NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Harga Sebuah Kesalahan

Nama pemuda yang tertangkap itu adalah Lin Feng—bukan kerabat Zhou Feng, hanya kebetulan nama yang sama—seorang mantan pengawal rendahan yang direkrut Zhou Ming tiga bulan lalu karena kejeliannya dalam mengamati tanpa terlihat mencurigakan. Usianya baru dua puluh dua tahun, dan menurut laporan yang berhasil dikumpulkan, ia kini ditahan di rumah tahanan sementara milik pihak keamanan wilayah barat, menunggu "introgasi lebih lanjut" oleh orang-orang Zhou Han.

Zhou Chen tidak bisa tidur sepanjang malam setelah menerima kabar itu. Ia duduk di ruang rahasia bawah tanah kediamannya, menatap Kitab Langit Tanpa Akhir yang terbuka di hadapannya namun tidak benar-benar membaca apa pun—pikirannya terlalu dipenuhi rasa bersalah dan kekhawatiran tentang nasib seseorang yang telah mempertaruhkan nyawanya demi rencana yang ia susun.

Aku yang merancang misi ini. Aku yang meyakinkan semua orang bahwa kita cukup siap, pikirnya, tangannya mengepal erat. Dan sekarang, Lin Feng harus membayar harga dari kesalahan perhitunganku.

Keesokan paginya, Zhao Kai datang menemuinya, wajahnya menunjukkan ketegangan yang sama beratnya.

"Yang Mulia," katanya, duduk di seberang meja kerja Zhou Chen tanpa diundang—sesuatu yang tidak biasa ia lakukan, namun situasi ini jelas menuntut keterusterangan lebih dari sekadar formalitas. "Hamba ingin bicara sesuatu yang mungkin sulit hamba katakan."

Zhou Chen menatapnya, menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam nada suara Zhao Kai kali ini. "Katakan saja."

"Bertahun-tahun lalu, saat hamba masih bertugas di militer," mulai Zhao Kai, suaranya bergetar menahan emosi yang jarang ia tunjukkan, "hamba pernah berada dalam situasi serupa. Seorang rekan hamba tertangkap dalam misi pengintaian yang gagal, dan komandan hamba saat itu memutuskan untuk tidak mengambil risiko menyelamatkannya—demi 'kepentingan yang lebih besar', katanya. Rekan hamba akhirnya dieksekusi oleh musuh, dan hamba... hamba dituduh pengecut karena tidak berbuat apa pun untuk mencegahnya, meski hamba sebenarnya sudah memperingatkan komandan tentang risiko misi itu sejak awal."

Zhou Chen terdiam, memahami sepenuhnya untuk pertama kalinya beban yang selama ini dipikul Zhao Kai—luka lama yang jauh lebih dalam daripada sekadar tuduhan pengecut yang pernah diceritakan sebelumnya.

"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," kata Zhou Chen tegas, menatap mata Zhao Kai lurus-lurus. "Lin Feng bukan sekadar alat dalam rencana kita. Dia orang yang mempercayai kita, dan kita berutang padanya untuk melakukan segala yang kita bisa demi menyelamatkannya."

Untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan kelompok Zhou Chen, Zhao Kai menunjukkan air mata yang nyaris tumpah—bukan karena kelemahan, melainkan karena rasa lega yang begitu dalam mendengar jawaban yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia dapatkan dari atasannya yang lama.

"Terima kasih, Yang Mulia," bisiknya. "Izinkan hamba memimpin misi penyelamatan ini. Hamba... hamba butuh menebus apa yang tidak sempat hamba lakukan dulu."

Rencana penyelamatan yang disusun kali ini jauh lebih hati-hati, mempertimbangkan segala kemungkinan kegagalan dari misi sebelumnya. Zhou Ming, melalui jaringan informasinya, berhasil memastikan lokasi pasti tempat Lin Feng ditahan—sebuah bangunan kecil di pinggiran kota wilayah barat yang biasa digunakan sebagai tempat penahanan sementara, dengan penjagaan yang relatif minim dibandingkan penjara resmi karena statusnya yang tidak resmi.

"Mereka pasti berencana memindahkannya ke penjara resmi dalam beberapa hari," analisis Zhou Ming, menunjukkan peta lokasi yang telah ditandai. "Kalau itu terjadi, peluang kita menyelamatkannya akan jauh lebih kecil. Kita harus bertindak malam ini."

Zhou Chen mengangguk, meski kekhawatiran tetap membayangi pikirannya. "Bagaimana dengan risiko bahwa ini bisa jadi jebakan? Zhou Han cukup licik untuk menduga kita akan mencoba menyelamatkan Lin Feng."

"Itu risiko yang harus kita ambil," jawab Zhou Ming. "Tapi aku sudah menempatkan beberapa orang tambahan untuk mengawasi kemungkinan jebakan sejak dua hari lalu. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda kecurigaan berlebihan dari penjagaan di sana—mereka tampaknya menganggap Lin Feng hanya sebagai mata-mata kecil, bukan bagian dari rencana yang lebih besar."

Malam penyelamatan itu berlangsung dengan ketegangan yang jauh berbeda dari misi-misi sebelumnya. Zhao Kai memimpin langsung tim kecil yang terdiri dari dirinya, Xiao Hei—yang kini lebih percaya diri dengan kekuatan barunya meski masih belum sepenuhnya terkendali—dan dua orang kepercayaan Zhou Ming yang terlatih dalam operasi diam-diam.

Zhou Chen sendiri menunggu di titik aman bersama Yue Er, yang bertugas sebagai pengawas sinyal, siap memberi peringatan jika situasi memburuk.

Penyusupan awal berjalan lancar—penjagaan memang seperti yang diperkirakan Zhou Ming, minim dan tidak terlalu waspada. Namun saat tim mendekati sel tempat Lin Feng ditahan, sebuah kejutan tak terduga muncul.

"Lin Feng sudah tidak ada di sini," bisik salah satu anggota tim melalui isyarat tangan yang telah disepakati, wajahnya menunjukkan kepanikan yang jelas. "Selnya kosong—tapi masih ada tanda-tanda dia baru saja dipindahkan, kotorannya masih basah."

Zhao Kai, dengan insting militernya yang tajam, segera menyadari sesuatu yang tidak beres. "Ini bukan pemindahan rutin. Seseorang tahu kita akan datang."

Firasat itu terbukti benar ketika, tepat saat mereka bersiap mundur, suara langkah kaki terorganisir mulai terdengar dari berbagai arah—jauh lebih banyak dan lebih terlatih dibandingkan penjagaan biasa yang mereka amati sebelumnya.

"Ini jebakan," gumam Zhao Kai, mengepalkan tangannya siap bertarung. "Kita harus mundur sekarang."

Namun sebelum mereka sempat melarikan diri sepenuhnya, sesosok bayangan muncul dari kegelapan, langkahnya tenang namun penuh ancaman yang tidak bisa disalahartikan.

"Aku sudah menduga kalian akan datang," kata suara yang sangat dikenali—Zhou Han, kali ini tanpa senyum palsunya yang biasa, digantikan ekspresi dingin yang jauh lebih mengerikan dari kehangatan pura-puranya. "Sayangnya, tebakanku tentang siapa yang berada di balik semua ini juga benar."

Zhao Kai segera memposisikan dirinya di depan Xiao Hei dan dua anggota tim lainnya, bersiap menghadapi kemungkinan pertarungan langsung.

"Di mana Lin Feng?" tanya Zhao Kai tegas, meski situasi jelas berada di luar kendali mereka.

Zhou Han tersenyum tipis, dingin. "Aman, untuk sementara. Tapi kalian—kalian yang seharusnya lebih mengkhawatirkan keselamatan kalian sendiri malam ini."

Pertarungan yang terjadi setelahnya berlangsung singkat namun brutal. Pasukan yang dikerahkan Zhou Han jauh lebih terlatih dan lebih banyak jumlahnya dibandingkan yang diperkirakan, memaksa tim kecil Zhou Chen bertarung mati-matian hanya untuk mempertahankan jalur mundur mereka.

Xiao Hei, meski kekuatan barunya belum sepenuhnya terkendali, berhasil menahan dua penyerang sekaligus dengan tenaga dalam barunya, meski gerakannya masih terlihat kaku dan belum sepenuhnya efisien. Zhao Kai, dengan pengalaman dan teknik yang telah disempurnakan, bertarung dengan ketenangan seorang veteran yang akhirnya menemukan kembali kepercayaan dirinya.

Namun jumlah yang tidak seimbang akhirnya memaksa mereka mundur, meninggalkan lokasi itu dengan luka-luka yang cukup serius, meski berhasil menyelamatkan diri tanpa kehilangan nyawa siapa pun—sebuah kemenangan kecil di tengah kegagalan besar malam itu.

Ketika mereka akhirnya kembali ke titik aman, wajah Zhou Chen dipenuhi campuran kelegaan dan kekhawatiran mendalam. "Lin Feng masih dalam bahaya," katanya, suaranya berat menahan beban kegagalan malam ini. "Dan sekarang, Zhou Han tahu pasti bahwa kita berada di balik semua ini."

Zhao Kai, meski terluka dan kelelahan, menatap Zhou Chen dengan tekad yang tidak goyah. "Kita akan mencari cara lain, Yang Mulia. Kita tidak akan meninggalkannya."

Zhou Chen mengangguk, meski hatinya dipenuhi beban berat yang belum pernah ia rasakan sedalam ini sejak awal perjalanannya di dunia ini. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa tidak semua pertempuran bisa dimenangkan hanya dengan kecerdasan dan perencanaan matang—terkadang, kegagalan dan kerugian adalah bagian yang tidak terhindarkan dari perjuangan yang lebih besar.

Zhou Han sekarang tahu wajahku, tahu tujuan kami, pikirnya, menatap ke arah ibu kota yang jauh di kejauhan, tempat konfrontasi yang jauh lebih besar mulai tak terhindarkan. Permainan bayang-bayang ini sudah berakhir. Yang tersisa sekarang, hanyalah pertanyaan siapa yang akan bergerak lebih dulu—dan siapa yang akan bertahan hidup untuk melihat akhirnya.

Bersambung ke Bab 22 — Konfrontasi Terbuka

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!