Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Kabut pagi yang tipis masih menyelimuti lereng Pegunungan Bambu ketika lonceng Sekte Hutan Bambu berdentang perlahan, bergema di antara hamparan bambu hijau yang menjulang tinggi.
Angin menerpa dedaunan hingga saling bergesekan, menghasilkan desiran yang terdengar damai bagi siapa pun yang mendengarnya—kecuali bagi seorang pemuda yang tengah memanggul dua ember air besar di atas pundaknya, dengan kedua lengan gemetar menahan beban.
Pakaian abu-abunya yang lusuh telah basah oleh keringat, sementara telapak tangannya dipenuhi kapalan dan luka lama yang belum sempat mengering. Meski usianya baru delapan belas tahun, wajahnya terlihat jauh lebih dewasa daripada anak seusianya. Kehidupan telah mengikis senyum dari wajah itu bertahun-tahun yang lalu.
Namanya Yan Kai. Seorang pelayan Sekte Hutan Bambu—bukan murid luar, bukan murid dalam, apalagi murid inti. Hanya seorang pelayan. Setiap hari sebelum matahari terbit, ia sudah harus bangun untuk mengambil air dari mata air di kaki gunung, membersihkan aula utama, mencuci pakaian para murid, memotong kayu bakar, memasak di dapur, mengantar makanan, hingga membersihkan kandang binatang.
Pekerjaan itu baru selesai ketika malam telah larut, tanpa hari libur, tanpa ucapan terima kasih—yang ada hanyalah perintah demi perintah.
"Yan Kai! Cepat bersihkan halaman timur!"
"Yan Kai! Kayu bakarnya kurang!"
"Yan Kai! Air mandiku masih dingin!"
Semua orang memanggil namanya, tetapi tidak satu pun yang benar-benar menganggapnya sebagai manusia. Bagi mereka, Yan Kai hanyalah seorang pelayan rendahan.
Ketika ia sedang membawa ember air melewati lapangan latihan, terdengar suara tawa beberapa murid luar.
"Lihat, si sampah itu lewat."
"Hahaha... delapan tahun tinggal di sekte, tetap saja tidak bisa berkultivasi."
"Mana mungkin bisa? Dia cuma pelayan."
Salah seorang murid tiba-tiba mengulurkan kaki.
Bruk!
Tubuh Yan Kai langsung tersungkur ke tanah, ember di kedua sisinya terlempar, dan air yang ia angkut dengan susah payah tumpah membasahi jalan berbatu. Pemuda itu terdiam beberapa saat—bukan karena marah, melainkan karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Gelak tawa langsung memenuhi halaman. Seorang murid bertubuh tinggi berjalan mendekat, lalu menginjak salah satu ember kayu hingga penyok.
"Apa kau sengaja menjatuhkannya? Air itu harus kau ambil lagi dari bawah gunung."
Yan Kai perlahan bangkit. Lututnya berdarah akibat menghantam batu tajam, tetapi ia hanya menundukkan kepala. "Maaf," katanya pelan.
Jawaban itu justru membuat mereka tertawa semakin keras.
"Lihat dia, tak punya harga diri."
"Kalau aku jadi dia, lebih baik bunuh diri saja."
Ucapan itu menusuk jauh lebih dalam daripada luka di lututnya. Yan Kai mengepalkan tangan di balik lengan bajunya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak sendiri. Bukan sekali dua kali ia mendengar kata-kata seperti itu—setiap hari, selama delapan tahun, ia sudah terbiasa. Atau setidaknya, ia memaksa dirinya untuk terbiasa.
Salah seorang murid mengambil sapu bambu yang tergeletak di dekat halaman, lalu memukulkannya ke punggung Yan Kai.
Plak!
"Jangan cuma diam! Bersihkan air itu! Apa kau ingin kami terpeleset?"
Yan Kai menahan rasa sakit, segera mengambil kain lap, dan membersihkan halaman tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Murid-murid itu kembali tertawa sebelum akhirnya pergi menuju arena latihan, meninggalkan halaman yang kembali sunyi.
Yan Kai memandangi pantulan wajahnya di genangan air yang belum sempat mengering—wajah pucat, rambut hitam yang berantakan, sepasang mata yang telah kehilangan cahaya. Tak ada sedikit pun kemiripan dengan para murid sekte yang penuh semangat mengejar impian menjadi pendekar hebat.
Dahulu, ia juga pernah memiliki mimpi seperti itu.
Delapan tahun yang lalu, saat usianya baru menginjak sepuluh tahun, Yan Kai masih tinggal di sebuah desa kecil yang damai bersama kedua orang tuanya.
Ayahnya adalah seorang pedagang kain sederhana yang selalu membawa pulang makanan kesukaan Yan Kai setiap kali kembali dari kota. Ibunya adalah wanita lembut yang sering duduk di depan rumah sambil menjahit pakaian, dengan senyum yang selalu membuat rumah kecil mereka terasa hangat.
Kehidupan mereka memang sederhana, tetapi Yan Kai tidak pernah merasa kekurangan. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit. Penyakit itu datang tanpa peringatan, dan tubuh wanita itu semakin kurus dari hari ke hari.
Semua tabungan keluarga habis untuk membeli obat, tetapi tidak ada tabib yang mampu menyembuhkannya. Pada malam terakhirnya, sang ibu menggenggam tangan Yan Kai yang masih kecil.
"Kai'er... jadilah anak yang kuat. Itu... keinginan ibu."
Senyumnya begitu lembut. Namun sesaat kemudian, genggaman tangan itu perlahan melemah, dan untuk selamanya menghilang. Hari itu, dunia Yan Kai runtuh untuk pertama kalinya.
Ayahnya berusaha tetap tegar demi putra semata wayangnya. Ia bekerja lebih keras, bahkan menerima perjalanan dagang yang lebih jauh demi mendapatkan uang.
Namun takdir kembali menunjukkan kekejamannya: di tengah perjalanan menuju kota, rombongan dagang yang diikuti ayah Yan Kai disergap oleh sekelompok bandit gunung. Tak seorang pun selamat. Yang kembali ke desa hanyalah pedang patah milik ayahnya, berlumuran darah yang telah mengering.
Dalam waktu kurang dari satu bulan, Yan Kai kehilangan kedua orang tuanya. Sejak saat itu, ia menjadi anak yatim piatu. Tak ada keluarga yang bersedia merawatnya—sebagian tetangga memang merasa iba, tetapi mereka sendiri hidup dalam kemiskinan.
Pada akhirnya, seorang tetua dari Sekte Hutan Bambu yang sedang melewati desa melihat bocah kurus itu duduk seorang diri di depan makam kedua orang tuanya. Karena belas kasihan, tetua tersebut membawa Yan Kai ke Sekte Hutan Bambu.
Saat itu, Yan Kai kecil benar-benar percaya bahwa hidupnya akan berubah. Ia membayangkan dirinya belajar ilmu pedang, berlatih bersama murid-murid lain, menjadi pendekar hebat yang melindungi orang-orang yang ia cintai agar tragedi seperti yang menimpa keluarganya tidak pernah terulang lagi.
Namun mimpi itu hancur bahkan sebelum sempat dimulai. Setelah dilakukan pemeriksaan bakat, para tetua menemukan bahwa Yan Kai memiliki akar spiritual yang sangat lemah, bahkan nyaris tidak dapat digunakan untuk berkultivasi. Dalam sekejap, semua harapan menghilang. Tidak ada yang bersedia menerima anak tanpa bakat sebagai murid.
Akhirnya, Yan Kai ditempatkan sebagai pelayan sekte.
"Setidaknya dia masih bisa bekerja."
"Itu lebih berguna daripada mengusirnya."
Kalimat itulah yang mengubah seluruh jalan hidupnya. Sejak usia sepuluh tahun hingga kini delapan belas tahun, Yan Kai hidup bukan sebagai murid, melainkan sebagai bayangan yang tak pernah dianggap ada.
Ia menyaksikan anak-anak yang dahulu datang bersamanya satu per satu tumbuh menjadi murid luar, murid dalam, bahkan beberapa telah menjadi murid inti yang dihormati. Sementara dirinya masih memanggul ember, masih menyapu halaman, masih menjadi sasaran hinaan dan pukulan setiap hari.
Di bawah langit biru Sekte Hutan Bambu yang tampak begitu megah, Yan Kai mengangkat kembali kedua ember kayunya yang telah penyok. Bahunya terasa nyeri, lututnya masih berdarah, tetapi ia tetap melangkah menuruni jalan setapak menuju mata air di kaki gunung.