Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Pembuktian Ilmiah
Selanjutnya...
Arya menyapu keringat di dahinya, dan mencoba menetralkan suaranya agar tetap terdengar tenang, meskipun hatinya bergejolak hebat oleh penderitaan tragis korban.
"Pak Farhan... Dok..." kata Arya pelan, tatapannya beralih menatap jasad Victor Tanujaya. "Pria ini... tidak dibunuh oleh orang lain."
Ruang IKKJ mendadak hening. Dokter Aris menghentikan gulungan selotip mediknya, sementara Teguh menatap Arya dengan dahi yang berkerut heran.
Farhan menyempitkan matanya. "Apa maksudmu, Arya? Bukti di TKP dan fisik jelas-jelas menunjukkan penyerangan dan pembunuhan berencana!"
Arya menggeleng pelan seraya menunjuk ke arah pola luka lebam di pergelangan tangan dan pelipis korban.
"Luka memar di pelipis dan tangan ini memiliki pola sudut yang simetris dengan pinggiran tajam meja besi di TKP," ujar Arya menyampaikan penglihatannya dalam bentuk analogi analisis medis yang masuk akal. "Pola jeratan di lehernya memang lingkar mendatar, tapi bagian belakang lehernya menunjukkan tekanan dari tumpuan bawah, bukan tarikan dari belakang oleh orang lain. Pria ini sengaja merusak TKP, memukul tubuhnya sendiri, dan merekayasa perampokan ini."
Dokter Aris tertawa kecil, sembari menggelengkan kepalanya. "Arya, kamu ini pemulasara yang hebat, tapi menyimpulkan rekayasa bunuh diri dari sekadar melihat pola luka luar? Itu terlalu spekulatif. Semua indikasi awal medis mendukung tindak pidana pembunuhan!"
Farhan melangkah tepat ke hadapan Arya, dan menatap mata pemuda itu secara intensif.
"Arya," kata Farhan dengan suara berat dan menekan. "Tadi di TKP, ada jejak sepatu boot di luar jendela dan brankas yang dibobol. Kamu mau bilang kalau korban melakukan semua itu sendirian sebelum menjerat lehernya sendiri? Kenapa seseorang harus merekayasa pembunuhannya sendiri dengan cara semenyiksa ini?"
Arya menatap lurus mata Farhan, suaranya terdengar begitu dalam dan dipenuhi rasa empati yang sunyi. "Demi klaim asuransi jiwa, Pak Farhan. Untuk menyelamatkan keluarganya dari jeratan utang kebangkrutan."
Farhan tertegun mendengar ucapan Arya. "Asuransi jiwa? Kebangkrutan? Dari mana Arya bisa memikirkan motif sespesifik itu hanya dengan memegang leher jasad?"
Rasa tidak percaya dan penasaran beradu hebat di dalam dada Farhan. Sebagai seorang polisi yang mengandalkan fakta empiris, hipotesis Arya terdengar seperti dorongan gila.
Namun, mengingat rekam jejak tebakan Arya yang selalu tepat secara mengerikan pada kasus-kasus sebelumnya, Farhan tidak berani mengabaikan ucapan itu begitu saja.
"Dokter Aris," ujar Farhan tegas dan memutus keheningan. "Saya minta dilakukan prosedur pembedahan otopsi dalam dan analisis mikro-forensik sekarang juga pada bagian leher dan jaringan kulit korban. Periksa juga serpihan di bawah kuku korban."
Dokter Aris mengerutkan dahi. "Farhan, itu akan memakan waktu hingga dini hari dan menambah prosedur medis—"
"Lakukan saja, Dok!" potong Farhan tidak ingin dibantah. "Saya harus memastikan hal ini dengan mata kepala saya sendiri!"
Selama tiga jam berikutnya, proses otopsi berlangsung di bawah pendar lampu bedah yang terang benderang. Arya dan Teguh menunggu di sudut ruangan seraya menyiapkan peralatan pemandian, sementara Farhan berdiri di samping meja bedah mendampingi dr. Aris.
Pukul 01.30 WIB dini hari, dr. Aris menurunkan pisau bedahnya dan melepas kacamata perbesaran dengan raut wajah yang benar-benar syok dan tidak percaya.
"Ini... ini tidak masuk akal..." gumam dr. Aris dengan suara bergetar.
Farhan mendekat dengan cepat. "Apa hasil otopsinya, Dok?!"
Dokter Aris menunjuk sampel jaringan kulit leher dan serpihan di bawah kuku korban yang diperiksa di bawah mikroskop digital.
"Pola patahan tulang hyoid di dalam leher korban... menunjukkan tekanan dari berat tubuhnya sendiri yang meluncur jatuh, bukan tarikan paksa dari luar," jelas dr. Aris dengan napas terengah heran. "Dan yang lebih mengejutkan... di bawah kuku tangan kanan korban, ditemukan partikel cat dari sudut meja besi TKP serta bekas minyak grease yang sama persis dengan yang ada di gagang pintu luar! Korban sendiri yang mengoleskan minyak itu!"
Farhan menahan napasnya. Jantungnya berdetak kencang.
Pada saat yang bersamaan, ponsel Farhan berdering. Sebuah laporan masuk dari tim penyidik yang baru saja memeriksa riwayat keuangan dan dokumen rumah Victor Tanujaya.
"Pak Farhan," panggil penyidik dari seberang telepon. "Kami baru saja menemukan polis asuransi jiwa senilai 20 miliar atas nama Victor Tanujaya yang baru diperpanjang bulan lalu, beserta surat ancaman penyitaan dari bank terkait utang pabriknya yang jatuh tempo besok pagi. Korban memang sedang bangkrut total!"
Telepon terlepas pelan dari genggaman Farhan.
Farhan berbalik perlahan, dan menatap ke arah Arya yang sedang berdiri sunyi di sudut ruangan. Kebenaran yang dikatakan Arya terbukti seratus persen akurat, mengalahkan analisa awal dokter forensik senior dan kesimpulan awal tim penyidik kepolisian di TKP!
Setelah proses pemulasaraan dan pemandian jasad Victor Tanujaya selesai dilakukan dengan khidmat, suasana ruang IKKJ kembali sepi. Teguh telah naik ke lantai atas untuk mengurus berkas administrasi kepulangan jasad bersama pihak keluarga.
Arya sedang melepaskan apronnya dan membersihkan area wastafel saat suara langkah kaki Farhan mendekat di belakangnya.
"Arya," panggil Farhan. Suaranya tidak lagi terdengar seperti suara rekan yang ramah, melainkan suara seorang penyidik kepolisian yang sedang menuntut jawaban.
Arya membalikkan badan, dan menatap Farhan yang berdiri dengan bersedekap dada di hadapannya.
"Iya, Pak Farhan?"
"Siapa kamu sebenarnya, Arya?" tanya Farhan lurus tanpa basa-basi lagi. "Jangan coba bohongi aku lagi dengan alasan 'analisis pola luka luar' atau 'pirasat medis'. Dokter spesialis forensik dengan pengalaman puluhan tahun saja salah menyimpulkan kasus ini. Tapi kamu... kamu bisa tahu soal rekayasa bunuh diri, soal motif klaim asuransi jiwa, hingga detail tindakan korban sebelum tewas dalam waktu kurang dari satu menit setelah menyentuh jasad itu."
Arya menundukkan kepalanya, dan mendesah pelan. Ia tahu bahwa momen ini cepat atau lambat pasti akan datang. Naluri tajam Farhan sebagai polisi tak akan bisa terus-menerus dikelabui.
"Pak Farhan..." kata Arya pelan. "Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu hukum atau buku teks kedokteran."
"Jelaskan padaku kalau begitu!" tegas Farhan, seraya melangkah satu tindak lebih dekat. "Aku ini polisi, Arya! Aku hidup dari fakta dan bukti! Tapi apa yang kamu lakukan selama ini... dari kasus Pak Bambang, Dian, sampai kasus Victor malam ini... itu melampaui semua batasan logika yang aku miliki! Bagaimana bisa kamu tahu semua itu?!"
Arya mengangkat tangannya, dan menatap telapak tangan kanannya sendiri yang tampak biasa saja.
"Setiap kali kulit tangan saya menyentuh jasad orang yang meninggal secara tidak wajar..." ujar Arya dengan suara yang begitu jujur dan bergetar, "saya melihat detik-detik terakhir kehidupan mereka. Saya mendengar bisikan terakhir mereka, merasakan kesakitan mereka, dan melihat bagaimana nyawa mereka direnggut."
Farhan terpaku di tempatnya berdiri. Matanya membelalak lebar. "Kamu... apa?! Penglihatan magis?! Sentuhan supranatural?!"
"Saya tahu ini terdengar gila dan tidak masuk akal bagi seorang polisi seperti Bapak," lanjut Arya seraya menatap lurus mata Farhan dengan kejujuran yang telanjang. "Tapi itulah kenyataannya. Saya tidak pernah meminta kemampuan ini. Dulu saya menganggapnya sebagai kutukan yang mengerikan. Tapi sejak saya bertemu Bapak, Pak Bambang, dan Dian... saya sadar bahwa kemampuan ini ada agar mereka yang mati tak bersuara tetap mendapatkan keadilan dan kebenarannya terungkap."
Farhan menyandarkan punggungnya pada meja stenlis dingin, lalu mengusap wajahnya yang kelelahan dengan kedua belah tangan.
Otak logisnya menolak mentah-mentah fenomena supranatural tersebut, namun seluruh fakta empiris di depan matanya membuktikan bahwa ucapan Arya adalah satu-satunya penjelasan rasional atas semua keajaiban yang terjadi selama ini.
Keheningan melingkupi ruang pemulasaraan itu selama beberapa menit.
"Jadi..." suara Farhan terdengar serak saat ia kembali menatap Arya. "Malam waktu kita di lift... waktu Dian mati... kamu tahu semua itu karena..."
"Karena Mbak Dian membisikkannya lewat sentuhan terakhir di dahinya sebelum ia dimandikan," potong Arya lembut. "Mbak Dian yang memberitahu saya letak kertas kode di sol sepatunya."
Air mata samar menggenang di sudut mata Farhan. Polisi tegap itu menghembuskan napas panjang, sebuah senyum tipis yang dipenuhi rasa hormat dan kepasrahan pun akhirnya terukir di bibirnya.
Farhan melangkah mendekati Arya, lalu menepuk bahu pemuda itu dengan sangat erat.
"Dunia ini memang aneh, Arya," kata Farhan dengan nada suara yang kini kembali hangat dan penuh persahabatan. "Tapi kalau kemampuan itu adalah satu-satunya hal yang bisa membantuku menyeret para penjahat ke penjara dan memberikan ketenangan bagi orang-orang mati... maka aku tidak peduli seberapa gilanya hal itu terdengar."
Arya tersenyum lega, sebuah beban berat di dadanya mendadak terangkat sepenuhnya saat menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian memikul rahasia besar itu.
"Terima kasih sudah percaya pada saya, Pak Farhan," ujar Arya.
Farhan merapikan jaket kulitnya, lalu berbalik menuju pintu keluar IKKJ. Di ambang pintu, ia menoleh sekilas ke arah Arya seraya tersenyum miring.
"Istirahatlah, Petugas Pemulasara. Besok mungkin ada rahasia lain dari orang mati yang butuh bantuanmu untuk disuarakan."
Bersambung...