NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Perekrutan Pasukan Era Baru

Kondisi Baron Aran Denwick belum menunjukkan tanda-tanda pulih. Luka tusuk di perut kirinya terlalu dalam, memaksanya untuk terus berbaring di peraduan. Dengan absennya sang ayah dari urusan militer, kendali pertahanan Baroni Denwick kini sepenuhnya berada di tangan Arya.

Pagi itu, Arya berdiri di pelataran kastil. Ia memanggil kelima bawahan intinya: Max, Erson, Willi, Kin, dan Josh. Kelimanya berbaris di depannya, mengenakan pakaian kulit biasa karena zirah logam mereka sedang dibersihkan dari sisa debu perjalanan.

"Kita kekurangan orang," kata Arya langsung pada intinya. "Para veteran yang pulang bersama ayahku butuh waktu berbulan-bulan untuk pulih. Kita tidak bisa menjaga batas wilayah dan mengamankan rute logistik hanya dengan lima orang."

Max mengangguk. "Pasukan patroli Deepwood sudah mulai mengganggu perbatasan barat. Kita butuh prajurit pengganti, Tuan Muda."

"Bukan pengganti. Kita akan membangun pasukan baru," timpal Arya. "Sebarkan pengumuman ke seluruh wilayah baroni. Perekrutan prajurit resmi dibuka hari ini. Syaratnya sederhana: pemuda berbadan sehat dan sanggup mematuhi perintah."

"Bagaimana dengan upahnya, Tuan Muda?" tanya Josh. "Tanpa upah yang jelas, warga desa biasanya lebih memilih mengurus ladang."

"Empat keping perak setiap bulan," jawab Arya.

Kelima bawahan itu terdiam. Erson bahkan sedikit mengerutkan kening. Empat keping perak adalah jumlah yang sangat besar. Bagi penduduk desa biasa, penghasilan kotor mereka dari bertani belum tentu menyentuh angka satu perak dalam sebulan. Angka empat perak cukup untuk menghidupi sebuah keluarga dengan layak tanpa perlu turun ke lumpur rawa.

"Empat perak itu bayaran yang sangat tinggi, Tuan," ucap Erson.

"Menjadi prajurit berarti bersiap mati. Aku tidak akan membayar murah orang yang kusiapkan di garis depan," jawab Arya. "Sebarkan beritanya. Besok pagi, aku ingin melihat siapa saja yang datang ke pelataran ini."

Tanpa banyak bertanya lagi, kelima orang itu menyebar. Mereka memacu kuda ke berbagai arah, mendatangi setiap pemukiman di wilayah Baroni Denwick.

Berita itu menyebar cepat. Iming-iming empat keping perak per bulan menjadi topik utama di setiap sudut desa. Tidak hanya uang yang menjadi daya tarik, tetapi rentetan peristiwa belakangan ini juga berpengaruh. Kepulangan Arya dari Hutan Kuno, pembagian gandum berkualitas sebagai upah kerja irigasi, serta pembangunan bendungan, membuat banyak warga desa melihat arah baru di bawah kepemimpinan tuan muda mereka.

Keesokan paginya, pelataran Kastil Denwick dipenuhi oleh kerumunan manusia.

Lebih dari seratus pemuda desa datang mendaftar. Mereka mengenakan pakaian usang. Sebagian besar bertelanjang dada dan bertelanjang kaki, menampilkan fisik kasar hasil kerja keras bertani di rawa selama bertahun-tahun.

Arya melangkah keluar dari aula kastil, berdiri di undakan batu tertinggi. Max dan keempat rekannya berjaga di sisi kanan dan kiri.

"Aku butuh empat puluh orang," kata Arya dengan suara lantang yang memotong kasak-kusuk kerumunan. "Tiga puluh orang untuk barisan depan jarak dekat, dan sepuluh orang untuk barisan pemanah."

Arya tidak memberikan tes menggunakan senjata tempur. Ia tahu para pemuda desa ini tidak memiliki dasar bela diri. Menguji teknik bertarung mereka hanya membuang waktu. Yang ia butuhkan adalah fondasi fisik dan kepatuhan absolut.

"Kalian tidak akan diuji bertarung hari ini," lanjut Arya. "Seleksinya hanya satu. Berlari mengelilingi tembok luar kastil ini sambil memanggul karung berisi batu yang sudah disiapkan di dekat gerbang. Siapa yang berhenti, menjatuhkan karung, atau berjalan kaki, langsung pulang. Empat puluh orang pertama yang bertahan akan kuterima."

Ujian itu brutal. Tembok luar kastil membentang cukup panjang, dan jalanan di luarnya dipenuhi tanah berbatu yang tidak rata.

Satu per satu para pemuda itu mulai memanggul karung batu. Begitu aba-aba diberikan, seratus pemuda itu mulai berlari.

Pada putaran pertama, belasan orang langsung menyerah karena tidak terbiasa mengatur napas saat membawa beban berat. Pada putaran ketiga, lebih dari separuh peserta tumbang, duduk terengah-engah di tanah.

Arya berdiri mengamati dari atas tembok. Ia memperhatikan daya tahan tubuh bagian bawah dan cara mereka mencengkeram beban. Menjelang tengah hari, seleksi fisik itu selesai secara alami.

Tersisa tepat empat puluh pemuda yang masih berdiri, meski napas mereka memburu dan keringat membasahi tubuh mereka. Tiga puluh orang berpostur lebih besar dialokasikan ke unit jarak dekat, sementara sepuluh orang dengan tangan yang lebih stabil dipilih untuk memegang busur.

"Kalian diterima," kata Arya kepada empat puluh pemuda tersebut. "Mulai besok, kalian tinggal di barak kastil. Max, bawa mereka dan bagikan seragam serta zirah."

Max memberi hormat singkat dan mulai menggiring para rekrutan baru itu menuju area barak di sayap timur kastil.

Pelataran berangsur sepi. Arya masih berdiri di tempatnya, mencatat rasio pembagian pasukan di buku kecilnya. Saat ia hendak kembali ke dalam aula, Kin berjalan menghampirinya.

"Tuan Muda," panggil Kin.

Arya menoleh. "Ada apa, Kin?"

"Ini tentang sepuluh orang yang Anda pilih untuk barisan pemanah," kata Kin, suaranya sedikit ragu. "Untuk pasukan tombak dan pedang, saya yakin Anda dan Max bisa melatih mereka dengan cepat. Tetapi untuk pemanah... memanah membutuhkan akurasi dan teknik, bukan sekadar tenaga."

"Dan tidak ada dari kalian berlima yang ahli memegang busur," tebak Arya langsung.

Kin mengangguk pelan. "Benar, Tuan Muda. Saat kita di Hutan Kuno, panah saya sesekali mengenai sasaran karena targetnya monster besar dan jaraknya aman. Kemampuan saya hanya dasar. Akurasi saya sangat buruk jika targetnya bergerak cepat atau jaraknya melebihi batas aman. Saya tidak pantas memimpin atau melatih regu pemanah itu."

"Sebuah unit pemanah tanpa komandan yang ahli hanya akan membuang-buang anak panah," gumam Arya, menatap catatan di tangannya. Ia tahu betul fakta itu. Di kehidupan masa lalunya, satu pemanah jitu bernilai sama dengan sepuluh prajurit infanteri biasa. "Lalu, dari mana kau belajar teknik memanahmu selama ini?"

"Saya diajari oleh seorang teman, Tuan. Seorang pemburu yang tinggal menyendiri di pinggiran hutan timur," jawab Kin. "Namanya Davy. Kemampuannya menggunakan busur sangat luar biasa. Dia bisa mengenai target kecil yang sedang bergerak dari jarak puluhan meter secara presisi. Teknik yang saya gunakan di Hutan Kuno hanya sebagian kecil dari ajarannya."

Arya menutup buku catatannya. Informasi ini jauh lebih berharga dari sekadar melatih pemula. Jika ia bisa merekrut orang ini, regu pemanahnya akan memiliki fondasi yang kuat.

"Kenapa dia tidak ikut mendaftar hari ini? Empat perak seharusnya cukup untuk menarik minat pemburu mana pun," tanya Arya.

"Davy berbeda, Tuan Muda. Dia tidak peduli pada urusan militer atau kepingan perak. Dia berburu hanya untuk makan dan menukar kulit hewan dengan peralatan yang dia butuhkan," jelas Kin. "Saya ragu pengumuman rekrutmen biasa bisa membuatnya mau turun dari hutan."

"Begitu," ucap Arya singkat. Ia menimbang-nimbang sebentar. Ahli panah yang penyendiri biasanya memiliki ego dan prinsip yang keras. Uang saja tidak akan cukup untuk membelinya.

Arya menatap Kin. "Di mana tepatnya gubuk pemburu temanmu ini?"

"Di dekat batas pepohonan pinus, sekitar setengah jam berkuda ke arah timur, Tuan Muda."

"Siapkan kudaku," perintah Arya. "Kita berdua akan menemuinya sekarang."

"Tuan Muda akan merekrutnya langsung?"

"Aku tidak bisa membiarkan sepuluh busur baru kita berdebu di gudang hanya karena tidak ada yang tahu cara menggunakannya dengan benar," jawab Arya. "Aku sendiri yang akan membawanya turun."

1
adiba fafa
/Drool/
adiba fafa
mana nih duel sama max
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
palupi: suka banget. tp gk bisa baca lebih dari 1 cerita, bikin bingung pahaminya. ttp semangat ya...💪👍
total 2 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!