Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Bella yang masih berada di dalam mobil, dengan beberapa orang anak buah ayahnya menuju ke villa.
Saat ini Bella sedang bicara dengan Zayn, Zayn melakukan video call dengannya. Niatnya apalagi? tentu saja ingin mencari simpati dari istrinya itu.
[Sayang, aku berkelahi dengan Bima. Sayang, percayalah aku di pihak mu dan Kinan. Aku juga tidak suka pria brengsekk seperti Bima]
"Kalau kamu suka dia, itu artinya kamu tidak normal!"
Bella masih membalas ucapan Zayn dengan ketus.
Di layar ponsel Bella, Zayn terus menunjukkan wajah memelas.
[Sayang, bukan begitu. Aku hanya mencintai mu. Orang yang kamu benci, artinya orang itu juga tidak aku sukai. Sayang, bolehkah aku pulang. Aku sungguh butuh di rawat olehmu. Aku merindukan mu, merindukan Sasha, aku boleh pulang ya? ya?]
Zayn terdengar seperti sangat berusaha untuk membujuk Bella.
"Aku masih kesal, tidak usah pulang. Kalau sudah tidak ada yang mau kamu katakan lagi. Aku tutup teleponnya, aku mau jemput Kinan!"
[Sayang!]
Sela Zayn dengan wajah panik.
[Kamu sudah tahu dimana Kinan?]
"Sudah, di villa barat kota!"
[Sayang, aku akan menyusul mu. Pria brengsekk itu, tidak akan aku biarkan menyakitimu!]
Terdengar begitu perhatian kan? tapi ucapan Zayn itu malah membuat Bella ingin tertawa. Zayn bilang akan menyusul karena tidak akan membiarkan Bella terluka. Lah, sekarang saja pria itu sudah babak belur.
"Tidak perlu, aku sudah bawa dua mobil anak buah ayahku. Lagipula keluargamu masih ada kerja sama dengan Dirgantara grup. Aku tidak akan melibatkan Keluarga Rudiaksa. Ini antara Bima dan aku!"
[Tapi sayang...]
Bella tidak mau bicara lagi, dia segera memutuskan panggilan telepon itu.
Dan di tempatnya berada, Zayn tampaknya sangat khawatir. Begitu panggilan videonya di putuskan oleh Bella. Zayn segera mengambil kunci mobil dan pergi dari ruangannya.
"Tuan, ini kompresnya..."
"Lupakan saja, aku harus menyelamatkan istriku!"
Namira yang membawa kompres dingin terdiam ditempatnya.
"Menyelamatkan istri? memangnya nyonya butuh perlindungan tuan?" gumamnya bingung.
Karena Namira adalah sekertaris Zayn, dia tentu saja tahu kalau selama ini bahkan Bella itu lebih tegas dan lebih bisa menjaga diri sendiri daripada Zayn. Makanya dia bengong, ketika Zayn bicara begitu. Karena biasanya, Bella yang lebih banyak menyelamatkan Zayn.
Di perusahaan Dirgantara sendiri. Leo yang sudah menutup akses yang bisa di tutup masih menunggu Bima keluar dari ruangan meeting.
Itu meeting penting, tidak boleh ada yang menganggu. Bahkan Leo saja tidak ikut masuk ke dalam. Dan ponsel Bima juga di tinggalkan di ruangannya.
Begitu meeting selesai, dan Bima sudah bersalaman dengan para klien. Leo baru mendekati Bima.
"Tuan"
"Ada apa?"
"Komputer di villa, sepertinya diakses oleh nyonya!"
Bima mendengus kasar.
"Dia pasti kirim alamatnya pada Bella..."
"Tuan, bukan itu saja!" sela Leo yang memang sudah sangat panik sejak tadi.
"Katakan!"
"Sepertinya file data transfer bank dari rekening pribadi tuan ke rekening pribadi milik nona Agnes, diretas oleh nyonya. Juga dikirimkan ke email nyonya Bella!"
Bima melebarkan matanya. Jelas hal seperti itu tidak akan berakibat baik pada akhirnya.
"Siapkan mobil, kita ke sana sekarang. Katakan pada semua penjaga. Jangan biarkan siapapun masuk ke villa itu. Jangan biarkan Kinan pergi!"
"Baik tuan"
Bima berlari ke arah lift. Begitu pula dengan Leo. Pria itu sudah menghubungi supir untuk menyiapkan mobil. Setelah berada di dalam mobil, Leo juga menghubungi penjaga villa. Agar tidak memperbolehkan siapapun masuk ke area villa. Apalagi sampai membawa Kinan pergi dari sana.
Bima terlihat begitu gelisah. Tangannya terkepal kuat, wajahnya tampak cemas.
'Kinan, apa yang mau kamu lakukan?' batin Bima yang merasa kalau Kinan sedang merencanakan untuk melakukan sesuatu yang akan sangat bertentangan dengannya.
Sementara itu di villa, kepala pelayan masih terus berusaha membujuk Kinan untuk makan.
"Nyonya, tadi nyonya bilang. Kalau saya mengijinkan nyonya masuk ke ruang kerja, nyonya akan makan" kata pelayan itu.
Kinan juga tidak bermaksud menyulitkan pelayan itu. Hanya saja, dia benar-benar tidak ingin makan apapun lagi yang asalnya dari uang suaminya itu. Melihat makanan itu saja, rasanya seperti melihat duri. Dia tidak akan kenyang kalau memakannya, yang ada Kinan hanya akan merasa tenggorokan dan perutnya bertambah sakit.
"Aku tiba-tiba hilang selera!" jawab Kinan.
Dia mengatakan alasan yang terdengar masuk akal.
"Baiklah, saya akan ganti menunya lagi ya, nyonya"
"Tidak usah bi, aku tidak ingin makan!"
"Tapi nyonya..."
Ucapan kepala pelayan itu berhenti, ketika ada suara klakson mobil yang begitu keras dari luar villa. Bahkan suara klakson itu terdengar berkali-kali.
Tinnnnnn!
Tinnnnn Tinnnnn!
Kinan segera bangkit dari duduknya, dia berjalan ke arah luar kamar. Tapi kepala pelayan itu kembali menghadangnya.
"Nyonya, tolong jangan keluar! tuan memberikan perintah, agar nyonya tetap berada di dalam villa!"
Kinan tidak mungkin tidak keluar, dia yakin itu pasti Bella yang datang untuk menjemputnya.
"Maaf ya, bi!"
Brukk
Kinan mendorong kepala pelayan itu sampai jatuh, dia berlari ke arah pintu keluar kamar.
"Nyonya! penjaga! tahan nyonya!"
Kinan menoleh, dia melihat pelayan itu berusaha bangkit dan berteriak memanggil penjaga untuk menahannya. Kinan tidak bisa membiarkan para penjaga itu mengurungnya lagi. Kali ini, kalau harus nekat, dia pun akan nekat.
Kinan melihat ke sekeliling, dia melihat kaca besar di meja rias. Ada botol parfum juga di sana. Kinan mengubah arah larinya, meraih botol parfum itu dan melemparkannya ke arah kaca.
Prangg
Kaca meja rias itu pecah, serpihan kacanya berhamburan. Bahkan lengan Kinan pun tak luput dari tajamnya serpihan kaca kecil. Ada beberapa gores berwarna merah di lengan Kinan.
Kinan buru-buru meraih salah satu pecahan kaca yang ukurannya besar.
Tinnnn!
Suara klakson di luar villa masih terus terdengar. Kinan harus menunjukkan dirinya pada Bella. Dengan begitu, Bella akan tahu kalau Kinan memang ada di tempat ini.
"Nyonya, anda tidak terluka...?"
"Minggir!" teriak Kinan sambil mengarahkan pecahan kaca itu ke arah lehernya.
Ya, terlihat memang benar-benar nekat. Tapi Kinan tahu, dia tidak punya kesempatan lebih baik dari sekarang. Bella ada di depan. Dia hanya harus keluar dari pintu villa. Maka Bella akan punya alasan untuk menabrak pintu gerbang dan membawanya pergi dari tempat itu.
Pelayan yang berada di dalam kamar langsung ketakutan. Dia tidak berani mendekati Kinan.
"Nyonya!"
Dua penjaga juga datang, mereka berusaha mendekati Kinan untuk mengambil pecahan kaca itu dari tangan Kinan. Tapi sebelum mereka bisa mendekat, Kinan menggores lehernya.
Srett
"Nyonya, jangan!"
***
Bersambung...