurat ketegasan serta kedewasaan melekat pada nya. Pria ini lah yang hadir bak malaikat.
Menerima dan bersedia membahagiakan Jelita dengan setulus hati.
Dimana lagi Lita harus mendapatkan sosok malaikat berwujud suami seperti Radhi?
Begitu pula dengan Radhi.
Jelita adalah cintanya....
Pusat hidupnya.....
Dunianya.....
Kiblatnya.....
Poros dunianya....
Takkan ia biarkan Lita tersakiti apalagi di tangan Chandra.
Cukup sudah.....
Cukup sudah Jelita mengorbankan banyak hal untuk keluarga dan menantu Nugraha itu.
Jelita harus kehilangan mama, dan kebahagiaan kala itu.
Namun, tuhan adil. Saat Jelita terpuruk dan kehilangan segalanya, tuhan mengirimkan malaikat sebagai sosok suami. Jelita bisa bangkit berkat suaminya.
"Mas...?", Jelita kembali bersuara.
"Ya".
"Bolehkah bila andai... Aku juga membalas sakit hatiku dan dua puluh tahun penderitaan mendiang mama pada Istri dan putri Nugraha?".
Radhi terdiam lama.
"Bukankah sepuluh tahun waktu yang cukup lama mereka menerima ganjarannya?
Lihat lah sayang.......
Lihat lah penderitaan mereka.
Ku dengar, istri Chandra saat ini terbaring lemah di rumah sakit karna baru mengalami keguguran. Bukankah itu jua masuk sebagai hukuman?
Bayangkan.... dalam tempo sepuluh tahun, Dewi mengalami keguguran tiga belas kali".
"Lalu".
"Biarkan tangan Tuhan yang membalas.
Dengar.... dengarkan aku.
Setiap orang yang jahat di mata kita, selalu memiliki sisi baik terpendam yang kita tak dapat melihatnya karna semua sisi baik itu telah tertutup oleh kabut kebencian kita, seperti Dewi dan nyonya sukma.
Bahkan, Setiap orang baik yang selalu nampak di mata kita, terkadang sering kali menyembunyikan ribuan kebusukannya dengan menampakkan kebaikan yang bahkan kebaikan itu tak nampak nyata. Seperti tuan Nugraha mungkin.....!"
"Intinya?".
"Mereka sudah mendapat ganjarannya. Waktu sepuluh tahun ini, adalah masa-masa sulit yang mereka lalui. Sebenarnya, nyonya Sukma orang baik.... Hanya saja cinta telah membutakan mata hatinya hingga mau di persunting tuan Nugroho kala itu..
Nyonya Sukma memiliki alasan cinta."
Sambung Radhi lagi.
"Mari kita lihat, mari kita lihat balasan apa lagi yang akan tuhan berikan pada mereka.
Hanya saja.... Aku berharap, jangan gegabah mengambil tindakan sekuat apapun dirimu.
Mereka keluargamu, meski kau membenci mereka dengan ribuan tetes air matamu.
Bukankah nyonya Sukma dan putrinya bahkan pernah bersujud memohon maaf padamu?".
"Kita lihat saja, nanti".
Pendar mata Jelita di penuhi keraguan. Kilatan dendam yang tadinya menyala di netra coklat matanya,, kini berubah menjadi keraguan.
Radhi ternyata mampu membuka pola pikir istrinya secara perlahan.
Bukannya Nugroho sekeluarga tidak boleh di sakiti oleh Jelita, namun tangan tuhan sudah mulai bekerja. Bila kita masih berniat akan membalas mereka yang ada, Jelita pasti akan terperosok dalam pada lubang sesal.
Radhi tak mau Jelita menderita lagi.
*****
Sukma dan putrinya tengah duduk berdua di teras belakang. Dengan menghadap sebuah kolam ikan yang nampak tenang, mereka tengah menikmati cemilan.
Mereka tengah berbincang lama di sana. Satu jam lalu, Chandra dan yusman telah berangkat bekerja.
"Mama .......
Bagaimana dengan nasib kita ke depan?",
Tanya Dewi lirih dengan pandangan mata fokus ke depan. Tatapannya kosong, namun sarat akan kesedihan itu nampak jelas di mat indahnya .
"Entahlah, nak. Mama begitu sangat bingung saat ini. Bagaimana mungkin kita bisa menemukan jelita sedangkan suamimu dan tuan Reksa yang begitu hebat tak mampu menembus keberadaan Jelita". Sukma melempar pandangannya ke atas.
Pikirannya tengah mengelana jauh pada sosok Jelita dan Ambar, dua wanita yang tersakiti akibat keputusan bodohnya mau di peristri yusman.
"Bila nanti kita bertemu, mungkinkah Lita menolak lagi permintaan maaf kita?
Aku lelah, ma. Aku lelah bila terus terjebak dengan penderitaan tanpa ujung. Mas Chandra..... Aku telah banyak mengecewakannya. Tak satu pun keturunan mas Chandra terlahir selamat dan sempurna dari rahimku. Aku juga..... ingin menjadi seorang ibu".
Perlahan namun pasti, air mata Dewi kembali meluruh juga. Jejak kesedihan karna telah kehilangan janin sebanyak tiga belas kali dalam jangka waktu sepuluh tahun, tidak lah mudah menjalaninya.
Dewi sadar.
Saat kita mendzolimi dan menyakiti seseorang, maka ter-kutuklah kita. Sesungguhnya, doa orang yang tersakiti sangatlah mudah di kabulkan yang maha kuasa.
Yang ada hanyalah saat ini penyesalan Sukma dan Dewi.
Penyesalan tiada akhir.
Duka tak berkesudahan.
Lara tak terelakkan.
Nestapa tak terhindarkan.
Rasa sakit tak terbendung.
"Mama mengerti, nak. Mama paham apa yang putri mama rasakan. Bersabarlah, cepat atau lambat, keluarga kita pasti akan dengan mudah menemukan Lita.
Mari bersujud dan memohon akan maafnya. Sudah sekian lama, masihkan Jelita tak melihat penderitaan kita? Kita sudah cukup menderita".
Sukma benar.
Tidak lah mudah menjalani sebuah hukuman. Mereka semua nyatanya terpenjara dalam rasa bersalah dan menjalani hukuman selama sepuluh tahun.
Bahkan orang tua Chandra, Tuan Reksa dan nyonya Ratna sedikit berjarak dari Sukma dan Dewi.
Bukannya Sukma dan dewi tak menyadari, Mereka sadar itu. Namun, biar bagaimana pun, keturunan sangatlah penting, terlebih lagi,keluarga Adi Prama termasuk dalam jajaran keluarga terpandang.
Bila tidak ada keturunan Chandra, lantas siapa yang akan meneruskan bisnis warisan keluarga mereka.
Meski sudah ada Arlan dan Ariana, namun Chandra juga begitu sangat mendamba seorang keturunan yang terlahir dari rahim istrinya, Dewi.
"Ma, seminggu lagi mas Chandra mengajakku untuk menghadiri pesta peresmian usaha kawannya."
"Baiklah, mama akan membantumu mencari gaun untuk kau kenakan nanti.
Mulai sekarang rubah lah dan rawatlah dirimu untuk menyenangkan suamimu.
Nikmatilah hidupmu dengan kebahagiaan".
"Tentu, ma. Terima kasih atas segalanya".
🍁🌺🍁