Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: KEBOHONGAN YANG DIPELUK
#
...Mobil hitam itu tidak membunyikan klakson. Ia hanya menunggu, mesinnya berdengung rendah di ujung gang, dan lampu depannya yang dimatikan membuatnya terlihat seperti binatang yang sedang menahan napas. Jam dinding di dapur berdetak, dan koin logam dengan angka *07* itu masih ada di telapak tangan Kenzo, dingin, lebih ringan dari yang seharusnya untuk sesuatu yang baru saja memecah dunianya jadi dua....
..."Nomor tujuh," ulang Kenzo. "Om mau jelasin sekarang, atau Om mau bohong lagi?"...
...Victor tidak menjawab. Ia menyandar di kusen pintu dengan kedua tangan terkulai, dan matanya yang kelabu tidak menatap koin itu melainkan lantai, tempat dulu kue-kue kering berserakan. Bibirnya bergerak sekali tanpa suara....
..."Om dulu... dulu cuma kerja buat mereka. Sebentar. Itu sebelum Om kenal kamu, Nak. Itu sebelum..." Ia berhenti, menelan ludah yang kelihatannya sakit. "Om keluar. Nggak ada yang keluar, tapi Om keluar, dan harganya... harganya bukan sesuatu yang bisa Om ceritain di dapur, jam sebelas malam, dengan mobil mereka di depan rumah."...
..."Harganya apa?"...
..."Kenzo."...
..."Harganya apa, Om?"...
...Axel yang sejak tadi diam melangkah di antara mereka dan mengangkat kedua tangannya, telapak terbuka, lalu menggerakkan jarinya pelan. *Berhenti. Dua-duanya. Mobil itu nunggu.* Kenzo menatap Axel, dan marah di dadanya surut sedikit, bukan karena hilang, tapi karena ia sadar waktu mereka memang sempit. Ia menyelipkan koin itu ke saku celana....
..."Aku mau ke kamar," katanya datar. "Capek."...
...---...
...Ia tidak tidur, tentu saja. Ia duduk di tepi ranjang menatap tas kanvas lusuh yang sudah ia isi dua kemeja, satu jaket, dan sebuah foto Ayah yang sudah lecek, hasil cetakan ulang Axel dari arsip koran lama, satu-satunya foto yang tersisa. Di lantai bawah ia mendengar Victor berjalan mondar-mandir, langkah yang pincang di sebelah kiri, bolak-balik, bolak-balik, seperti harimau di kandang sempit....
...Pintu kamarnya diketuk pelan. Axel masuk dan menutupnya dengan punggung. Wajahnya tegang, dan dalam cahaya lampu yang kuning ia kelihatan jauh lebih tua dari dua puluh empat....
...*Kamu beneran mau pergi.*...
..."Iya."...
...*Aku ikut.*...
..."Nggak." Kenzo menggeleng, dan sebelum Axel sempat membantah, ia mengangkat tangan. "Dengar dulu, Xel. Tolong... dengar. Kalau aku masuk ke sana dan salah langkah, aku mati sendirian, itu risikoku. Tapi kalau kamu ikut, Om nggak punya siapa-siapa lagi di rumah ini. Dia udah kehilangan Dimas sama Laras. Dia nggak bakal kuat kehilangan kita berdua sekaligus."...
...Axel menatapnya lama, jarinya gemetar sedikit sebelum bergerak. *Terus kamu pikir dia kuat kehilangan satu?*...
...Kenzo tidak punya jawaban untuk itu. Ia hanya menunduk, mengusap wajah, dan membiarkan sunyi itu bicara. Akhirnya ia menarik napas panjang....
..."Aku butuh kamu di sini. Di server, di belakang layar. Kalau aku masuk, kamu satu-satunya yang bisa lihat dari luar. Dan..." Suaranya merendah. "Kamu satu-satunya yang bisa jagain Om kalau aku nggak pulang."...
...Mata Axel memerah. Ia membuang muka, mengepalkan tangan, dan mengetuk dadanya sendiri dua kali dengan keras, gerakan yang berarti sesuatu yang tidak perlu diterjemahkan. *Aku benci kamu.* Lalu ia melangkah maju dan memeluk Kenzo kuat-kuat dengan satu tangan masih mencengkeram tablet, bahunya naik turun tanpa suara....
..."Aku bakal pulang," bisik Kenzo ke bahu hoodie hitam itu. "Aku janji."...
...---...
...Victor menunggunya di ruang makan. Lampu belum dinyalakan, hanya cahaya dari jalan yang masuk lewat celah tirai, dan lelaki itu duduk di kursi yang sama dengan tempat ia dulu berbohong soal nasi bakar. Di meja ada tiga cangkir teh, dua sudah dingin dan satu masih mengepul....
..."Duduk."...
...Kenzo tidak duduk. Ia berdiri dengan tas di bahu, dan ia sudah menyiapkan kalimat itu sejak di kamar, tapi ketika matanya bertemu mata Victor, kalimat itu terasa seperti kain lap basah di lidahnya....
..."Om... aku ke luar kota. Ada kerjaan."...
..."Kerjaan apa."...
..."Kuli bangunan. Proyek jalan di Marenta, teman Axel yang nawarin. Upahnya lumayan, tapi harus tinggal di bedeng. Sama Axel." Ia memaksa suaranya rata. "Mungkin sebulan, mungkin dua. Nanti kukabarin."...
...Victor menatapnya lama. Cukup lama sampai Kenzo bisa mendengar detak jam, bunyi kulkas, bahkan napasnya sendiri yang mulai tidak teratur. Lalu lelaki itu tersenyum, senyum kecil yang tidak sampai ke mata....
..."Kuli bangunan," ulangnya. "Dengan tangan yang bisa mematahkan pergelangan orang dalam sekali sikut. Dan Axel, yang nggak pernah keluar dari ruangan itu lima tahun, tiba-tiba mau tinggal di bedeng."...
..."Om..."...
..."Om yang ngajarin kamu soal jeda, Kenzo." Suaranya lembut, hampir geli, tapi di bawahnya ada sesuatu yang bergetar. "Kamu ngomong 'sama Axel' tiga detik terlalu lambat. Kamu bohong, Nak. Dan om tahu persis kamu mau ke mana."...
...Kenzo tidak bergerak. Di luar, mesin mobil hitam itu menderum pelan, seperti mengingatkan....
..."Om nggak mau dikasihani," kata Kenzo akhirnya, dan suaranya pecah di tengah. "Om udah cukup... udah cukup lama nanggung aku. Dua puluh tahun, Om. Om bunuh orang buat bayar obat Axel, buat bayar piringku. Om lutut kiri udah nggak bisa... udah nggak bisa jalan tanpa nahan sakit. Aku nggak mau jadi alasan Om mati di jalan buat ngelindungin aku lagi. Aku udah gede. Biar aku yang... biar giliranku."...
..."Giliran apa?"...
..."Giliran jagain Om."...
...Sunyi. Cangkir teh yang mengepul itu perlahan berhenti mengeluarkan uap. Victor menunduk, dan Kenzo melihat bahunya mulai bergetar, pertama sedikit, lalu lebih keras, dan lelaki itu menutup mulutnya dengan kepalan tangan seolah tidak mau ada suara yang lolos....
..."Bodoh," bisiknya di balik kepalan. "Anak bodoh. Giliranmu... giliranmu itu nanti, kalau Om udah tua sekali, udah nggak bisa cebok sendiri, bukan sekarang. Bukan masuk ke kandang singa sendirian dengan alasan 'jagain Om'. Kamu pikir Om bisa hidup, Kenzo? Kamu pikir kalau kamu pergi dan Om cuma dapat kabar kamu mati di selokan mana, Om bisa lanjut makan nasi gosong dan ngacak rambut siapa?"...
...Ia berdiri mendadak, kursinya jatuh ke belakang. Dalam dua langkah pincang ia sudah mencengkeram kedua lengan Kenzo, kuat sekali, sampai kuku-kukunya menekan kulit....
..."Om nggak ngizinin. Dengar? Om nggak ngizinin! Om akan kunci kamu di kamar, om akan ikat kamu di kursi, om akan... om akan telepon siapa pun yang harus Om telepon, tapi kamu nggak akan keluar dari pintu itu. Kamu anak Om, Kenzo! Kamu bukan anak kandung, Om tahu, Om nggak pernah punya hak, tapi Om... Om sudah kehilangan satu anak. Om nggak akan kehilangan yang kedua. Nggak bakal. Om nggak bakal biarin..."...
..."Om."...
..."Jangan panggil Om begitu, kamu mau pergi, kamu..."...
..."*Papa.*"...