Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 - DUA KOLOM
Lin Feng datang ke toko Mo ketika langit masih kelabu.
Ia membawa catatan bahan yang kemarin dan menyerahkannya sebelum mulai bekerja. Mo membaca beberapa baris, terutama catatan tentang pil pemulihan. Ia mengetuk kertas itu dengan kuku.
“Kau bilang pernah melihatnya di buku.”
Lin menahan napas. “Saya ingat pernah membaca namanya. Tapi saya tidak punya bukunya.”
“Judulnya?”
“Saya tidak ingat.”
“Penulis?”
“Saya juga tidak ingat.”
Mo menutup catatan. “Apa yang kau ingat?”
Lin merasa tidak nyaman. Ia ingin menjelaskan tentang permainan dan kehidupan lamanya, tetapi setiap kata yang terbayang terdengar seperti kebohongan atau kegilaan. “Nama pilnya, bentuknya, dan kegunaan yang tertulis. Tapi saya tidak tahu apakah itu cocok dengan pil yang ada di sini.”
“Baru sekarang kau mengatakan bagian terakhirnya.”
“Saya masih belajar membedakan apa yang saya ingat dengan apa yang bisa saya buktikan.”
Mo mengamati wajahnya sejenak. “Kepalamu memang terbentur. Ingatan yang tidak lengkap bukan bukti bahwa kau berbohong, tapi juga bukan alasan untuk percaya begitu saja.”
Lin menunduk. “Saya paham.”
“Kalau begitu, jangan campur keduanya.” Mo mengambil buku besar dari laci dan membalik beberapa halaman kosong. “Buat dua kolom. Satu untuk hal yang kau dengar atau ingat. Satu lagi untuk hal yang sudah kau periksa sendiri.”
“Untuk semua bahan?”
“Untuk apa pun yang kau ingin gunakan sebagai dasar keputusan. Kalau besok ternyata salah, kau bisa mencari tahu di mana kesalahannya bermula.”
Lin menyalin garis kolom ke catatan kecilnya. Pada sisi kiri ia menulis: *Basic Recovery Pill — menurut ingatan: memulihkan tenaga dan membantu luka ringan.* Pada sisi kanan: *Pil yang diperiksa Mo: asli, kualitas rendah, banyak impurity; belum diuji pada tubuh tertentu.*
Kedua kalimat itu tidak saling membatalkan, tetapi juga tidak sama.
Mo menunjuk baris pertama. “Kau belum tahu apakah deskripsi itu berlaku untuk pil yang diperiksa kemarin.”
“Benar.” Lin mencoret kata “membantu luka ringan” dan menambahkan tanda tanya. “Saya akan membiarkannya sebagai ingatan saja.”
“Lebih baik.”
Mo mengambil sebuah pamflet tipis dari rak. Sampulnya kusam dan sudutnya pernah basah. Di dalamnya ada daftar bahan yang umum diperdagangkan di wilayah Azure Cloud, lengkap dengan nama alternatif dan catatan kondisi yang membuat harga turun.
“Ini bukan buku resep,” katanya. “Ini daftar bahan untuk pekerja toko. Kau boleh menyalin beberapa halaman setelah menyelesaikan pekerjaan hari ini. Jangan membawanya pulang.”
Lin menerima pamflet itu dengan hati-hati. “Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih sebelum selesai membaca. Tulisan di dalamnya jelek.”
Memang jelek. Tinta beberapa baris melebar, sementara bagian lain ditimpa catatan tangan yang berbeda. Lin menemukan satu nama tanaman yang sudah ia catat sebagai “rumput urat perak” dengan dua sebutan lokal. Pamflet itu mencantumkan sebutan ketiga, tetapi memberi peringatan bahwa nama tersebut hanya dipakai di pasar selatan.
Ia menambahkan nama itu pada catatannya, lalu menandainya sebagai belum pernah ia temui langsung.
“Kenapa tanda itu?” tanya Mo.
“Supaya saya tidak mengira sudah memeriksanya hanya karena membaca.”
Mo mengangguk. “Kau mulai mengerti kegunaan catatan.”
Lin menyalin informasi itu sepanjang pagi. Ia tidak langsung menghafal semua nama; ia mencatat ciri yang bisa dibedakan dan mengosongkan bagian yang tidak dipahami. Saat menemukan keterangan tentang tanaman berbau manis yang beracun jika disimpan dalam wadah tertutup, ia bertanya kepada Mo sebelum menuliskannya sebagai fakta. Mo menunjukkan satu contoh kering, tetapi tak mengizinkannya mencium terlalu dekat.
“Pamflet ini tidak menjelaskan semuanya,” kata Mo. “Bahan bisa berubah karena tanah, hujan, waktu petik, dan cara simpan. Anggap ini peta kasar, bukan jawaban.”
Lin tersenyum. “Saya punya pengalaman buruk dengan peta yang dianggap jawaban.”
Mo meliriknya, tetapi tidak bertanya.
Seorang pembeli datang sebelum tengah hari dan meminta daun yang ia sebut “hati musim dingin”. Lin menemukan nama itu di pamflet, tetapi catatan Mo menunjukkan sebutan tersebut dipakai untuk dua tanaman yang berbeda di wilayah lain.
Ia tidak langsung mengambil bundel. “Daunnya lebar atau sempit? Dibeli dari pasar selatan atau utara?”
Pembeli itu menjelaskan bahwa ia mencari daun lebar yang biasa dipakai untuk rebusan. Lin mencocokkan keterangan dengan contoh yang pernah ditunjukkan Mo, lalu meminta Mo memeriksa sebelum menimbang. Mo memastikan pilihan itu benar dan mengoreksi satu bundel yang tercampur batang tanaman lain.
Pembeli menerima barangnya tanpa sengketa. Lin menambahkan perbedaan nama tersebut ke kolom “belum diuji sendiri”, lalu mencatat jenis daun yang benar setelah Mo mengonfirmasi.
Menjelang siang, Bai Xiao datang. Balutan di tangannya telah diganti dengan kain yang lebih tipis, dan ia tidak membawa pedang terhunus atau menunjukkan gerakan latihan.
“Mercenary Hall memberiku perjalanan pertama,” katanya. “Lusa. Aku akan mengawal gerobak kain ke pos dagang di sebelah barat. Ada dua pengawal senior dan satu kusir.”
“Berapa lama?” tanya Lin.
“Pergi pagi, kembali kalau jalan tidak bermasalah. Mereka bilang ini perjalanan pendek untuk melihat apakah aku mengikuti perintah.” Bai mengetuk balutan di tangannya. “Aku tidak boleh latihan berat sampai luka benar-benar tertutup.”
“Mo bilang hal yang sama.”
“Mo bilang banyak hal yang sama kepada orang-orang yang tidak mau mendengar.” Bai menoleh ke pamflet. “Kau belajar membaca nama obat sekarang?”
“Nama bahan. Belum cara membuat pil.”
“Bagus. Kalau kau tahu cara membuat pil, Mo akan mengurungmu di belakang toko.”
“Dia belum mengizinkanku mendekati tungku.”
“Berarti kau masih bisa kabur.” Bai tersenyum, lalu wajahnya kembali serius. “Aku tidak tahu apakah pekerjaan ini akan jadi tetap. Tapi setidaknya aku bisa mencoba tanpa menganggap satu ujian sebagai akhir.”
Lin menutup pamflet. “Kau belajar dari kegagalan.”
“Aku lebih suka belajar sebelum gagal, tapi rupanya hidup tidak menyediakan daftar isi.”
Bai pamit menuju Mercenary Hall untuk mengambil rincian rute. Ia berjanji tidak akan berlatih pedang sebelum perjalanannya. Lin melihat ia menyimpan tangannya dengan hati-hati, jauh dari kebiasaan mengayunkan lengan saat bicara.
Mo menarik kembali pamflet. “Kalau kau ingin mengingat sesuatu, salin di kertasmu. Jangan merusak daftar toko.”
Lin menyelesaikan pekerjaannya dan menyalin dua halaman yang relevan. Ia membayar tempat tidur dengan upah hari itu, lalu kembali menghitung uang yang tak tersisa. Namun kini catatannya memiliki cara untuk memisahkan ingatan lama dari pengetahuan yang sudah diuji.
Sebelum tidur, ia membaca ulang dua kolom tersebut. Pada bagian “diingat” masih banyak hal yang ingin ia percayai. Pada bagian “diperiksa” jumlahnya sedikit.
Untuk pertama kalinya, kekurangan itu tidak membuatnya panik.
Ia tahu apa yang belum ia ketahui—dan kini memiliki cara untuk mulai memeriksanya.