NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Jarum jam tepat menunjukkan pukul lima ketika Magenta berdiri di depan meja Cyan. Ia cengengesan, mengetuk ringan permukaannya dengan ujung jari, seakan memberi kode bahwa kehadirannya ada di sini. Cyan yang saat itu masih sibuk mengetik di ponselnya pun seketika mendongak.

“Halo, Bu Cyantik! Waktunya pulang,” ajak Genta dengan lirikan ke arah jam tangannya.

“Aku juga tahu jam, Genta.”

“Iya, tapi siapa tau kamu lupa terus sadarnya pas satpam malam dateng,” balas Magenta asbun.

“Aku gak pernah lupa sampai segitunya,” jawab Cyan santai.

“Pernah. Aku saksi hidupnya.”

“Oh, jadi secara gak langsung kamu ngatain aku tua karena pikun, begitu?”

“Eh, bukan aku yang ngomong begitu, ya,” kekeh Magenta menutup mulutnya.

“Kamu ini niat ngingetin pulang atau mau mancing keributan? Aku lagi capek banget, Genta, jadi tolong, ya jangan bikin emosi dulu.” Cyan mendesah, menutup layar laptopnya.

“Dua-duanya dong. Kan sekarang udah jadi kewajiban.” Ia menyengir kuda, salah satu ekspresi yang agak dibenci Cyan.

“Kewajiban?” ulangnya.

“Iya. Kewajiban moral. Kalau aku gak nganterin kamu pulang, nanti aku dicap pasangan yang gak bertanggung jawab, Syan.”

“Magenta.”

“Apa?”

“Jangan buat narasi aneh-aneh sendiri deh.”

“Terlambat, Syan. Skenario percintaan kita tuh udah jalan di kepalaku.”

“Hapus, revisi, dan coret semua hayalan aneh kamu.”

Cyan mengambil tas, berjalan lebih dulu mendahului Magenta yang sibuk cengengesan di belakang sana. Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir tanpa menoleh satu sama lain. Masing-masing juga tak punya bahan perbincangan. Ah, kepala mereka membeku dengan lidah kelu. Hingga langit di atas kepala berubah gelap perlahan, seolah siang menyerah dan tunduk pada malam.

“Jadi,” kata Magenta sambil memainkan kunci mobil, “hari ini kita langsung pulang? Atau mau makan taichan lagi?”

“Pulang aja deh.”

“Gak ada rapat dadakan? Atau revisi lima menit sebelum jam pulang?”

“Gak ada, Magenta.”

“Wah sukur deh, hari ini aku bisa napas lega,” katanya menepuk dada.

“Jangan ngerasa tenang dulu. Belum tentu kedepannya kita gimana.”

“Ini dunia, Syan, dunia emang rumit. Jadi kita harus terbiasa tenang daripada capek sendiri. Iya, gak?” pungkas Magenta cekikikan sendiri, tetapi tidak diherani oleh Cyan.

Sesampainya di depan mobil, Magenta dengan sigap membukakan pintu penumpang untuk Cyan seperti biasa.

“Terima kasih,” ucapnya sambil menunduk sedikit sebelum masuk ke kursi penumpang.

Magenta tersenyum tipis sebagai balasan, matanya menatap Cyan sebentar sebelum menutup pintu dan masuk ke sisi pengemudi.

Baru lima menit perjalanan, Cyan tiba-tiba terdiam cukup lama. Ia memandang ke luar jendela seolah sedang menimbang sesuatu, sementara Magenta sesekali melirik ke arah Cyan dari kaca spion. Matanya menatap dengan penasaran, seolah mencoba menangkap pikiran yang sedang bermain di wajah Cyan.

Magenta akhirnya melirik sekaligus bertanya. Ia tak sanggup menebak-nebak selayaknya dukun gadungan.

“Kamu kenapa sih?”

Cyan menoleh singkat, lalu menggenggam tasnya lebih erat.

“Aku? Gak papa,” jawabnya membuang muka.

“Kalau gak ada pa-apa, gak mungkin kamu ngelamun daritadi, Syan. Kita berdua semobil, tapi berasa aku lagi bawa kuntilanak versi tinggi, lho. Pasti ada sesuatu yang bikin pikiran kamu nyasar kayak gini.”

“Orang tuaku ada di apartemen sekarang.” Seolah tidak merespon jokes spontan yang seharusnya membuat gadis itu sedikit kesal atau setidaknya protes, tetapi kali ini tidak. Tatapan Cyan benar-benar kosong. Ia tidak berselera bergurau sedikitpun.

“Hah? Apa maksudnya? Orang tua kamu? Di apartemen? SEKARANG?!” Magenta syok, matanya terbelalak, lebih heboh responnya dibanding reaksi Cyan yang cenderung sunyi.

“Tenang, Magenta. Jangan panik dulu. Mereka baru datang tadi siang.”

“Dan kenapa kamu baru bilang sekarang?” Magenta menatap Cyan sambil mengerutkan dahi.

“Iya, aku tau. Maaf. Aku juga bingung mesti ngapain.”

“Syan ....” Magenta menghela napas panjang, menatap gadis itu dalam.

“Iya?”

“Ini kamu kayak lagi ngumumin bencana alam, bukan cuma bilang orang tuamu datang.”

“Ya, gimana? Ini mendadak, Magenta. Aku juga baru tau mereka bakal datang sekarang. Aku mau pasrah aja udah.”

Hening, terdengar suara mesin diiringi klakson dari kendaraan lain. Deru napas mereka memburu, saling kejar-kejaran. Pun Cyan semakin tidak tenang, habis kukunya dimainkan.

“Ini mendadak banget, Syan. Jujur aja aku belum siap secara mental. Tiba-tiba banget gitu nongol depan muka dan aku belum ada persiapan sama sekali,” pungkas Magenta mengetuk setir kemudi.

“Aku tau.”

“Kita belum latihan lagi.”

“Kamu cuma perlu kenalan aja sama mereka. Gak usah mikir macem-macem,” ujar Cyan memberi solusi, menenangkan pria itu.

“Tapi aku ... argh!” Magenta mulai frustrasi dan Cyan tidak pernah melihatnya sekacau ini.

“Kamu cuma perlu jadi diri sendiri. Gak usah ribet, gak usah pura-pura. Aku percaya sama kamu. Okay?” Cyan tersenyum, seribu persen yakin pada sosok zombie lift sesungguhnya ini.

“Justru itu yang bikin bahaya,” balas Magenta jujur.

“Tadinya aku yang disuruh pulang ke Jogja, tapi kata Ibu kelamaan. Ibu mau ketemu kamu secepatnya.”

“Dan solusinya?”

“Ya, ini. Mereka datang langsung.”

Magenta menyandarkan dirinya di kursi, beberapa kali menghela napas, mengambil oksigen sebanyak mungkin seolah tersisa mereka berdua di bumi ini.

“Kalo kamu belum siap, kamu gak harus kok Genta. Aku mau pasrah aja, bilang kamu sibuk atau apa....”

“Enggak, jangan! Aku siap, tapi maaf aku gak bawa apa-apa.” Ia memotong terlalu cepat.

“Gak usah bawa apa-apa. Mereka cuma mau kenalan.”

Pria itu mendadak diam sejenak, matanya memicing ke pinggir jalan.

“Toko buah.”

“Apa?”

“Aku gak bisa ketemu orang tua kamu tanpa bawa buah tangan. Harga diri nih, Bos!”

“Yailah. Kamu ribet banget, sumpah.”

***

Setelah perjalanan yang tidak terlalu panjang itu, Cyan dan Magenta akhirnya tiba di apartemen. Mereka berdiri di depan pintu, langsung disambut lampu lorong apartemen yang hangat memantul di kaca jendela. Magenta membawa satu keranjang buah dengan kedua tangannya, berdiri sedikit canggung di samping Cyan.

“Sudah siap?” tanya Cyan menoleh sedikit ke arah Magenta.

“Siap,” jawabnya.

Cyan membuka pintu apartemennya, melangkah masuk, dan menutup pintu di belakangnya. Ia menoleh sebentar ke arah Magenta yang masih berdiri dekat pintu, lumayan gugup dan menegangkan juga rupanya.

“Tunggu di ruang tamu sebentar, ya?”

Magenta mengangguk lagi, lalu berjalan ke sofa ruang tamu. Ia duduk agak kaku, meletakkan keranjang buah di sampingnya, masih menahan rasa gugup yang samar-samar terlihat.

Cyan melangkah lebih jauh ke dalam apartemen, memanggil kedua orang tuanya. Tak lama, suara langkah terdengar dari arah dapur. Ibu dan ayah Cyan muncul dengan senyum hangat yang langsung merekah begitu melihat putri mereka.

Cyan menatap mereka sebentar sebelum mengajak keduanya ke ruang tamu. Ibu mengikuti langkah anaknya dengan senyum hangat, sementara ayah Cyan hanya menatap penasaran ke arah ruang tamu.

“Bu, ini Magenta.” Cyan tersenyum, memperkenalkan pria itu.

Ibu Cyan menatap sekejap ke ruang tamu, lalu matanya jatuh pada Magenta yang sedang duduk dengan sopan membawa buah tangan. Magenta segera berdiri, menundukkan badan, mengulurkan tangan untuk bersalam, dan menyerahkan keranjang buah itu.

“Oh, jadi ini pilihan anakku. Loh, padahal gak usah repot-repot bawa buah.” Ayah Cyan akhirnya muncul, matanya bergerak dari wajah Magenta ke tinggi badannya lalu kembali ke Cyan.

“Duduk, Nak,” ujar ibu Cyan sambil menunjuk kursi di dekat meja.

“Maaf, Bu, Pak. Saya datang mendadak, jadi cuma sempat beli ini,” ucap Magenta sopan.

“Tidak apa-apa,” jawab ibu Cyan ramah.

Dan tanpa aba-aba, sekalimat itu membuat seisi ruangan terkejut kikuk, terlebih Magenta.

“Kamu lebih pendek dari yang kami bayangkan, ya,” ujarnya jujur setengah bergurau.

“Pak!” tegur Cyan khawatir suasana menjadi canggung. Lumayan sulit meyakinkan Magenta tadi, jangan sampai gagal di tengah jalan. Hal yang tidak disangka Cyan adalah, Magenta justru terkekeh pelan. Seolah ucapan itu sering ia dengar dan tidak menjadi masalah.

“Iya, Pak. Saya kalah sepuluh sentimeter dari Cyan.”

“Loh, Nak, kamu tahu persis begitu?” Ibunya terkesiap.

“Sudah sering dihitung orang, Bu. Biasanya mereka langsung membandingkan. Jadi saya sudah hafal di luar kepala.”

Ayah Cyan mengangkat alis, lalu terkekeh pelan. Ibunya ikut tersenyum manis. Lumayan melegakan atmosfer ruangan yang sempat menegang. Bagus terlalu jujur, tapi nyatanya tidak semua orang menerima segala ucapan yang keluar tanpa disaring lebih dulu.

“Apa pun itu, yang penting tulus dan serius.”

“Insya Allah, Bu. Saya selalu berusaha.”

Cyan menghembuskan napas pelan yang sejak tadi ia tahan. Setelah itu melirik ke Magenta, menularkan senyum manisnya. Ia lega karena Magenta melakukan hal terbaik, sangat mulus sesuai rencana sehingga tiada pihak yang curiga. Berkat Magenta juga suasana yang sebelumnya terlalu muram berubah hangat juga menyenangkan. Cyan lupa kapan terakhir kali bergurau tertawa lepas dengan sang ayah dan hari ini Magenta mengulang kebersamaan itu lagi.

Malam itu mereka mengisi waktu dengan obrolan ringan, tentang pekerjaan Magenta yang sering menyita waktu, tentang kota asalnya, juga tentang hal-hal sederhana yang biasa dibicarakan pada pertemuan pertama.

“Jadi, kira-kira kapan menikahnya? Bulan depan udah siap?”

1
Sinchan Gabut
Haish... bulan puasa hey 😆
Sinchan Gabut
aku kaget, kirain dah offc, taunya pura-pura. ah elah jd kangen kan eh hahahha
Anisa Saja
malu-malu meong nih
IR Windy
magenta makin seneng gak tuh dibilangin kek gitu
IR Windy
si raka emng peka bgt smpe hal2 kecil
IR Windy
hayoloo.. alya sampe neting gitu
IR Windy
okeee cyan mulai jinak nih kayaknya
IR Windy
kesempatan dlm kesempitan itu mh wkwk
IR Windy
kapan mreka gk brantem wkwk
IR Windy
si genta mah emg nyari kesempetn aja, jd gk cuma bantu
IR Windy
bantet gak tuh wkwk fiks kalo gaada magenta bakal sepi sih hidup cyan
IR Windy
magenta ngeselin poll ya
Anisa Saja
ngeri emang kalau sampai kejadian kayak gitu
Anisa Saja
bener banget itu, Raka.
Anisa Saja
jangan-jangan apa? hayooo
Anisa Saja
memang agak aneh kalau orang yang biasanya banyak omong tiba-tiba diem aja
Anisa Saja
padahal udah sama-sama dewasa.
Anisa Saja
kayaknya si genta ada sesuatu sama cyan nih
Aruna02
kok balas budi sih
Rain (angg_rainy): Awalnya🙈 balas budi aja lama2
total 1 replies
Aruna02
dih pede 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!