Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tit-tit-tit-tit. Tiitttt! Cklek!
Pintu apartemen mewah itu terdorong kasar. Napas Arga memburu, dadanya naik turun dengan ritme yang menyakitkan. Kemejanya berantakan dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Sepanjang jalan, ia memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, menerobos dua lampu merah, dengan jantung yang nyaris lepas dari tempatnya.
"Adel! Adel, kamu di mana?!" teriak Arga panik, berlari menyusuri lorong menuju kamar mandi. "Del! Jawab aku!"
Namun, langkah Arga terhenti mendadak saat ia berbelok ke ruang tengah.
Tidak ada darah. Tidak ada erangan kesakitan. Tidak ada tubuh yang tergeletak di lantai kamar mandi.
Di atas sofa beludru berwarna marun, Adelia duduk bersilang kaki dengan santai. Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra berwarna merah menyala, rambutnya di-roll rapi, dan wajahnya dipulas riasan yang sempurna. Di tangannya terdapat secangkir teh chamomile yang masih mengepulkan asap tipis.
Adelia menoleh, tersenyum manja melihat kehadiran Arga. "Mas Arga, akhirnya datang juga."
Udara di sekitar Arga seolah membeku. Kepanikannya menguap, berganti dengan kilatan amarah yang langsung mendidihkan darahnya. Ia melangkah maju dengan rahang mengeras.
"Apa-apaan ini, Del?" desis Arga, suaranya tertahan oleh emosi yang tertahan. Matanya menelisik seluruh tubuh Adelia. "Mana kepalamu yang berdarah? Mana luka yang kamu bilang parah itu?! Kamu bohong sama aku?!"
Senyum di bibir Adelia memudar. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kaca, lalu merengut manja. "Habisnya, Mas susah banget dihubungi dari kemarin! Pesanku cuma dibaca, teleponku nggak diangkat. Mas ke mana aja sih? Mas lebih milih menghabiskan waktu akhir pekan sama istri kontrak Mas itu daripada sama aku, kan?"
Arga mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu gila, Del?! Aku tadi lagi kumpul sama Papi, Mami, dan Kakek! Kakek punya penyakit jantung, dan aku berbohong pada mereka, meninggalkan rumah dengan alasan darurat pekerjaan, hanya karena aku takut kepalamu benar-benar bocor! Dan... kamu ternyata malah santai-santai di sini sambil minum teh?!"
"Ya maaf, Mas!" Nada suara Adelia tiba-tiba meninggi, tak terima dibentak. Namun sedetik kemudian, matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, dan air mata buatan pun luruh membasahi pipinya yang mulus. "Aku kan cuma kangen sama Mas. Aku takut... aku ketakutan Mas pelan-pelan mulai jatuh cinta sama perempuan kampung itu. Mas udah mulai berubah. Mas udah nggak sayang sama Adel lagi..."
Adelia menutupi wajahnya, terisak histeris.
Melihat bahu Adelia yang bergetar dan mendengar tangisannya, pertahanan amarah Arga perlahan runtuh. Pria itu menghela napas panjang dan berat. Kepalanya kembali dipenuhi rasa bersalah. Ia memang mengabaikan Adelia seharian kemarin karena terlalu kalut memikirkan kematian orang tua Nisa dan perceraiannya.
Arga berjalan mendekat, lalu duduk di tepi sofa. Ia menarik Adelia ke dalam pelukannya, meski entah mengapa, pelukan ini terasa begitu hampa jika dibandingkan dengan pelukannya pada Nisa di kafe kemarin.
"Sst... sudah. Jangan menangis lagi," bisik Arga, mengusap punggung Adelia dengan kaku. "Aku cuma lagi pusing sama banyak masalah. Jangan melakukan hal konyol seperti ini lagi, Del. Jantungku hampir copot rasanya."
Adelia mendongak, menyeka air matanya sambil menatap mata Arga dengan binar penuh harap. "Mas beneran nggak marah sama Adel?"
"Iya, aku nggak marah."
"Kalau begitu..." Adelia merogoh ponselnya di atas meja, membuka sebuah foto, lalu menyodorkannya ke hadapan Arga. Matanya kini berbinar licik. "Sebagai tanda permintaan maaf karena udah bikin Mas panik, dan sebagai bukti kalau Mas masih sayang sama Adel... Mas temani Adel beli ini, ya? Boleh ya, Mas?"
Arga menatap layar ponsel itu. Sebuah kalung berlian keluaran terbaru dari butik perhiasan ternama, dengan liontin berbentuk angsa yang dipenuhi berlian utuh. Harganya pasti tidak main-main.
Arga menelan ludah. "Kalung berlian?"
"Iya! Aku udah incar ini dari bulan lalu, Mas," rengek Adelia, memeluk lengan Arga dengan erat, menduselkan wajahnya ke bahu pria itu. "Teman-teman sosialitaku udah pada punya edisi terbarunya. Aku malu kalau kumpul nggak pakai perhiasan baru. Ya, Mas? Belikan untukku ya? Mas kan direktur, uang segitu pasti cuma receh buat Mas."
Arga memejamkan matanya sejenak. Jika ini yang bisa membuat Adelia berhenti merengek dan memberikannya sedikit ketenangan, ia akan melakukannya.
"Baiklah. Siap-siap, kita ke mal sekarang."
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit butik perhiasan itu memantulkan cahaya yang menyilaukan mata. Di depan etalase kaca yang memajang koleksi perhiasan ratusan juta, Adelia sibuk mematut dirinya di depan cermin kecil.
"Bagaimana, Mas? Cantik, kan?" tanya Adelia semringah, menyentuh liontin angsa bertahtakan berlian murni yang kini melingkar di leher jenjangnya.
"Ya. Sangat cocok untukmu," jawab Arga seadanya.
"Mbak, saya ambil yang ini ya!" seru Adelia girang pada pegawai toko berseragam hitam elegan di hadapannya. Adelia lalu menoleh pada Arga. "Mas, aku mau lihat-lihat cincin di sebelah sana sebentar ya. Siapa tahu ada yang matching sama kalungnya."
Tanpa menunggu persetujuan Arga, Adelia berlari kecil ke ujung ruangan yang lain, benar-benar buta oleh kilauan kemewahan.
Arga hanya mengangguk pelan, berniat mengeluarkan kartu hitamnya. Namun, saat tatapannya tak sengaja menyapu deretan perhiasan di etalase sebelah kanan, tubuh pria itu mendadak kaku.
Napas Arga tercekat. Matanya terpaku pada sebuah kalung emas putih yang sangat sederhana. Liontinnya hanya berupa batu sapphire biru berbentuk tetesan air mata yang ukurannya bahkan tak lebih besar dari kuku kelingking, dikelilingi permata-permata kecil.
Kalung itu...
Kenangan yang sangat menyakitkan tiba-tiba menghantam kepala Arga bagaikan palu godam.
Enam bulan yang lalu. Tepat di malam hari ulang tahun Nisa. Wanita itu menunggunya pulang hingga larut malam. Nisa menyambutnya dengan senyum malu-malu, menaruh secangkir teh di atas meja, lalu menyodorkan sebuah brosur perhiasan yang ia dapatkan dari majalah.
"Mas... besok hari ulang tahunku," ucap Nisa saat itu, suaranya sangat pelan dan ragu-ragu. Jari telunjuknya menunjuk tepat pada gambar kalung berliontin sapphire biru itu. "Aku kan belum pernah minta apa-apa dari kamu semenjak kita menikah. Tapi... boleh nggak kali ini aku minta hadiah? Kalung ini... warnanya ingetin aku sama laut. Boleh nggak, Mas?"
Dan apa yang Arga lakukan malam itu?
Arga menepis brosur itu hingga jatuh ke lantai. Ia menatap istrinya dengan tatapan merendahkan.
"Kamu pikir aku mesin ATM? Matre sekali kamu," maki Arga malam itu, suaranya dingin dan kejam. "Perjodohan konyol ini nggak lantas membuat kamu berhak menguras hartaku, Nisa. Beli aja sendiri kalau kamu mau! Keluargamu kan juga punya uang."
Nisa memungut brosur itu dengan tangan gemetar. Ia tidak menangis, hanya tersenyum getir dan meminta maaf berkali-kali sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi, mengunci dirinya berjam-jam.
Arga mencengkeram tepi etalase kaca dengan kuat. Dadanya sesak bukan main. Rasa bersalah yang teramat besar kini mencekiknya tanpa ampun. Ia membelikan Adelia kalung seharga seratus lima puluh juta tanpa berpikir dua kali, sementara ia mengatai istrinya sendiri matre hanya karena meminta kalung yang harganya tak sampai sepersepuluh dari milik Adelia.
Pria brengsek macam apa dirinya ini?
Dengan tangan bergetar, Arga menoleh ke arah pegawai toko yang berdiri di belakang etalase. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, memastikan Adelia masih sibuk di ujung ruangan.
"Mbak," panggil Arga dengan suara serak setengah berbisik.
Pegawai wanita itu tersenyum ramah. "Iya, Bapak. Ada yang bisa dibantu? Untuk pembayaran kalung yang tadi—"
"Tolong ambilkan kalung sapphire biru itu," sela Arga cepat, menunjuk ke arah kalung yang dulu diimpikan Nisa. "Tolong bungkus yang ini juga. Tapi ingat, bungkus secara terpisah, dan diam-diam."
Pegawai toko itu mengernyitkan dahi sejenak, menatap kalung yang ditunjuk Arga, lalu melirik ke arah Adelia yang masih mematut diri di kejauhan. Sebuah senyum penuh arti perlahan terbit di wajah pegawai itu.
"Oh, baik, Pak. Mengerti," ucap pegawai itu setengah berbisik, mengambil kalung tersebut dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam kotak beludru merah berukuran kecil. Ia menyelipkan kotak itu ke dalam tas belanja kecil berwarna hitam.
"Tolong, jangan sampai perempuan itu tahu," tegas Arga sekali lagi, melirik cemas ke arah Adelia. Ia ingin memberikan kalung ini pada Nisa. Sebagai permintaan maaf. Sebagai penebus dosanya enam bulan yang lalu.
Pegawai toko itu mengangguk takzim. Sambil memproses kartu kredit Arga di mesin EDC, ia tersenyum ramah dan berkata dengan nada memaklumi, "Tenang saja, Pak. Kami sudah biasa menangani masalah seperti ini. Bapak pasti tidak mau ketahuan istri Bapak, kan?"
Arga tertegun. Matanya membelalak.
Pegawai ini mengira Adelia adalah istrinya yang sah, dan kalung sapphire yang ia beli diam-diam ini adalah hadiah untuk wanita simpanannya. Betapa hancurnya ironi yang menghantam wajah Arga saat ini. Kebenarannya adalah kebalikan mutlak dari tebakan pegawai itu.
"Mbak, tunggu, Anda salah paham," Arga membuka mulutnya, merasa perlu meluruskan ego dan harga dirinya. "Dia bukan—"
Namun, sebelum Arga sempat menyelesaikan kalimatnya, pegawai itu sudah menyerahkan kembali kartu kredit dan kantong belanja kecil tersebut ke tangan Arga dengan kedipan mata rahasia, lalu buru-buru berbalik pergi menuju kasir utama untuk mengambil sertifikat kalung Adelia.
Arga berdiri mematung. Kata-katanya menggantung di udara. Ia menatap kotak kecil di dalam tas belanja itu dengan pandangan nanar. Hatinya menjerit pilu.
Ia ingin berteriak bahwa wanita yang sedang tertawa manja di sudut sana bukanlah istrinya. Ia ingin mengatakan bahwa istrinya yang sesungguhnya adalah wanita berhati malaikat yang kini tengah hidup menderita karena keegoisannya.
Tapi apa gunanya? Bagi dunia, dan bagi Nisa sendiri... Arga hanyalah seorang pria bajingan yang mungkin telah membuang berlian demi sebuah batu kerikil.
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga