Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup dalam Pasir
Kekaisaran Pusat tidak pernah bergerak tanpa kepastian absolut. Melihat puluhan ribu pasukan Garda Matahari berkemah di dasar Kawah Hitam, Silas tahu bahwa titah dari Sang Kaisar Agung bukan sekadar pencarian buta. Mereka tahu persis apa yang terkubur di bawah sana.
"Ini bunuh diri," Silas memijat pelipisnya, menatap layar radarnya yang kini dipenuhi titik merah tak terhitung jumlahnya. "Kaelen, mereka itu Garda Matahari. Mereka bukan ksatria klan bangsawan biasa yang mengandalkan sihir elemen. Mereka adalah pasukan elit langsung di bawah komando Kaisar. Senjata mereka dilapisi Aura Suci—energi murni yang dirancang untuk membakar apa pun yang menyerapnya. Jika kau mencoba menelan serangan mereka, artefak di dadamu akan kelebihan beban dalam hitungan detik."
Lyra menyipitkan mata, menatap kamp militer raksasa di bawah dari balik teropong jarak jauhnya. "Bukan cuma itu. Lihat kapal-kapal yang bersandar di tebing. Itu bukan kapal layar udara milik Klan Angin. Itu Dreadnought bertenaga reaktor sihir murni. Kulit bajanya setebal dua meter. Panah hitammu yang mematikan sihir tidak akan bisa menembus lambungnya."
Kaelen tidak merespons kepanikan rekan-rekannya. Mata ungunya memindai susunan kamp di dasar kawah dengan kalkulasi dingin. "Mereka telah membagi kamp menjadi tiga sektor," ucap Kaelen, suaranya tetap mekanis. "Sektor luar untuk infanteri, sektor tengah untuk logistik dan persenjataan, dan sektor terdalam... tepat di atas pusat kawah."
"Tempat para Inkuisitor dan komandan tertinggi berkumpul," sambung Lyra, menunjuk sebuah tenda raksasa berwarna emas yang dijaga ketat oleh prajurit berzirah putih menyilaukan. "Dan kemungkinan besar, di situlah mereka sedang menggali bagian kedua Leviathan."
"Kita tidak akan menyerang secara frontal," putus Kaelen.
"Tentu saja tidak! Kecuali kau ingin kita berubah menjadi abu dalam lima detik!" sahut Silas, setengah berteriak. "Lalu apa rencanamu? Menyelinap? Dengan ribuan sensor mana yang mengelilingi tempat itu? Begitu kaki kita menyentuh dasar kawah, alarm mereka akan berteriak lebih keras dari lonceng kematian!"
"Sensor mana mendeteksi lonjakan energi sihir," Kaelen menoleh, menatap pria tua itu dengan wajah tanpa ekspresi. "Tapi aku bukan penyihir, Dokter. Aku adalah ketiadaan. Aku akan membungkus kalian berdua dalam Domain Null tingkat rendah. Selama kita tetap berada dalam radius dua meter dariku, tidak ada satu pun sensor yang bisa mendeteksi keberadaan sihir dari kita. Kita akan terlihat seperti batu kosong di layar radar mereka."
Lyra menaikkan alisnya, terkesan. "Siluman absolut. Aku suka idemu. Tapi bagaimana dengan prajurit yang berjaga mata? Menyelinap di tengah ribuan pasukan bersenjata lengkap bukanlah jalan-jalan di taman."
"Itu bagianmu, Lyra. Kau akan memandu rute kita menembus bayangan," Kaelen berjalan kembali menuju kendaraan lapis baja mereka, membuka kompartemen belakang dan mengeluarkan seutas tali tambang panjang. "Kita bergerak malam ini, saat pergantian jaga. Silas, kau tetap di sini. Jaga mesin tetap menyala. Jika fajar menyingsing dan kami tidak kembali, kembalilah ke Sektor Empat dan beri tahu Kael untuk bersiap menghadapi perang akhir dunia."
Silas mengangguk kaku, wajahnya pucat. "Semoga kegelapan melindungi kalian."
Malam turun di Kawah Hitam dengan cepat, menutupi langit dengan kabut tebal yang menghalangi cahaya bulan. Angin malam berhembus kencang, membawa debu obsidian yang membuat jarak pandang berkurang drastis. Ini adalah kondisi sempurna untuk sebuah penyusupan.
Kaelen dan Lyra menuruni tebing terjal kawah menggunakan tali tambang, bergerak tanpa suara bagai dua bayangan yang menyatu dengan batu.
Begitu kaki mereka menyentuh dasar kawah, udara terasa berbeda. Hawa magis di sekitar kamp Kekaisaran sangat pekat, seolah mereka sedang berjalan di dalam kolam cairan mana. Kaelen mengaktifkan Domain Null-nya, menjaga pusarannya tetap sangat tipis dan rapat ke kulit mereka. Sensasi ketiadaan itu membuat Lyra merinding, namun ia tahu ini satu-satunya hal yang menyembunyikan mereka dari ratusan mata tak kasat mata sistem pertahanan musuh.
"Tetap di belakangku," bisik Lyra, melangkah maju sambil mencabut salah satu belati melengkungnya.
Gadis pembunuh bayaran itu bergerak dengan kelincahan predator. Mereka menyelinap di antara tumpukan peti logistik, merayap di bawah laras meriam raksasa, dan bersembunyi di balik bayang-bayang setiap kali rombongan prajurit patroli melintas. Kaelen mengikuti di belakangnya dengan langkah seringan kapas, Inti Leviathan di dadanya berdenyut pelan dalam mode siluman.
Menembus sektor luar terbukti relatif mudah bagi keduanya. Namun, saat mereka mendekati sektor terdalam, pengamanan meningkat drastis.
Tenda emas raksasa itu dikelilingi oleh parit cahaya—sebuah penghalang fisik yang terbuat dari Aura Suci murni. Empat orang Inkuisitor berdiri menjaga satu-satunya jembatan masuk. Mereka tidak mengenakan helm, melainkan topeng perak tanpa ekspresi, dan memegang tombak panjang yang memancarkan cahaya putih membutakan.
"Penghalang itu," bisik Lyra, bersembunyi di balik kereta suplai beberapa meter dari jembatan. "Jika kita menyentuhnya, daging kita akan meleleh. Dan keempat pria bermuka panci itu bukanlah algojo biasa. Mereka bisa merasakan detak jantung dari jarak sepuluh meter."
"Penghalang itu bukan masalah," jawab Kaelen datar. "Aku bisa memecahkannya dengan menelan energi suci itu sesaat, cukup untuk membuka celah. Tapi keempat Inkuisitor itu akan langsung menyadarinya."
"Lalu kita butuh pengalih perhatian," Lyra menyeringai licik. Ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk bola logam. "Bom asap beracun racikan Silas. Aku akan melemparkannya ke arah gudang amunisi di seberang sana. Begitu mereka berlari ke sana, kau buka celah penghalangnya."
"Tunggu." Kaelen menahan tangan Lyra. Mata Kaelen yang memancarkan pendar ungu redup menatap tajam ke arah tenda emas. "Ada fluktuasi energi yang sangat besar dari dalam tenda. Energi purba. Mereka sudah menemukannya."
Benar saja, suara dengungan pelan dan dalam mulai terdengar dari dalam tenda emas, membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar halus. Pendar cahaya biru menyilaukan tiba-tiba menembus kain tenda tersebut, seolah ada bintang mini yang baru saja lahir di dalamnya.
Saat itu juga, Inti Leviathan di dada Kaelen bereaksi liar.
Mesin kuno itu berdenyut sangat keras, nyaris menyakitkan. Kaelen harus mencengkeram dadanya sendiri. Pendar ungu kelam di matanya berubah semakin pekat, dan tanpa sadar, Domain Null yang menyelimuti mereka berdua mulai membesar di luar kendali. Ketiadaan mana di sekitar Kaelen menyebar, beresonansi dengan artefak saudaranya yang berada di dalam tenda.
"Kaelen, tahan pusaranmu!" Lyra mendesis panik, merasakan hilangnya hawa siluman mereka. "Kau akan memicu alarm!"
Namun Kaelen tidak bisa mendengarnya. Bunyi denging melengking memenuhi kepalanya. Benda di dalam tenda itu memanggilnya. Mesin pemakan dewa itu lapar akan penyatuan.
Seketika, seluruh lampu sorot magis di sekitar sektor terdalam berubah warna menjadi merah darah. Lonceng alarm berdentang hebat, memecah kesunyian malam.
Keempat Inkuisitor di jembatan serentak menoleh ke arah kereta suplai tempat Kaelen dan Lyra bersembunyi. Topeng perak mereka memancarkan cahaya mematikan.
"Anomali terdeteksi!" raung salah satu Inkuisitor. "Bentuk Formasi Suci! Eksekusi seketika!"
Penyusupan sunyi mereka telah berakhir. Kini, saatnya pembantaian dimulai.