Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETUKAN PINTU
Langkah-langkah itu tidak bergegas. Mereka menyebar, pelan, profesional. Bukan langkah preman seperti anak buah Rudi di gudang. Ini langkah orang yang tahu gang sempit ini punya tiga jalan keluar dan semuanya harus dijaga.
Laras menggendong Kenzo yang baru bangun. Vania berdiri di ambang kamar, wajahnya pucat, satu tangan memegang perutnya.
Bu Tuti meletakkan tas kain berisi map di bawah ranjang, menutupnya dengan sarung bantal lusuh.
Sumi mematikan kompor. Tangannya gemetar, tapi gerakannya cekatan — seperti perempuan yang sudah puluhan tahun mematikan kompor saat ada tamu tak diundang.
Ketukan di pagar.
Tiga kali. Sopan. Terlalu sopan.
"Bu Sumi? Kami dari Kejaksaan. Ada yang perlu kami tanyakan soal Bu Tuti Hartinah."
Suara laki-laki muda, jernih, terlatih. Laras mengenali nada itu — nada petugas yang sama yang tadi berjaga di ujung gang.
Sumi menatap Laras. Laras menggeleng pelan.
"Sebentar, Nak," jawab Sumi dengan suara yang dibuat mengantuk. "Ibu pakai kerudung dulu."
Ia memberi isyarat dengan mata ke arah pintu belakang. Pintu dapur yang tembus ke kebun jambu, lalu ke gang kecil menuju musholla.
Bu Tuti berbisik, suaranya hampir tak terdengar, "Tas itu. Bawa."
Laras mengambil tas kain itu. Berat. Di dalamnya, selain map cokelat tebal, ada sesuatu yang keras dan dingin menyentuh punggung tangannya melalui kain.
Kotak besi kecil.
Jantungnya berhenti. Kotak besi kecil berkunci dari loker 27 — yang sejak Bab 9 ia simpan di dalam tas dokumen dan hampir terlupakan di tengah darah dan sirene. Dimas bilang kuncinya ada di rumah ibu. Dan sekarang kotak itu ada di sini, di dalam tas yang sama dengan map bukti.
"Bu..." bisiknya.
"Nanti," potong Bu Tuti. "Di dalam kotak itu ada yang harus Reza dengar duluan. Bukan kamu."
Ketukan kedua, lebih keras.
"Bu Sumi? Kami mohon kerjasamanya."
Dari jendela dapur, Laras melihat bayangan dua petugas yang tadi ditarik pulang — bukan. Ini orang lain. Rompi hitam tanpa tulisan, celana taktis, sepatu yang sama dengan yang menyerbu gudang tujuh.
Bukan tim Hendarto.
Vania menarik lengan Laras. "Mbak, Kenzo."
Kenzo menempel di leher Laras, napasnya hangat. "Mama, ada orang jahat lagi ya?"
"Nggak, Sayang. Ada tamu."
Sumi membuka pintu depan sedikit, hanya selebar wajah.
"Maaf, Pak. Ada apa malam-malam begini?"
"Maaf mengganggu, Bu. Kami dapat informasi Bu Tuti Hartinah bersembunyi di sini. Beliau saksi penting kasus kecelakaan 11 tahun lalu. Kami perlu bawa beliau untuk perlindungan."
Sopan. Kalimat yang sempurna.
Sumi mengangguk. "Bu Tuti memang pernah ke sini. Tapi sudah pulang dua hari lalu. Coba cek rumah hijaunya di kota tua."
Di dalam, Bu Tuti menatap Laras dan menggeleng. Jangan.
"Bu Sumi, boleh kami masuk sebentar? Hanya untuk memastikan."
"Rumah saya kecil, Pak. Anak saya habis melahirkan, cucu saya tidur. Nggak enak kalau ramai."
Hening. Laras mendengar bisikan radio: "Periksa belakang."
Itu tandanya.
Laras menarik Bu Tuti dan Vania, menggendong Kenzo, menyelinap lewat pintu dapur. Kaki mereka menginjak tanah basah kebun jambu. Embun dingin merembes ke sandal.
Di ujung kebun, ada pintu seng kecil yang sudah berkarat. Sumi sengaja tidak pernah menggemboknya — "buat kucing lewat", katanya dulu. Laras mendorongnya, engselnya berderit pelan.
Mereka merunduk keluar ke gang musholla, tepat saat senter menyapu kebun dari arah depan.
"Di belakang ada gerakan!" teriak seseorang.
"Tetap di depan! Jangan masuk tanpa perintah!"
Mereka berlari kecil — Vania tertatih, Bu Tuti bertumpu tongkat tapi langkahnya mantap, Laras gendong Kenzo.
Di ujung gang musholla, Mira sudah menunggu dengan mobil menyala, lampu mati.
"Masuk! Cepat!"
Mereka masuk. Mira tancap gas tanpa tanya, melewati jalan tikus yang hanya diketahui warga lama.
Dari kaca spion, Laras melihat tiga mobil hitam berhenti di depan rumah ibunya, lampu strobo biru-merah menyala pelan, tidak meraung.
Sumi berdiri sendirian di teras, kedua tangan disilangkan di depan dada, menghalangi pintu.
Di pangkuan Laras, tas kain bergetar. Kotak besi kecil di dalamnya berdenting pelan, seperti jantung kedua.
"Mbak," bisik Vania, napasnya terengah, "kotak itu apa?"
Laras belum menjawab. Matanya menatap Bu Tuti yang duduk di jok depan, memegang tongkat erat.
"Bu," katanya pelan, "kunci kotak itu. Ibu tahu di mana?"
Bu Tuti menoleh, menatapnya lewat kaca spion. Senyumnya tipis.
"Kuncinya bukan benda, Nak," katanya. "Kuncinya orang."
"Siapa?"
"Reza."