NovelToon NovelToon
Cinta Tak Selamanya Pahit, Marco!

Cinta Tak Selamanya Pahit, Marco!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Jantung Magnolia—atau lebih tepatnya Isabel—berhenti berdetak selama sekian milidetik. Udara di dalam ruang kerja mewah itu mendadak terasa ditarik habis.

Tatapan tajam Marco Maverick yang mengunci kacamata tebalnya sama sekali tidak mencerminkan pria konyol yang suka menyawer di TikTok. Sorot mata pria itu sedingin es, menguliti kebohongan Isabel lapis demi lapis hanya dalam satu kali pandang.

Sialan! umpat Isabel dalam hati. Pria ini bukan cuma jenius, matanya tajam seperti elang! Hugo benar-benar membuatkan kacamata murahan yang tidak masuk akal!

"Kacamata itu tidak ada minusnya sama sekali. Itu hanya kacamata pelindung radiasi biasa, kan?" tuduh Marco sekali lagi. Suara baritonnya bergema pelan namun sangat menuntut.

Otak Isabel berputar sejuta putaran per detik. Jika ia ketahuan berbohong di hari pertama, apalagi berbohong soal identitas, pria paranoid di depannya ini pasti akan langsung melemparkannya ke petugas keamanan. Isabel harus memikirkan jalan keluar yang sesuai dengan karakter 'Lia si gadis cupu'.

Dalam sekejap mata, Isabel menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya yang terbalut blazer kedodoran itu tiba-tiba bergetar pelan. Ia menggigit bibir bagian dalamnya keras-keras hingga matanya otomatis berair.

"Hiks... m-maafkan saya, Tuan Maverick..." cicit Isabel, suaranya sengaja dibuat pecah dan bergetar hebat. Sebuah isakan kecil yang terdengar sangat menyedihkan lolos dari bibirnya.

Mendengar suara isakan itu, aura mengintimidasi Marco langsung buyar seketika. Pria itu sedikit melebarkan matanya, terkejut melihat reaksi yang sama sekali tidak ia duga.

"Hah? K-kenapa kau menangis?" tanya Marco, nada suaranya berubah panik. Ia refleks mundur selangkah, menjauh dari Isabel seolah gadis itu adalah bom waktu yang sebentar lagi meledak.

Isabel terus menunduk, membiarkan satu tetes air mata buayanya mengalir turun dari balik kacamata tebalnya, menodai pipinya yang sudah dirias kusam.

"S-saya berbohong, Tuan... hiks... Ini memang kacamata murahan yang saya beli di pasar loak seharga dua puluh ribu rupiah," rutuk Isabel dengan nada merana, memainkan peran gadis miskin yang insecure. "S-saya tahu saya jelek, Tuan. Kulit saya kusam, rambut saya berantakan. Waktu wawancara kerja sebelumnya, orang-orang menolak saya karena mereka bilang wajah saya terlihat bodoh dan tidak meyakinkan..."

Marco mengerjap-ngerjapkan matanya, kebingungan menghadapi situasi melodramatis ini. "Lalu? Apa hubungannya dengan kacamata tanpa minus?!"

"J-jadi... saya pakai kacamata tebal ini, Tuan... hiks... s-supaya saya terlihat pintar seperti sekretaris-sekretaris di televisi! Saya pikir, kalau saya pakai kacamata tebal, Tuan tidak akan mengira saya bodoh meskipun wajah saya jelek!" tangis Isabel semakin menjadi, ia meremas ujung kemejanya dengan panik. "Tolong jangan pecat saya, Tuan! Saya sangat butuh pekerjaan ini untuk bayar uang kos dan mengirimi nenek saya di kampung... hiks... Saya janji akan bekerja keras siang dan malam!"

Kepanikan Marco langsung memuncak. Pria itu paling tidak bisa menghadapi wanita yang menangis, apalagi wanita yang menangis merana karena meratapi nasib malangnya. Itu membuat Marco merasa seperti monster yang baru saja menendang anak anjing.

"Astaga! Ya Tuhan, hentikan! Berhenti menangis!" seru Marco heboh, mengibaskan kedua tangannya di udara. Ia memutar tubuhnya, bingung harus mencari tisu di mana. "Hei, hei! Jangan menunduk terus, air matamu bisa menetes ke karpet Persia mahalku! Ya ampun, kepalaku langsung pusing!"

Isabel diam-diam tersenyum penuh kemenangan di balik kepalanya yang tertunduk. Berhasil. Pria ini memang jenius, tapi kelemahannya terlalu konyol.

"Oke, oke! Sudahlah!" Marco akhirnya mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Wajah konyol-nya kembali terpasang seiring dengan hilangnya rasa curiga di kepalanya. "Pakai saja kacamata anti-badai itu! Aku tidak peduli kau mau pakai kacamata las, kacamata kuda, atau helm motor sekalian di dalam kantorku, asal kau bisa membedakan mana laporan keuangan dan mana brosur pijat refleksi! Paham?!"

Isabel buru-buru mengangguk, mengusap air matanya dengan lengan blazer besarnya. "P-paham, Tuan. Terima kasih, Tuan..."

Tepat pada saat itu, pintu ruangan terbuka. Nyonya Brenda melangkah masuk membawa sebuah map berisi kontrak kerja. Langkah wanita sepuh itu terhenti saat melihat bos besarnya sedang mondar-mandir panik sambil memegangi kepala, sementara kandidat sekretarisnya sedang mengusap ingus.

"Apa yang Anda lakukan pada anak orang di hari pertamanya, Tuan Maverick?" tegur Nyonya Brenda dengan nada galak yang dingin. Mata di balik kacamata berantainya menatap Marco dengan tajam.

"Aku tidak melakukan apa-apa!" bantah Marco merana, menunjuk Lia dengan wajah memelas. "Dia menangis sendiri! Aku cuma tanya soal kacamatanya, dan dia tiba-tiba menangis sambil bercerita soal neneknya di kampung! Sumpah! Aku benar-benar tidak menindas dia, Nyonya Brenda."

Nyonya Brenda menyipitkan matanya seolah tak percaya. Sementara, Marco tampak menarik napas panjang.

"Cepat, mana kontraknya!" lanjut pria itu.

Nyonya Brenda menghela napas, menyodorkan map beserta sebuah pena.

Tanpa membaca isi kontrak itu sama sekali—sebuah bukti betapa Marco sangat mempercayai Nyonya Brenda atau mungkin hanya karena ia terlalu malas—pria itu membubuhkan tanda tangannya dengan cepat.

"Bawa dia keluar, Nyonya Brenda. Ajari dia apa pun yang perlu dia ketahui," usir Marco sambil mengembalikan map itu. Ia bergegas berjalan kembali ke arah tongkat golfnya yang tergeletak di lantai. "Kepalaku butuh pendinginan. Ayo bola golf sayang, kita lupakan ensiklopedia basah yang cengeng itu."

Nyonya Brenda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah absurd CEO-nya. Ia kemudian menatap Lia dan memberi isyarat dengan dagunya.

 "Ikut saya ke mejamu di luar, Magnolia."

Lia mengangguk patuh. Mengekor di belakang wanita tua itu, Lia meninggalkan ruangan besar tersebut.

Begitu pintu ganda itu tertutup rapat di belakang mereka, memisahkan ruangan CEO dengan area staf eksekutif, postur tubuh Isabel perlahan berubah. Bahunya yang tadinya melengkung ketakutan kini sedikit lebih tegap. Isakan tangisnya lenyap tak berbekas, digantikan oleh wajah datar yang dingin.

Nyonya Brenda mengarahkan Isabel menuju sebuah meja kerja elegan yang terletak tepat di luar ruangan Marco. Meja itu sangat strategis, berfungsi sebagai benteng terakhir sebelum siapa pun bisa menemui sang CEO.

"Duduklah," perintah Nyonya Brenda seraya meletakkan map kontrak dan sebuah kartu identitas karyawan di atas meja.

Isabel menarik kursi ergonomis itu dan duduk. Ia menghembuskan napas panjang, merapikan kacamata besarnya yang sedikit merosot. "Terima kasih, Nyonya Brenda. Tadi hampir saja jantungku copot dan melompat keluar."

Nyonya Brenda tidak langsung membalas. Wanita sepuh itu mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor eksekutif yang sepi. Setelah memastikan tidak ada staf lain yang berada dalam jarak dengar, Nyonya Brenda mencondongkan tubuhnya ke depan meja Isabel. Wajah galaknya berubah menjadi sangat serius.

"Tuan Maverick baru saja mengujimu dengan cara yang paling sederhana, Isabel," bisik Nyonya Brenda menggunakan nama asli gadis itu. Nada suaranya sangat rendah, namun penuh dengan penekanan absolut. "Kau harus tetap berhati-hati di ruangan ini. Kebohonganmu pasti akan terbongkar cepat atau lambat."

Isabel mengangkat wajahnya. Ia menarik selembar tisu dari kotak di atas meja dan menghapus sisa air mata buayanya dengan gerakan elegan yang sama sekali tidak cocok dengan pakaian kusamnya.

Bibir Isabel melengkung membentuk senyum percaya diri yang angkuh. "Tenang saja, Nyonya Brenda. Dia hanya curiga pada lensa kacamataku, dan aku sudah berhasil memanipulasinya dengan sedikit drama. Pria itu terlalu menghindari konflik emosional. Penyamaranku tak akan pernah terbongkar. Nyonya Brenda tak perlu khawatir."

"Kepercayaan dirimu itu bisa membunuhmu, Nona Ramsey," potong Nyonya Brenda tajam, matanya menyipit kritis di balik kacamata.

Isabel mendengus pelan, menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Aku ahlinya, Nyonya. Di rumah ku, aku sudah terbiasa memakai topeng kepatuhan setiap hari demi bertahan hidup. Memainkan peran gadis bodoh dan cupu di depan pria konyol seperti Marco Maverick bukanlah hal yang sulit."

Mendengar itu, Nyonya Brenda mengebrak meja perlahan, cukup untuk membuat Isabel tersentak dan kembali menatapnya.

"Jangan pernah meremehkannya," desis Nyonya Brenda, suaranya bergetar membawa peringatan yang kelam. "Marco Maverick bukan pria bodoh. Dia bukan ayahmu yang dengan mudah dibutakan oleh pesona ibumu. Dan dia jelas bukan pria hidung belang di luar sana yang otaknya hanya berisi nafsu."

Isabel terdiam, senyum angkuhnya perlahan luntur melihat betapa seriusnya mantan sekretaris ayahnya ini membela Marco.

"Di dunia ini, tidak ada penyamaran yang bisa lolos selamanya dari mata seorang Marco," tegas Nyonya Brenda, menatap lurus menembus kacamata tebal Isabel. "Ketajaman instingnya saat menganalisis kebohongan jauh di atas rata-rata. Hari ini dia mungkin membiarkanmu lolos karena dia benci melihat wanita menangis. Tapi esok, lusa, atau bulan depan? Satu kesalahan kecil darimu, satu refleks tubuh yang salah, dan dia akan langsung tahu siapa kau sebenarnya."

Isabel menelan ludah. "Kalau begitu... aku akan memastikan jika aku tidak akan pernah membuat kesalahan kecil itu."

Nyonya Brenda berdiri tegak, merapikan setelan abu-abunya. Namun sebelum ia berbalik untuk pergi mengurus berkas lain, ia menunduk menatap Isabel untuk yang terakhir kalinya. Sorot matanya memancarkan campuran antara rasa kasihan dan peringatan yang mengerikan.

"Jika hari itu tiba, Isabel..." suara Nyonya Brenda terdengar sangat berat, menyapu udara dingin di sekitar koridor itu. "Jika saatnya penyamaranmu ini benar-benar diketahui oleh Marco... kau harus bersiap menanggung konsekuensinya."

Isabel mengerutkan kening. "Konsekuensi? Dia akan memecatku?"

"Lebih buruk dari itu," jawab Nyonya Brenda pelan. "Marco benci pembohong. Dan, dia bisa menghancurkan siapapun tanpa pandang bulu."

Nyonya Brenda berbalik, melangkah pergi dengan ketukan sepatu pantofel yang berirama teratur, meninggalkan Isabel yang membeku di kursinya.

Kata-kata wanita sepuh itu terus terngiang, berputar-putar di dalam kepala Isabel. Menghancurkan tanpa pandang bulu? Isabel mengepalkan tangannya di atas meja. Ia sudah kepalang tanggung masuk ke dalam sarang serigala berbulu domba ini.

Kita lihat saja nanti, Tuan Maverick, batin Isabel menantang, meski setitik rasa takut mulai merayap di sudut hatinya. Permainan baru saja dimulai.

1
ryuka
ciieeee marcooooo 😍😍😍😍😍🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Muft Smoker
aaa tuan marcoo mulai nyaman niih ma sekertaris baruu ny🤭🤭🤭
ryuka
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau di colok liaaaa idung kamu 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Sastri Dalila
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
mau di colok tu hidung mu Lia 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
ryuka
👍👍👍👍/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Sastri Dalila
🤣🤣🤣💪💪
Sastri Dalila
👍👍👍
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
ryuka
🤣🤣😍🤣🤣 bagussss marco pecat aja itu ceewe parasittt itu
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Muft Smoker
mau jdi kutu rambut di hidup Marco yx Alana ,,
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
ryuka
lanjuuutttt thoooooerr
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
ryuka
eeeaaaa.. eeaaaaa...
Dew666
💝
Muft Smoker
dag dig dug nyeesss yx kalian 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😅😅😅
ryuka
ayooo semangattt marco & liiaaaaaa 🔥🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!