Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. VIDEO MENJIJIKKAN
Setelah membersihkan diri, Arkan menikmati udara malam di teras belakang yang biasanya menenangkan mendadak terasa menyesakkan bagi Arkan. Di atas meja jati, ponselnya terus bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Zavier membawa sebuah file video yang cukup besar.
Arkan mengernyitkan dahi. “Video?” gumamnya. Dengan ragu, jemarinya menyentuh layar untuk memutar kiriman itu.
Kedua bola mata Arkan membulat sempurna. Pupil matanya bergetar hebat saat melihat adegan panas yang tersaji di layar ponselnya. Di sana, di bawah cahaya lampu hotel yang terang, mantan suami Maya sedang bersama Dina.
Suara desahan dan erangan yang keluar dari speaker ponsel membuat Arkan buru-buru memencet tombol volume hingga senyap, wajahnya memerah antara marah dan muak.
📨“Video menjijikkan apa ini, Zavier?” ketik Arkan dengan tangan gemetar.
📩“Nikmati saja, tapi jangan pernah kau coba hal seperti itu kepada Maya.”
📨“Jaga ucapanmu, ba*jingan! Maya adalah gadis yang harus aku lindungi sekarang. Aku tidak sebe*jat pikiranmu!”
📩“Oh, benarkah? Itu kan hanya alasanmu sekarang. Setelah gadis itu dewasa dan terlihat matang nanti, apa kau bisa menjamin tanganmu tetap bersih, Pak Dokter?”
Arkan mencengkeram ponselnya hingga terasa panas di telapak tangannya. Ia mencoba mengatur napasnya yang memburu.
📨“Cukup! Sekarang kembali ke pembahasan. Apa hubungannya Rian dengan gadis itu? Kenapa kau malah merusak kehormatan gadis lain dengan cara sekeji ini?”
📩“Aku sudah berada di depan rumahmu. Segera temui aku di luar kalau kau ingin mendengar semuanya secara mendalam.”
Arkan berdiri dari kursi santainya, melirik ke arah jendela lantai dua kamar di mana Maya mungkin sedang tertidur lelap. Ia tidak ingin Maya tahu bahwa Zavier ada di sini, apalagi tentang keberadaan Rian yang sudah diseret kembali ke pusaran masalah ini.
Arkan melangkah cepat menuju gerbang depan. Di sana, mobil Sedan hitam milik Zavier terpakir dengan mesin yang masih menderu halus. Zavier berdiri bersandar di pintu mobil, dengan rokok di sela jarinya dan luka di telapak tangan yang ia balut asal-asalan dengan sapu tangan.
“Kau gila, Zavier,” ucap Arkan tanpa basa-basi begitu mereka berhadapan. “Membawa Rian ke hadapan gadis lain? Kau tahu itu bisa menghancurkan masa depan mereka berdua sekaligus.”
Zavier menghembuskan asap rokoknya ke udara malam. “Dina ingin menghancurkan Maya malam ini, Arkan. Aku hanya memberikan apa yang pantas dia dapatkan. Dan Rian? Dia hanya alat. Lagipula, bukankah kau juga ingin baji*ngan itu menghilang dari hidup Maya selamanya?”
Zavier menatap Arkan dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus kulit. “Sekarang, pilihannya ada padamu. Kau ingin tetap menjadi dokter suci yang diam saja, atau membiarkan aku menyelesaikan sampah-sampah ini dengan caraku?”
Lampu jalanan yang kuning redup menerangi ketegangan di antara dua pria itu. Arkan berdiri kaku, sementara Zavier tampak begitu tenang dengan cara yang mengerikan.
“Katakan padaku, kenapa kau merusak gadis lain hanya untuk menghancurkan orang lain?” tanya Arkan dengan nada tertahan, menatap Zavier dengan pandangan menghakimi.
Zavier menghembuskan asap rokok terakhirnya ke langit malam yang pekat, lalu membuang batang rokok yang masih menyala itu ke tanah. Ia menginjak bara apinya dengan ujung sepatu pantofel mahalnya hingga padam total.
“Gadis muda itu, Dina dia adalah target utamaku, Arkan. Kau ingat misiku di sekolah Maya? Dialah alasannya,” sahut Zavier dingin. “Dia perempuan yang tidak perlu kau kasihani. Sebelum Maya masuk ke sana, ada siswi pintar bernama Fatya. Dina cemburu karena tersaingi. Dia menjebak Fatya di pesta ulang tahunnya, mencekokinya dengan obat terlarang, lalu memaksanya melayani pria asing.”
Zavier menjeda sejenak, matanya berkilat penuh dendam. “Dina merekam semuanya dan menyebarkannya ke grup sekolah. Fatya depresi dan akhirnya bu*nuh diri di kamarnya. Jadi, hukuman yang kuberikan pada Dina dan Rian sekarang? Itu hanya cerminan dari apa yang pernah mereka lakukan.”
“Tapi bukan ini yang aku mau, Zavier!” protes Arkan. “Ini terlalu kotor.”
Zavier terkekeh sinis, “Menurutmu, haruskah aku memb*unuh mereka? Pakai o*takmu, Dokter. Itu terlalu ringan. Jika kuserahkan ke kepolisian atau Gavin, uang dan kekuasaan orang tua Dina akan membeli fasilitas mewah di dalam sel. Apa itu adil? Tidak. Hukum sosial jauh lebih adil. Video itu sudah tersebar di link tertentu. Perbuatan mereka akan dikenang selamanya oleh internet.”
Arkan terdiam, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Logika Zavier yang bengkok mulai terasa masuk akal di tengah rasa sakit hati Arkan atas apa yang dialami Maya.
“Lalu, bagaimana dengan Ibu Aminah dan ibu tirinya?” tanya Arkan pelan.
“Ibu Aminah sudah kubereskan. Wanita tua itu sekarang sedang di meja operasi pengambilan ginjal untuk dikirim ke luar negeri. Dia butuh uang, kan? Aku memberinya jalan,” ucap Zavier tanpa beban.
“Ka-kau!”
“Ssst!” Zavier memotong ucapan Arkan. “Jika kau ingin membalas dendam atas kekejian mereka kepada Maya, percayakan padaku. Dan, kabar terbaru, ibu tirinya juga sudah dipindahkan ke kota ini. Ada cabang ‘bisnis gelap’ besar di balik benteng keadilan.”
Arkan membuang muka, mencoba mencerna semua kegilaan ini. “Bagus. Selesaikan saja misimu sekarang,” ucap Arkan singkat lalu berbali arah menuju gerbang rumahnya.
Baru saja Arkan melangkah sekitar satu meter, suara Zavier kembali terdengar, kali ini nada menggoda yang menyebalkan.
“Apakah aku boleh melihat Maya yang sedang tidur?”
Arkan tidak menjawab. Ia terus melangkah masuk dengan perasaan kesal yang memuncak, mengabaikan suara tawa renyah Zavier yang terdengar sampai terbatuk-batuk di belakang sana.
***
Arakan berdiri mematung di ambang pintu kamar Maya. Cahaya lampu tidur yang remang-remang menyinari punggung Maya yang terbungkus selimut tebal. Gadis itu tampak sangat rapuh dalam tidurnya.
Arkan menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kemarahan setelah berbicara dengan Zavier. Di samping Maya, terdapat boks bayi tempat Leon tertidur pulas.
“Aku berjanji akan menjagamu, Maya,” bisik Arkan dalam hati. “Aku tidak akan membiarkan tangan siapa pun menyentuhmu, tapi aku juga tidak akan membiarkan masa lalumu kembali untuk melukaimu lagi.”
Arkan perlahan menutup pintu kamar itu, membiarkan Maya beristirahat dalam ketenangan yang semu.
***
Sebuah ruangan di kawasan kumuh pinggiran kota menjadi saksi bisu kengerian yang nyata. Ruangan itu sempit, lembap, dan berbau anyir besi. Dindingnya yang berjamur memantulkan cahaya lampu operasi yang bergetar.
Ibu Aminah terikat di atas ranjang besi yang berkarat. Matanya membelalak ketakutan, air mata mengalir membasahi kerutan di wajahnya yang pucat pasi.
“Tidak! Jangan! Tolong, jangan lakukan ini!” teriak Ibu Aminah dengan suara serak yang memilukan.
Namun, rintihannya tidak dipedulikan. Tiga pria yang mengenakan jas hujan plastik untuk menghindari percikan darah dan masker bedah hitam tetap bekerja dengan dingin. Mereka tidak berbicara, hanya berkomunikasi lewat isyarat mata yang mematikan.
Salah satu pria, dengan tangan stabil, mengarahkan pisau bedah yang sangat tajam ke arah perut Ibu Aminah. Tanpa pembiusan yang layak, hanya rasa sakit luar biasa yang kini menanti wanita tua yang dulunya sering menyiksa Maya.
...❌ Bersambung ❌...