Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.
Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.
Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.
Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Pinus
"Jadi benar kalau Canna memang sedang hamil?" Pinus menatap lembaran kertas hasil kerja asistennya. Sekarang ia sedang berada di kantornya.
"Benar. Dan satu hal yang perlu kamu tahu. Delano sudah menikahi Canna diam-diam, bahkan tanpa sepengetahuan wanita itu," sahut Lotus.
Pinus mengangguk samar. Walaupun sedikit terkejut, tetapi ia bisa memahaminya karena paras Canna yang terbilang sangat cantik di mata setiap orang. Jadi, siapa yang menolak untuk menyukainya saat pertama kali melihatnya.
"Apa alasannya menikahi Canna? Padahal mereka baru saja bertemu. Apakah ia sedang memanfaatkannya?"
"Entahlah. Mengenai itu, aku tidak tahu alasannya. Mungkin saja ada hal yang lain, misalnya jatuh cinta pada pandangan pertama."
Pinus tampak berpikir, bagaimanapun dilihat dari tingkah Delano pada Canna, jelas-jelas lelaki itu sedang terlihat sangat cemburu. Mungkinkah benar yang dikatakan oleh Lotus.
"Tapi, perlakuan Delano padanya tidak mengacu pada hal itu. Aku harus mengetahuinya lebih detail," pinta Pinus menatap Lotus dalam.
"Baiklah. Aku akan menyelidikinya lagi untukmu dan menggali informasi lebih dalam lagi. Tapi, bagaimana dengan usahamu untuk mendekati wanita itu?"
Pinus menarik napas dalam dan membuangnya dengan perlahan.
"Aku harus melihat situasinya dulu. Kalau Canna memang bahagia bersamanya, kenapa aku tidak melepasnya saja. Tapi kalau Canna ingin pergi darinya, maka aku pasti akan membantunya."
"Kenapa kamu berkesimpulan seperti itu? Bukankah kamu sangat mencintai dirinya, bahkan dia adalah cinta pertamamu."
"Canna sepertinya begitu tertekan akhir-akhir ini. Aku yakin kalau dirinya masih menyukai diriku seperti dulu." Pinus berdiri dan berjalan kearah jendela kantornya, diikuti oleh pergerakan mata Lotus.
"Aku akan melindungi Canna bagaimanapun keadaannya. Aku yakin, sesuatu yang menyakitkan telah terjadi padanya. Dan Delano sudah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Tapi, pernikahan yang tidak terekspos ke media bisa jadi adalah keuntungan bagiku, Delano akan mengalami kekalahan setelah ini!" ungkapnya sedikit dengan kemarahan.
"Bagaimana jadwalku hari ini?" Delano berbalik dan menatap Lotus sesaat.
"Jam 4 sore nanti ada pertemuan dengan pihak KT Group untuk membahas proposal kerjasama yang belum ditandatangani."
"Jam 5 sore ada pertemuan dengan klien dari luar daerah. Serta makan malam bersama bapak Walikota di restoran Kambang Goyang."
"Baiklah. Aku akan keluar sebentar. Kamu gantikan aku beberapa saat dari sekarang!"
"Kamu mau kemana?"
Langkah Pinus terhenti, tanpa berbalik ia menyahut.
"Aku akan menemui Canna dan berbicara baik-baik dengan dirinya."
***
Pinus sudah berada di kampus tempat Canna kuliah. Menatap kesekeliling kampus untuk mencari keberadaan wanita itu.
"Daisy!" Teriak Pinus saat melihat wanita yang baru saja melewatinya. Ia berjalan menghampiri wanita yang sedang berpaling menatapnya dengan beberapa buah buku ditangannya.
"Ka Pinus? Ada apa?" Daisy menghentikan langkahnya.
"Apakah kamu melihat keberadaan Canna hari ini?" tanya Pinus setelah berhadapan dengan Daisy.
"Tidak. Sejak tadi aku menghubungi dirinya tetapi tidak diangkat olehnya. Mungkinkah dia masih sakit?" Daisy terlihat khawatir.
"Bagaimana kalau kita bersama-sama mengunjungi Canna kekediamannya?" ajak Pinus. Daisy terdiam mendengarnya, melirik kekanan dan kekiri. Beberapa mahasiswi lainnya tampak mencari perhatian terhadap Pinus.
"Tapi kediaman Canna yang dulu sudah lama kosong dan Canna belum memberitahuku alamatnya yang baru."
Pinus tersenyum manis mendengarnya, membuat Daisy sedikit terperangah melihatnya. Lelaki ini benar-benar mempesona. "Tenang saja. Aku tahu dimana Canna tinggal sekarang."
"Bagus kalau begitu. Aku setuju kita pergi ke tempatnya hari ini. Aku sangat khawatir padanya akhir-akhir ini. Sepertinya ada hal yang tidak beres yang terjadi padanya."
"Kamu jangan berpikiran seperti itu. Canna baik-baik saja!" sahut Pinus menenangkan. "Aku yakin keadaan Canna tidak seburuk dugaanmu. Hanya saja, dia bekerja sebagai pelayan di rumah orang kaya tersebut!"
"Apa!? Pelayan!? Bukannya Canna tidak pernah berkeinginan untuk menjadi pelayan dalam seumur hidupnya?" Daisy terbelalak mendengarnya, menggosok telinganya berulang kali. Mungkinkah ia sedang berhalusinasi.
Pinus mengangguk samar. Tidak mungkin ia memberitahukan kebenarannya, itu pasti akan membuat Daisy lebih terkejut lagi.
"Baiklah. Tapi aku ada satu mata kuliah, selama 2 jam kedepan!" sahut Daisy tidak nyaman.
"Tidak apa-apa. Aku akan menghubungimu setelah kamu selesai pelajaran!"
Pinus berjalan meninggalkan Daisy yang menatapnya dalam.
"Canna! Lihatlah! Betapa Pinus sangat mencintaimu!" ucap Daisy sendirian.
***
Seperti yang dijanjikan. Daisy dan Pinus benar-benar menyambangi kediaman Delano. Lebih tepatnya tempat Canna bekerja.
"Wow...besar sekali rumahnya! Pasti ada banyak pelayan disini!" Daisy berdecak kagum tidak berhenti bahkan matanya menatap mansion yang megah milik Delano tanpa berkedip.
"Iya. Pemiliknya seorang pengusaha terkenal se Asia. Bagaimana kediamannya bisa kecil!" sahut Pinus mengejek tingkah Daisy.
"Benar! Tapi kediaman kak Pinus juga tidak kalah dengan milik orang ini!" tunjuk Daisy dengan dagunya.
"Yaudah. Ayo kita turun!" ajak Pinus menghiraukan ucapan Daisy. Ia dan Delano memang berbanding dalam hal kekayaan bahkan mereka juga sempat menduduki bangku sekolah yang sama sewaktu mereka masih tingkat pertama.
Daisy dan Pinus sudah berdiri didepan pintu mansion Delano. Menekan bel berulang kali. Hingga pintu besar dan megah tersebut terbuka, seorang kepala pelayan muncul dengan sikap dipannya.
"Ma'af, apa ada yang bisa saya bantu!" Oryza berdiri didepan mereka berdua, menatap satu-persatu Daisy dan Pinus.
"Kami berdua ingin bertemu Canna. Perkenalkan aku adalah sahabat Canna!" Daisy mengulurkan tangan kanannya berharap Oryza menerimanya, tetapi selama beberapa menit lamanya, tangannya tetap menggantung seperti semula.
"Ma'af Tuan dan Nona. Nona Canna tidak bisa diganggu. Dia sedang sakit dan sedang beristirahat dikamarnya!" sahut Oryza tegas.
"Nona!!" teriak Daisy terkejut, menatap Pinus yang tampak dingin sejak tadi. Kembali menarik tangannya yang sedikit kelelahan. "Bukankah Canna disini bekerja sebagai pelayan. Kenapa kalian memanggilnya Nona? Apakah itu adalah panggilan biasa untuk kalian?" Daisy masih menatap Oryza dengan penuh tanya, walaupun dia sebenarnya sangat kesal dengan tingkah Oryza padanya.
"Baiklah. Kalau Anda ingin bertemu No_ Canna," sahut Oryza terbata. "Silahkan kalian tunggu di ruang tamu! Aku akan menghubungi tuan Delano terlebih dahulu." Oryza membawa Daisy dan Pinus kearah ruang tamu dan memanggil pelayan untuk menemani mereka sebentar.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia sangat mencurigakan?" Daisy masih mengamati Oryza yang berjalan cepat ke lantai atas.
"Kenapa dia terlihat salah ucap bahkan dia tidak menghiraukan diriku sama sekali!" gumam Daisy kesal setengah mati dibuatnya. Lelaki itu benar-benar terkesan buruk dimatanya.
Langkah Oryza begitu tergesa, menghampiri ruang kerja milik Delano. Mengetoknya dengan perlahan hingga Derris muncul dihadapannya.
"Ada apa?" tanya Derris langsung.
"Dibawah ada tamu yang mencari Nona Canna. Seorang laki-laki dan juga seorang wanita!"
Delano menghentikan pekerjaannya, melirik kearah Oryza yang berada diambang pintu. Ia berdiri dan berjalan melewati Oryza dan Derris.
Ia sengaja pulang cepat dari kantor karena sangat khawatir dengan keadaan Canna. Padahal dirinya baru saja sampai di ruangan miliknya. Tadinya Canna memang sudah di periksa oleh dokter Ana dan dia juga sudah berangkat ke kantor. Tetapi, setibanya di kantor, Delano mendapat telpon dari Oryza yang mengatakan kalau Canna mengalami muntah hebat. Tanpa pikir panjang, Delano langsung mendatangkan para dokter ternama dan memberikan perintah untuk menginfus Canna sekarang, sesuai dengan keinginannya. Juga, membawa seluruh pekerjaannya kerumah.
"Siapa laki-laki itu? Apakah kamu mengenalnya?" tanya Delano.
"Tidak. Saya tidak mengenalnya. Ini baru pertama kalinya ia bertamu kesini!" sahut Oryza mengikuti langkah Delano.
Tapakan kaki Delano dianak tangga terhenti saat melihat keberadaan Pinus bersama seorang wanita yang tidak dikenalnya, sedang duduk di ruang tamu miliknya. Mungkinkah Pinus yang sedang mencari Canna. Lalu siapa wanita yang duduk bersamanya sekarang.
"Ada apa kamu datang kekediamanku!?" tanya Delano dingin begitu ia duduk dihadapan Pinus. Membuat lelaki itu juga menatapnya dingin, seperti ada perang didalam sana.
"Tuan! Saya adalah sahabat Canna dan ingin bertemu dengannya. Katanya Canna masih sakit, jadi saya sangat khawatir."
Suara Daisy mengalihkan tatapan Delano, ia memperhatikan Daisy dengan seksama. Benar saja, wanita ini adalah wanita yang selalu bersama Canna sewaktu di kampus ataupun di sekolah menengah atas dulu.
Delano tampak berpikir sambil sesekali melirik Pinus yang masih seperti posisi semula.
"Baiklah. Aku akan mengajakmu untuk menemui Canna. Tapi, kamu hanya punya waktu 5 menit untuk melihatnya!"
Daisy menganga mendengarnya, menatap kearah Pinus yang mengkodenya untuk setuju saja. Padahal Daisy ingin menolaknya karena waktu yang diberikan terlalu sedikit. Mana cukup waktu 5 menit untuk dirinya dan Canna melepas rindu dan sedikit bergosip. Akh...laki-laki ini terlalu arogant dalam memerintah.
"Baiklah. Saya setuju dengan syarat yang Tuan ajukan!" sahut Daisy dengan terpaksa.
"Oryza! Bawa dia menemui Canna!" perintah Delano. Membuat Oryza yang berdiri dibelakangnya bergegas membawa Daisy kearah kamar yang di tempati oleh Canna.
Sedangkan Delano masih duduk santai berhadapan dengan Pinus.
"Apa yang kamu harapkan dari Canna? Apakah kamu berharap Canna menjadi milikmu!?" Delano menatap Pinus dengan santai, terkekeh dengan pertanyaannya sendiri.
"Aku pasti akan merebut Canna darimu. Aku yakin kalau Canna masih mencintai diriku!" sahut Pinus yakin.
Delano menggenggam erat tangannya, menatap Pinus dengan tajam. Lelaki itu masih bersikap tenang dihadapannya, walaupun kata-katanya terdengar sangat menusuk.
"Dia sudah menjadi milikku sekarang! Dan semua milikku tidak akan ada yang bisa merebut dan mengambilnya, walaupun kamu sekalipun Tuan Pinus!" sahut Delano dingin.
"Bagaimana mungkin kamu sangat percaya diri seperti itu. Bukankah kamu sudah sangat tahu seperti apa perasaan Canna yang sebenarnya padaku," sahut Pinus enteng, menghiraukan aura gelap Delano.
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" tanya Delano langsung.
Pinus terkekeh mendengarnya, Delano terlihat sangat serius dimatanya. "Aku ingin kita bersaing secara sehat untuk mendapatkan Canna. Siapa yang dipilihnya, dialah pemenangnya."
Delano terdiam mendengarnya, berpikir selama beberapa detik lamanya.
"Bagaimana? Apakah kamu takut dengan tantanganku?"
"Baiklah. Aku setuju dengan tantanganmu!"
Pinus tersenyum puas mendengarnya. Kali ini, ia yakin kalau Delano pasti kalah darinya.
"Oryza. Katakan pada wanita itu kalau waktunya sudah habis!" ucap Delano dingin seraya berdiri meninggalkan Pinus yang tersenyum remeh kearahnya.
"Brengsek!!" Delano memukul meja. Ia masuk keruang kerjanya dengan perasaan marah tak terbendung. Terlebih lagi setelah mengingat ucapan terakhir Pinus. Lelaki itu ternyata benar-benar sudah berani mengajaknya untuk bersaing secara terang-terangan.
"Apa-apaan dia! Ingin merebut istriku! Huh jangan mimpi!"
"Tuan. Sebaiknya kamu jujur saja pada Nona Canna agar kehidupan pernikahanmu dapat di ekspos ke depan umum."
Derris menunduk saat Delano mendelik padanya. Dia pikir Delano bakalan menolak idenya tersebut karena mengajukan disaat yang kurang tepat.
"Baiklah. Siapkan acara besar untukku menyatakan cinta sekaligus lamaran untuk Canna. Aku ingin tempatnya berada di kapal pesiar!"
"Baiklah. Akan segera aku siapkan. Kamu tenang saja, semuanya akan diatur berdasarkan keinginanmu!" sahut Derris dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya kemarahan Delano sedikit dapat di redakan.
***
kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?