NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Strategi Bisnis Isabelle

#

Restoran di lantai 25 hotel itu terlalu mewah—terlalu sunyi—dengan musik klasik yang entah kenapa bikin Khaerul makin nervous. Dia duduk di meja dekat jendela besar yang ngasih pemandangan Jakarta malam dengan lampu-lampu yang berkelip. Tapi dia nggak peduli sama pemandangan. Yang dia peduli cuma satu: wanita di depannya yang tersenyum sambil motong steak dengan gerakan yang terlalu sempurna.

"Kamu terlihat tegang, Khaerul," kata Isabelle sambil menyesap wine merahnya. "Relax. Ini cuma dinner. Bukan interogasi."

"Maaf, aku... aku nggak terbiasa dinner formal kayak gini." Khaerul mengambil garpunya—tangannya sedikit gemetar dan dia harap Isabelle nggak notice.

"Kamu akan terbiasa nanti." Isabelle meletakkan gelasnya. "Kalau kamu bekerja dengan saya, kamu akan sering hadiri dinner seperti ini. Dengan investor. Dengan partner. Dengan... orang-orang penting."

Ada penekanan di kata "orang-orang penting" yang membuat Khaerul makin curiga. Dia ingat alat transmitter di jacket-nya. Zarvan dan Mahira pasti dengerin semua ini sekarang.

"Jadi," Khaerul mencoba buka percakapan sambil tetap waspada, "apa sebenarnya yang Anda cari dari partnership dengan Qalendra Group? Karena sejujurnya, Lavigne Consortium itu perusahaan besar. Kenapa mau kerja sama dengan perusahaan lokal kayak kami?"

Isabelle tertawa—tawa yang kedengarannya palsu. "Kamu langsung to the point. Aku suka itu." Dia bersandar di kursinya. "Yang aku cari bukan cuma profit, Khaerul. Tapi... koneksi. Legacy. Sesuatu yang lebih... abadi."

"Legacy?"

"Keluarga Qalendra punya sejarah panjang. Ratusan tahun. Dan sejarah itu... menarik bagi saya." Mata birunya menatap Khaerul dengan intensitas yang bikin dia ingin lari. "Terutama sejarah yang berhubungan dengan... kesultanan lama. Dengan keluarga kerajaan yang runtuh 300 tahun lalu."

Jantung Khaerul berhenti sedetik. Dia. Dia tahu.

"Aku... aku nggak ngerti apa yang Anda—"

"Jangan bohong, Khaerul." Isabelle mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku tahu siapa kamu. Aku tahu siapa Mahira. Dan aku tahu apa yang kalian coba lakukan."

Di meja sebelah—meja yang ditempati pasangan yang berpura-pura makan—Mahira menggenggam Tasbih Cahaya dengan erat. Tasbihnya mulai hangat. Zarvan di sampingnya sudah siap berdiri kapan saja.

"Tenang," bisik Zarvan sambil memegang tangan Mahira. "Tunggu dulu. Kita harus tahu apa yang dia mau."

Di meja Khaerul, percakapan makin intens.

"Siapa Anda sebenarnya?" tanya Khaerul dengan suara rendah.

"Aku adalah seseorang yang punya kepentingan sama dengan Damian Qalendra." Isabelle tersenyum—dan kali ini senyumnya berbeda. Lebih dingin. Lebih... bahaya. "Atau lebih tepatnya, dengan Pangeran Danial."

"Jadi kamu... kamu reinkarnasi dari—"

"Dari Isabeau. Pelayan setia Pangeran Danial. Dan kekasihnya." Isabelle—atau Isabeau—mengangkat gelasnya. "Kami berdua mencintai Pangeran Khalil dengan cara kami masing-masing. Danial sebagai adik. Aku sebagai... seseorang yang mencintai Danial dan mendukung semua keputusannya. Termasuk keputusan untuk membantu Khalil mendapatkan Aisyara. Atau—saat itu gagal—membantu Khalil menghancurkan Aisyara."

Khaerul mundur di kursinya—ingin pergi tapi kakinya seperti membeku.

"Dan sekarang," lanjut Isabelle sambil meletakkan gelasnya dengan bunyi kecil yang terdengar terlalu keras di telinga Khaerul, "aku di sini untuk pastikan sejarah nggak berubah. Untuk pastikan kutukan tetap aktif. Karena kalau kutukan putus—kalau Khalil ditebus—maka Danial juga harus bertanggung jawab atas dosanya. Dan aku... aku nggak akan biarkan orang yang aku cintai menderita."

"Kamu gila," bisik Khaerul.

"Atau aku setia." Isabelle berdiri—dan tiba-tiba atmosfer di ruangan berubah. Lampu-lampu berkedip. Musik berhenti. Dan semua orang di restoran—pelayan, tamu lain, bahkan chef di dapur—berhenti bergerak. Seperti waktu berhenti.

"Apa yang kamu—"

"Aku cuma mau bicara berdua denganmu tanpa gangguan." Isabelle berjalan mengelilingi meja—dan setiap langkahnya membuat lantai bergetar pelan. "Dan aku mau tawarkan deal, Khaerul. Deal yang akan menguntungkan kita berdua."

"Aku nggak akan bikin deal dengan—"

"Dengar dulu." Isabelle berhenti di belakang kursi Khaerul—tangannya menyentuh bahunya dan Khaerul merasakan dingin yang membekukan sampai ke tulang. "Aku tahu kamu dijadikan umpan. Aku tahu Mahira dan Zarvan ada di sini. Dengerin semua yang kita omongin. Tapi yang mereka nggak tahu adalah... aku punya kuasa untuk hentikan semua ini. Untuk bebaskan kamu dari kutukan."

"Bohong."

"Bukan bohong." Isabelle membisikkan sesuatu di telinga Khaerul—kata-kata dalam bahasa yang Khaerul nggak mengerti tapi somehow dia paham artinya. "Aku bisa putuskan koneksimu dengan jiwa Khalil. Bisa bikin kamu jadi Khaerul sepenuhnya. Nggak ada lagi bayangan masa lalu. Nggak ada lagi mimpi buruk. Nggak ada lagi rasa bersalah."

Khaerul menutup matanya. Tawaran itu... tawaran itu menggoda. Sangat menggoda.

"Tapi dengan syarat apa?"

"Syarat yang simple: jangan ikut ritual penebusan. Jangan tumpahkan darahmu untuk Khalil. Biarkan kutukan tetap berjalan. Dan kamu... kamu bebas."

Di meja sebelah, Mahira sudah berdiri—tapi tubuhnya nggak bisa bergerak. Dia terjebak dalam waktu yang berhenti. Hanya bisa liat dan dengar tapi nggak bisa bertindak. Zarvan sama—matanya melebar dengan panik tapi tubuhnya membeku.

"Dan kalau aku nolak?" tanya Khaerul.

"Maka aku akan pastikan kamu nggak sampai ke ritual itu. Dengan cara apapun." Suara Isabelle berubah—jadi lebih dalam, lebih tua. Bukan suara manusia lagi. "Aku akan bunuh kamu sebelum tanggal 17 Februari. Dan tanpa kamu, ritual nggak bisa dilakukan. Kutukan tetap aktif. Dan Mahira serta Zarvan akan tersiksa selamanya."

Keheningan.

"Aku kasih kamu waktu sampai besok malam untuk putuskan," kata Isabelle sambil kembali ke kursinya. Waktu tiba-tiba bergerak lagi—musik kembali, orang-orang kembali bergerak seolah nggak ada yang terjadi. "Dan ingat: ini bukan cuma soal kamu. Tapi soal semua orang yang kamu sayang. Pilih dengan bijak."

***

Setelah dinner dari neraka itu selesai, Khaerul langsung ditemui Mahira dan Zarvan di lobby hotel. Wajahnya pucat—tangannya gemetar saat menerima air mineral dari Mahira.

"Kalian denger semuanya?" tanyanya dengan suara serak.

"Denger." Zarvan mengangguk. "Tapi ada bagian yang... yang kayak muted. Seperti ada yang menghalangi transmisi. Apa yang dia bisikkan ke kamu?"

Khaerul menceritakan semuanya. Tentang tawaran. Tentang ancaman. Dan tentang deadline: besok malam.

"Jadi dia kasih kamu pilihan: hidup bebas dari kutukan tapi ninggalin kami, atau mati sebelum ritual," simpul Mahira dengan suara yang dipaksakan tenang meskipun dia ingin berteriak.

"Dan aku... aku nggak tahu harus pilih yang mana," akui Khaerul sambil menutup wajahnya dengan tangan. "Bagian dari aku—bagian yang lemah dan egois—ingin terima tawaran itu. Ingin bebas. Ingin nggak perlu menderita lagi. Tapi—" suaranya bergetar, "—tapi bagian yang lain nggak bisa ninggalin kalian. Nggak bisa ngebiarkan kalian tersiksa karena aku pengecut."

"Kamu nggak pengecut," kata Mahira sambil duduk di sampingnya. "Kamu manusia. Dan manusia punya hak untuk pilih keselamatannya sendiri. Aku nggak akan—kami nggak akan—menyalahkan kamu kalau kamu pilih untuk selamatkan dirimu."

"Tapi—"

"Tapi nggak ada tapi." Mahira menggenggam tangannya. "Apapun yang kamu putuskan, aku akan terima. Dan aku akan cari cara lain untuk putuskan kutukan ini. Cara yang nggak melibatkan kamu. Cara yang—"

"Nggak ada cara lain, Mahira." Khaerul menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu tahu itu. Alzena sudah bilang. Ini satu-satunya cara. Dan kalau aku mundur—kalau aku pengecut—maka semua usaha kalian sia-sia."

"Maka kita lawan Isabelle," kata Zarvan dengan suara keras yang bikin beberapa orang di lobby menoleh. "Kita nggak kasih dia kesempatan untuk bunuh kamu. Kita jaga kamu 24/7 sampai tanggal 17 Februari. Dan kalau dia coba apa-apa, kita hadapi dia. Bareng-bareng."

"Dia bisa hentikan waktu, Zarvan!" Khaerul hampir berteriak. "Dia punya kekuatan yang nggak kita punya! Gimana kita mau lawan—"

"Dengan ini." Mahira mengeluarkan Tasbih Cahaya dari sakunya. "Tasbih ini bereaksi sama kehadiran dia. Berarti tasbih ini bisa counter kekuatannya. Dan kita punya Keris Sulaiman. Kita punya Ustadz Hariz. Kita punya—" dia menarik napas, "—kita punya iman. Dan iman itu lebih kuat dari kekuatan apapun yang dia punya."

Khaerul menatap tasbih yang bercahaya lembut di tangan Mahira. Lalu dia menatap wajah sepupunya—wajah yang penuh determinasi meskipun dia juga pasti ketakutan.

"Oke," ucapnya akhirnya. "Oke. Aku nggak akan terima tawarannya. Aku akan tetap ikut ritual. Dan aku akan... aku akan lakukan apa yang harus dilakukan. Untuk kalian. Untuk keluarga. Untuk semua orang yang terikat kutukan ini."

"Terima kasih," bisik Mahira sambil memeluknya. "Terima kasih sudah memilih kami."

Tapi yang nggak mereka tahu—yang nggak bisa mereka lihat—adalah Isabelle berdiri di balik pilar lobby, tersenyum dengan senyum yang penuh kemenangan.

Karena dia tahu Khaerul akan pilih untuk tetap ikut ritual. Dan dia sudah siapkan Plan B.

Plan B yang akan membuat mereka semua menyesal.

 

**BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!