Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Takdir Alya
Aroma besi karatan dan amarah menembus pekatnya malam di balik ruangan mewah lantai 40 gedung perkantoran Megah Corp. Alya, wanita berpenampilan sangat cantik, walau berat badannya 72 kg, elegan, dan menjabat sebagai CEO di usia muda, kini terkapar di atas lantai marmer dingin. Blazer putihnya yang tadinya kotor oleh noda kopi, kini perlahan berubah warna menjadi merah pekat yang merembes deras.
"Kenapa... Rendy?" napas Alya tersengal, dadanya menaik turun secara tak beraturan saat menatap pria bertubuh jangkung yang berdiri tepat di hadapannya.
Pria itu—Rendy, suami yang dicintainya sepenuh hati—sedang memegang sebilah pisau berburu berpola unik yang kini berkilau basah karena darah Alya. Tidak ada sedikit pun raut penyesalan di wajah yang selama ini selalu memberikan senyum manis kepadanya.
"Kenapa?" Rendy terkekeh pelan, tawa yang terdengar bagai bisikan dari neraka. "Karena aku sudah muak berpura-pura menjadi suami penurut dari seorang CEO sempurna, Alya."
Di sudut ruangan yang temaram, bunyi dentang sepatu tumit tinggi bergema perlahan. Seorang wanita melangkah keluar dari kegelapan. Gaun merah mewahnya tampak kontras dengan kekacauan di ruangan itu. Wanita itu tersenyum manis, senyuman yang sangat dikenal Alya selama belasan tahun.
"Siska...?" bisik Alya, matanya membelalak tak percaya. Suaranya tercekat di tenggorokan saat melihat sahabat karibnya sejak masa kuliah melangkah mendekati Rendy.
Siska meraih lengan Rendy dengan santai, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu seraya menatap Alya yang berdarah-darah dengan tatapan penuh kemenangan.
"Kau selalu merasa dirimu paling pintar, kan, Al?" ujar Siska halus, nada suaranya mengayun manja. "Kau pikir Rendy benar-benar mencintaimu karena kerja kerasmu? Karena prestasimu? Pria mana yang betah dengan wanita yang selalu sok mengatur seperti dirimu?"
"Kalian... sejak kapan?" darah segar keluar dari sudut bibir Alya. Sakit fisik akibat tusukan di perutnya tak sebanding dengan rasa hancur di dadanya.
"Sejak sebelum kita menikah," potong Rendy tanpa ragu. Ia berlutut di sebelah tubuh Alya yang melemah, lalu mencengkeram rahang Alya dengan sangat keras hingga wanita itu meringis. "Semua saham milikmu, perusahaan ini, harta keleluargamu... sebentar lagi semuanya akan berpindah ke tanganku. Surat pengalihan aset itu sudah ditandatangani, thanks to your stupidity yang terlalu percaya padaku."
"Aku... aku merawatmu... aku mengangkat derajatmu, Rendy!" jerit Alya parau, air mata bercampur darah menetes di pipinya.
"Dan untuk itu, terima kasih banyak, Sayang," bisik Rendy tepat di telinga Alya sebelum dengan dingin dan tanpa ragu menusukkan pisau itu sekali lagi ke dada kiri Alya.
Siksaan rasa sakit yang amat sangat menghantam kesadaran Alya. Jeritan Siska yang tertawa puas dan tatapan dingin Rendy menjadi hal terakhir yang ia lihat dan dengar sebelum kegelapan total menelan pandangannya. Napas Alya terhenti. Jantungnya berhenti berdetak.
Huuuh!
Alya tersentak bangun, menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah baru saja tenggelam di dasar samudra. Dadanya naik-turun secara histeris, tangannya refleks meraba perut dan dada kirinya tempat rasa sakit menusuk sebelumnya.
Tidak ada darah. Tidak ada bekas luka. Tidak ada rasa dingin dari pisau besi.
Ia terengah-engah, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya. Matanya bergerak liar mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia berada di sebuah kamar tidur bergaya lama, bukan penthouse mewahnya. Poster-poster lama masih menempel di dinding, dan furnitur kayu tua mendominasi ruangan.
"Ini... di mana?" suara Alya terdengar sedikit asing, lebih berat dan sengau.
Alya mencoba beranjak turun dari tempat tidur, tetapi merasa tubuhnya begitu berat dan kaku. Gerakannya terhambat oleh lipatan paha dan perutnya sendiri. Dengan panik, ia melangkah cepat menuju cermin berdiri di sudut kamar.
Langkah kakinya berat, berdentak keras di atas lantai kayu. Ketika berdiri tepat di depan cermin, langkahnya terhenti seketika. Alya terpaku.
Pantulan di cermin bukan wanita gemuk berwajah chubby, walau bertubuh tidak ideal dengan tinggi 168 cm dan berat 72 kg yang selama ini dipuji-puji cantik dalam majalah bisnis. Wanita di cermin adalah sosok dirinya di masa lalu—pipi tembam berona merah, lengan bagian atas yang berisi, serta perut yang menumpuk lemak di balik piyama kain longgar.
"Gila..." Alya meraba pipinya yang tebal, memegang pinggangnya yang lebar. "Ini tubuhku... waktu berat badanku masih 72 kilo?"
Ia memutar tubuhnya, terengah-engah antara percaya dan tidak. Tangannya dengan gemetar meraih ponsel di atas meja nakas. Sebuah ponsel model lama yang belum menggunakan layar lipat canggih milik masa depannya.
Layar ponsel menyala: Rabu, 14 Mei 2021.
"2021?" bisik Alya syok. "Lima tahun lalu? Aku... aku kembali ke masa lalu?"
Lima tahun yang lalu adalah masa-masa terburuk sekaligus titik balik dalam hidupnya. Masa ketika ia masih menjadi staf junior biasa di Megah Corp, masa ketika ia belum melakukan diet ketat yang mengubah penampilannya, dan yang paling penting... masa sebelum ia memutuskan untuk membiayai usaha Rendy dan menikah dengannya.
Pintu kamar mendadak terbuka, mengejutkan Alya hingga ia hampir melompat.
"Alya! Astaga, kau ini harus bangun jam berapa?" seorang wanita paruh baya masuk membawa nampan berisi segelas susu hangat dan roti bakar. Itu Mamanya—sosok yang di masa depan telah meninggal dunia karena serangan jantung dua tahun setelah Alya menikah dengan Rendy.
"Mama...?" mata Alya berkaca-kaca. Ia berlari pelan, lalu memeluk ibunya dengan sangat erat hingga nampan di tangan ibunya hampir terlepas.
"Aduh! Al, kamu kenapa sih? Kok memeluk Mama kencang sekali sampai sesak begini?" goda Mamanya sambil menepuk-nepuk punggung Alya yang tebal. "Mimpi buruk, ya?"
"Aku... aku kangen Mama," tangis Alya pecah di bahu ibunya. Rasa syukur membanjiri dadanya. Tuhan tidak hanya menyelamatkannya dari kematian, tetapi juga mengembalikan ibunya yang amat ia rindukan.
"Kamu ini ada-ada saja. Wong tiap hari ketemu kok kangen," ujar Mamanya tertawa kecil seraya melepas pelukan dan menatap putrinya. "Sudah, cepat mandi dan bersiap-siap. Katanya hari ini temanmu Siska mau main ke sini? Dan pria yang sedang dekat denganmu itu... siapa namanya? Rendy?"
Nama itu bagai sebuah cambukan yang seketika mendinginkan darah di tubuh Alya. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menekan telapak tangannya yang tebal.
"Rendy dan Siska..." ulang Alya dengan suara datar, mengikis habis isak tangisnya dalam sekejap.
"Iya, Rendy. Kamu kan kemarin cerita mau mengenalkan dia ke Mama, sekalian merayakan kenaikan posisimu di kantor," kata Mamanya seraya menata makanan di meja.
Alya menatap dirinya kembali ke cermin. Tatapan matanya yang tadi penuh ketakutan kini berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh dendam.
Lima tahun lalu, Rendy mendekatinya di saat ia bertubuh tambun dan kurang percaya diri. Pria itu bersikap bagaikan ksatria berzirah emas yang menerima dirinya apa adanya, padahal di belakangnya, Rendy dan Siska sudah merencanakan segalanya untuk menguras hartanya. Mereka memanfaatkan kebaikan Alya, menggerogoti aset keluarganya, dan akhirnya membunuhnya secara keji.
"Alya? Kamu melamun lagi?" panggil Mamanya.
"Tidak, Ma," jawab Alya pelan, namun tegas. "Aku cuma sedang berpikir..."
Alya berjalan mendekati jendela kamar, melihat pemandangan kota di luar. Tubuhnya boleh saja saat ini berbobot 72 kg, belum menjadi CEO, dan dikelilingi oleh ular-ular berkulit manusia. Namun di dalam kepalanya, ia memiliki ingatan lima tahun ke depan. Ia tahu setiap pergerakan saham, setiap rahasia perusahaan, setiap kelemahan Rendy, dan setiap niat busuk Siska.
"Kalian membunuhku karena mengincar posisiku dan hartaku," gumam Alya lirih, tersenyum sinis pada pantulan dirinya di kaca jendela. "Kali ini, bukan hanya harta kalian yang akan kuhancurkan. Aku akan memastikan kalian berlutut dan memohon ampun di bawah kakiku."
Pintu rumah di lantai bawah terdengar berdering. Suara bel menyuarakan kedatangan tamu.
"Nah, itu sepertinya mereka sudah datang!" seru Mama dari luar kamar. "Al, buka pintunya!"
Alya menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut jantungnya yang masih utuh berdetak di balik badannya yang berisi. Ia mengepalkan tangannya, membuang jauh rasa trauma dari malam pembunuhan itu, dan menggantinya dengan tekad yang bulat.