NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 - Persahabatan Diuji

Setelah kasus foto dan sidang kecil itu selesai, yang lain mungkin mengira semua kembali normal. Tapi di kamar 7 putri, tempat Muthi'ah, Dina, Zahra, dan Salsa tinggal, justru mulai panas.

Soalnya cara mereka membela Muthi'ah beda-beda sekali.

Hari Selasa sore, sehabis pelajaran, Muthi'ah lagi di perpus, mencoba mengejar hafalan yang tertinggal. Di kamar, tinggal Dina, Zahra, dan Salsa.

Awalnya ngobrol biasa, lalu jadi debat.

"Gue masih kesel sama Nadira. Cuma disuruh bersihin perpus sebulan? Harusnya diumumin di depan semua santri biar kapok," kata Salsa, masih dongkol sambil melipat mukena.

Dina langsung menyahut, "Iya, gue juga kesel. Tapi kalau diumumin, kasihan juga. Nanti dia dendam lagi sama Muthi'ah, gimana?"

Zahra yang lagi menulis refleksi menatap mereka, "Salsa, Dina, hukuman itu bukan untuk balas dendam. Ustazah Khadijah sudah benar. Nadira dikasih tugas khidmah biar dia belajar, bukan biar dia malu. Kalau dipermalukan, dia tidak akan belajar."

Salsa tidak terima, "Zahra, cara lu terlalu lembut buat gue! Kalau kita lembut terus, orang akan menginjak Muthi'ah terus. Kemarin saja Muthi'ah dijauhi pas makan, lu cuma bilang 'sabar'."

Zahra masih tenang, "Aku tidak bilang sabar terus, Salsa. Aku bilang bela dengan adab. Kemarin kamu buat status menyebut nama Nadira tanpa bukti, yang ada kamu hampir dihukum, Muthi'ah makin jadi omongan. Itu namanya membela tapi membuat masalah baru."

"Jadi menurut lu, cara gue salah? Jadi gue yang salah bela Muthi'ah?" Salsa mulai naik suaranya.

Dina di tengah-tengah, bingung, "Eh, eh, jangan berantem dong. Kita kan satu tim."

Muthi'ah yang baru pulang dari perpus membawa kitab, kaget melihat kamar tegang.

"Eh, kalian kenapa? Kok diam semua?" tanya Muthi'ah.

Tidak ada yang menjawab.

Muthi'ah menaruh kitab, duduk di tengah.

"Ada apa? Berantem ya?" tanya Muthi'ah lagi.

Salsa akhirnya meledak, "Muth, gue capek. Gue belain lu dengan cara gue, tapi Zahra bilang cara gue salah terus!"

Zahra juga tidak tahan, "Aku tidak bilang kamu salah total, Salsa. Aku hanya bilang caranya yang salah."

Dina hampir menangis, "Sudah dong, jangan berantem gara-gara Muthi'ah."

Muthi'ah mendengarkan semua. Selama ini, Muthi'ah selalu jadi yang dibela. Tapi dia tidak pernah bicara apa yang dia rasakan. Selalu diam.

Hari itu, entah dapat tenaga dari mana, Muthi'ah yang biasanya pendiam, yang suaranya tidak pernah lebih keras dari bisikan, mengepalkan ujung jilbabnya dan akhirnya berteriak.

"CUKUP!"

Satu kata itu membuat satu kamar kaget.

Muthi'ah berdiri, matanya merah, tangannya gemetar, tapi suaranya keras, jelas, untuk pertama kalinya.

"Aku tidak butuh kalian berkelahi untukku! Aku butuh kalian tetap di sampingku!"

Hening. Jam dinding terdengar detiknya.

Muthi'ah lanjut, dengan air mata yang akhirnya jatuh juga.

"Kalian tahu tidak rasanya jadi aku? Tiap hari takut. Terus melihat kalian, sahabat aku, yang selama ini menjaga aku, malah berantem gara-gara aku. Aku makin merasa bersalah! Salsa bela aku dengan cara Salsa, Zahra bela aku dengan cara Zahra, Dina bela aku dengan jadi penengah. Semua benar! Semua sayang sama aku! Tapi kalau kalian berantem, yang sakit itu aku!"

Salsa menunduk, menyesal. Zahra juga menunduk.

Dina langsung memeluk Muthi'ah, "Maaf, Muth. Maaf kita berantem."

Muthi'ah menangis di pelukan Dina, "Aku tidak butuh pembelaan yang paling keras atau yang paling bijak. Aku cuma butuh kalian ada. Duduk bareng aku pas makan sendirian. Duduk sebelah aku pas bangku aku dikosongkan. Itu saja sudah cukup."

Zahra maju, memeluk Muthi'ah juga dari samping, "Maaf, Muth. Aku terlalu fokus mikirin cara yang benar, sampai lupa kamu butuhnya ditemani, bukan dinasehati."

Salsa juga maju, mukanya sudah banjir air mata, padahal biasanya paling gengsi nangis.

"Gue juga minta maaf, Muth. Maaf gue terlalu emosi," kata Salsa sambil memeluk Muthi'ah dan Zahra dan Dina sekaligus.

Akhirnya mereka berempat pelukan di tengah kamar yang sempit itu. Pelukan yang berantakan.

Dina, di tengah pelukan, nyeletuk dengan suara masih nangis, "Sudah, sudah, jangan nangis lagi. Nanti mata kita bengkak semua, dikira habis di-bully juga."

Salsa tertawa sambil nangis, "Lu mah, Din, lagi haru gini aja masih sempat ngelawak."

Malam itu, mereka tidak langsung tidur. Mereka duduk melingkar di atas karpet kamar, makan indomie kuah bareng satu mangkok, rebutan sumpit. Tidak membicarakan gosip lagi. Membicarakan cita-cita. Dina ingin jadi MC kondang, Zahra ingin jadi penulis buku anak, Salsa ingin jadi pengacara yang membela orang lemah, Muthi'ah ingin jadi guru bahasa Arab dan kuliah ke Turki.

Persahabatan mereka malam itu diuji, retak sedikit, tapi malah jadi lebih kuat. Karena mereka akhirnya mengerti, membela teman itu tidak harus dengan cara yang sama. Ada yang membela dengan teriak, ada yang membela dengan tenang, ada yang membela dengan jadi penengah. Tapi yang paling penting, belanya tetap bersama-sama, tetap di samping.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!