Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Tamu Tak Diundang
Di puncak bukit tidak jauh dari Sekte Awan Langit, sosok bertopeng perak yang sama seperti yang pernah mengamati Kerajaan Chu dari kejauhan kini berdiri kembali, kali ini menatap kompleks sekte kecil yang tampak tenang di bawah cahaya bulan.
"Resonansinya jauh lebih jelas di sini," gumamnya pada bawahannya yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Pembawa pecahan itu—dia berada di dalam sekte ini."
"Sekte Awan Langit," bawahannya membaca papan nama usang yang samar terlihat dari kejauhan, nada suaranya penuh keraguan. "Sekte kecil dan hampir terlupakan. Aneh sekali seseorang penting seperti pembawa pecahan bisa berakhir di tempat seperti ini."
"Tidak sepenuhnya aneh," pria bertopeng itu menggeleng pelan, matanya menyipit mengingat sesuatu. "Sekte ini memiliki hubungan lama dengan Desa Kabut Hening. Aku ingat sekarang—beberapa dari mereka membantu pertahanan desa itu sepuluh tahun lalu, sebelum akhirnya mundur setelah kehilangan terlalu banyak murid terbaik mereka."
Bawahannya terdiam, mencerna informasi itu. "Apakah kita akan menyerang sekarang, Tuan? Sekte ini jelas jauh lebih lemah dibandingkan kekuatan penuh kita."
"Belum," pria bertopeng itu menjawab tegas. "Menyerang secara langsung hanya akan mengulangi kesalahan sepuluh tahun lalu—terlalu terburu-buru, terlalu mencolok, dan berisiko membuat pembawa pecahan itu melarikan diri sebelum kita berhasil mengamankannya. Kali ini, kita akan lebih berhati-hati."
"Lalu apa rencana kita?"
Pria bertopeng itu tersenyum tipis di balik topengnya, meski tidak terlihat jelas dari sudut manapun. "Kirim seorang pengintai untuk menyusup ke dalam sekte, mengonfirmasi identitas pembawa pecahan itu dengan pasti. Setelah kita yakin, barulah kita bergerak dengan kekuatan penuh—cepat, tepat, dan tanpa memberi kesempatan untuk melarikan diri."
Tiga hari kemudian, seorang pemuda baru muncul di gerbang Sekte Awan Langit, mengaku sebagai kultivator pengembara yang tertarik untuk bergabung setelah mendengar reputasi sekte ini dari beberapa pedagang di kota terdekat.
Namanya, menurut pengakuannya sendiri, adalah Han Lei—seorang pemuda dengan penampilan biasa, sopan santun yang baik, dan kultivasi yang cukup solid untuk tingkat Kondensasi Qi lapis ketiga, membuat Tetua Wang tidak memiliki alasan untuk mencurigainya secara terbuka.
Chu Feng, bagaimanapun, merasakan sesuatu yang janggal sejak pertama kali melihat pemuda baru itu.
"Ada yang aneh dengannya," gumamnya pada Zhao Lin suatu sore, mengamati Han Lei dari kejauhan saat pemuda itu sedang berlatih di lapangan bersama murid-murid lain.
"Aneh bagaimana?" tanya Zhao Lin, mengikuti arah pandangan Chu Feng dengan penasaran.
"Aku tidak bisa menjelaskannya dengan tepat," Chu Feng menggeleng pelan, mengaktifkan Mata Dewa-nya sejenak untuk memeriksa lebih detail. "Tapi pola energinya... terasa terlalu tertekan, seolah ia sengaja menyembunyikan kekuatan sebenarnya."
"Kau merasakannya juga," suara di dalam dirinya bergema, nada waspada yang jelas terdengar. "Aku merasakannya sejak pemuda itu memasuki gerbang sekte. Ada sesuatu yang tidak beres dengannya."
Apa maksudmu? tanya Chu Feng dalam hati, berusaha tetap tenang di permukaan agar tidak menarik perhatian yang tidak diinginkan.
"Aku tidak yakin sepenuhnya. Tapi resonansi energinya mengingatkanku pada sesuatu—sesuatu yang gelap, terlatih untuk bersembunyi di balik penampilan biasa. Berhati-hatilah, Pangeran Ketujuh. Kalau dugaanku benar, kehadirannya di sini bukan kebetulan."
Chu Feng menatap Han Lei lebih lama, mencoba mengingat setiap detail yang mungkin terlewatkan—cara berjalannya yang terlalu terkontrol untuk seorang kultivator pengembara biasa, matanya yang sesekali melirik ke arah menara pusat dengan intensitas yang tidak sesuai dengan sekadar rasa ingin tahu murid baru.
Ia memutuskan untuk tidak langsung bertindak. Terlalu berisiko untuk menuduh seseorang tanpa bukti kuat, apalagi mengingat status Han Lei sebagai murid baru yang sah, diterima secara resmi oleh Tetua Wang sendiri. Namun kewaspadaannya meningkat drastis sejak saat itu.
Malam itu, ketika sebagian besar penghuni sekte sudah terlelap, Chu Feng—dengan Hei yang mengikuti diam-diam di belakangnya, insting binatangnya sendiri sudah menunjukkan tanda-tanda gelisah sejak kemunculan Han Lei—memutuskan untuk mengawasi pergerakan murid baru itu dari kejauhan.
Firasatnya terbukti benar.
Sekitar tengah malam, Han Lei menyelinap keluar dari asramanya, bergerak dengan kelincahan yang jauh melampaui apa yang seharusnya dimiliki kultivator tingkat Kondensasi Qi biasa, menuju arah perpustakaan sekte yang seharusnya sudah terkunci pada jam tersebut.
Chu Feng mengikuti dari kejauhan, memanfaatkan bayangan pepohonan dan bangunan untuk menyembunyikan keberadaannya, Mata Dewa-nya aktif penuh untuk memastikan ia tidak kehilangan jejak pemuda itu meski dalam kegelapan.
Di depan perpustakaan, Han Lei berhenti sejenak, matanya memindai sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mengawasi—sebuah kebiasaan yang jelas menunjukkan pelatihan sebagai mata-mata, bukan sekadar murid baru yang penasaran. Setelah yakin aman, ia mengeluarkan sebuah alat kecil berbentuk kunci dari balik jubahnya, membuka gembok pintu perpustakaan dengan keterampilan yang jelas sudah terlatih.
Dia mencari sesuatu, pikir Chu Feng, mengeratkan pegangan pada tombak yang selalu ia bawa bahkan saat berpatroli diam-diam seperti ini. Tapi apa?
Ia menunggu beberapa menit sebelum akhirnya memutuskan untuk mendekat, mengendap-endap menuju jendela kecil perpustakaan yang memungkinkannya mengintip ke dalam tanpa terdeteksi.
Di dalam, dengan cahaya bulan sebagai satu-satunya penerangan, Han Lei tampak memeriksa rak-rak buku dengan cermat, matanya mencari sesuatu yang spesifik di antara koleksi kitab-kitab lama sekte—hingga akhirnya berhenti di sebuah rak khusus yang Chu Feng kenali sebagai tempat penyimpanan catatan-catatan sejarah sekte yang lebih tua, termasuk kemungkinan catatan tentang hubungan sekte ini dengan Desa Kabut Hening.
Dia mencari informasi tentang keluarga penjaga, sadar Chu Feng, jantungnya berdegup kencang. Tentang ibuku. Tentang pecahan tubuh Dewa.
Keputusan harus diambil dengan cepat. Membiarkan Han Lei menemukan informasi itu bisa mengonfirmasi kecurigaan mereka tentang keberadaannya di sekte ini, mempercepat bahaya yang mungkin sudah mengintai. Namun menyerangnya secara langsung, tanpa bukti pasti tentang niat jahatnya, bisa menjadi kesalahan besar yang merusak reputasinya di sekte—atau lebih buruk, memperingatkan pihak yang mengutus Han Lei bahwa penyamarannya sudah terbongkar.
"Kau harus bertindak sekarang," suara di dalam dirinya mendesak, nada tegang yang jarang sekali ia dengar. "Kalau dia benar-benar mata-mata seperti dugaan kita, membiarkannya menemukan informasi itu akan menjadi kesalahan fatal."
Chu Feng mengambil napas dalam, tekadnya bulat. Ia melangkah mundur perlahan dari jendela, bergerak menuju pintu utama perpustakaan yang seharusnya masih terkunci dari luar—sebuah keuntungan kecil yang bisa ia manfaatkan.
Dengan hati-hati, ia menggunakan sedikit qi untuk memutar gembok yang sama tanpa suara, membuka pintu perlahan sebelum melangkah masuk dengan langkah setenang mungkin.
"Malam yang indah untuk membaca, bukan?" katanya, suaranya tenang namun cukup keras untuk mengejutkan Han Lei yang langsung berbalik cepat, tangannya secara refleks bergerak ke arah sesuatu yang tersembunyi di balik jubahnya.
Untuk sesaat, keduanya saling menatap dalam keheningan tegang, kebenaran yang belum sepenuhnya terungkap namun sudah cukup jelas tergambar di mata masing-masing.