NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERANGAN GOSSIP DAN "CANCEL CULTURE" 90-AN

Makan malam di mansion keluarga besar selalu terasa seperti duduk di dalam kandang ular yang baru saja diberi makan. Suasana hening, hanya diisi oleh suara denting perak beradu dengan piring porselen dan kunyahan yang dibuat sehalus mungkin.

Di ujung meja, tepat di sebelah kanan Pak Darmawan, duduk Tante Ratna.

Vania menatap wanita itu dari balik gelas orange juice-nya, melakukan analisis cepat ala penonton sinetron yang sudah menonton ratusan episode. Tante Ratna adalah arketipe klasik "Tante Racun". Dia memakai kebaya modern berwarna ungu terang dengan payet yang berkilau terlalu mencolok di bawah lampu kristal. Kuku akriliknya yang panjang dan runcing mengetuk-ngetuk meja dengan ritme yang mengintimidasi. Parfum floralnya yang disemprotkan secara berlebihan bercampur dengan aroma sup krim, menciptakan wangi yang bisa membuat mata perih.

Tapi senjata utama Tante Ratna bukanlah penampilannya. Senjata utamanya adalah lidahnya. Dia adalah tipe wanita yang akan menusuk punggungmu dengan pisau, lalu pura-pura menangis dan bilang dia hanya ingin mengambil serpihan kayu dari bajumu.

"Omong-omong, Pak..." suara Tante Ratna tiba-tiba memecah keheningan, nadanya dibuat serendah dan sekhawatir mungkin. Dia meletakkan sendoknya, lalu menatap Pak Darmawan dengan tatapan penuh iba. "Saya dengar dari kenalan saya di klub golf... ayah Larasati sepertinya sedang kesulitan keuangan. Katanya, dia berutang pada rentenir di Pasar Senen. Kasihan sekali gadis itu. Mungkin... mungkin kita harus menjauhkan Raka dari dia sebelum utang itu menular ke keluarga kita."

Vania hampir tersedak orange juice-nya.

Ini tropes klasik, batin Vania, menatap "kamera" imajinernya yang melayang di dekat vas bunga. 'Keluarga Miskin Pasti Punya Utang Rentenir'. Naskahnya bahkan tidak berusaha kreatif. Dan Tante Ratna, kamu benar-benar menggunakan taktik 'concern trolling' yang paling dasar. Kamu pura-pura peduli, padahal kamu cuma mau nge-bully Larasati di depan Pak Darmawan biar dia dilarang nikah sama Raka.

Pak Darmawan mengernyitkan dahi, tongkatnya berdentum pelan di lantai. "Benarkah itu, Ratna? Jangan sampai keluarga kita ternoda oleh aib orang luar."

Tante Ratna tersenyum tipis, sebuah senyuman kemenangan yang dia kira tidak terlihat. "Saya hanya menyampaikan apa yang saya dengar, Pak. Demi kebaikan keluarga."

Vania menghela napas. Dia meletakkan gelasnya. Tidak ada lagi. Dia tidak akan membiarkan Female Lead dan Male Lead diganggu oleh drama murahan ini. Jika Larasati stres, Raka akan stres. Jika Raka stres, dia akan membuat keputusan bodoh. Dan jika Raka membuat keputusan bodoh, plot akan menyimpang.

Vania memutuskan untuk menggunakan senjata yang tidak dimiliki oleh penghuni sinetron tahun 90-an ini: Cancel Culture versi 2026.

"Tante Ratna," ucap Vania, suaranya datar namun cukup keras untuk membuat seluruh meja berhenti mengunyah. "Tante tahu tidak, apa yang Tante lakukan itu namanya menyebarkan hoax."

Tante Ratna berkedip, alisnya yang dicat terlalu tebal terangkat. "Ho... hoax? Apa itu? Jenis kue baru?"

Om Reza yang duduk di sebelahnya tertawa kecil, meremehkan. "Vania, jangan sok pintar. Kau pasti salah dengar."

"Tidak, Om. Saya tidak salah dengar," balas Vania, menatap Om Reza sekilas sebelum kembali menatap Tante Ratna. "Hoax itu berarti berita bohong. Fitnah. Fake news. Tante menyebarkan informasi yang tidak diverifikasi hanya untuk merusak reputasi seseorang. Di tempat asalku... eh, maksudku, di zaman modern, orang yang melakukan ini akan di-cancel oleh masyarakat. Reputasi sosialnya akan hancur dalam hitungan menit."

Seluruh meja menatap Vania dengan tatapan kosong. Pak Darmawan, Bibi Marni, bahkan Raka yang kebetulan hadir malam ini, semua terlihat seperti baru saja mendengar Vania berbicara dalam bahasa alien.

"Di-cancel? Maksudnya dibatalkan?" tanya Bibi Marni, matanya berbinar penasaran. "Dibatalkan apa? Pestanya?"

Vania memijat pelipisnya. Tuhan, beri aku kekuatan. Menjelaskan konsep Twitter ke ibu-ibu arisan tahun 90-an ini lebih sulit daripada menjelaskan teori relativitas.

"Intinya, Tante Ratna," Vania melanjutkan, nadanya tajam dan tidak memberikan ruang untuk debat. "Tante bicara soal utang ayah Larasati tanpa bukti. Itu fitnah. Dan sebagai gantinya, izinkan saya membagikan fakta yang sudah saya verifikasi."

Vania mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam mata Tante Ratna yang mulai terlihat gelisah.

"Tante Ratna bicara soal keuangan orang lain, tapi Tante sendiri masih mencicil wig rambut asli impor dari Singapura yang harganya setara mobil Kijang, tapi kualitasnya sudah seperti sapu lidi," ucap Vania datar.

Hening.

Sendok Om Reza jatuh ke mangkuk supnya dengan suara prang yang keras. Bibi Marni menutup mulutnya dengan tangan yang penuh cincin.

Tante Ratna membeku. Wajahnya yang dipoles tebal tiba-tiba memucat, lalu memerah padam. Tangannya yang berujung kuku runcing secara refleks terangkat ke arah kepalanya, menyentuh rambut hitam berkilau yang disasak tinggi itu.

"A-Apa yang kau bicarakan, hah?!" suara Tante Ratna meninggi, kehilangan seluruh kelembutan palsunya. "Ini rambut asli! Rambut asli!"

"Tante," Vania menyela, suaranya tetap tenang dan sangat, sangat membunuh. "Lem yang Tante pakai di bagian hairline itu baunya sudah seperti lem alteko. Dan kemarin sore, saat Tante sedang tidur siang di sofa ruang tengah, ujung wig itu sedikit terangkat. Saya melihat kulit kepala Tante yang sebenarnya botak di bagian depan. Tante mau saya panggilkan penata rambut untuk merekatkannya lagi, atau Tante mau saya panggilkan dokter kulit untuk mengobati iritasi di kulit kepala Tante karena Tante terlalu sering memakai lem murahan?"

"Tante Ratna... botak?" gumam Om Reza, menatap istrinya dengan tatapan horor, seolah dia baru saja melihat hantu.

"Tutup mulutmu, Reza!" Tante Ratna berteriak, air matanya yang dipoles maskara waterproof mulai menetes. Dia menatap Vania dengan tatapan penuh kebencian dan kepanikan. "Kau... kau anak tidak tahu diuntung! Kau berani menghina aku di depan Pak Darmawan?!"

"Saya tidak menghina, Tante. Saya hanya melakukan fact-checking," balas Vania santai, mengambil kembali gelas orange juice-nya. "Tolong cek fakta sebelum bicara. Jangan asal share gosip."

Tante Ratna gemetar hebat. Dia menatap Pak Darmawan, mencari perlindungan, tapi sang patriark hanya menatapnya dengan tatapan jijik, jelas tidak suka melihat drama yang merusak nafsu makannya. Tante Ratna akhirnya menatap Vania, matanya membelalak, dan dia mengeluarkan kartu as terakhir yang selalu digunakan oleh karakter sinetron 90-an saat kehabisan argumen.

"Kau..." Tante Ratna menunjuk Vania dengan jari yang gemetar. "Kau sudah tidak waras! Kau sudah kerasukan setan! Setan pembawa sial!"

Vania menatapnya. Dia tidak marah. Dia tidak sedih. Dia hanya merasa sangat, sangat lelah.

"Nggak, Tante," ucap Vania datar, meneguk orange juice-nya. "Aku cuma punya logika dan akses ke brankas rahasia Paman."

Tante Ratna membeku. Om Reza tersedak. Pak Darmawan menatap Vania dengan tatapan baru, sebuah tatapan yang penuh dengan perhitungan.

Vania menatap "kamera" imajinernya dan mengangkat satu alisnya. Cancel culture berhasil. Satu down, tiga to go.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!