NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBERANIAN TERAKHIR

Sabtu malam tiba lebih cepat dari yang Laras bayangkan. Ia berdiri di depan cermin kamar kosnya, mengenakan gaun sederhana berwarna biru dongker yang baru ia beli khusus untuk malam ini, tangannya sedikit gemetar saat merapikan rambutnya untuk terakhir kalinya sebelum ponselnya berbunyi menandakan Bagas sudah menunggu di bawah.

"Kamu keliatan cantik banget," puji Bagas begitu Laras keluar dari gedung kosnya, tersenyum lebar sambil membukakan pintu mobil untuknya.

"Terima kasih, Pak. Bapak juga rapi sekali malam ini."

"Tolong, malam ini panggil saya Bagas aja. Nggak usah pakai embel-embel formal," katanya sambil tertawa kecil, menyalakan mesin mobil dan mulai melaju menuju restoran yang telah ia pesan sebelumnya.

Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol ringan tentang berbagai hal—hobi, film favorit, hingga cerita-cerita lucu tentang pengalaman kerja masing-masing. Laras mendapati dirinya tertawa lebih lepas dari yang sudah lama tidak ia rasakan, sebuah kehangatan yang jauh berbeda dari suasana tegang yang selalu menyelimuti interaksinya dengan Raka.

Restoran yang dipilih Bagas terletak di lantai atas sebuah gedung dengan pemandangan kota Jakarta yang gemerlap di malam hari. Mereka duduk di meja dekat jendela besar, cahaya lilin kecil di atas meja menambah suasana romantis yang tidak bisa dipungkiri oleh keduanya.

"Laras," kata Bagas setelah pesanan mereka datang, nadanya berubah sedikit lebih serius. "Saya harap ini nggak terdengar terlalu cepat, tapi saya pengen jujur sama kamu."

Laras menatapnya dengan rasa penasaran, sedikit gugup dengan perubahan nada itu. "Jujur soal apa, Pak—maksud saya, Bagas?"

"Sejak pertama kali ketemu kamu waktu itu, di kantor, saya udah merasa ada sesuatu yang berbeda," Bagas melanjutkan, matanya menatap lurus ke arah Laras dengan ketulusan yang jelas terlihat. "Bukan cuma soal kerja yang rapi atau tanggung jawab yang tinggi, tapi ada kehangatan yang bikin saya pengen kenal kamu lebih jauh."

Wajah Laras memerah mendengar pengakuan itu, jantungnya berdegup kencang antara gugup dan sesuatu yang terasa seperti harapan baru. "Saya... saya nggak tau harus bilang apa."

"Kamu nggak perlu langsung jawab sekarang," Bagas tersenyum lembut, mencoba mencairkan kecanggungan yang muncul. "Saya cuma pengen kamu tau perasaan saya. Terserah kamu mau meresponnya gimana."

Laras terdiam sejenak, pikirannya melayang pada berbagai pertimbangan—luka masa lalu yang masih membekas, kebingungan yang selama ini ia rasakan menghadapi sikap Raka yang berubah-ubah, dan kini, kehangatan tulus yang ditawarkan pria di hadapannya ini.

"Bagas," katanya akhirnya, mencoba menyusun kata-kata dengan hati-hati, "saya menghargai kejujuran kamu. Dan sejujurnya, saya juga ngerasa nyaman setiap kali bareng kamu. Tapi saya juga punya masa lalu yang cukup rumit, yang mungkin masih memengaruhi cara saya menghadapi perasaan baru."

"Boleh saya tau lebih jauh?" tanya Bagas, nadanya penuh perhatian tanpa kesan memaksa.

Laras menghela napas panjang, memutuskan untuk sedikit membuka diri. "Dulu, sebelum saya pindah ke kota kecil, saya pernah menjalin hubungan yang cukup serius. Tapi keadaan memaksa kami berpisah, dan sampai sekarang, orang itu masih menyimpan kemarahan besar karena mengira saya yang meninggalkannya tanpa alasan."

"Apa orang itu... Pak Raka?" tanya Bagas hati-hati, seolah sudah menduga jawabannya sejak lama.

Laras terkejut, namun akhirnya mengangguk pelan. "Bagaimana kamu tau?"

"Saya lihat cara dia menatap kamu waktu rapat kemarin," jawab Bagas jujur. "Ada sesuatu yang jelas tersirat di sana, meski dia berusaha keras menyembunyikannya."

Laras terdiam, sedikit malu karena ternyata perasaan yang ia kira tersembunyi rapat itu ternyata cukup terlihat jelas bagi orang lain. "Saya minta maaf kalau ini bikin situasinya jadi rumit buat kamu."

"Nggak apa-apa," Bagas menjawab dengan senyum tulus. "Saya cuma pengen kamu tau, apa pun keputusan yang kamu ambil, saya akan menghargainya. Saya nggak akan maksa kamu buat langsung ninggalin masa lalu kalau kamu belum siap."

Ketulusan itu membuat hati Laras semakin hangat, sebuah kelegaan yang jarang ia rasakan sejak kembali ke Jakarta. Untuk pertama kalinya sejak pertemuannya kembali dengan Raka beberapa bulan lalu, Laras merasa bisa bernapas lega, tanpa beban berat yang selama ini menggelayuti hatinya.

"Terima kasih, Bagas," katanya akhirnya, tersenyum tulus. "Terima kasih udah sabar dan pengertian."

Makan malam itu berlangsung hingga larut, dipenuhi obrolan hangat dan tawa yang mengalir alami tanpa dibuat-buat. Ketika akhirnya Bagas mengantar Laras pulang ke kosnya, suasana di dalam mobil terasa nyaman, jauh dari kecanggungan yang sempat muncul di awal.

"Terima kasih untuk malam ini, Bagas," kata Laras begitu mobil berhenti di depan gedung kosnya.

"Sama-sama, Laras. Saya benar-benar menikmati waktu bersama kamu malam ini."

Sebelum keluar dari mobil, Laras menatap Bagas sejenak, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang sudah lama ia pendam. "Bagas, saya masih butuh waktu untuk benar-benar melepaskan masa lalu saya. Tapi saya pengen kamu tau, saya menghargai kesabaran dan ketulusan kamu. Mungkin, dengan waktu, saya bisa membuka hati saya sepenuhnya."

Bagas tersenyum lebar mendengar kata-kata itu, matanya menyiratkan kebahagiaan yang tulus. "Saya akan menunggu, Laras. Selama yang kamu butuhkan."

Laras keluar dari mobil dengan hati yang jauh lebih ringan dari sebelumnya, sebuah keberanian baru mulai tumbuh dalam dirinya untuk akhirnya melepaskan bayang-bayang masa lalu yang selama ini terus mengikatnya. Ia melangkah masuk ke dalam gedung kosnya, menoleh sekali lagi untuk melambaikan tangan kepada Bagas yang masih menunggu di dalam mobil hingga ia benar-benar masuk dengan selamat.

Malam itu, sebelum tidur, Laras menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan yang campur aduk namun didominasi oleh rasa lega dan harapan baru. Ia memutuskan untuk mulai membuka hatinya sepenuhnya bagi kemungkinan kebahagiaan baru bersama Bagas, melepaskan sedikit demi sedikit ikatan emosional yang selama ini terus menariknya kembali pada kenangan pahit bersama Raka.

Aku pantas bahagia, pikirnya sebelum akhirnya tertidur dengan senyum tipis di wajahnya. Dan mungkin, kebahagiaan itu memang bukan bersama Raka, tapi bersama seseorang yang benar-benar menghargai aku apa adanya.

Keputusan itu, meski belum sepenuhnya bulat, menjadi langkah awal yang penting bagi Laras untuk akhirnya melangkah maju, meninggalkan bayang-bayang kelam masa lalu yang selama bertahun-tahun terus menghantuinya, menuju masa depan yang lebih cerah dan penuh harapan bersama seseorang yang benar-benar pantas mendapatkan cintanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!