NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 — Kedatangan yang Tak Diundang

Beberapa minggu berlalu sejak klarifikasi Bu Ratna, dan kehidupan Kirana perlahan kembali stabil—hubungannya dengan Rangga semakin erat, rekan-rekan kerja semakin menerima kedekatan mereka, bahkan Bu Ratna mulai menunjukkan sikap yang lebih hangat setiap kali mereka bertemu di berbagai acara perusahaan.

Namun suatu sore, ketenangan itu kembali terusik oleh kedatangan seseorang yang sudah lama tidak Kirana temui—seseorang yang keberadaannya selalu membangkitkan kembali luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

Kirana baru saja keluar dari gedung kantor ketika sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya, kaca jendelanya turun perlahan menampakkan sosok pria paruh baya berpenampilan necis—Om Broto, paman yang dulu merampas seluruh warisan keluarganya.

"Kirana," Om Broto menyapa dengan senyum yang terasa begitu asing dan mencurigakan, jauh dari kehangatan yang dulu pernah ia tunjukkan sebelum pengkhianatannya terbongkar. "Lama nggak ketemu."

Kirana membeku di tempatnya, tubuhnya secara refleks menegang mengingat kembali seluruh rasa sakit dan pengkhianatan yang pernah ia alami karena pria di hadapannya ini. "Om Broto. Ngapain ke sini?"

"Om cuma pengen ngobrol sebentar sama kamu,"

Om Broto berkata, turun dari mobilnya dengan gestur yang terkesan santai, meski matanya menunjukkan kewaspadaan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. "Om denger kabar baik soal kamu, katanya kamu deket sama CEO Arka Corporation sekarang?"

Kirana merasakan firasat buruk menjalar di dadanya mendengar pertanyaan itu, menyadari bahwa kedatangan pamannya ini pasti bukan sekadar basa-basi keluarga. "Itu bukan urusan Om."

"Kirana, Om tahu Om pernah bikin kesalahan besar sama kamu dan keluarga kita," Om Broto berkata, mencoba terdengar menyesal meski nadanya masih terasa penuh perhitungan. "Om ke sini mau minta maaf, sekaligus... mau ngobrolin kemungkinan kita bisa saling bantu lagi ke depannya."

"Saling bantu?" Kirana bertanya tajam, sudah bisa menebak arah pembicaraan itu. "Maksud Om, sekarang Om mau manfaatin hubungan saya sama Rangga buat kepentingan Om lagi?"

Om Broto terdiam sejenak, tidak menyangka keponakannya yang dulu begitu polos dan mudah dimanipulasi kini sudah jauh lebih tajam dan waspada.

"Om cuma mikir, mungkin kita bisa saling menguntungkan," Om Broto akhirnya berkata, tidak lagi berusaha menyembunyikan maksud sebenarnya. "Om punya beberapa proyek bisnis yang butuh investor besar. Kalau kamu bisa bantu perkenalkan Om ke Pak Rangga, Om janji akan kembalikan sebagian aset keluarga yang dulu—"

"Cukup," Kirana memotong tajam, tidak sanggup lagi mendengar tawaran licik itu. "Om pikir saya masih sebodoh dulu, gampang dimanfaatkan lagi? Om yang ngehancurin hidup saya, ngerampas semua warisan keluarga saya, dan sekarang Om berani-beraninya minta bantuan saya buat kepentingan bisnis Om?"

"Kirana, dengerin Om dulu—" Om Broto mencoba membela diri, namun Kirana sudah tidak lagi berminat mendengarkan.

"Saya nggak akan pernah bantu Om lagi, dalam bentuk apa pun," Kirana berkata tegas, matanya menatap tajam pria yang dulu begitu ia percaya sebagai keluarga. "Dan kalau Om berani coba-coba deketin Rangga atau perusahaannya buat kepentingan licik Om, saya akan pastikan semua orang tahu siapa Om sebenarnya."

Wajah Om Broto berubah, kesabarannya mulai menipis mendengar penolakan tegas itu. "Kamu pikir kamu siapa sekarang, berani ngomong kayak gitu sama Om? Tanpa Om, kamu udah terlantar dari dulu!"

"Tanpa Om, mungkin saya nggak akan sehancur itu sejak awal," Kirana membalas tajam, tidak lagi gentar menghadapi kemarahan pamannya itu.

"Saya bangkit dari nol tanpa bantuan Om, dan saya nggak butuh Om lagi sekarang."

Om Broto menatap Kirana lama, wajahnya memerah menahan amarah, sebelum akhirnya kembali masuk ke mobilnya dengan gerakan kasar. "Kamu akan menyesal udah nolak tawaran Om, Kirana. Tunggu aja."

Mobil itu melaju pergi meninggalkan Kirana yang berdiri gemetar di tempatnya, campuran antara marah, takut, dan lega karena akhirnya berani melawan sosok yang selama ini menghantui trauma masa lalunya.

...****************...

Malam itu, Kirana menceritakan semua kejadian itu ke Rangga, yang mendengarkan dengan ekspresi semakin serius seiring cerita itu berlanjut.

"Dia ngancam kamu?" tanya Rangga, rahangnya mengeras menahan amarah mendengar ancaman terselubung yang dilontarkan Om Broto.

"Kira-kira begitu," Kirana mengangguk, masih sedikit gemetar mengingat konfrontasi sore itu.

"Aku takut, Rangga. Dia orang yang licik, dia udah buktiin itu waktu ngerampas warisan keluargaku dulu."

Rangga menggenggam tangan Kirana erat, berusaha menenangkan. "Kamu nggak akan sendirian ngadepin ini, Kirana. Saya akan bantu selidiki latar belakang bisnis dia, cari tahu apa aja yang bisa jadi bukti buat mengungkap kecurangan yang dia lakuin ke keluarga kamu dulu."

"Rangga, kamu yakin? Ini bisa jadi urusan yang rumit dan berbahaya," Kirana bertanya, khawatir dengan risiko yang mungkin dihadapi Rangga jika terlibat terlalu jauh dalam masalah keluarganya.

"Saya yakin," Rangga menjawab tegas, menatap Kirana dengan tekad yang membara. "Saya nggak akan biarkan siapa pun mengancam kamu, apalagi orang yang udah menghancurkan hidup kamu di masa lalu. Kita akan hadapi ini bareng-bareng, dan kita akan pastikan keadilan buat kamu dan keluarga kamu akhirnya terwujud."

Kirana menatap Rangga, hatinya dipenuhi rasa syukur yang mendalam memiliki seseorang yang begitu berkomitmen mendukungnya, bahkan dalam menghadapi bayang-bayang gelap dari masa lalunya yang paling menyakitkan sekalipun.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!