Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SOSOK PRIA DI KURSI RODA.
Pikiran ceroboh Inayah langsung bekerja seratus kali lebih cepat dari biasanya. Kursi roda? Sore-sore yang hampir gelap? Di ujung dermaga sepi? Tatapan kosong ke laut?
"Fix! Dia pasti mau bunuh diri!" gumam Inayah panik.
Tanpa berpikir panjang, Inayah menarik napas dalam-dalam lalu berlari kencang menerobos genangan air hujan. Masalahnya, Inayah lupa kalau ia sedang memakai sepatu flat shoes yang licin.
Sreeek... BUGK!
"Aduhh!"
Inayah terpeleset dan sukses mendarat telungkup di atas papan dermaga yang basah. Kerudung instan berwarna biru muda yang ia kenakan sejak pagi, yang kini sudah basah kuyup terkena hujan, mendadak merosot ke depan, menutup hampir seluruh wajahnya seperti hantu tiruan.
Pria di atas kursi roda itu, Abiyan Zimraan, perlahan menoleh. Alis tebalnya bertaut melihat gundukan kain basah yang baru saja tengkurap tak jauh dari posisinya.
Inayah dengan cepat bangkit, membetulkan jilbabnya yang miring ke kanan dan lecek seperti kerupuk tersiram air. Dengan napas terengah-engah dan muka belepotan sedikit lumpur dermaga, ia menerjang maju dan langsung memegang erat kedua pegangan kursi roda Abiyan, menahannya kuat-kuat.
"Mas! Jangan melompat! Istigfar, Mas, istigfar!" cerocos Inayah tanpa henti, suaranya yang nyaring mengalahkan suara deburan ombak. "Saya tahu hidup ini berat! Ditipu pacar itu sakit, dijadikan ATM berjalan itu nyesek banget! Tapi melompat ke laut magrib-magrib begini bukan solusi, Mas! Laut itu dingin, banyak ubur-ubur, kalau Mas tenggelam terus dimakan hiu gimana?! Mending Mas pulang, mandi air hangat, minum teh manis!"
Abiyan membatu. Pria berkemeja hitam rapi itu hanya menatap Inayah dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Rambut hitamnya yang sedikit basah tertata rapi, membingkai wajah tampannya yang tajam dengan rahang tegas. Meski berada di atas kursi roda, aura kebangsawanan dan ketenangannya terasa begitu dominan.
"Mas dengar saya tidak?!" Inayah menepuk bahu Abiyan agak keras karena panik. "Jangan menyerah sama hidup! Mas masih muda, muka Mas juga ganteng banget mirip aktor drama Korea! Sangat disayangkan kalau harus jadi makanan ikan!"
Abiyan menghela napas panjang. Ia perlahan mengangkat tangannya, menepis pelan tangan Inayah dari kursi rodanya.
"Sudah bicaramu?" suara Abiyan terdengar berat, dingin, dan begitu tenang.
Inayah berkedip beberapa kali, mengelap ujung hidungnya yang gatal dengan lengan kemejanya. "Lho, Mas tidak jadi melompat?"
Abiyan menatap Inayah dari ujung kepala sampai ujung kaki, menatap kerudung lusuh yang bentuknya sudah tak beraturan, kemeja basah yang ketempelan daun kering, dan wajah manis yang penuh sisa riasan luntur.
"Aku hanya sedang menikmati angin pantai, Gadis Gila," ujar Abiyan singkat dan datar. "Dan kursi roda ini punya rem otomatis. Aku tidak akan meluncur ke laut kecuali ada orang bodoh yang mendorongku dari belakang."
Inayah melongo. "Eh? Cuma... menikmati angin?"
"Ya."
"Bukan mau bunuh diri?"
"Tidak."
Suasana seketika menjadi sangat canggung. Angin pantai berhembus makin kencang, membuat ujung jilbab Inayah yang basah menampar pipinya sendiri dengan bunyi plak yang lumayan keras. Inayah meringis malu, menyadari betapa konyolnya ia saat ini.
"Oh... begitu ya. Yaa baguslah kalau tidak jadi," gumam Inayah sambil tertawa hambar, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur sejak dari rumah Pasya. "Saya cuma... cuma mau memastikan warga negara Indonesia tetap sejahtera dan tidak berkurang populasinya."
Inayah berbalik hendak kabur dari kepungan rasa malu. Namun, baru dua langkah menjauh, ponsel pintar di dalam tasnya mendadak berdering sangat keras. Lagu dangdut koplo yang ia pasang khusus untuk nada dering ibunya bergema nyaring di dermaga yang sepi itu.
Inayah merinding. Dengan tangan gemetar, ia merogoh tasnya dan menggeser tombol hijau. Sebelum sempat mengcapkan salam, suara teriakan ibunya langsung menyambar dari seberang telepon begitu keras hingga Abiyan yang berjarak dua meter pun bisa mendengarnya.
"INAYAH! Kamu di mana?! Katanya mau ke rumah Pasya untuk tentukan tanggal tunangan, tapi kenapa Ibu dapat telepon dari Ibunya Pasya kalau kamu menampar Pasya dan memutus semua fasilitas?! Kamu gila ya?!"
Inayah memejamkan mata erat-erat, memegang ponselnya agak jauh dari telinga. "Bu, dengarkan Inayah dulu. Pasya dan ibunya itu cuma mau manfaatkan uang Inayah..."
"Ibu tidak mau tahu!" potong ibunya tanpa ampun. "Pokoknya Ibu tidak mau tahu alasanmu! Bulan depan kamu harus menikah! Usiamu sudah dua puluh lima tahun, mau ditaruh di mana muka Ibu kalau kamu batal nikah sama Pasya?! Kalau kamu tidak mau kembali sama Pasya, besok Ibu jodohkan kamu sama Pak RT yang duda anak tiga itu!"
"Bu! Pak RT anaknya tiga, yang benar saja?!" teriak Inayah frustrasi.
"Makanya segera cari calon suami malam ini juga kalau tidak mau sama Pak RT! Ibu kasih waktu sampai besok!"
TUT... TUT... TUT...
Sambungan telepon diputus sepihak. Inayah membatu di tempatnya. Kepalanya serasa mau pecah. Dikhianati mantan, kehilangan uang, dan sekarang diancam dijodohkan dengan duda anak tiga.
Inayah berbalik perlahan. Matanya kembali menatap sosok Abiyan yang masih duduk tenang di kursi rodanya, memperhatikannya dengan sebelah alis terangkat.
Inayah menatap wajah tampan Abiyan yang memesona, lalu beralih menatap kursi roda besi di bawahnya. Pikiran ajaib dan nekat sang gadis jenius mendadak menyala terang seperti lampu bohlam seribu watt.
Tampan? Iya, sangat.
Bukan Pasya si parasit? Jelas.
Berkursi roda? Tidak masalah, yang penting tidak bikin darah tinggi!
Dengan langkah mantap dan tatapan mata penuh tekad yang berapi-api, meski kerudungnya masih lecek dan basah kuyup, Inayah berjalan mendekati Abiyan. Ia berlutut di sebelah kursi roda Abiyan agar tingginya sejajar, lalu menatap manik mata pria itu dalam-dalam.
"Mas," panggil Inayah serius.
Abiyan menatapnya curiga. "Apa lagi?"
"Mas punya calon istri tidak?"
"Tidak."
"Mas mau menyelamatkan hidup saya dari duda anak tiga?"
Abiyan menyulingkan senyum tipis yang terkesan sangat misterius. "Maksudmu?"
Inayah menarik napas panjang, lalu berucap dengan lantang dan tanpa ragu sedikit pun:
"Mas Tampan, ayo kita menikah besok!"