NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Balik Transparansi

Malam ini untuk pertama kalinya Ria melakukan kerja lembur. Arya tidak bisa membiarkan istrinya pulang sendirian. Ia menjemput istrinya pada saat orang-orang telah pulang kantor. Kebahagiaan atas kemenangan di kantor mendadak menguap saat Ria duduk di kursi penumpang mobil Arya malam itu. Alih-alih merayakan promosi jabatannya, suasana di dalam mobil justru terasa mencekam. Kalimat dalam pesan Arya tadi siang—“Aku melihat semuanya lewat laporan IT”—terus berputar di kepala Ria seperti alarm yang memekakkan telinga.

​Ria menoleh ke arah Arya, matanya tajam dan menyelidik, menuntut kejujuran yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

​"Mas, aku ingin tanya satu hal," suara Ria datar, namun mengandung otoritas yang membuat Arya menelan ludah.

​"Ya, Sayang? Apa itu?" Arya berusaha tetap tenang, meski jemarinya mencengkeram kemudi lebih erat.

​"Dari mana kau bisa mendapatkan laporan IT kantor pusat tentang kejadian di divisi ku? Dan ada hubungan apa sebenarnya kau dengan Neo-Modelling & Marketing?"

​Arya terdiam. Jantungnya berpacu. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan datang, namun ia tidak menyangka Ria akan menanyakannya secepat ini dan dengan tatapan seberani itu. Ia merasa seperti terdakwa di depan hakim yang paling jujur.

​"Itu... perusahaan itu adalah mitra strategis dari kantorku, Ria," Arya mencoba mencari alasan logis. "Wajar jika ada integrasi sistem keamanan data antara perusahaan induk dan cabang."

​"Mitra?" Ria tertawa sinis, sebuah tawa yang menyakitkan bagi Arya. "Tadi aku melihat bagan organisasi perusahaan di ruang Pak Hendra. Neo-Modelling adalah anak perusahaan sepenuhnya dari Arya Group. Kau pemiliknya, Mas. Kenapa kau tidak bilang?"

​Arya terpojok. Ia melihat kekecewaan yang mulai menggenang di mata Ria, dan itu lebih menakutkan baginya daripada kehilangan kontrak miliaran rupiah.

​"Ria, dengarkan aku—"

​"Jadi, semua ini hanya sandiwara?" potong Ria, suaranya mulai bergetar. "Penerimaan ku yang lancar, pertanyaan wawancara yang seolah 'adil', hingga posisi Kepala Tim yang diberikan begitu cepat... apakah itu semua karena kemampuanku, atau karena instruksi dari teleponmu itu?"

​Arya menepikan mobilnya secara mendadak di bahu jalan yang sepi. Ia memutar tubuhnya menghadap Ria, raut wajahnya penuh keputusasaan.

​"Aku memang pemiliknya, dan aku memang menelepon Hendra," aku Arya akhirnya. "Tapi demi Tuhan, Ria, aku meminta mereka untuk tidak memberimu karpet merah! Aku menyuruh mereka mengetes mu secara normal. Aku hanya ingin kau berada di tempat yang bisa ku pantau keamanannya dari jauh, terutama setelah ancaman Ibu tiriku."

​"Tapi kau berbohong padaku, Mas!" seru Ria, air mata mulai jatuh. "Kau membiarkan aku merasa bangga atas kakiku sendiri, padahal kau masih memegang tali kekang di belakangku. Kau membuat kemenanganku hari ini terasa seperti palsu!"

​"Tidak ada yang palsu dari kemampuanmu, Ria!" Arya meraih tangan Ria, namun Ria menariknya kembali. "Hendra memberikan posisi itu karena kau memang menyelamatkan mereka. Jika kau bukan istriku pun, dia akan melakukan hal yang sama. Aku hanya... aku hanya terlalu takut kehilanganmu lagi. Aku ingin menjagamu tanpa kau merasa terkekang."

​Ria menatap keluar jendela, merasa dunianya yang baru saja ia bangun kembali runtuh sebagian. Rasa mandiri yang ia banggakan sejak pagi tadi kini terasa pahit. Ia merasa seperti anak kecil yang dibiarkan bermain di taman, namun ternyata taman itu dipagari oleh tembok tinggi milik suaminya.

​"Aku ingin dipercaya sebagai manusia, Mas, bukan sebagai aset yang harus kau awasi lewat CCTV," bisik Ria parau. "Jika setiap langkahku masih di bawah bayang-bayangmu, maka aku tidak akan pernah benar-benar bangkit."

​Arya tertunduk lesu. Niatnya untuk melindungi justru menjadi bumerang yang melukai harga diri wanita yang paling ia cintai. Malam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan, kini berubah menjadi malam penuh perenungan tentang arti sebuah kebebasan yang sesungguhnya.

Keheningan di dalam mobil itu terasa mencekik. Hanya suara deru mesin dan detak jarum jam di dasbor yang mengisi ruang di antara mereka. Arya menatap kemudi dengan perasaan hancur, sementara Ria menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, mencoba meredam gemuruh kekecewaan di dadanya.

"Aku melakukan ini karena aku mencintaimu, Ria," bisik Arya parau, memecah kesunyian.

Ria menoleh perlahan. Matanya tidak lagi basah, melainkan dingin dan tajam. "Cinta tidak seharusnya mematikan sayap orang lain, Mas. Kau bilang kau ingin membangun di atas reruntuhan, tapi kau justru membangun penjara baru dengan dinding yang lebih transparan."

Ria menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk memberikan pernyataan yang akan menentukan arah hubungan mereka ke depan.

"Aku punya dua syarat jika kau ingin aku tetap tinggal di rumah bersamamu dan tetap bekerja di perusahaan itu," ucap Ria tegas.

Arya menegang. Ia tahu Ria tidak sedang bercanda. "Sebutkan, Ria. Apa pun."

"Pertama, putuskan semua akses pantauan rahasiamu. Aku ingin kau memerintahkan IT pusat untuk menghapus akses akunmu ke server Neo-Modelling. Jangan pernah lagi melihatku lewat CCTV, jangan pernah lagi meminta laporan harian dari Pak Hendra tentang kinerjaku. Biarkan aku benar-benar menjadi orang asing di matamu saat aku berada di kantor."

Arya hendak memprotes, namun Ria mengangkat tangannya.

"Kedua," lanjut Ria, "Biarkan aku menghadapi Tante Soraya dengan caraku. Jika dia menyerang ku di kantor atau lewat media, jangan gunakan kekuasaanmu untuk membungkamnya secara instan. Aku ingin mengalahkannya dengan prestasiku, bukan dengan uangmu. Jika kau melanggar salah satu dari ini, aku akan mengundurkan diri, mengganti identitasku, dan kau tidak akan pernah menemukanku lagi."

Arya merasa dunianya seolah runtuh. Melepas kendali adalah hal tersulit bagi pria seperti Arya yang terbiasa mengatur segalanya. Baginya, mengawasi Ria adalah satu-satunya cara untuk meredam trauma ketakutannya akan kehilangan wanita itu lagi.

"Ria... bagaimana jika dia menyakitimu? Bagaimana jika ada 'Siska' lain yang lebih licik?" tanya Arya dengan suara bergetar.

"Maka biarkan aku belajar untuk terluka dan bangkit sendiri, Mas," jawab Ria lembut namun tak tergoyahkan. "Aku lebih baik jatuh karena kakiku sendiri daripada berdiri tegak karena disangga olehmu. Aku butuh harga diriku kembali, Arya. Kumohon, hargailah itu."

Arya menatap mata Ria lama sekali. Ia melihat tekad yang begitu besar di sana. Ia menyadari bahwa jika ia tetap memegang tali kekang itu, ia mungkin akan memiliki fisik Ria, tapi ia akan kehilangan jiwa istrinya untuk selamanya.

Dengan tangan gemetar, Arya mengambil ponselnya. Di depan mata Ria, ia melakukan panggilan video ke Hendra dan Kepala IT Pusat.

"Hendra, mulai detik ini, hapus semua protokol laporan khusus mengenai Ria ke meja saya," perintah Arya dengan nada otoritas yang dipaksakan. "Dan untuk IT, cabut akses bypass saya ke server divisi kreatif Neo-Modelling. Sekarang juga. Pastikan tidak ada satu pun celah bagi saya untuk memantau aktivitas di sana tanpa izin resmi dari manajer divisi."

"Kenapa Pak? Apakah ada masalah?" Tanya Hendra.

"Lakukan saja sesuai perintah!"

Setelah menutup telepon, Arya menatap Ria. "Sudah dilakukan. Kau... kau bebas sekarang, Ria."

Ria merasa sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. Ia mendekat dan memberikan kecupan singkat di pipi Arya—bukan sebagai godaan, tapi sebagai tanda terima kasih atas penghormatan pria itu.

"Terima kasih, Mas. Sekarang, mari kita pulang. Aku harus menyiapkan materi presentasi untuk klien besok, dan aku ingin melakukannya tanpa rasa takut bahwa kau sedang mengintip dari balik layar."

Malam itu, Arya belajar sebuah pelajaran penting: bahwa untuk benar-benar memiliki seseorang, terkadang kita harus memiliki keberanian untuk melepaskannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!