Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Topeng yang Terbuka
Angin malam berdesir di antara pilar-pilar batu Istana Musim Dingin, mengibarkan ujung jubah mereka seolah memberi isyarat agar berhenti. Namun tidak ada langkah yang mundur. Li An berjalan di depan, tubuhnya rendah, setiap gerakan penuh kehati-hatian yang lahir dari bertahun-tahun melintasi perbatasan yang berbahaya. Di sampingnya, Ling Yue melangkah mengikuti, napasnya tertahan di tenggorokan setiap kali bayangan penjaga melintas di kejauhan.
Lantai marmer yang dingin menembus sol sepatu mereka. Di sekelilingnya, koridor panjang tampak tak berujung, diterangi cahaya remang dari lentera-lentera yang bergoyang pelan tertiup angin yang masuk dari celah jendela terbuka. Suasana itu hening, namun bukan keheningan yang damai — melainkan keheningan sebelum badai turun, penuh tekanan yang membuat jantung berdebar tak menentu.
"Tahan," bisik Li An tiba-tiba, tangannya menahan bahu Ling Yue.
Mereka berdua membeku. Dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki yang berirama dan berat — mendekat, semakin dekat, hingga sepasang penjaga berseragam merah menyala muncul di persimpangan jalan itu. Pedang di pinggang mereka berkilau dingin, dan ekspresi wajah mereka kaku, tanpa senyum, tanpa rasa iba.
Ling Yue menahan napas. Tangannya mencengkeram lengan baju Li An erat sekali, seolah melepaskan berarti kehilangan satu-satunya tempat berpijak di dunia ini. Namun Li An tetap tenang. Ia menarik gadis itu perlahan ke balik tirai sutra tebal yang menggantung di sisi lorong, menekan jari ke bibirnya memberi isyarat diam.
Penjaga itu lewat tepat di depan tempat mereka bersembunyi. Aroma minyak wangi mahal bercampur bau logam besi berkarat tercium dari pakaian mereka.
"Pangeran berpesan, jangan sampai ada lalat pun lolos malam ini," ucap salah satu penjaga itu dengan suara kasar. "Mereka pasti datang. Dan biarkan mereka masuk — pintu sudah terbuka lebar untuk mereka."
"Tentu," jawab yang lain tertawa rendah. "Mereka tidak tahu bahwa mereka berjalan ke dalam sarang laba-laba sendiri. Begitu mereka memegang benda itu, tidak ada jalan kembali."
Langkah kaki mereka menjauh perlahan, menghilang di tikungan lorong. Hening kembali menyelimuti tempat itu, namun kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.
Ling Yue menatap Li An dengan mata yang memancarkan kecemasan. "Mereka... mereka sudah menunggu kita. Sejak awal, ini adalah jebakan."
Li An mengangguk pelan, rahangnya mengeras. "Benar. Tapi pertanyaannya — bagaimana mereka tahu kita akan datang? Bahwa kita menemukan gerbang rahasia itu?" Ia terdiam sejenak, pikirannya berputar cepat menelusuri setiap kemungkinan. "Ada pengkhianat di antara orang-orang yang kita percayai."
"Tapi siapa?" tanya Ling Yue, suaranya bergetar. "Paman Feng tidak mungkin..."
"Aku juga tidak percaya padanya yang melakukannya," potong Li An lembut namun tegas. "Tetapi kita tidak bisa membiarkan keraguan menguasai pikiran kita sekarang. Kita harus terus maju, lebih berhati-hati dari sebelumnya." Ia menggenggam tangan gadis itu, meremasnya pelan memberi kekuatan. "Apakah kau masih sanggup melanjutkan? Kita bisa berbalik sekarang, mencari bantuan dari jenderal yang setia di kota sebelah."
Ling Yue menatapnya lurus ke dalam manik matanya yang gelap, lalu menggeleng mantap. "Dan membiarkan Rouran sendirian di sini lebih lama lagi? Tidak. Di mana kau pergi, aku ikut. Di mana bahaya menunggu, kita hadapi bersama."
Li An menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Baik. Tapi janji padaku — apa pun yang terjadi nanti, apa pun yang kau lihat, tetaplah di dekatku. Jangan pergi sendiri, sekalipun untuk sesaat."
"Aku janji," jawabnya pelan namun tegas.
Mereka melanjutkan perjalanan, kini lebih berhati-hati dari sebelumnya, bergerak di balik bayang-bayang pilar dan tirai, menghindari setiap cahaya yang mungkin menampakkan wujud mereka. Semakin mereka mendekati menara tertinggi tempat Rouran ditahan, semakin tegang suasana yang mereka rasakan. Ada sesuatu yang tidak beres — penjaga di lorong-lorong ini terlalu sedikit, seolah jalan itu memang sengaja dibiarkan terbuka.
Ketika mereka akhirnya sampai di lantai dasar menara itu, Li An berhenti di bawah tangga batu yang berkelok naik ke puncak. Ia menatap ke atas, ke arah kabut tipis yang melingkar di sekitar menara itu, lalu menoleh ke arah Ling Yue.
"Kau tunggu di sini," katanya pelan. "Aku naik sendiri dulu memeriksa keadaan."
Ling Yue langsung menggeleng. "Tidak. Aku ikut. Rouran saudariku, Li An. Kalau ada apa-apa, aku ingin berada di sana bersamanya."
Li An hendak membantah, namun melihat keteguhan di wajah gadis itu, kata-katanya terhenti di kerongkongan. Ia tahu tidak ada yang bisa mengubah keputusan Ling Yue saat ia sudah menetapkannya. Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.
"Baik. Tapi tetap di belakangku, ya? Biarkan aku yang melangkah paling depan."
Mereka mendaki tangga batu itu perlahan, langkah demi langkah, suara sepatu mereka hampir tak terdengar di atas permukaan batu yang sudah lama dipakai. Semakin naik, semakin terasa udara yang dingin dan lembap, dan semakin samar terdengar suara dari puncak — suara orang berbicara, rendah dan mendesak.
"...sudah waktunya," terdengar suara laki-laki yang berwibawa namun dingin. "Mereka pasti sudah masuk ke dalam istana. Biarkan mereka naik. Pintu itu tidak perlu dikunci."
"Bagaimana jika mereka menolak menyerah?" suara lain terdengar — suara perempuan yang samar, namun terasa asing di telinga Ling Yue.
"Menolak?" Pria itu tertawa rendah, tawa yang penuh kepastian dan kejam. "Mereka tidak punya pilihan. Segalanya sudah diatur sedemikian rupa sehingga Li An sendiri yang akan menyerahkan benda itu kepadaku. Ia tidak tahu bahwa darah yang mengalir di pembuluh darahnya sendiri adalah kunci yang paling aku butuhkan."
Jantung Li An berdegup kencang tak menentu. Ia mengenali suara itu — meski belum pernah mendengarnya sedekat ini, ia tahu betul siapa pemiliknya. Namun ia berusaha menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, lalu memberi isyarat kepada Ling Yue untuk tetap diam di tempat sementara ia mengintip dari balik dinding pintu yang terbuka sedikit.
Di ruangan itu, tepat di tengah, berdiri seorang pria jangkung mengenakan jubah ungu yang dihiasi benang emas membentuk pola naga yang melilit. Punggungnya membelakangi pintu, menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke seluruh istana. Di sampingnya, terikat pada kursi kayu yang kokoh, duduk Rouran — matanya terbuka, namun tatapannya kosong, seolah jiwanya telah pergi meninggalkan tubuh itu. Dan di sisi lain, berdiri sesosok bayangan yang membuat darah Ling Yue membeku di tempat.
Itu adalah seseorang yang mereka percayai — seseorang yang selama ini dianggap keluarga.
"Paman Feng?" bisik Ling Yue tanpa sadar, suaranya pelan namun cukup terdengar di ruangan yang hening itu.
Pria yang dipanggil Paman Feng itu menoleh perlahan, wajahnya yang tulus dan ramah kini berubah dingin dan tanpa perasaan. Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Jadi kalian sudah sampai," ucapnya tenang, seolah menyambut tamu yang sudah lama diundang. "Aku kira perjalanan kalian akan lebih lama lagi."
Li An melangkah masuk, menarik Ling Yue berdiri di belakangnya, tangannya mencengkeram gagang pedang erat-erat. "Jadi benar... kau yang mengkhianati ayahku. Kau yang mengkhianati kami semua."
Paman Feng menggeleng pelan, lalu melangkah maju selangkah. "Mengkhianati? Kata yang indah. Aku hanya memilih jalan yang benar, jalan yang akan membawa kebesaran sejati bagi negeri ini. Ayahmu Li Weiyuan adalah orang yang baik, terlalu baik — sehingga ia tidak mampu melihat bahwa kekaisaran ini membutuhkan tangan yang kuat, bukan tangan yang lembut yang digerakkan oleh belas kasihan yang salah tempat."
Pria berjubah ungu itu berbalik perlahan. Ketika wajahnya terlihat sepenuhnya di bawah cahaya lentera, napas Ling Yue tertahan. Wajah itu tampak mirip seseorang — seseorang yang tidak pernah ia sangka-sangka.
"Kau..." gumam Li An, mundur selangkah tak percaya. "Kau bukan Pangeran Yuwen..."
Pria itu tersenyum lebar, lalu perlahan melepaskan penutup wajah yang menyamarkan sebagian ciri-cirinya. Di baliknya, bukan wajah pangeran yang dikenal semua orang, melainkan wajah yang memiliki kemiripan mencolok dengan Li An sendiri — matanya, bentuk rahangnya, bahkan cara ia menatap pun sama persis.
"Akhirnya kau menyadarinya," ucap pria itu lembut, namun kata-katanya terasa tajam seperti bilah pedang. "Aku adalah kakakmu, Li Xuan. Putra sulung Li Weiyuan — yang dikatakan telah meninggal dunia sepuluh tahun lalu di perbatasan."
Li An terbelalak, tubuhnya terasa lemas seketika. "Mustahil... Ayah selalu berkata kau gugur dalam pertempuran..."
"Gugur?" Li Xuan tertawa pahit. "Aku dikhianati, dikurung, dan dinyatakan mati — semata-mata karena mereka takut akan kemampuanku, karena aku dianggap terlalu berbahaya bagi mereka yang duduk di atas takhta itu. Selama sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayang, merencanakan hari ini — hari di mana keadilan akan ditegakkan, dan apa yang menjadi hak keluargaku akan kami ambil kembali."
Ling Yue menatapnya dengan perasaan campur aduk — ngeri, bingung, namun ada sedikit rasa iba yang tak bisa ia pungkiri. "Lalu... Rouran? Apa hubungannya dia dengan semua ini?"
Li Xuan menoleh ke arah gadis yang masih duduk diam dengan tatapan kosong itu, lalu suaranya melembut sedikit. "Rouran adalah kunci. Darah keturunan kuno yang mengalir di nadinya dapat membuka peti peninggalan leluhur kita — peti yang berisi kekuatan yang cukup untuk mengubah takdir seluruh bangsa. Dan aku butuh dia hidup, untuk menjalankan upacara pembukaan itu."
"Kau ingin menggunakannya sebagai alat!" bentak Li An, kemarahannya mulai menggantikan rasa terkejutnya.
"Kau salah paham, adikku sayang," jawab Li Xuan tenang. "Aku ingin menyelamatkan negeri ini dari kerusakan yang semakin parah. Kaisar yang berkuasa sekarang lemah, para pejabat korup, rakyat menderita. Aku akan mengubah semuanya. Dan kau... kau akan berdiri di sampingku saat aku memimpin bangsa ini." Ia melangkah mendekat, menatap tajam ke mata Li An. "Kita bersaudara. Kita memiliki darah yang sama. Bersamaku, kau tidak akan pernah dikhianati lagi."
Li An terdiam. Di satu sisi, ada kerinduan yang mendalam — kerinduan memiliki kakak, kerinduan menyatukan kembali keluarga yang hancur. Namun di sisi lain, ia melihat cara kakaknya mencapai tujuan itu — dengan kebohongan, dengan paksaan, dengan mengorbankan orang-orang tak berdosa.
"Aku ingin percaya padamu," ucap Li An pelan, suaranya bergetar. "Tapi tidak dengan cara ini, Kak. Tidak dengan menahan orang lain, tidak dengan menipu dan menyakiti."
Wajah Li Xuan mengeras. "Jadi kau memilih melawanku? Demi gadis-gadis asing ini, kau rela mengkhianati darah dagingmu sendiri?"
"Aku tidak mengkhianati siapa pun," jawab Li An tegas. "Aku hanya tidak ingin menjadi bagian dari kejahatan, sekalipun itu dilakukan oleh saudaraku sendiri."
Li Xuan menatapnya lama, lalu menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau begitu, pilihlah konsekuensinya." Ia memberi isyarat dengan tangan kanannya. Pintu di belakang mereka tertutup rapat seketika, dan puluhan prajurit bersenjata lengkap muncul dari lorong-lorong yang tersembunyi, mengepung mereka di dalam ruangan itu. "Serahkan benda yang ada padamu, dan tinggalkan tempat ini sekarang. Atau semua orang di ruangan ini akan binasa."
Li An melindungi Ling Yue di belakang punggungnya, pedangnya terhunus sepenuhnya kini. "Kalau begitu, kau harus melangkah di atas mayatku dulu."
Suasana di ruangan itu berubah seketika. Udara terasa panas dan menegang, seolah satu tarikan napas saja bisa memicu pertempuran yang tak terelakkan. Namun tiba-tiba, suara lembut terdengar — suara yang memecah ketegangan itu perlahan.
"Berhenti..."
Semua mata beralih ke arah Rouran. Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang tadinya kosong kini mulai kembali berbinar, meski masih lemah. Ia menatap Li Xuan, lalu ke arah Li An dan Ling Yue.
"Kau salah..." ucap Rouran pelan, namun suaranya terdengar jelas di ruangan yang hening itu. "Kekuatan yang kau cari itu bukan untuk menguasai, melainkan untuk melindungi. Peti itu tidak berisi senjata atau kekuatan gaib seperti yang kau kira. Ia berisi sumpah leluhur — janji untuk memimpin dengan hati, bukan dengan kekerasan."
Li Xuan terdiam sejenak, lalu tertawa sinis. "Apakah kau pikir aku akan percaya pada dongeng seperti itu? Aku sudah menunggu sepuluh tahun untuk hari ini. Tidak ada kata-kata manis yang akan menghentikanku sekarang."
"Kalau begitu lihatlah sendiri," ucap Rouran tenang. "Bukalah peti itu di hadapan semua orang. Biarkan kebenaran yang berbicara."
Li Xuan ragu sejenak, namun akhirnya ia mengangguk. Ia menarik sebuah peti kayu berukir indah dari balik tirai — peti yang sama yang terlihat di lukisan di lorong rahasia tadi. Ia meletakkannya di atas meja batu di tengah ruangan, lalu menatap tajam ke arah Li An.
"Darah kita diperlukan untuk membukanya," katanya. "Dan darah Rouran sebagai kunci pelengkap. Mari kita lihat siapa yang benar."
Ia melukai jarinya sendiri dengan ujung pedang, setetes darah jatuh ke permukaan peti. Lalu memberi isyarat agar Rouran melakukan hal yang sama. Dengan tangan gemetar, Rouran menyentuh luka kecil di jarinya, menyentuhkan setetes darah ke peti itu. Cahaya keemasan mulai memancar dari celah-celah peti, perlahan-lahan tutupnya terangkat...
Namun apa yang muncul di dalam sana bukanlah benda berkilauan atau senjata sakti seperti yang dibayangkan Li Xuan. Isinya hanyalah sebuah gulungan kain tua dan sebilah pedang tua yang sederhana, gagangnya sudah memudar warnanya.
Li Xuan mengernyit, mengambil gulungan kain itu dan membacanya perlahan. Wajahnya berubah pucat seiring setiap baris yang dibacanya.
"Kekuatan sejati bukanlah yang membuat orang takut padamu, melainkan yang membuat mereka merasa aman di dekatmu. Takhta bukanlah warisan yang direbut, melainkan amanah yang dipikul bagi mereka yang lemah. Jika kau membaca ini dengan niat menguasai, maka kau telah kehilangan hakmu sejak awal."
Tangan Li Xuan gemetar. Gulungan kain itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan suara pelan yang terdengar begitu nyaring di keheningan ruangan itu.
"Jadi... selama ini..." suaranya pecah, "selama sepuluh tahun aku merencanakan, berjuang, bahkan membunuh... semua itu sia-sia?"
Li An melangkah maju perlahan, tidak lagi mengacungkan pedangnya. "Bukan sia-sia, Kak. Ini baru permulaan. Kita bisa mengubah semuanya sekarang. Menyerahlah, dan mari kita perbaiki kesalahan ini bersama-sama."
Li Xuan menatapnya, matanya berkaca-kaca — entah karena amarah atau penyesalan yang mendalam. Ia mundur perlahan, punggungnya menabrak dinding batu yang dingin. "Terlambat... Sudah terlalu banyak darah yang tertumpah. Sudah terlalu jauh aku melangkah..."
"Belum pernah terlambat," suara Ling Yue terdengar lembut namun tegas dari belakang punggung Li An. "Selama masih ada napas, selalu ada jalan untuk kembali."
Li Xuan menatapnya, lalu menatap ke arah jendela yang terbuka, tempat kabut malam mulai menipis menampakkan cahaya fajar yang samar di ufuk timur. Ia terdiam lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat sekali di dalam hatinya.
Namun sebelum sempat ia menjawab, suara dentuman keras terdengar dari lantai bawah — suara pertempuran yang semakin mendekat. Pintu ruangan itu didobrak paksa, dan masuklah sekelompok prajurit istana yang setia kepada kaisar, dipimpin oleh Paman Feng yang berdiri di belakang mereka — wajahnya tidak lagi menyembunyikan apa pun.
"Maafkan aku, Tuan Muda Li An," ucapnya dengan suara berat. "Aku terpaksa berpura-pura... agar bisa mengetahui rencana sebenarnya Li Xuan. Aku tidak pernah berkhianat. Aku hanya menunggu waktu yang tepat."
Li An mengangguk pelan, meski hatinya masih terasa perih. "Aku tahu, Paman. Terima kasih."
Para prajurit itu mengelilingi Li Xuan, namun tidak ada yang bergerak menangkapnya. Ia sendiri yang melangkah maju, meletakkan pedangnya ke lantai, lalu merentangkan kedua tangannya untuk dibelenggu.
"Aku menyerah," ucapnya pelan, menatap Li An terakhir kali. "Jaga negeri ini dengan baik, Adikku. Tunjukkan padaku bahwa ayah benar — bahwa ada cara lain selain kekerasan."
Li An mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku akan berusaha, Kak. Dan aku akan menunggumu pulang."
Saat Li Xuan dibawa keluar, keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, namun kali ini terasa lebih ringan, seolah beban berat telah diangkat dari pundak mereka semua.
Ling Yue segera berlari menghampiri Rouran, melepaskan ikatan yang mengikat tangan gadis itu. Mereka berpelukan erat, air mata menetes membasahi pipi keduanya — campuran rasa lega, rasa syukur, dan rasa sakit yang akhirnya menemukan jalan keluar.
"Aku tahu kalian akan datang..." bisik Rouran di pelukan saudarinya. "Aku selalu percaya."
Li An mendekat, berdiri di samping mereka, menatap ketiga orang yang paling berharga dalam hidupnya. Ia merangkul mereka berdua, menarik mereka ke dalam pelukannya, merasakan kehangatan yang begitu nyata setelah sekian lama terjebak dalam ketakutan dan kegelapan.
"Kita sudah selesai," ucapnya pelan, suaranya penuh kelegaan yang mendalam. "Kita bisa pulang sekarang."
Namun di luar sana, di balik cahaya fajar yang mulai terang, tantangan baru sedang menanti — perbaikan yang harus dilakukan, kepercayaan yang harus dibangun kembali, dan masa depan yang belum tentu mulus. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, mereka melangkah maju bukan dengan rasa takut, melainkan dengan harapan yang tumbuh perlahan namun pasti di hati masing-masing.
Karena mereka memiliki satu sama lain. Dan itu sudah cukup untuk menghadapi apa pun yang akan datang.