NovelToon NovelToon
Perfect Partner

Perfect Partner

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Karir / Duniahiburan / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Romansa
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.

Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.

Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drunken Antics

Sena bertahan di meja pertama selama satu jam penuh. Kepala sudah mulai pusing, badan sempoyongan, mata sedikit kabur, namun ia menolak pulang. Tidak ada tanggung jawab apa pun yang harus dia emban malam ini, jadi Sena akan bersenang-senang sampai akhir.

Dibantu Andy, dia meninggalkan Logan dan Junmin, pindah ke meja lain yang letaknya di ujung berbeda. Di meja itu, Yushi duduk menyendiri. Bir di tangan, setengah penuh. Kepalanya terangkat, dan senyumnya terkembang saat menemukan eksistensi Sena.

"Oh, hai," Ia menyapa, mengangkat gelasnya ke udara.

Sena dengan kesadarannya yang kurang dari setengah, melebarkan senyum sampai nyaris menyentuh telinga. Dia menepuk lengan Andy, meminta dibantu duduk di sebelah Yushi.

"Hai, Yushi. Kenapa sendirian di sini?" tanyanya, tubuh terhuyung tidak keruan.

Yushi terkekeh. "Tidak apa-apa, hanya ingin menepi sebentar." Ia mendongak, memandang Andy yang tetap berdiri siaga di depan Sena. "Tapi sekarang ada kau. Terima kasih sudah ke sini, ya."

"Oh, tapi kau bilang sedang ingin sendiri." Sena menarik diri, bersikeras hendak menjauhkan punggungnya dari dinding tempatnya bersandar. "Haruskah aku pergi—"

"Tidak, tidak." Yushi meletakkan gelasnya di meja. "Tidak perlu. Aku senang kau masih ingat untuk menyapaku."

Senyum Sena kembali terkembang. "Kalau begitu, aku akan di sini," katanya, dan Yushi menyambutnya dengan anggukan.

Sementara itu, Andy yang sejak tadi sudah ingin pergi ke kamar mandi, melihat momen ini sebagai kesempatannya untuk pergi. Seharusnya tidak masalah untuk menitipkan Sena kepada Yushi selama beberapa menit, kan?

"Hyung," katanya. Yushi mendongak padanya, cukup untuk membuat Andy tahu pria itu mendengarkan. "Boleh aku titip Lara sebentar? Aku harus ke toilet."

Yushi mengangguk tanpa ragu. "Pergilah. Aku akan menjaga Sena," ujarnya meyakinkan.

Andy menunduk sedikit, "Aku ke toilet dulu, jangan ke mana-mana," pesannya kepada Sena. Lalu setelah gadis itu mengangguk, Andy melenggang pergi menuju toilet di bagian belakang bar.

"Bagaimana konser hari ini? Kau menikmatinya?" Yushi memiringkan tubuhnya, menghadap Sena. "Aku harap tidak mengecewakan," tambahnya.

Sena mengangguk antusias. "Sangat menyenangkan! Konsernya seru, dan kalian semua tampak seksi!"

Sensasi menggelitik timbul meraba perut Yushi. Mengenal Sena sejauh ini, ia melihatnya sebagai seseorang yang spontan dan ekspresif. Tapi mendengar gadis itu bicara demikian dalam keadaan setengah mabuk seperti sekarang, rasanya jauh lebih menghibur daripada yang pernah ia pikirkan.

"Terima kasih atas feedback-nya," kata Yushi sambil tersenyum. Gelas bir disambar, isinya disesap sedikit lalu dikembalikan ke atas meja. Yushi kembali fokus pada Sena.

"Kau tahu," ucap Sena, seraya matanya menatap kejauhan dengan tatapan lelah. "Aku benar-benar menyukai penampilan solomu. Kau sangat berbakat, Yushi-san."

Mendengar Sena memanggilnya dengan sapaan sopan, Yushi tertawa pendek. Ia lalu hanya menurut saat Sena menepuk pundaknya, memintanya mendekat. Dengan sabar, Yushi menunggu apa yang hendak Sena lakukan selanjutnya dengan jarak mereka yang sedekat ini sekarang.

"Aku suka sekali dance solomu. Terutama ... saat tatomu terlihat," cerocos gadis itu, setengah berbisik. "Boleh aku melihatnya?"

Sebelah sudut bibir Yushi terangkat. "Kau mau melihat tatoku?" tanyanya memastikan. Senyumnya makin rekah saat melihat Sena mengangukkan kepala berulang-ulang kali. Pipi gadis itu memerah dan matanya terlihat berat, sementara tubuhnya perlahan terhuyung ke kanan dan ke kiri.

"Baiklah, baiklah." Yushi mendorong tubuhnya ke belakang hampir bersandar ke tembok, dan mengangkat ujung kausnya, menampakkan tato kupu-kupu berwarna hitam yang terletak di tulang pinggulnya. Sebelah sayapnya terbentuk dari susunan kelopak bunga, sementara yang sebelah lagi adalah bentuk sayap kupu-kupu pada umumnya.

Sena terpaku sesaat, kemudian mulai bersusah payah mencondongkan tubuhnya ke depan demi bisa melihat tato itu lebih dekat. Tanpa sadar, saking tersihirnya ia akan keindahan tato kupu-kupu di hadapannya, Sena mengulurkan tangan dan menyentuh goresan seni itu dengan gerakan lambat. Seakan-akan dia ingin meresapi setiap tetes tinta yang tertuang di sana. Seakan dia ingin membawa serta perasaan Yushi kala memutuskan untuk membuat tato itu, agar ia memahami betul apa maknanya.

Sementara Sena tenggelam dalam keterkagumannya, Yushi tersentak pelan dan terpaksa menahan napas kala tangan dingin Sena bergerilya di atas permukaan kulitnya. Namun, Yushi tidak berusaha menghentikan apa yang Sena lakukan. Dia tahu, gadis ini tidak akan melakukan hal serupa jika sedang dalam keadaan sadar total. Maka malam ini ia biarkan Sena melakukan apa pun terhadap tatonya.

Dengan jemari Sena masih bergerilya di pinggangnya, Yushi meraih kembali gelas bir yang lama ditinggalkan di atas meja. Kepalanya sedikit mendongak, tepat ketika matanya menemukan sosok Andy berdiri mematung beberapa langkah di belakangnya. Tatapan pria itu tertuju pada Sena yang tengah merunduk di hadapan pinggang Yushi, posisi yang ambigu untuk siapa pun jika melihatnya dari jarak jauh.

"Apa yang kalian lakukan?"

Suara itu menarik atensi Sena. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, sebelum akhirnya menemukan Andy berjalan ke arahnya dengan raut wajah tegang. Tanpa tahu apa yang ada di pikiran pria itu, Sena mengedipkan mata cepat dan tersenyum lebar menyambut kedatangan temannya kembali.

"Kau sudah kembali," katanya.

Andy duduk di sebelahnya, mengangguk singkat. Wajahnya perlahan mengendur, luluh akan sorot mata Sena yang terlampau polos. "Iya, aku sudah kembali," balasnya.

"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi." Sena mulai meracau, tersenyum malu-malu lalu melingkarkan lengannya di leher Andy. Membiarkan kepalanya bersandar di bahu Andy, memejamkan mata, dan mengembuskan napas lega.

Andy mengerjap kaget, tapi dengan cepat membiasakan diri. Tangannya dengan lembut mengusap lutut Sena. Mengizinkan gadis itu berlama-lama bersandar padanya.

"Have fun." Yushi menggoda, mengedip jahil pada Andy dan perlahan bangkit lalu melenggang pergi.

Andy menggeleng tak habis pikir. Yushi memang agak lain. Cara pria itu bersikap di depan Sena memang sedikit membuatnya tidak nyaman, tetapi di saat yang bersamaan, ia lega karena tahu Yushi masih menjaga batasan. Setiap kali tertangkap basah terlalu dekat dengan Sena, pria itu akan menampilkan seringaian jahil yang memang ditujukan untuk menggodanya.

"Aku merindukanmu, Andy. Oh, apakah aku sudah mengatakannya? Sepertinya sudah. Teman-temanku yang lain ada, tapi aku suka main denganmu, kau tahu? Kau itu sangat keren. Aku menyayangimu, man. Sungguh. Kau sangat menakjubkan. Jangan pernah mengecilkan dirimu sendiri, oke? Kalau kau berani melakukannya, aku akan mencukur rambutmu sampai botak."

Andy mendengarkan celotehan Sena dengan sabar, sesekali tersenyum. Dia belum pernah melihat Sena benar-benar mabuk sebelumnya, dan cukup terkejut mendapati gadis itu berubah menjadi sangat menggemaskan saat mabuk berat. Dengan sentuhan dan kalimat-kalimat positif yang ditujukan kepadanya, Andy menemukan sisi lain dari dalam diri Sena yang tidak ditemuinya di masa mereka kanak-kanak. Bohong jika Andy tidak suka. Suka. Dia suka sekali dengan sisi manis Sena yang ini.

"Terima kasih. Aku juga menyayangimu. Tapi, kenapa kau mengancam akan membotaki kepalaku? Kurasa aku akan tetap tampan walaupun botak, bukankah begitu?"

Sena menarik tubuhnya menjauh, dahinya berkerut dan dia menghela napas berat. "Aku memang menyayangimu dan kau adalah pria yang sangat menarik tapi ... tidak. Kau akan sangat jelek kalau botak. Maaf," katanya, seraya menepuk-nepuk bahu Andy seakan sedang memberikan penghiburan. Andy merasakan pipinya memanas, tapi satu-satunya reaksi yang bisa dia tunjukkan adalah tertawa.

"Sekarang kau tahu kan apa yang harus kau lakukan? Warnai rambutnya jadi blonde lagi. Warna itu paling cocok untukmu."

"Blonde? Entahlah...." Andy bergumam. "Aku akan memikirkannya nanti."

"Bagus. Aku juga suka rambutmu diwarna biru. Kalau tidak mau blonde, warnai saja warna biru. Tapi, apa pun gaya rambutmu, kau tetap tampan. Apa pun, selain botak."

Andy tertawa keras. "Baiklah, selain botak."

Bersambung...

1
Zenun
jiaelah babang
nowitsrain: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
Zenun
🥺🥺🥺🥺🥺🥺
Zenun
teman yang lebih dari teman🤭
Zenun
benarkah begitu😁
Zenun
setuju dengan Andy sih
Zenun
waduh
Zenun
bisa bahasa qalbu😁
Zenun
dan teman-temannya Andy datang
Zenun
Kirain Andy menjaga jarak
Zenun
mungkin Andy jadi canggung karena dia sebenarnya hanya menganggap teman😁
Zenun
Kasihan kamu Andy😄
Zenun
benarkah begitu? 😁
Zenun
kayanya mereka kompak mau mngerjaimu, Andy
nowitsrain: Andy yang malang
total 1 replies
Zenun
kalau begitu kredit aja
nowitsrain: No no ya
total 1 replies
Zenun
weh, gak mau jagain mereka😁
nowitsrain: Wkwk ditinggal biar berduaan
total 1 replies
Zenun
hayoloooo
Zenun
bisa main bareng lagi ya Sena😁
nowitsrain: Yoyoyy.. Bersama mengguncang dunia
total 1 replies
Zenun
akankah pertemanan itu akan berubah menjadi asmara?
nowitsrain: Jeng jeng jeng
total 1 replies
Zenun
Nah, coba saran Hana ini
nowitsrain: Oraitt
total 1 replies
Zenun
Mungkin sebenarnya Andy ngeh, tapi lagi mengingat-ingat kaya kenal muka tapi lupa nama😄
nowitsrain: Wkwk bisa juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!