Janitra Widari Pramudya memutuskan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, ia tinggal di luar negeri selama lima tahun karena melanjutkan kuliah. Orang tuanya telah meninggal dunia sejak enam tahun yang lalu karena kecelakaan.
Janitra akhirnya menerima perjodohan dari Keluarga Syailendra sesuai wasiat mendiang kakeknya. Janitra baru mengetahui ternyata dirinya dijodohkan dengan Kresna Maharaja Syailendra sejak lama. Bagi Janitra, Kresna adalah cinta pertamanya.
Aku mencintainya sederas hujan. Namun, dia memilih untuk membangun tembok setinggi langit~Janitra.
Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun~Kresna.
Simak kisah mereka.💋💋
Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Jangan Ada yang Ditutupi Dariku !!
"Tidak, Gusti. Saya baik-baik saja," jawab Janitra lirih.
"Katanya kamu lagi puasa. Memangnya puasa apa?" tanya Kresna yang mendadak penasaran.
"Hanya puasa biasa, Gusti."
Jawaban Janitra barusan terlihat jelas jika wanita ini sedang tidak ingin berbicara panjang lebar atau hal mendalam dengan suaminya. Kresna menyadari hal itu. Justru semakin membuat hati Kresna terasa sakit bagai terhimpit batu besar tak kasat mata yang memojokkannya.
"Aku pergi dulu," pamit Kresna memilih untuk menghindari pertengkaran dengan Janitra.
Entah mengapa pagi ini dirinya sedang malas berdebat dengan Janitra.
"Hati-hati di jalan, Gusti."
Detik selanjutnya, pintu kamar Janitra pun tertutup rapat.
Kresna menoleh sejenak kembali seraya menatap samar ke arah pintu tersebut.
"Sepertinya aku tadi sempat melihat telapak tangan bagian kanannya merah seperti luka. Kenapa?" batin Kresna mendadak gundah samar-samar.
Langkah kaki Kresna memutuskan tetap berjalan menuju parkiran mobil karena Panca pasti sudah cukup lama menunggu dirinya. Kresna sedang malas mendengar cibiran atau protes dari Panca.
☘️☘️
Sejak pagi sampai sore hari di kantor, Kresna terus gelisah. Beberapa kali ia tak fokus pada pekerjaannya.
Saat ini hanya ada Kresna dan Panca di ruang meeting. Para staf dan manajer telah pulang karena jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Gusti kenapa?" tanya Panca saat keduanya baru saja selesai rapat.
"Apanya?" sahut Kresna.
"Seharian ini sepertinya Gusti tidak konsentrasi. Badan di sini tapi pikiran di luar entah di mana," jawab Panca.
"Enggak apa-apa. Kamu terlalu sensitif aja!" protes Kresna.
"Tadi saat saya makan siang di kantin kantor, telinga saya mendengar ada beberapa karyawan membicarakan kalau hari ini Gusti kelihatan beda."
"Ternyata kamu doyan gosip juga kayak emak-emak," cibir Kresna.
"Bukan begitu, Gusti. Telinga saya gak bisa ditutup begitu saja jika ada orang lain membicarakan Gusti di belakang,"
"Memangnya aku hari ini beda apanya?"
"Rapat pagi dan sore, dua-duanya Gusti gak fokus sama sekali sampai sering kedapatan melamun. Selebihnya, diam seperti memikirkan sesuatu tapi kayak bingung sendiri. Sisanya, marah-marah tidak jelas hanya karena masalah sepele." Jawab Panca apa adanya.
"Bukan hanya mereka. Saya sebagai orang yang cukup dekat dengan Gusti, juga merasakan hal yang sama. Apa Gusti ada masalah?" sambungnya.
"Gak ada," jawab Kresna cepat.
"Gusti tak perlu sungkan. Jika butuh tempat curhat, bilang saja. Panca siap membantu,"
"Pergi sana! Segera urus semua hal keperluan kita besok keluar kota,"
"Baik, Gusti. Apa sekarang Gusti mau pulang?"
"Kenapa memangnya?"
"Kalau Gusti mau pulang lebih awal, monggo (silahkan). Nanti biar saya sampaikan ke sopir. Saya masih ada pekerjaan yang belum selesai. Mungkin saya akan lembur sampai jam delapan malam," jawab Panca.
Kresna terdiam sejenak.
Ia betul-betul memikirkan ucapan dan saran dari Panca tersebut.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Sepertinya aku butuh istirahat biar besok lebih fokus," ucap Kresna.
"Baik, Gusti."
"Hem,"
"Mau curhat saja gengsi. Pasti dia lagi mikirin istrinya. Kalau kangen, bilang bos. Jangan dipendem jadi ubi," batin Panca.
Pukul lima sore, Kresna sudah pulang ke Kasepuhan.
Pak Tikno cukup terkejut saat menyambutnya. Kresna sering pulang kerja bersama Panca. Namun, putra mahkota Syailendra tersebut saat ini pulang sendirian ketika matahari senja masih terlihat. Sehari-hari Kresna terbiasa pulang kerja saat cahaya matahari sudah pergi dan berganti cahaya bulan.
"Gusti sudah pulang,"
"Hem,"
"Sinuhun dan Gusti Kanjeng Ayu sedang tidak ada di Kasepuhan. Ada acara pernikahan anak dari rekan Sinuhun sewaktu sekolah," ucap Pak Tikno menginformasikan.
"Ya sudah aku bersih-bersih dulu setelah itu ke ruang makan,"
"Baik, Gusti."
☘️☘️
Saat jam makan malam tiba, hanya ada Kresna seorang yang duduk di sana bersama Pak Tikno dan beberapa abdi dalem menemani.
"Ke mana Janitra?" tanya Kresna.
"Gusti Janitra ada di kamarnya. Informasi dari Mbok Yem, Gusti Janitra izin tidak ikut makan malam bersama," jawab Pak Tikno.
"Bukankah dia hari ini puasa. Apa sudah makan?"
"Tadi Mbok Yem serta abdi dalem yang lain sudah siapkan dan taruh di dalam kamar Gusti Janitra sesuai permintaan beliau," jawab Pak Tikno.
Beberapa menit Kresna hanya terdiam sedang memikirkan sesuatu yang terus mengganggu dan membuatnya resah.
Kriett...
Tiba-tiba suara kursi terdengar bergeser dan Kresna berdiri dari tempat duduknya.
"Gusti mau ke mana? Apa gak jadi makan?" cecar Pak Tikno.
"Nanti saja. Aku belum lapar," jawab Kresna seraya kakinya melangkah untuk meninggalkan ruang makan.
Kresna kembali ke area Paviliun Teratai. Pak Tikno menyusul di belakangnya.
"Panggil Mbok Yem ke ruang kerjaku," titah Kresna dengan tegas.
"Baik Gusti,"
Tak perlu menunggu lama, Mbok Yem pun datang menghadap.
"Apa Mbok Yem malam ini sudah ke kamar istriku?" tanya Kresna.
"Sudah, Gusti. Tadi saya membawakan makan malam Gusti Janitra ke kamarnya,"
"Jam berapa?" tanya Kresna.
"Jam enam sore," jawab Mbok Yem.
"Sampai jam setengah delapan malam saat ini apa bekas piring makanan itu sudah Mbok Yem ambil kembali?"
"Belum, Gusti."
"Kenapa?"
"Tadi Gusti Janitra pesan, kalau beliau sudah makan nanti akan kabari saya lagi buat ambil piringnya."
"Jadi sampai jam segini dia belum kabari si Mbok lagi?"
"Inggih, Gusti."
"Kemarin malam apa dia makan dengan normal?" tanya Kresna.
"Semalam Gusti Janitra hanya makan sedikit saja,"
"Sedikit itu berapa takar? Yang jelas Mbok!" tegas Kresna yang sudah menaikkan nada suaranya beberapa oktaf.
"Hanya dua sendok nasi, seperempat sayur di mangkuk, sepotong tahu goreng yang berkurang di piring beliau. Buah, susu, teh masih utuh. Air putih hangat setengah gelas yang diminum,"
"Tadi pagi apa dia makan sebelum Subuh? Bukankah dia berpuasa?"
"Maafkan hamba, Gusti Kresna. Beliau tidak makan sama sekali," jawab Mbok Yem.
Abdi dalem pribadi Janitra tersebut menyampaikan bahwa pagi tadi dirinya sama sekali tidak mendapat informasi jika istri Kresna hendak berpuasa. Janitra sendiri tidak ada pesan pada siapapun baik ke Mbok Yem maupun pihak dapur Kasepuhan.
"Siang tadi apa dia makan?"
"Maaf, Gusti. Saya sudah paksa Gusti Janitra buat makan, tapi beliau menolaknya. Katanya, dia tetap ingin melanjutkan puasanya. Saya cukup khawatir Gusti Janitra bisa jatuh sakit nantinya,"
Beberapa menit hening tercipta. Mbok Yem masih setia berada di ruang kerja putra mahkota yang suasananya mirip ruang sidang di pengadilan.
"Tadi pagi entah saya salah melihat atau tidak, telapak tangan Janitra bagian kanan sepertinya sedang terluka. Apa benar itu, Mbok?" cecar Kresna.
Pupil mata Mbok Yem tersirat sebuah kegelisahan. Abdi dalem pribadi Janitra itu hanya mampu terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Kenapa diam?" desak Kresna. "Apa benar tangan Janitra terluka, Mbok?"
"Be_nar, Gus_ti." Jawab Mbok Yem sedikit terbata.
"Aku lihat seperti kena luka bakar karena jelas sekali memerah di telapak tangannya. Kenapa?"
Mbok Yem tampak kebingungan. Bibirnya pun masih bungkam.
"JAWAB MBOK !!" teriak Kresna dengan tatapan menghunus tajam.
"Ke_na air pa_nas, Gus_ti." Jawab Mbok Yem dengan suara terbata-bata terlihat penuh ketakutan bercampur resah.
"CEPAT CERITAKAN ! JANGAN ADA YANG DITUTUPI DARIKU !!"
"Sebenarnya itu karena..."
Bersambung...
🍁🍁🍁
*Maaf ya kalau updatenya agak slow. Ada masalah di ponselku. Sepertinya perlu dibawa ke IGD atau toko ponsel buat beli baru. Hehe..
Cuma sekarang ini othor sedang tidak berada di kota tempat tinggal. Jadi agak kesusahan nyari tempat servis dll di sini. Makasih kesayanganku semua.💋💋
gak bisa tidur karna belum berendam racikan rempah cinta ala janitra