Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia di Balik Kegelapan
Pagi itu, aku terbangun dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi rasa cemas yang menggerogoti, hanya kerinduan yang lembut, seperti melodi yang terus berputar pelan di kepala. Aku meraih jurnal kecilku, membuka halaman tempat kelopak bunga hitam itu tersimpan. Masih indah, masih berkilau perak, meski di sudutnya masih ada samar pudar yang belum hilang sepenuhnya.
"Pagi, sahabatku," bisikku pada kelopak itu, menyentuhnya pelan. "Semoga Orion sudah merasa lebih baik hari ini."
Di kampus, Dinda sudah menungguku di gerbang. Wajahnya masih sedikit cemas, tapi senyumnya lebih tulus kemarin.
"Bagaimana tidurmu?" tanyanya saat kami berjalan menuju kelas.
"Tenang," jawabku jujur. "Pertama kalinya aku tidur tanpa bermimpi buruk."
"Itu kabar baik," Dinda tersenyum. "Tapi Aruna... aku berpikir semalaman. Tentang tempat asal Orion. Kalau ayahnya begitu berbahaya, dan makhluk-makhluk itu sudah mulai berani muncul... mungkin kita harus mencari tahu lebih banyak. Bukan sekadar menunggu."
Aku mengangguk setuju. "Aku juga berpikir begitu. Di perpustakaan kota ada bagian naskah kuno yang jarang dibuka. Mungkin di sana ada catatan tentang perbatasan dua dunia, tentang Valdris... tentang cara melindungi diri dari mereka."
"Bagus. Sore ini kita ke sana setelah kelas selesai."
Sore itu, alih-alih langsung ke jalan setapak, kami menyusuri lorong berdebu di perpustakaan tua kota. Ruangannya sepi, berbau kertas tua dan kayu jati, cahayanya remang-remang dari jendela-jendela tinggi yang tertutup tirai tebal. Kami mencari satu per satu naskah yang tertulis tangan, halaman-halamannya sudah menguning dan rapuh.
"Aruna, kemari," panggil Dinda pelan dari sudut ruangan. "Lihat ini."
Aku menghampirinya. Di tangannya ada naskah kulit yang sudah keras, tulisannya dalam huruf kuno yang sulit dibaca, tapi ada bagian yang ditandai dengan tinta samar: "Pangeran yang memilih cahaya akan dikutuk ke perbatasan, tempat ia takkan punya rumah di mana pun. Namun jika cahaya itu membalas cintanya, ikatan itu menjadi perisai yang tak bisa dihancurkan oleh kekuatan kegelapan mana pun."
Jantungku berdebar kencang. "Itu... tentang Orion?"
"Sepertinya begitu," Dinda menatapku lekat. "Dan lihat bagian ini." Ia menunjuk baris di bawahnya: "Tapi perisai itu juga menarik perhatian. Semakin kuat ikatannya, semakin cepat penguasa kegelapan menemukan jejaknya."
Aku terdiam. "Jadi... semakin kami saling mencintai, semakin berbahaya keadaannya?"
"Begitulah bunyinya," Dinda menutup naskah itu pelan, seolah takut kata-katanya terbang ke mana-mana. "Aruna... maksudku... mungkin kalian harus... menjaga jarak?"
Aku menggeleng perlahan, meski hatiku terasa perih. "Itu bukan solusinya, Dinda. Kalau kami menjauh, dia tetap terluka sendirian. Kalau kami dekat, bahaya datang. Tapi setidaknya kalau kami bersama, kami bisa menghadapinya berdua."
Dinda menghela napas panjang, menyadari tak bisa mengubah pikiranku. "Baiklah. Tapi berjanjilah padaku: jika kau merasa terdesak, kau panggil aku. Aku tidak peduli seberapa hebat atau mistis bahayanya, aku tetap akan datang."
Aku tersenyum, merangkul bahunya. "Aku janji."
Sore itu, aku berjalan lebih cepat dari biasanya menuju tempat pertemuan kami. Kabut tipis sudah mulai turun, melayang pelan di antara pepohonan. Saat aku sampai di bawah pohon besar itu, Orion sudah ada di sana. Lukanya sudah jauh lebih baik—tubuhnya tegak kembali, wajahnya lebih cerah, meski matanya masih menyimpan jejak kelelahan.
"Kau datang," ucapnya, suaranya terdengar lega.
"Kau sudah lebih baik," jawabku tersenyum lebar, mendekat tanpa ragu.
"Kehadiranmu adalah obat terbaik," katanya sambil menyambutku, tangannya menggenggam tanganku erat. "Aku merasakanmu sejak kau masih jauh. Cahayamu terang sekali hari ini."
Aku menceritakan apa yang kami temukan di perpustakaan. Dia mendengarkan dengan tenang, meski sesekali mengerutkan kening saat membaca bagian tentang perisai yang sekaligus menarik bahaya.
"Jadi memang begitu," gumamnya setelah selesai. "Ikatan kita... bukan hanya milik kita. Dunia lain juga merasakannya."
"Apakah kau menyesal?" tanyaku pelan, takut mendengar jawabannya.
Dia menatapku dalam-dalam, lalu mengusap ujung jarinya di pipiku. "Menyesal? Tidak. Ribuan tahun aku hidup tanpa makna. Sekarang aku punya alasan untuk bertahan, untuk berjuang. Meski harganya mahal, aku rela membayarnya."
"Kita akan mencari cara, Orion. Kita akan menemukan jalan agar kita bisa bersama tanpa terus-menerus takut."
Dia tersenyum sedih. "Tidak ada jalan yang mudah, Aruna. Tapi ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Jika kau berani."
"Ke mana?"
"Ke perbatasan yang lebih dalam. Tempat di mana cahayamu bisa bersentuhan langsung dengan duniku. Hanya sebentar, sebelum matahari benar-benar hilang."
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk mantap. "Aku ikut."
Orion menggenggam tanganku erat, lalu mengajakku berjalan menyusuri jalur yang belum pernah kulewati sebelumnya. Semakin jauh kami masuk, semakin aneh suasana di sekelilingku. Pohon-pohonnya masih sama, tapi bayangannya terasa lebih hidup, bergerak pelan seolah menyapa kami. Udara lebih dingin, tapi tidak menyakitkan—sejuk dan menyegarkan. Dan di kejauhan, ada cahaya samar yang bukan dari matahari maupun bulan—berwarna keemasan lembut yang memancar dari balik kabut.
"Itu apa?" bisikku.
"Sumber cahaya di duniku," jawabnya pelan. "Bukan matahari, tapi ingatan-ingatan indah yang terkumpul menjadi satu."
Kami berhenti di tepi sebuah lembah yang tersembunyi. Di bawah sana, kabut berkilauan, dan di antara kabut itu terlihat bayangan bangunan-bangunan yang indah namun suram—menara-menara tinggi, jembatan yang melayang, sungai yang airnya tampak berkilauan seperti debu bintang.
"Ini... duniamu?" tanyaku takjub.
"Bagian tepinya saja," jawabnya pelan. "Di sana tempatku dibesarkan, sebelum dikutuk ke perbatasan. Tempat yang dulu aku inginkan kekuasaannya... sampai aku sadar, tidak ada kekuasaan yang sebanding dengan satu detik kebersamaan dengan seseorang yang dicintai."
Dia menunjuk ke sebuah menara yang berdiri sendirian di kejauhan. "Dulu aku sering berdiri di sana, menatap ke arah duniamu. Tidak pernah berharap bisa melangkah masuk. Sampai kau muncul."
Aku mendekatkan kepalanya ke bahunya. "Suatu hari nanti, kita akan berjalan bersama di sana. Di duniamu. Di tempat mana pun yang kau pilih."
Dia mencium keningku lembut. "Kau membuatku berani berharap lagi, Aruna. Itu anugerah terindah yang pernah kuterima."
Kami berdiri berdua di sana, memandang dunia yang indah sekaligus kesepian itu, berjanji dalam hati bahwa tak ada yang bisa memisahkan kami—bukan perbedaan dunia, bukan kutukan, bukan bahkan penguasa kegelapan sendiri.