Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun yang Sama
Jam dinding di ruang tamu berdetak pelan, dan setiap detiknya terasa seperti ketukan di kepala Rizal.
Sudah empat puluh menit. Kemeja batik biru tuanya sudah licin, sepatunya sudah mengilap, kunci mobil sudah berkali-kali ia putar di jari. Tapi pintu kamar itu tetap tertutup.
"Danti!" panggilnya. Tak ada sahutan.
Rizal mendengus, bangkit dari sofa, lalu melangkah ke kamar dengan hentakan kaki yang sengaja dikeraskan. Ia mendorong pintu tanpa mengetuk.
Istrinya berdiri di depan lemari yang terbuka lebar. Di atas ranjang, berserakan blus, rok, dan gaun-gaun yang ditarik lalu dibiarkan begitu saja. Danti memegang satu pakaian di depan dadanya, menatapnya lama seolah sedang membaca sesuatu yang tak ingin ia baca.
"Kamu ngapain sih dari tadi?" Suara Rizal naik. "Acaranya jam tujuh, dan ini udah hampir setengah tujuh! Cuma milih baju aja lama banget!"
Bahu Danti tersentak. Ia tak langsung menoleh.
"Bajunya... banyak yang nggak muat, Mas," jawabnya lirih. "Yang ini sempit di pinggang. Yang itu nggak bisa ditarik ke atas. Sejak aku ikut program kehamilan itu, badanku..."
"Ya ampun, alasan lagi." Rizal mengibaskan tangan. "Pakai apa aja yang penting cepat! Siapa juga yang lihat kamu di sana?"
Siapa juga yang lihat kamu.
Kalimat itu jatuh pelan di dada Danti, seperti kerikil ke dalam sumur yang dalam. Tidak ada bunyi, tapi ia tahu ia akan terus tenggelam.
Ia meletakkan pakaian di tangannya. Matanya menyapu isi lemari, lalu berhenti pada satu gaun hijau botol berpotongan longgar, dengan kain yang jatuh lembut dan tak menempel di perut. Gaun itu sudah entah berapa puluh kali ia pakai. Warnanya mulai pudar di bagian jahitan bahu. Tapi hanya gaun itu yang masih membuatnya bisa bernapas dengan nyaman.
Lima belas menit kemudian, Danti sudah selesai. Bedak tipis, lipstik warna mawar, rambut disanggul seadanya. Ia keluar dengan langkah hati-hati.
Rizal sedang menatap layar ponselnya. Ia mendongak, mengamati istrinya dari ujung kepala sampai kaki, lalu menghela napas panjang yang dibuat-buat.
"Hebat ya. Tiga puluh menit buat milih baju, ujung-ujungnya yang itu juga." Ia tersenyum miring. "Nggak ada bedanya sama sekali, Dan."
Danti terpaku di ambang pintu kamar. Jemarinya meremas ujung gaun. Ini bukan pertama kalinya. Bukan yang kedua, bukan pula yang kesepuluh. Kata-kata seperti ini sudah menjadi udara di rumah mereka, sesuatu yang dihirup setiap hari sampai ia hampir lupa bahwa udara bisa terasa lain.
Ia teringat dulu, saat Rizal menunggunya di depan rumah orang tuanya, lelaki itu akan berkata, "Nggak apa-apa, aku tunggu. Kamu cantik kalau lagi serius dandan."
Sekarang... ke mana lelaki itu pergi?
"Dan!" bentak Rizal. "Malah bengong! Mau berangkat apa nggak!"
"I-iya, Mas."
---
Perjalanan ke hotel ditelan sunyi. Lampu-lampu kota berkelebat di kaca jendela, dan Danti menyandarkan kepalanya di sana. Perutnya berbunyi pelan. Sejak pagi ia belum makan apa pun, dokter menyarankan ia menjaga jadwal minum obat. Tapi hari ini ia sibuk membereskan rumah, mencuci, lalu bingung soal baju. Ia menekan perutnya diam-diam, berharap suara itu tak terdengar.
Rizal sibuk menyetir sambil sesekali berdecak melihat jam.
Ballroom hotel itu gemerlap. Lampu kristal menggantung seperti hujan yang membeku, aroma bunga sedap malam bercampur wangi masakan menguar dari meja-meja prasmanan di sisi ruangan. Alunan musik akustik mengalun lembut.
"Rizal! Woy, lama banget!"
Segerombol pria melambai dari dekat panggung. Wajah Rizal seketika berubah, kerut kesal di dahinya lenyap, digantikan tawa lebar yang sudah lama tak Danti lihat di rumah mereka.
"Sorry, sorry, macet!" Rizal berlari kecil menghampiri mereka. Tangannya sudah menepuk bahu satu per satu, tertawa, bercanda, mengobrolkan kantor lama, klub futsal, dan hal-hal lain yang tak ada tempat untuk Danti di dalamnya.
Danti berdiri dua langkah di belakang suaminya. Menunggu dikenalkan. Menunggu dilirik.
Tapi tidak ada.
Ia mengulas senyum canggung pada tak seorang pun, lalu memilih melihat-lihat sekeliling. Di meja prasmanan, uap tipis naik dari semur daging dan sup asparagus. Perutnya kembali melilit.
"Sedikit saja," pikirnya. "Cuma sepotong kue atau segelas teh hangat. Biar ada yang dikerjakan."
Baru dua langkah ia beranjak, sebuah tangan mencengkeram pergelangannya.
"Mau ke mana?" desis Rizal, wajahnya masih menghadap teman-temannya, hanya suaranya yang menyelinap ke telinga Danti.
"Mau ambil makanan, Mas. Aku belum makan dari pagi."
"Jangan." Cengkeraman itu mengeras. "Nanti kamu ambil banyak. Aku malu, Dan. Di sini banyak orang kantor."
Danti menatap tangan suaminya, lalu wajahnya. Ada sesuatu di tenggorokannya yang tak bisa ditelan.
"Cuma sedikit, Mas..."
"Aku bilang jangan."
Rizal melepas tangannya, lalu kembali tertawa seolah tak ada apa-apa. Danti menarik tangannya ke depan perut, mengusap bekas cengkeraman itu, dan mundur perlahan.
"Eh, ini Danti, kan?"
Seorang perempuan berkebaya merah menyala menghampiri, rambutnya tertata sempurna, aroma parfumnya tajam. Vita, teman satu angkatan Rizal. Matanya turun-naik memindai tubuh Danti dengan keterusterangan yang tidak pernah repot disamarkan.
"Ya ampun, kamu tuh... beda banget ya sekarang." Ia terkekeh. "Terakhir ketemu kayaknya masih langsing deh. Kok jadi melar gini? Naik berapa kilo?"
Wajah Danti memanas. Ia membuka mulut, kalimat itu sudah di ujung lidah: "Aku sedang menjalani program kehamilan, Vit. Hormonnya..."
"Makannya kebanyakan, Vit," potong Rizal dari samping, nadanya ketus dan ringan sekaligus. Teman-temannya tertawa kecil. "Di rumah tuh ngemil terus."
Kalimat di lidah Danti mencair dan hilang.
Ia memandang suaminya. Rizal tidak membalas tatapannya. Lelaki itu menyesap minumannya, seolah apa yang ia ucapkan hanyalah komentar soal cuaca.
Danti menelan ludah. Di sekelilingnya, pesta pernikahan orang lain sedang berlangsung. Tidak boleh ada air mata di sini. Tidak boleh ada keributan. Hari ini bukan miliknya.
Ia memilih diam. Seperti biasa.
Vita menepuk lengannya, nadanya pura-pura peduli. "Dengerin ya, Dan. Perempuan tuh harus jaga badan. Kalau nggak, laki-laki gampang bosan, terus ya... kabur. Aku ngomong gini demi kebaikan kamu lho."
Danti mengangguk kecil.
Dalam hati, ia menunggu. Satu kalimat saja. "Udah, Vit." Atau "Dia lagi program hamil." Atau sekadar tatapan yang berkata aku di sini.
Rizal malah menoleh ke arah lain.
Seperti biasa.
Seperti selalu.
---
Tepuk tangan menggema. Sepasang pengantin melangkah di atas karpet merah, dan seisi ballroom menoleh.
Si pengantin wanita memang memukau. Gaun putih gading membalut tubuh rampingnya dengan sempurna, pinggangnya kecil, bahunya terbuka, kulitnya berkilau di bawah lampu. Ia tersenyum seperti seseorang yang tahu semua mata sedang tertuju padanya.
"Gila, cantik banget bininya Bayu," celetuk salah satu teman Rizal.
"Bukan cuma cantik. Badannya itu loh, semok parah!"
Gelak tawa pecah.
"Bener!" Rizal ikut menimpali, matanya berbinar. "Pinter banget Bayu cari istri. Body goals!"
Danti merasakan sesuatu retak di dalam dirinya. Pelan, nyaris tanpa suara, seperti kaca tipis yang akhirnya menyerah pada tekanan yang terlalu lama.
Rizal tak menoleh. Ia bahkan tak sadar bahwa di sebelahnya berdiri seorang perempuan yang baru saja dipermalukan. Lalu dibandingkan di depan umum, oleh lelaki yang berjanji menjaganya di depan penghulu enam tahun lalu.
Danti menatap pengantin wanita itu. Pinggangnya. Lengannya. Dagunya yang runcing. Lalu menunduk, menatap perutnya sendiri yang tertutup kain hijau pudar.
Ia teringat lemari di rumah. Foto-foto lamanya. Gaun-gaun yang dulu membuat Rizal berbisik, "Kamu bikin aku nggak bisa lihat yang lain."
Bibirnya bergerak. Suaranya begitu pelan hingga nyaris tertelan musik.
"Dulu... aku juga... nggak kalah seksi dari dia."
Tapi tak seorang pun mendengar.
Tak seorang pun, kecuali dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Danti bertanya dalam hati. Bukan pada Rizal, bukan pada Vita, tapi pada perempuan di dalam gaun hijau pudar itu...
"Sampai kapan kamu akan terus diam?"
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,