Lilian Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Kecil
Sore itu, cahaya matahari mulai merunduk di balik atap kediaman Perdana Menteri Wu. Angin bertiup pelan, membawa aroma dedaunan kering dan tanah lembap. Wu Zetian berdiri di hadapan Selir Zhen Zu, menatap wanita itu dengan sorot mata tenang dan hangat. Ia tahu, setelah ini mereka mungkin tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat. Namun pasti ia akan kembali untuk membalas setiap perbuatan keji yang dilakukan oleh selir pertama dan selir ketiga.
“Bibi, aku harus kembali ke kediamanku hari ini.” Ucap Wu Zetian perlahan, suaranya lembut namun tegas.
Selir Zhen Zu terkejut sejenak, lalu bangkit sedikit dari duduknya. “Hari ini? Tidak bermalam satu malam lagi? Hari sudah senja, apakah kau tidak takut pulang malam? Apalagi jalannya sangat jauh berada di tengah hutan.” tanyanya, nada suaranya jelas mengandung kekhawatiran. “
Wu Zetian tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Bi. Aku harus pulang karena ada seseorang yang menungguku. Aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama.”
Selir Zhen Zu terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia menggenggam tangan Wu Zetian erat-erat, seolah takut gadis itu akan menghilang begitu saja.
“Ahh begituu.." ucap selir Zhen Zu dengan hati tak rela namun ia tidak bisa menahan Wu Zetian untuk tidak pergi.
"Baiklah jika begitu. Terima kasih, nak. Bukan hanya karena kau menyelamatkanku… tapi karena kau masih mau kembali ke tempat ini, meski tempat ini tidak pernah memperlakukanmu dengan baik.” ujar selir Zhen Zu dengan tatapan sedih karena harus berpisah kembali dengan gadis didepannya.
Wu Zetian menunduk sedikit. “Jaga kesehatanmu, Bibi. Ingat apa yang kita bicarakan. Jangan percaya siapa pun dengan mudah.”
“Aku berjanji, dan aku akan menunggu kau kembali lagi.” ujar selir Zhen Zu.
Wu Zetian mengangguk, lalu melepaskan genggaman itu perlahan. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar dari kamar Selir Zhen Zu. Ia tidak menuju aula utama dan tidak mencari ayahnya. Tidak ada salam perpisahan, tidak ada penghormatan terakhir untuk Perdana Menteri Wu Zheng. Bagi Wu Zetian, lelaki itu bukan lagi seseorang yang pantas menerima pamit darinya.
Ia meninggalkan kediaman itu dengan kudanya, menyusuri jalan setapak menuju hutan yang mulai diselimuti cahaya jingga senja.
___________________
Perjalanan kembali ke kediamannya di tengah hutan berlangsung hening. Hanya suara langkah kuda dan desir angin yang menemani. Pepohonan tinggi menjulang di sekelilingnya, ranting-ranting bergesekan satu sama lain, menciptakan suara lirih yang menenangkan.
Namun ketenangan itu tiba-tiba terpecah. Isak tangis kecil terdengar dari arah semak-semak di sisi jalan. Wu Zetian menghentikan langkah kudanya. Alisnya mengerut tipis. Tangisan itu jelas suara seorang gadis kecil yang terdengar lembut namun penuh ketakutan. Ia turun dari kudanya, lalu melangkah perlahan mengikuti arah suara tersebut. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara.
Di balik pepohonan, ia melihat seorang gadis kecil duduk meringkuk. Tubuh mungil itu gemetar, bahunya naik turun seiring tangisan tertahan. Usianya kira-kira tiga atau empat tahun. Rambutnya berwarna kuning keemasan. Pakaian yang dikenakannya terlihat mahal, namun kini ternodai tanah dan dedaunan.
Saat Wu Zetian berdiri tepat di hadapannya, gadis kecil itu mendongak. Tatapan mereka bertemu.Tangisan gadis itu terhenti seketika.
Mata kecil itu membesar, lalu tanpa peringatan apa pun, gadis kecil tersebut bangkit dan berlari ke arahnya. Sebelum Wu Zetian sempat bereaksi, dua lengan mungil sudah melingkari kakinya dengan erat.
“Mamaaa…” ucap gadis kecil itu, suaranya bergetar, sisa air mata masih mengalir di pipinya.
Wu Zetian membeku.
Seluruh tubuhnya menegang. Otaknya seolah berhenti bekerja. Ia menunduk, menatap kepala kecil yang menempel di dadanya.
Mama?
Sejak kapan Wu Zetian asli menikah? Bukankah ia baru berusia sembilan belas tahun? Bagaimana mungkin ia memiliki anak seusia ini?
Pertanyaan demi pertanyaan berputar cepat di benaknya, membuat dadanya terasa sesak.
Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya tersadar. Dengan hati-hati, ia menurunkan tangannya dan menyentuh bahu gadis kecil itu dengan lembut.
"Maaf, adik kecil. Aku bukan ibumu. Kau salah mengenali orang.” Ucap Wu Zetian pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Ia tersenyum lembut, berusaha tidak menakuti anak itu.
Gadis kecil tersebut perlahan melepaskan pelukannya. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap wajah Wu Zetian dengan sangat serius, seolah sedang meneliti setiap garis wajahnya.
Beberapa saat kemudian, ia mengangguk kecil.
“Maaf, kakak…Sepertinya aku salah.” ucapnya lirih, nada suaranya sedih.
Namun kemudian, wajahnya kembali tampak penasaran. “Tapiii… kakak mirip sekali dengan mamaku. Apa mama kita sama?”
Wu Zetian terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum.
“Tidak mungkin, adik kecil,” jawabnya lembut. “Mamaku sudah lama meninggal. Jadi tidak mungkin mama kita sama.”
“Ohh…” Gadis kecil itu tampak berpikir, lalu tersenyum kecil. “Begitu ya… maaf kakak cantik. Maaf sudah salah mengenalimu sebagai mamaku.”
“Tidak apa-apa,” balas Wu Zetian. “Oh iya, siapa namamu?”
“Namaku…” Gadis kecil itu baru saja membuka mulut ketika Wu Zetian tiba-tiba mendengar banyak langkah kaki kuda yang mengarah kemari.
Wu Zetian langsung bereaksi. Dengan gerakan cepat namun halus, ia memasang cadarnya, menutupi sebagian besar wajahnya.
Tak lama kemudian, beberapa prajurit muncul dari arah belakangnya. Salah satu dari mereka bergerak paling cepat, langsung meraih gadis kecil itu dan menariknya ke belakang.
“Yang Mulia Putri, apakah kau baik-baik saja?!” tanya prajurit itu panik.
Gadis kecil itu mengangguk. “Aku baik-baik saja, Paman.”
Prajurit itu lalu menoleh tajam ke arah Wu Zetian. Tatapannya penuh kecurigaan dan amarah.
“Hei, kau! Beraninya kau menculik tuan putri kami! Apa kau tidak takut mati?!” Bentaknya
Tatapan Wu Zetian berubah dingin. Namun sebelum ia sempat berbicara, gadis kecil itu sudah lebih dulu berseru.
“Tidak, Paman! Bukan dia! Kemarin ada banyak orang yang menculikku dan membawaku sampai ke sini. Untung saja aku berhasil kabur.” Ucapnya cepat dengan suaranya bergetar.
Prajurit itu terkejut, lalu segera menurunkan nada suaranya. “Baiklah, sekarang kita harus pulang. Di sini tidak aman bagi kita. Kita harus kembali sebelum Yang Mulia menghancurkan semuanya.” Katanya serius.
Ia pun segera membawa gadis kecil itu pergi dengan langkah tergesa. Dari kejauhan, gadis kecil itu menoleh ke belakang. Air mata kembali mengalir di pipinya.
“Kakakkk!” teriaknya dengan suara kecil yang pilu.
Wu Zetian berdiri diam, dadanya terasa aneh seperti ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Ia mengepalkan tangannya perlahan, lalu menarik napas dalam-dalam. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan melanjutkan perjalanannya kembali ke kediamannya di tengah hutan, membawa perasaan ganjil yang terus mengendap di hatinya.
__________________
Yuhuuuu~🌹
Kalian penasaran tidak dengan gadis kecil itu? Jika penasaran, berikan lebih banyak dukungan agar author bisa upload 3 chapter besoknya.
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖
See you~💓