Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Diantara Bidak
Pagi menyapa, menembus sela-sela gorden jendela kamar Maya dengan kilauan cahaya matahari. Maya membuka matanya lebar-lebar. Lingkar hitam di bawah mata dan bola mata yang memerah jelas menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak bisa tidur semalaman. Bagaimana bisa tidur jika Arkan terus memeluknya dengan sangat erat, memperlakukannya persis seperti guling? Tubuh mungil Maya kini terasa kaku dan mati rasa karena tertidur dalam satu posisi yang sama.
Sementara itu, dari luar kamar terdengar suara Yudha yang berisik. “May…Maya! Mumpung hari Minggu, kita jogging yuk!” seru Yudha, yang suaranya semakin mendekat ke pintu kamarnya. Ternyata, pintu itu tidak tertutup rapat sejak malam tadi.
“Oh my God!” Yudha terperanjat di ambang pintu. Matanya membelalak melihat pemandangan di dalam, Arkan tidur di ranjang Maya, dengan tangan dan kaki yang memeluk Maya sangat erat.
Tanpa pikir panjang, Yudha berlari mendekat lalu memukul kaki abangnya cukup kuat. “Abang! Bangun!”
Pukulan itu membuat Arkan tersentak. Dengan mata yang masih setengah tertutup, ia memandang adiknya kesal. “Ini hari Minggu, kenapa kau membangunkanku secepat ini?” keluh Arkan, lalu menjatuhkan tubuhnya kembali dan secara refleks memeluk Maya.
Namun, saat tangannya menyentuh benda kenyal, Arkan yang masih dalam keadaan setengah sadar menurunkan tangannya ke perut Maya dan sedikit meraba, membuat Maya mengeluarkan suara geli.
Mata Arkan langsung terbuka lebar. Ia tersentak dan spontan menjauh. “Oh… ada apa ini, Yudha?” tanya Arkan bingung, sepertinya ia benar-benar lupa dengan kejadian semalam.
“Kok Abang tanya aku? Seharusnya aku yang bertanya pada Abang!” omel Yudha dengan wajah jengkel.
Arkan segera beranjak turun dari ranjang dengan kikuk. Ia menatap Maya dengan wajah cemas. “May… aku tidak melakukan hal yang melanggar aturan, kan?”
Maya hanya menggeleng pelan, wajahnya memerah menahan malu. Mendengar jawaban Maya, Arkan merasa lega luar biasa. Ia segera berlari kecil menuju kamarnya dengan wajah yang bersemu merah padam, meninggalkan Yudha yang masih melongo heran.
Yudha mendekat, membantu Maya duduk di tepi ranjang. “May, kau sungguh tidak apa-apa?” tanya Yudha cemas, menatap wajah gadis itu yang tampak kelelahan.
“Duh…aduh! Pundak kananku sakit sekali, Bang,” keluh Maya sambil meringis, memegangi bahunya yang kaku.
Yudha segera bertindak, ia memijat perlahan pundak Maya dengan penuh kehati-hatian. “Lalu, bagian mana lagi yang sakit, May?” tanya Yudha perhatian, merasa iba melihat gadis mungil itu dijadikan guling manusia oleh abangnya.
Maya menggerakkan kepalanya perlahan, merasakan ketegangan di bahunya mulai berkurang. “Terima kasih, Bang Yudha. Rasanya sudah lebih mendingan sekarang.”
Yudha melepaskan pijatannya lalu berdiri di sisi ranjang. “May, nanti setelah kau selesai bersiap, bisa kita bicara sebentar?” tanya Yudha serius.
Maya melirik Leon yang sudah bangun dan mulai bermain sendiri di atas ranjang. “Iya, Bang. Bisa.”
“Kalau begitu, temui aku di halaman belakang. Aku akan menunggumu di sana,” ucap Yudha sebelum melangkah keluar dari kamar Maya.
**
Sementara itu di dalam kamar Arkan, pria itu sedang berdiri kaku di bawah kucuran deras air dingin. Kedua tangannya mengusap rambut basah ke belakang, menampilkan pose maskulin.
“Hampir saja aku melewati batas,” batin Arkan, menahan napas saat mengingat kehangatan tubuh Maya semalam.
Ia mematikan shower, keluar dari bilik mandi dengan tubuh telanjang, lalu melingkarkan handuk putih di pinggangnya. Arkan berdiri di depan cermin besar, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
“Maya… kini kau seperti obat penenang untukku.”
Namun, sedetik kemudian, senyum itu lenyap. Wajah Arkan kembali dingin dipenuhi aura gelap yang mengancam.
“Agung, atau Mr. X, atau siapa pun namamu,” gumam Arkan pelan, matanya menatap tajam pantulan dirinya di cermin. “Tidak akan kubiarkan milikku kau ambil alih.”
***
Beberapa jam berlalu. Sesuai janjinya, setelah selesai menyusui Leon, Maya memutuskan untuk mengajak bayi itu bermain ke halaman belakang. Baru saja mencapai pintu belakang, mata Maya menangkap pemandangan Yudha yang sedang serius bermain catur bersama Pak Teddy.
“Eh, Dek Maya dan Nak Leon sudah datang,” sapa Pak Teddy ramah. Ia segera berdiri, seolah mengerti isyarat bahwa Maya dan Yudha perlu bicara berdua.
“Pagi, Pak Teddy,” sapa Maya sopan. Leon ikut menyapa dengan suara melengking khas bayi, kedua tangannya diulurkan ke depan seolah minta digendong.
Pak Teddy segera mendekat dengan wajah ceria. “Hmm, wanginya! Anak muda satu ini,” gurau Pak Teddy sambil mengambil alih Leon dari gendongan Maya. Leon membalasnya dengan memukul-mukul ringan lengan Pak Teddy, tertawa senang.
“Dek Maya, Pak Teddy pinjam boneka imut ini sebentar, ya,” izin Pak Teddy. Maya membalasnya dengan anggukan kecil. “Nak Yudha, Bapak pamit dulu,” pamit Pak Teddy.
“Hati-hati, Pak,” sahut Yudha santai.
Pak Teddy pun pergi meninggalkan Maya dan Yudha berdua di taman belakang.
“May, silakan duduk,” ucap Yudha sambil mengarahkan tangannya ke kursi kosong di depannya, bekas tempat duduk Pak Teddy tadi.
Maya duduk, lalu matanya tertuju pada papan catur yang masih berantakan. “Abang suka bermain catur?” tanya Maya.
“Iya. Permainan ini melatih strategi, mirip dengan pekerjaanku,” sahut Yudha sambil tersenyum tipis.
“Bagaimana kalau Abang mengajarkanku?” pinta Maya penasaran.
“Baiklah, kenapa tidak?” Yudha kembali menyusun bidak-bidak catur yang berantakan ke posisi awal (setup).
Setelah selesai menyusun, Yudha mengambil Benteng di baris belakang untuk memberikan ruang pembuka. Maya memperhatikannya dengan serius.
Di sela permainan, ketika Yudha sedang memindahkan Kuda putih ke posisi strategis, ia mulai membuka suara. “May, aku ingin bertanya satu hal padamu.”
Maya membalas dengan memindahkan Pion di depan Raja-nya dua petak ke depan, pembukaan yang klasik. “Silakan, tanyakan saja, Bang,” sahut Maya pelan.
Suasana di halaman belakang mendadak hening, hanya denting bidak catur yang sesekali beradu dengan papan kayu.
“Berapa usiamu sekarang, May?” tanya Yudha dingin, jemarinya lincah memindahkan Menteri ke posisi serang.
“16 tahun, Bang,” sahut Maya pelan, matanya fokus membalas dengan memajukan Pion untuk memblokir pergerakan Menteri Yudha.
Wajah mereka tampak sangat serius, seolah-olah pertarungan di atas papan itu mencerminkan situasi hidup mereka yang sebenarnya.
“Mungkin ini akan menyinggung masa lalumu,” Yudha kembali bersuara, suaranya lebih rendah. “Tapi kita akan langsung pada intinya. Jika kau diberi dua pilihan, membalaskan dendam dengan tanganmu sendiri, atau menceritakan semua masalahmu kepada pihak berwajib dan membiarkan mereka menghukum musuh-musuhmu?”
Maya yang sedang memegang Kuda sedikit mengeratkan genggamannya, mencengkeram bidak itu kuat-kuat sebelum meletakkannya dengan mantap di posisinya.
“Bukankah Abang sudah mengetahui jawabannya?” sahut Maya tenang, tatapannya lurus menembus mata Yudha, mengejutkan pria itu.
“Jadi, kau sudah mengetahui semuanya tentang abangku yang membalaskan dendam terhadap semua musuh-musuhmu?” tanya Yudha sambil meletakkan Benteng untuk mengancam Raja Maya.
“Iya, aku melihat semuanya,” sahut Maya santai sambil menggeser Raja-nya ke tempat aman.
“Oooh…. Ternyata kau diam-diam adalah gadis yang licik, May,” ucap Yudha sambil tersenyum singkat.
Maya menatap Yudha lekat-lekat. “Ketika Tuhan telah memberikan kesempatan kedua kepada seseorang, apakah orang itu harus berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa mengenai semua masa lalu yang pernah menghancurkannya?”
Maya meletakkan Benteng-nya dengan keras di papan catur, menimbulkan bunyi dentuman kecil yang tegas.
“Tentu saja tidak, Bang! Ketika aku benar-benar berada di posisi terdesak, Tuhan memberikan petunjuk dengan kedatangan Kak Arkan. Pria yang cukup dewasa dan peka akan situasiku. Di saat seperti itulah, aku menyerahkan semua keinginan dendamku pada pria yang kusebut pahlawan itu,” sahut Maya tersenyum tipis sambil meletakkan kedua tangannya di depan perut, menyembunyikan getaran di jemarinya.
Suasana kembali serius. Yudha memindahkan Kuda-nya ke petak aman, berusaha menyusun strategi baru.
“Jadi, May… apakah menurutmu perbuatan abangku itu benar di matamu?” tanya Yudha menatap Maya lekat, mencoba menyelami pemikiran gadis itu.
Maya memperhatikan sisa bidaknya yang mulai terdesak, lalu mengambil satu Pion dengan percaya diri. “Selagi niatnya baik untuk melindungi, pasti hasilnya akan baik pula, Bang,” sahut Maya tenang sambil meletakkan bidaknya.
Jawaban itu membuat Yudha terdiam sejenak, sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencuri celah untuk bidak lainnya.
“May, apakah kau tahu siapa saja orang yang telah menghancurkan kehidupanmu?” tanya Yudha kembali sambil menggeser Menteri-nya.
Maya menggeleng pelan, wajahnya tampak tenang. “Orang yang paling tidak ingin aku lihat sampai aku mati adalah ibu tiriku, mantan suami, dan mantan mertuaku. Selebihnya… biarlah karma yang membalas mereka,” sahut Maya santai sambil meletakkan bidak terakhirnya.
Tiba-tiba, wajah Maya berbinar. “Yeay! Aku menang!” sorak Maya gembira, tertawa begitu lugu dan polos.
Yudha tertegun melihat perubah ekspresi Maya yang drastis, lalu ikut tersenyum tipis. Dalam pikirannya, ia menyimpulkan bahwa Maya ternyata hanyalah gadis biasa yang berpaku pada takdir, percaya jika keajaiban pasti muncul. Bahkan setelah banyaknya pertanyaan jebakan Yudha, ia yakin Maya tidak mengetahui kebenaran apa pun mengenai recana Arkan.
❌ bersambung ❌